
Tentu saja keduanya terkejut. "Apa maksudmu?"
"Karena terakhir kali Nona menyinggung sesuatu tentang pengecekan mayat musuh, saya menelusurinya sejauh mungkin. Ini komposisi yang saya temukan."
Herdian menampilkan lingkaran sihirnya. Jika dulu Meridian tidak tahu apa maksud semua itu, matanya yang sekarang dapat tahu.
"Ada percampuran darah hewan dalam darah Ruben?" Meridian mengerutkan kening. "Apa maksudmu itu tubuh buatan?"
"Nona sangat cepat memahami. Saya mengunjungi kerajaan Acre untuk memastikan. Orang-orang yang bersama Ruben, yang diduga kuat merupakan orang terdekatnya, tidak ditemukan di medan pertempuran. Mayat mereka tidak ada, Nona."
"Apa Lumiel sudah memastikan?"
"Ya, Nona. Saya meminta beberapa bangsa iblis membantu. Mereka memberi tanggapan serupa. Bau darah di tubuh Ruben terasa berbeda. Itu baru terasa setelah beberapa hari berlalu."
Meridian membuka mulut, namun mengatupnya kembali.
Tidak.
Kenapa aku harus mengurusi hal itu sekarang? Ruben mati atau tidak, pada dasarnya aku akan tetap berada di sini. Lalu untuk apa aku menghabiskan waktu melawan?
"Meridian."
Meridian mengabaikan panggilan dari Meridian Palsu. Dia jelas tahu apa yang Meridian pikirkan.
"Beritahu Andaru bahwa bangsa iblis akan membantunya jika peperangan telah dekat." Meridian berbalik. Menghancurkan dunia itu secara paksa hingga Herdian menghilang dan ia membuka mata untuk menatap langit-langit kamarnya.
Semakin jelas terasa bahwa Lumiel tengah duduk di depan pintu, menangis dalam hati karena rasa bersalah.
"Lumiel."
Dalam sekejap dia muncul. Tapi menggunakan wujud kucingnya, tersedu-sedu dibawah usapan tangan Meridian.
"Aku akan pergi sebentar."
Dia tetap menangis.
"Jaga tempat ini dan ambil alih komando. Jika benar terjadi peperangan, bantu manusia sebagai bentuk tanggung jawabku. Tapi tidak perlu berurusan lebih jauh."
"...." Dia tak bertanya tapi jelas ingin tahu ke mana Meridian akan pergi.
"Aku tidak tahu." Tangannya lepas dari Lumiel dan tahu betul dia meraung-raung tak ingin. "Sampai jumpa, Kucingku."
Tubuhnya melebur, berteleportasi secara instan tanpa benar-benar tahu harus ke mana ia pergi.
...*...
Hanya butuh beberapa detik untuk Meridian membuka mata. Ia dihadapkan pada kejernihan air danau, suara air terjun yang samar-samar terdengar dari kejauhan.
Meridian mengusap bayangan di atas permukaan air. Seketika menemukan pantulan dirinya berubah, kini berwujud seorang gadis muda berambut cokelat muda, bermata cokelat keemasan. Gadis muda berjubah dengan bintik hitam di dagu sebelah kirinya.
Lepas memastikan ia tak lagi terlihat seperti iblis, Meridian berjalan. Tak tahu berapa lama tapi terus berjalan sampai ia menuruni gunung, menemukan sebuah kota yang memiliki gaya pakaian berbeda.
Ia hanya berjalan tak kenal arah. Masuk ke kerumunan yang meski sudah berganti, tetap saja berbeda dari dunianya.
__ADS_1
Perasaan kosong, sepi, sunyi menghantui Meridian. Ia merindukan ibunya luar biasa, tapi sekarang bahkan tak bisa ingat bagaimana wajah wanita itu.
"Hei, menyingkir dari sana!"
"Benar, benar! Dasar pengemis! Baumu membuat selera makanku hilang!"
"Dia iblis! Lihat matanya berwarna hitam! Dasar iblis!"
Meridian berhenti berjalan, menyaksikan sekumpulan anak kecil tengah membully seorang anak perempuan. Anak perempuan itu menangis terisak-isak, tapi sepertinya dia memang pengemis hingga seluruh orang acuh tak acuh padanya.
Sejujurnya Meridian tidak tertarik lagi. Hatinya mau menolong, namun jiwanya sebagai iblis tidak menyukai kelemahan manusia itu.
Biarkan saja.
Manusia memang selalu saling menyakiti tidak peduli alasannya apa.
Itu terlihat lebih normal.
"Kurasa kamulah yang iblis."
Langkah Meridian terhenti. Seorang pria berambut abu-abu datang entah dari mana, mengangkat bocah tukang bully itu dengan dua jari tangan.
Mata Meridian bisa melihatnya. Struktur tubuh yang kuat, lengan kokoh terlatih, dan aura yang berbeda dari sihir.
Ahli pedang?
Levelnya tinggi. Lebih tinggi dari Lukas yang seorang iblis.
"Coba kulihat matamu. Oh, itu berwarna putih. Mata iblis yang kutahu berwarna putih. Apa kupenggal saja?" Dia menarik pedangnya seakan-akan siap memenggal hingga anak-anak itu menjerit histeris.
Pahlawan, yah? Lucu juga.
"Paman, terima kasih." Gadis manusia yang lemah itu menarik-narik pakaian pria tersebut.
"Pergilah." Pria tersebut mengusap sekilas kepala si gadis kecil. "Jika mereka mengganggumu, tendang kepala mereka."
"Baik!"
Dia seketika menghilang. Meridian masih bisa merasakan pria itu bukan berteleportasi. Dia bergerak sangat cepat, hanya dalam sekejap mata sudah berada tiga ratus meter dari mereka.
Baru saja Meridian akan melanjutkan langkah, suara di kepalanya terdengar.
Meridian. Si Palsu terdengar tegang. Kamu tidak mengenali dia?
Apa maksudmu?
Jiwanya, itu Ruben.
Meridian tersentak.
Kenapa Ruben ada di sini?
...*...
__ADS_1
Sebenarnya Meridian tidak mau peduli, tapi penampilan Ruben yang berbeda dan bagaimana dirinya bahkan tidak bisa mengenali itu membuat Meridian bergegas menyusul.
Pria berambut abu-abu itu tidak pergi terlalu jauh. Bergerak cepat sepertinya cuma untuk menghemat waktu berjalan. Dia mampir ke sebuah tenda di mana seseorang menjual buah semangka, membeli beberapa buah bersama buah lainnya sebelum dia bergerak lagi.
Hawa keberadaan iblis tidak bisa terasa kecuali oleh iblis. Di pihak Ruben tidak ada iblis, Meridian bisa memastikan dengan sangat jelas sebab ia raja mereka. Anak-anaknya tidak selangkah pun meninggalkan dunia iblis.
Karena itu Ruben tidak bisa menyadari meski Meridian mengikuti darah jarak jauh.
Pria itu bergerak lagi ke luar pintu gerbang pasar, menghampiri ... seekor harimau putih bermata emas.
Binatang sihir.
Meridian bisa tahu dari auranya.
Dan binatang itu ... dia lebih kuat dari Andaru.
Meridian. Berhati-hati. Binatang iblis punya insting kuat.
Dari mana kamu tahu?
Intuisimu intuisiku juga.
Idih.
Tapi Meridian mendengarnya. Sedikit lebih berhati-hati meski ia cukup yakin binatang itu tidak akan mengenalinya.
Meski binatang iblis lahir di tanah iblis, mereka pada dasarnya bukan iblis. Jadi seharusnya baik-baik saja.
Ruben terlihat normal saat dia mengelus harimau peliharaannya. Visual dia memang berubah, dari seorang pangeran berambut perang menjadi pria berambut abu-abu dengan mata hijau menyala.
Dia bergerak dengan berjalan santai. Masuk ke hutan untuk berpindah ke desa lain yang jaraknya lumayan jauh sambil dia menyantap makanannya seperti penduduk biasa.
Siapa yang mengira dia adalah pelaku pemusnahan lebih dari setengah manusia?
Meridian terus membuntutinya sampai Ruben memasuki sebuah kediaman luas. Cuma bangsawan yang punya kediaman sebesar itu di dunia ini.
"Ada barier." Meridien bersandar pada batang pohon besar sambil mengawasi rumah itu. "Dan cukup kuat. Dari energinya, itu sekitar tiga puluh penyihir."
Ruben punya penyihir biasa.
Apa yang akan kamu lakukan?
Entahlah.
Meridian menghilang untuk berteleportasi, namun sengaja tak pergi jauh.
Terpikir olehnya mengenai kemampuan Ruben. Penelitian sihir yang dia lakukan selalu menghasilkan sihir yang tidak dikenali bahkan oleh mata Andaru atau pengetahuan Lumiel.
Bagaimana jika ... dia bisa membuat sihir memutar waktu? Atau sihir yang bisa mengembalikan Meridian ke dunia nyata, sebelum tubuhnya mati?
Meridian.
Akan kuselidiki.
__ADS_1
Apa pun itu, ia akan mencobanya.
...*...