Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
7 - second male lead


__ADS_3

Setiba di kediaman, lagi-lagi Meridian mengurung diri.


Ayah dan Ibu heboh menyambut mereka sambil terus bertanya apa Meridian terluka.


Ternyata, meskipun di dunia ini tidak ada alat komunikasi bahkan telepon kabel, ada sesuatu seperti gulungan sihir untuk berkomunikasi.


Dion dan Raphael sepakat berbohong bahwa api disebabkan oleh permainan penyihir muda tidak bertanggung jawab—Meridian agak tersinggung—lalu mereka kabur entah ke mana.


Tadi, sebelum mereka benar-benar tiba di kediaman, Dion berkata untuk merahasiakan kemampuan sihir Meridian untuk sementara waktu. Karena ia tidak mau mencolok, Meridian setuju.


Santai-santai menikmati makanan mewah di kamarnya tanpa khawatir gendut.


Tokoh utama ini saja punya booty persik tanpa angkat beban. Masa dia gendut karena makan banyak?


Mitos.


Setelah makan dan ngeteh ala-ala, Meridian duduk di meja dekat jendela bersama pena kuno, tinta dan secarik kertas.


Pertama-tama, ia harus mencari tahu sebenarnya ke arah mana cerita ini berlanjut.


Politik, coret.


Perang, coret.


Romansa, pasti.


Namun pertanyaannya, mengapa Dion dan Lucas menyembunyikan sesuatu tentang rambut mereka?


Kalau mengikuti pola-pola cerita semacam ini, kemungkinan itu karena kutukan (warna hitam selalu dikaitkan dengan kegelapan) atau rahasia kelahiran mereka berdua adalah anak haram atau mereka berdua memiliki kelainan tertentu yang membuat mereka disebut monster?


Biasanya begitu. Apalagi kepribadian Dion juga dingin, Lucas seperti sulit disentuh.


Tapi kalau iya, monster macam apa mereka?


Pola monster di cerita fiksi itu menyebalkan. Mereka yang disebut monster di mata Meridian hanyalah karakter yang sedikit tidak baik, tapi entah kenapa dibuat seakan-akan mereka menakutkan.


Ia bahkan masih bertanya-tanya kenapa karakter macam Dion selalu disebut dingin tak berhati.


Tak berhati apanya!


Kenyataan dia mengurus Meridian saja sudah cukup menunjukkan bahwa dia cuma tidak suka mengurusi hal merepotkan yang tidak ada kaitan dengannya. Berhubungan Meridian adik mereka, ya dia ada kaitan.


Dengan kata lain, dia tsundere.


Lalu, disamping itu, Herdian malah muncul sebagai pria berambut pirang. Visualnya tampan, memang, tapi image-nya seratus delapan puluh derajat berbeda, mencoreng sosok Herdian di kepala Meridian.


Herdian yang ia inginkan itu Herdian berotot berambut cokelat tatoan!


Seperti Herdian crush-nya di dunia nyata yang hobi nge-gym tapi jomblo menahun. Bukan penyihir kurus hobi tersenyum!


Tapi baiklah, berhubungan dia nampak seperti manusia, jadi anggaplah kemauan Meridian adalah omong kosong.


Pertanyaannya, apa peran Herdian?


Second male lead?


"Sepertinya Nona sedang bekerja keras."


Meridian terlonjak.


Angin dari jendela yang terbuka berembus kencang tiba-tiba, dan cahaya hijau pudar berputar memunculkan sesosok pria yang baru saja ia pikirkan.


Apa yang Meridian kejutkan bukan hanya tentang seorang pria tiba-tiba muncul di jendela kamarnya, memakai setelan penyihir dengan jubah, tapi nampak seperti putra mahkota ingin ke pesta dansa.


Meridian menepuk jidat. Malu rasanya ia harus melihat semua kehaluan temannya itu.


Okelah, dia kreatif. Tapi haruskah dia membuat sesosok penyihir berambut pirang, mata biru dan tampang boyband Korea itu bernama Herdian?


Harusnya waktu itu Meridian tidak memberikan dia nama. Agar setidaknya dia memberikan tokoh ini nama Zack atau Berjamin atau Felix. Terserah siapa asal bukan nama lokal, Herdian.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Nona tidak terkejut?"


"Aku terkejut."


Herdian memegangi dagunya, memandang Meridian seperti ia objek penelitian menarik. "Anda benar-benar berbeda dari terakhir kita bertemu, Nona. Tentu saja Lucas dan Dion mengira jiwa seseorang tertukar dengan Anda. Padahal pertukaran jiwa mustahil bisa dilakukan."


Makanya Meridian pusing. Kenapa dirinya malah bisa? "Apa maumu?"

__ADS_1


Pria itu tersenyum hingga kedua matanya tertutup sempurna. "Ayo berbincang mengenai rahasia, Nona. Saya berpikir Nona tidak terlalu ingin membicarakannya dengan Raphael atau Dion."


"Rahasia apa itu?" Meridian meremas kertasnya sambil ia beranjak. Bola kertas itu terbakar, lenyap tanpa sisa bahkan sebelum Meridian duduk di tempat tidurnya. "Duduklah di sana."


Herdian terkekeh. "Anda waspada juga. Baiklah."


"Tapi sebelum itu, beritahu aku bagaimana kamu berteleportasi? Kupikir sihir itu hanya bisa dilakukan oleh Lucas, memikirkan sesuatu tentang elemen yang dimiliki setiap penyihir berbeda."


"Itulah yang ingin saya bicarakan."


"Kalau begitu katakan."


Pria itu duduk manis di tempat Meridian tadi, memandangnya yang tenang di pinggir kasur.


Sepertinya dia terlalu memerhatikan bagaimana Meridian melipat tangan, tapi karena itu tidak penting, segera dia bicara pada intinya. "Apa Nona ingat tentang ini?"


Hanya dalam sekejap mata, lingkaran sihir hijau bercampur biru itu muncul lagi.


"Sejujurnya, ada sesuatu yang saya tidak katakan pada Raphael mengenai ini."


Jangan bilang ....


"Melihat dari reaksinya, Dion tidak bisa mendeteksi keseluruhan kemampuan Nona. Itu tidak terlalu mengherankan. Sensitifitas Dion lebih mengarah pada mana daripada elemen."


Ternyata bukan soal jiwa. "Jadi itu mengenai elemenku?"


"Anda sangat cerdas, Nonaku. Dalam pendeteksi ini, saya melihat cukup banyak mengenai elemen Nona. Daripada membicarakannya, ayo lihat saja secara langsung. Bisakah Nona mengeluarkan api lagi?"


Meridian membuka telapak tangan. Mengeluarkan api sesuai keinginan dia.


Ada hening sejenak saat Herdian menatap api di tangan Meridian.


Meskipun dia segera tersenyum lagi. "Apa Nona bisa membuatnya lebih besar lagi? Saya menyelimuti sekitar Nona dengan barier, jadi Nona tidak perlu khawatir."


Meridian tidak khawatir.


Sebenarnya ia hanya tak tahu bagaimana cara membesarkannya, jadi ia berpikir api itu besar. Ternyata sungguhan jadi besar, nyaris menyentuh atap namun memantul pada lingkaran sihir di sekitarnya.


Penyembuhan, barier, lalu teleportasi. Jangan-jangan plot twist-nya adalah Herdian penyihir terkuat seperti Meridian yang tidak dikekang oleh kuil?


Herdian tiba-tiba terkekeh. "Jika saya boleh berterus terang, saya hanya ingin berkata, Nona luar biasa. Nona terlihat kebingungan dengan apa itu sihir tapi membuat api sebesar ini tanpa berkeringat sama sekali. Apa mungkin terasa panas, Nona?"


Benar juga.


Mengapa tidak terasa panas padahal api ini sampai membakar abu kertas coretan tadi?


Herdian tiba-tiba menjentikkan jari lagi. Angin sepoi-sepoi berembus mengelilingi Meridian, namun memadamkan api besar itu seketika.


"Elemen dasar seseorang seperti bagian dari tubuh orang itu sendiri, Nona. Api yang Nona keluarkan berkali-kali lipat lebih panas dari api merah, namun karena itu milik Nona, itu tidak akan menyakitkan."


Oho. Ini mulai agak menarik. "Elemenmu angin. Seharusnya itu bertentangan dengan api. Anginmu juga lembut."


"Sihir adalah manifestasi dari kecerdasan. Yang berarti sihir Nona adalah wujud dari kecerdasan Nona. Mereka menerima elemen saya karena Nona tidak menganggap saya musuh. Saya tidak memadamkan. Mereka padam sendiri."


Begitu, kah. "Aku akan menyalakannya lagi. Coba padamkan."


Api kecil kembali muncul di telapak tangan Meridian, dan Herdian kembali mengirim anginnya. Tapi kali ini, api itu membesar, membentuk lingkaran yang mengelilingi Meridian.


"Kecerdasan Nona sepertinya memang layak dengan jumlah mana Nona." Herdian menarik anginnya, Meridian memadamkan apinya. "Bisakah saya mengartikan Nona sudah bisa mengendalikan sihir sepenuhnya?"


"Tidak juga. Tapi kurasa mudah."


"Baiklah." Herdian tersenyum manis. "Lalu, Nona, bisakah Nona membayangkan air?"


Meridian memiringkan wajah. "Maksudmu aku membuat air?"


"Nona memahaminya. Silakan lakukan."


Apa dia bermaksud bilang elemen dasar Meridian ada dua?


Tapi dia benar. Mencoba lebih cepat. Jadi Meridian membuka telapak tangannya, dan membayangkan air.


Satu.


Dua.


Tiga.


Tidak muncul apa-apa.

__ADS_1


"Tidak ada."


Herdian agak terdiam lama. "Bisakah Nona memejamkan mata? Tolong jangan menolak angin saya sebentar. Bayangkan saja angin itu angin laut atau udara sejuk di tepi danau."


Sepertinya dia serius.


Meridian memejamkan mata. Merasakan angin sepoi-sepoi ringan bergerak mengelilinginya.


Sensasi sejuk dari angin memudahkan Meridian berpikir tentang air.


Air.


"Ada." Herdian langsung tersenyum lebar pada gumpalan air di tangan Meridian. "Kecerdasan akan terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri dan keraguan, Nona. Semakin ragu Nona melakukannya, semakin sulit dikendalikan."


Ini sungguhan.


Meridian cengo melihat gumpalan air melayang-layang itu. Agak tidak percaya sampai ia menyentuhkan telunjuk ke sana, namun tidak merasakan sensasi basah sama sekali.


"Segala sesuatu yang kuciptakan tidak bisa kurasakan, begitu kira-kira?"


"Ya, Nona. Sihir sangat sensitif pada penggunanya. Saat mereka keluar dengan kekuatan Nona, mereka tidak akan pernah merugikan Nona."


"Apa dual elemen adalah kasus yang langka?"


"Tidak juga. Raphael mengendalikan air dan tanah, dan bisa menciptakan tumbuhan dari gabungan elemen itu."


Mirip kekuatan Shodai Hokage dan Yamato. Laila itu meniru mereka pasti.


"Api dan air. Apa yang bisa kuciptakan dari mereka?"


Herdian tiba-tiba tergelak. Sangat keras sampai Meridian khawatir pelayan datang karena mendengarkan suara mereka.


"Nona bertanya tentang menggabungkan elemen dan menciptakan elemen baru seperti itu mudah. Anda sangat menarik, Nona."


Bukankah itu pertanyaan dasar?


Raphael bisa, mungkin orang ini juga bisa. Lalu kenapa?


"Elemen tidak akan merugikan penggunanya jika digunakan, tapi itu berbeda cerita dengan menggabungkan dua elemen. Perlu keseimbangan luar biasa yang dicapai lewat latihan bertahun-tahun untuk menggabungkannya. Tidak akan semudah menciptakan air atau api dari pikiran, Nona."


Ah, jadi begitu.


"Tapi bukankah jumlah manaku luar biasa? Apa itu sulit?"


"Seharusnya. Apa Nona mau mencoba?"


"Ya."


"Saya akan membantu Nona, jika Nona ingin. Namun tidak sekarang. Benturan elemen adalah peristiwa yang tidak biasa untuk Nona. Jika Dion menyadarinya, itu akan sedikit merepotkan."


Dion, kah? Sialnya dia benar.


"Kalau begitu, bisakah Nona menciptakan angin?"


"Apa maksudmu?"


Herdian malah tersenyum. Bodoh jika Meridian tidak menyadari apa maksudnya.


Daripada berdebat, segera ia mengimajinasikan sesuatu seperti angin, bergerak lembut di sekitarnya.


Ternyata bisa.


Sial.


Meridian tokoh utama wanita atau antagonis wanita sebenarnya? Kalau ini Naruto, berarti sekarang ia punya kekkei genkai. Jangan-jangan ia juga bisa kekkei tota?


Apa dirinya ini adalah Otsutsuki Kaguya?


"Apa angin itu juga tidak terasa, Nona?"


"Tidak. Ini sejuk. Aku merasakannya."


"Lalu ...." Herdian menunjuk dirinya sendiri. "Bagaimana jika Nona mengarahkannya pada saya? Tapi tolong jangan berpikir membunuh saya. Cukup pikirkan angin itu menggores—"


Sebelum dia selesai bicara, angin Meridian sudah melesat ke arahnya. Itu diluar kendali Meridian, namun ia spontan berpikir hanya menggores.


Dalam sekejap, muncul garis horizontal di pipi Herdian, jalan bagi darah segar mengucur.


...*...

__ADS_1


__ADS_2