
Sebenarnya Meridian agak berpikir bahwa Andaru sedang santai-santai menikmati waktu luang sebelum plot ceritanya membuat dia pergi berperang lagi, tapi ternyata sang Putra Mahkota tidak cuma duduk-duduk ganteng menikmati teh.
Kata ajudannya yang Meridian temui, Yang Mulia sedang memimpin pertemuan bangsawan kecil. Jadi Meridian harus menunggu beberapa saat di ruangan pribadi Andaru, ditemani oleh segelas cokelat marshmallow.
Meridian sudah muak minum teh.
Sambil menunggui tunangan terkasihnya, Meridian berkeliling.
Ruang kerja Andaru super duper luas, mengalahkan kamar super luasnya Meridian. Dilengkapi dengan dua set sofa yang diletakkan di tempat berbeda, ditambah beberapa rak raksasa berisi buku dan dokumen.
Mejanya juga besar, mungkin leluasa dipakai berguling-guling.
Sekilas itu tampak seperti ruang kerja bos pada umumnya, namun tidak ada komputer, juga kertasnya kuno bersama pena buku aneh yang luar biasa susah dipakai menulis.
Tak cukup melihat itu saja, Meridian penasaran melihat-lihat berkasnya.
Sebagian besar hanya perihal tanah dan izin membangun usaha. Tapi ada beberapa hal menarik yang Meridian beri perhatian.
Dungeon? Di dunia ini ada dungeon?
Laila itu. Apa dia tidak bisa membedakan mana yang harus dia letakkan karena penting untuk alur cerita dan mana yang tidak?
Yah, tapi ada sihir sih, jadi setidaknya harus ada dungeon atau sihirnya cuma untuk memotong-motong kayu.
Kalau begitu, seperti apa dungeon-nya?
"Apa yang kamu lihat dengan serius, Nonaku?"
Meridian melirik Andaru yang baru saja memasuki ruangan. Ia berpikir untuk beranjak, tapi batal karena Andaru memberi isyarat tidak melakukannya.
"Pekerjaan Anda." Meridian meletakkan berkas itu lagi. "Apa itu dungeon, Yang Mulia?"
Andaru sempat mengerutkan kening. "Benar juga. Kamu lupa ingatan."
Lalu dia pergi bersandar di sebelah Meridian, menghadap padanya.
"Dungeon adalah ... sebut saja itu seperti taman bermain para monster. Tempat itu terhubung ke Hutan Kegelapan, hingga para petualang bisa memburu mereka dengan keamanan yang lebih tinggi."
"Mengapa para monster seperti dipelihara alih-alih dimusnahkan?"
Ada senyum misterius di bibir Andaru saat dia berkata, "Untuk memberi peluang bagi rakyat mengasah kemampuan mereka secara langsung."
Meridian memicing. "Apa untuk menyeleksi pasukan?"
"Apa maksudmu?"
"Entahlah. Mungkin seperti Anda jadi bisa melihat potensi bertahan hidup, ketajaman strategi berperang dan sejenisnya jika mereka melawan monster secara langsung. Saya mendengarnya dari Herdian—maksud saya, Duke Muda. Bahwa bangsa iblis telah punah, sementara para monster disegel."
"Herdian, yah?" Mata Andaru langsung berpindah ke tangan Meridian.
Gara-gara si Putri tadi, Meridian jadi terlalu fokus merasa kasihan sampai lupa.
Tapi ia juga tak terlalu panik, sih. Kalau Andaru itu tipe pencemburu yang akan membantai semua selingkuhan Meridian, Herdian sudah mati duluan sejak kemarin.
"Omong-omong, Nonaku," Andaru tidak merespons dugaan Merdiain, melainkan beranjak mengambil sesuatu dari rak, "aku sudah mengajukan dokumen pernikahan pada kuil."
__ADS_1
Meridian diam.
Mata merah Andaru bersinar, memperlihatkan iris reptilnya. "Apa begitu caramu mengatakan 'terima kasih', Nona?"
Mana disekitar Meridian bergejolak.
"Itu bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan." Meridian meraih dokumen itu. "Apa yang Kakak saya katakan mengenai ini?"
"Kakakmu tidak memiliki hak dalam pernikahan kita."
"Jangan bersikap dingin begitu, Yang Mulia. Bagaimanapun, Dion akan menjadi saudara ipar Anda. Tolong kasihani dia sedikit."
"Aku tidak bida memberi belas kasihan pada orang yang mau memisahkanku darimu."
"Anda manis sekali." Meridian melirik tangan Andaru.
Terakhir kali dia menggunakan sihir, dia hanya memerlukan telunjuknya.
Dari apa yang Meridian tahu mengenai sihir, mana tidak bisa diubah menjadi sihir tanpa ada gerakan pemicu atau perangsang.
Pikiran adalah penentu, namun gerakan sepertinya juga diwajibkan. Entah jentikkan jari ataukah sekadar membuka telapak tangan, sihir akan aktif dengan itu.
Tanpa itu, ternyata tidak bisa.
Meridian tidak sempat bertanya pada Herdian benar atau tidak, namun setidaknya Meridian tidak bisa. Jadi ia asumsikan tidak bisa.
Karena jika tidak, Andaru tidak perlu menggunakan telunjuknya waktu itu untuk menarik Meridian.
Sekarang telunjuk itu tidak menyentuh meja. Dia seperti berpegang pada meja, padahal telunjuknya mengarah pada Meridian.
Sederhana juga.
"Jadi?"
Andaru mengangkat alis. "Jadi?"
"Apa Anda mengirim petualang sebagai kedok memilih prajurit?"
Dia pikir bisa mengalihkan pembicaraan begitu saja? Topik itu mengenai sesuatu yang Meridian ingin bahas.
"Kenapa kamu tertarik, Nona?"
"Karena entah kenapa Anda tidak memberitahu siapa pun mengenai kekuatan sihir saya."
Secara mendadak Meridian membuat kobaran api sangat besar dan mengatur pikirannya untuk tidak membakar apa pun itu, termasuk debu.
Sesuai dugaan, Andaru secara defensif mengaktifkan barier yang mirip seperti milik Herdian, tapi berwarna merah dan lebih pekat.
Matanya bersinar sangat terang menatap Meridian.
"Kamu mengendalikannya." Dia tersenyum culas. "Aku dengar kekuatanmu tiba-tiba bangkit setelah amnesia. Dion tidak akan bermurah hati mengajarimu pengendalian sihir, dan Raphael pasti tidak akan melakukannya."
"Mengapa begitu?"
"Karena mengendalikannya juga berarti memperkuat sihirmu, Nona."
__ADS_1
Meridian tersentak. Mematikan sihirnya seketika itu juga.
"Kamu yang tidak mengendalikannya sudah tiga tingkat di atasku. Apalagi kamu yang mengendalikannya. Kuil benar-benar akan menganggapmu pengkhianat. Mana mungkin mereka mengajarimu pengendalian dan membuatmu lebih menakutkan lagi. Apa menurutmu aku duduk di sini menyaksikan burung berkicau saja? Aku mengawasi para bangsawan. Pertunangan kita mengartikan hubungan politik antara aku dan Marquis. Kupikir kamu mengerti."
Tidak. Meridian tidak mengerti sebab ia tak tahu bagaimana pola politik kerajaan.
Di republikan, penentu kekuasaan adalah faksi politik dan pendukung di belakang layar. Tapi karena Meridian tidak pernah benar-benar tertarik pada pola kekaisaran, ia hanya tahu bahwa sistem nepotisme-lah yang menentukan.
Jadi ia tak terlalu memperkirakan Andaru harus butuh kekuatan politik di luar itu.
Lagipula, biasanya politik tidak terlalu dibahas di novel romantis fantasi begini. Yang jadi putra mahkota konfliknya cuma mau dibunuh tapi bertahan lalu jadi raja. Faksi politik cuma pajangan.
Di novel aksi-fantasi pun begitu. Politik selalu kalah dari kekuatan tempur para tokoh, terutama tokoh utama dan antagonis, karena jika ditonjolkan, kekuatan tempur tidak akan menonjol.
Ini sudah diluar kemampuan Laila.
Apa mungkin dunia ini berjalan sesuai dunia nyata meski berpatokan pada keinginan Laila? Seperti, meski Laila tidak merincikan alasan kenapa begini dan begitu, fokus pada alasan cinta saja, di dunia ini waktu berjalan normal.
Jadi Meridian melihat lebih banyak dari yang biasanya diceritakan novel?
"Anda ingin berkata bahwa agar tidak dipandang sebagai pengkhianat atau dianggap sedang merencanakan pemberontakan, maka kekuatan sihir saya akan selamanya dibiarkan pada level terendah?"
"Kamu ternyata mengerti."
"Jadi mengapa Anda mau menikahi monster seperti saya?"
"Kamu yang memintanya."
"Lalu mengapa saat saya meminta pembatalan, Anda menolaknya?"
Andaru tidak menonaktifkan sihir di matanya. Dia bergerak-gerak mengawasi Meridian. "Apa yang coba kamu katakan, Nonaku?"
Sekejap mata, Meridian menjentikkan jari. Kini bukan hanya api, terang-terangan ia mengeluarkan air dan anginnya, menggumpal satu sama lain seperti bencana.
Untuk pertama kali Andaru tampak sangat jujur, terkejut memandangi semua itu. Karena di tempat ini ada barier-nya tokoh utama, Meridian berpikir menggabungkan ketiga elemennya.
Bukan agar ia dapat menciptakan kekkei tota, tapi agar satu sama lain elemen itu berbenturan.
Dalam sekejap mata, ledakan sihir menerbangkan semua hal.
Termasuk meja di depan Meridian sendiri.
Ledakannya begitu destruktif. Barier merah pekat muncul mengelilingi Andaru, tapi dua goresan panjang mengenai pipi dan lengannya sobek.
"Apa Anda tahu apa perbedaan saat saya menyukai Anda dan saat saya tidak terlalu menyukai Anda?" Meridian kembali mengumpulkan sihir dengan telunjuknya. "Saya tidak pernah berpikir sesuatu itu sulit dilakukan. Bahkan jika sulit, saya berpikir itu mudah agar itu benar-benar mudah."
Andaru membalas tatapannya dengan mata reptil itu. Sejenak hanya ada keheningan sebelum dia tiba-tiba tertawa, diakhiri sebuah seringai sialan tampan.
Cih.
Wajahnya menggoda.
"Apa kamu balik mengancamku, Nona?"
"Apa perlu diperjelas?"
__ADS_1
...*...