
"Lanjutkan penjelasanmu tadi."
Si Pirang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. "Masing-masing penyihir yang diakui oleh kekaisaran juga diberi pengakuan oleh kuil. Akan sangat rumit menjelaskannya, tapi secara singkat, mereka tidak ingin kekuatan penyihir melampaui kekuatan kuil hingga mereka memberi batasan dalam kemampuan penyihir."
"...."
"Tentu, mereka tidak menekannya ke batas yang terlalu rendah. Kekuatan Tuan Muda Raphael memungkinkannya memusnahkan dua batalion musuh non-mage."
Meridian tidak paham.
Ia paham tapi juga tidak paham jadi anggap saja ia tidak paham.
"Dewa apa yang disembah oleh kuil?"
"Dewa Matahari."
Klise.
Lalu kenapa namanya Alala kalau dewanya dewa matahari?!
"Aku mengerti."
Dasar Laila bodoh!
Sinting!
Sialan!
"Lalu, apa aku akan tetap dianggap berbahaya jika aku berkata aku tidak tahu mengapa kekuatan sihirku seperti ini? Aku bahkan tidak tahu mengapa tanganku mengeluarkan api."
Mereka diam. Saling memandang, lalu menghela napas.
"Meridian." Raphael mendekat. "Kuil mengharuskan setiap penyihir yang baru bangkit untuk melaporkannya pada kuil. Mereka mengontrol perkembangan penyihir sebab jika kekuatan sihir itu melampui batasan tertentu, mereka tidak bisa menekannya."
"Jadi?"
"Kekuatan sihirmu terlalu besar." Dion melipat tangan. "Terlalu besar untuk ditekan oleh pengekang kuil. Berbeda jika kekuatanmu masih berada di bawah Raphael, itu mudah meletakkan penahan."
Kekuatan sihir adalah manifestasi kecerdasan pemiliknya, Nona.
Lagi-lagi si Pirang bertelepati.
Bukankah Nona sendiri tidak menyadari mengapa ada api di tangan Nona? Sihir pada dasarnya elemen yang perlu dikendalikan, bukan ada untuk dikendalikan. Jadi mereka bisa bergerak sendiri, hanya dengan sedikit rangsangan pikiran.
Maksudmu kekuatan sihirku sudah terlalu besar untuk dikendalikan?
Tidak dalam arti yang terlalu buruk, tapi bagi kuil, tentu itu buruk.
Apa kuil itu Meridian hancurkan saja? Toh, ia tokoh utama. Tokoh utama melawan dewa pun pasti selamat.
"Aku mengerti."
Meridian membuka telapak tangannya lagi. Ia hanya membayangkan sesuatu seperti api muncul, dan itu sungguhan muncul tanpa mantra simsalabim.
"Hei, aku bertanya karena memikirkannya. Apa sihir memiliki elemen?"
__ADS_1
Itu pelajaran dasar, kan?
Atau mungkin sihirnya seperti Harry Potter yang tergantung mantranya?
Tapi setahu Meridian, Laila itu bukan penggemar sihirnya Harry Potter. Dia lebih menggemari sihir di komik-komik. Yang polanya seperti cakra dalam Naruto.
Kalau begitu .... "Apa kepadatan sihir bergantung pada mana?"
Si Pirang tersenyum sementara tatapam saudaranya makin curiga.
Cih. Seharusnya Meridian curiga waktu melihat mata kristal tidak normal ini.
"Ya, Nona. Elemen seseorang menentukan jenis sihir yang mereka bisa lakukan. Tuan Muda Raphael memiliki elemen bumi. Tanah, air, beliau bisa mengendalikannya."
"Apa milikmu teleportasi?" Meridian langsung bertanya pada Lucas. Sebab tadi tiba-tiba saja Meridian sudah di luar kereta dan orang ini yang paling dulu bersamanya.
Lucas bukan menjawab, tapi buang muka. Seakan-akan dia tidak sudi ditanya.
Yasudah kalau tidak suka.
Meski Meridian penasaran dengan Dion.
Dia bisa merasakan sihir yang tidak dirasakan oleh Raphael. Sementara tadi si Pirang bilang hanya empat penyihir terkuat. Apa itu berhubungan dengan elemennya?
Ini sih bukan novel lagi. Kenapa tidak sekalian muncul sistem semacam game?
"Aku masih akan bertanya. Kenapa kamu menyembunyikannya?"
"Apa sihir bisa disembunyikan?"
"Begitukah? Baguslah. Apa kepekaan luar biasamu tidak bisa melihat apakah aku menyembunyikan sihir selama ini atau tidak?"
Meridian memalingkan wajah seperti Lucas tadi padanya.
"Kurasa caramu melihat sihir itu seperti melihat mana menari-nari di sekitarku atau sejenisnya. Atau mungkin kamu mencium baunya atau entahlah hal aneh apa."
Lucas menatapnya tajam. "Aku bertanya padamu. Kamu sungguhan Meridian?"
"Bukankah Raphael memastikan jiwaku ini asli?"
"Tapi kamu berbeda. Kamu seperti bukan dirimu. Apa kamu bahkan tidak ingat kamu pingsan hanya karena Yang Mulia menegurmu terlalu terbata-bata memperkenalkan diri? Lihat dirimu sekarang. Entah siapa kamu."
Kalau ada cara memastikan jiwa asli atau palsu sungguhan, Meridian akan hands up. Memang luar biasa karya Laila ini sampai ia mulas rasanya.
Tapi karena Meridian masih sedikit percaya bahwa sahabat tolol itu punya secuil otak, dia pasti mengikuti saran Meridian, kan?
"Bukankah karena itu saya berada di sini?" Si Pirang pun maju.
Kini mendekati Meridian.
Setelah duduk di tepi kasur dekat kakinya, si Pirang mengulurkan tangan. "Bolehkah, Nona?"
"Hei." Lucas melotot.
Pada si Pirang.
__ADS_1
Meridian baru akan memberikan tangannya ketika tiba-tiba ia melayang ke udara, diselimuti oleh aura hitam pekat. Tubuhnya mendarah mulus di atas lengan Raphael seolah-olah ia bolu gulung yang dioper.
Si Pirang tertawa. "Saudara Anda masih saja protektif, Nona. Maafkan saya jika bersikap lancang."
Tangan Raphael menyentuh ujung rambutnya. "Meridian, boleh berikan sedikit rambutmu? Itu akan membantu mengidentifikasi sihirmu."
"Bukankah lebih mudah dia memegang tanganku sebentar?"
"Seorang bangsawan wanita menjaga kehormatan mereka dari menjaga tangan pria menyentuh mereka, termasuk tangan." Dion melirik tajam. "Berikan saja rambutmu."
Kalau bukan karena penasaran, Meridian ogah melakukan perintahnya.
Apanya yang bangsawan.
Bangsawan yang ia tahu berdansa dengan banyak pria agar mereka bisa menikah.
Dasar Laila. Membuat aturan seenak jidat saja.
Raphael langsung memotong sejumput rambut putih Meridian untuk diserahkan pada si Pirang.
Semua mata terfokus pada lingkaran sihir berwarna hijau cerah di atas si Pirang. Meridian tidak mau tahu itu apa, tapi pelan-pelan ada campuran warna biru dalam aliran lingkarannya.
"Kekuatan sihir berpusat pada jiwa dan bukan raga seorang penyihir." Pirang itu memperbesar lingkaran sihirnya. "Tidak ada kelainan dalam kekuatan sihir Nona Muda. Persis sama seperti yang Tuan Muda Raphael katakan. Tidak ada pertukaran jiwa. Nona adalah Nona."
Tapi bagaimana bisa?
Mungkinkah karena Meridian bernama sama dengannya? Atau karena Meridian adalah tokoh yang diciptakan dari Meridian juga?
Entah yang mana, sepertinya kekuatan sihir tidak bisa mengidentifikasi semua hal. Hanya hal-hal tertentu.
"Lalu apa yang membuat kepribadiannya berubah total?" Lucas tidak puas. "Dia selalu meringkuk seperti kodok pengecut. Lalu sekarang dia bahkan melotot padaku dan bersikap kurang ajar. Aku tidak pernah mendengar sihir menciptakan kelainan dalam personalitas seseorang."
"Anda benar. Untuk sekarang, mari berasumsi itu dikarenakan kekuatan sihirnya yang luar biasa. Kekuatan dengan kepekatan sihir seperti Nona tidak pernah tercatat dalam sejarah. Bisa jadi, karena kuil menekan pertumbuhan para penyihir, kita tidak pernah menemukan data apa pun tentang perilaku mereka yang kepekatan sihirnya di atas batasan normal. Bagaimana, Tuan Muda?"
Raphael menatap khawatir pada Meridian. "Kurasa kita tidak punya pilihan. Aku mempercayaimu menyelidiki dan menyembunyikannya, Herdian."
Herdian?!
Mata Meridian melotot horor begitu ia tahu lagi-lagi nama yang ia rekomendasi dipakai.
Tapi apa-apaan! Kenapa pula Herdian berwujud pirang dengan mata biru laut itu?!
Herdian seharusnya berbadan kekar! Minimal kesatria!
Kenapa malah ... AKH!
"Kamu ingin tetap ke kota?" Dion menunduk padanya.
Yang segera Meridian balas gelengan kepala.
Sihir sudah cukup membuat ia terkejut.
Ayo ke kota lain kali.
...*...
__ADS_1