
Lumiel tiba-tiba berubah, menampilkan sosoknya yang berkulit hitam, berambut hitam dan bermata hitam.
Dia duduk di tangan kursi Meridian, tersenyum memamerkan hubungan mereka.
"Aku yang menculiknya."
Meja ciptaan Meridian pecah oleh luapan sihir dari tiga orang.
"Aku yang memintanya memukuliku." Meridian menjentikkan jari agar meja baru tercipta. "Jangan terlalu mempermasalahkan hal bodoh. Sekarang urusannya adalah Ruben."
"Bagaimana Nona berkata seperti itu?! Apa Nona ingat bagaimana kondisi Nona saat kembali?!"
Lumiel menatap aneh Herdian. "Aku tidak tahu bagaimana kamu memandang wanitaku ini, tapi bukankah kamu berlebihan melihat dia sebagai gadis baik? Dia anak nakal."
"Wanitamu?" Mata reptil Andaru nampak meski sihirnya tak bisa sampai akibat perbedaan jarak. "Aku pun tidak tahu bagaimana kamu bisa melihat calon istriku sebagai wanitamu, namun bukankah kamu berlebihan menyalapahami diperalat olehnya sebagai bentuk hubungan romantis?"
"Jangan ikuti kebodohan mereka, Dion, Lukas." Meridian memperingati sebelum mereka berdua ikut melontarkan omong kosong. "Dan ini bukan waktunya bicara mengenai hubungan, Yang Mulia, Lumiel. Jadi diamlah."
Keduanya saling melotot, tapi patuh.
"Ayo kembali pada masalah. Jadi, tidak ada satupun yang dapat memastikan bawahan Ruben?"
"Lagipula pemikiranmu menakutkan." Lukas berdecak. "Siapa juga yang sudi memastikan identitas satu per satu musuh yang mati?"
"Lalu sekarang kita bertanya-tanya mengenai hal itu, dari mana kita mendapat jawaban jika tidak memastikannya sejak awal, Saudaraku?" Meridian lupa kalau ini tetaplah novelnya Laila. "Baiklah, lupakan saja. Aku akan berasumsi bahwa Ruben sudah menduga pengkhianatan Lumiel."
"Itu sulit diterima, Meridian." Dion menghela napas. "Bahkan jika pertikaian waktu itu adalah skenariomu, bagaimana dia bisa menduganya hanya dalam waktu beberapa jam?"
"Dia menduganya sebelum itu terjadi."
"Mengapa?"
"Karena dia pintar."
Meridian sangat mengaguminya. Langkah-langkah Ruben mulai dapat terlihat di matanya yang merupakan orang ketiga dari novel ini. Walau hanya asumsi, asumsi itu lebih kuat daripada mengatakan kebetulan.
"Dia sangat pintar. Lagipula kalau dipikirkan ulang, risiko dari rencana menyewa bandit untuk menguasai dungeon itu agak konyol. Jika Ruben yang pintar itu meletakkan kepercayaan diri atas kemenangan padahal semuanya berjalan biasa-biasa saja, maka dia bukan orang pintar. Artinya, dia memang tidak berharap terlalu banyak."
__ADS_1
"Nona, dia kehilangan kerajaannya."
Andaru bukan menyangkal, namun memancing kesimpulan yang benar-benar pasti sebelum mereka membuat strategi.
Meridian pasti akan kesulitan menjawab jika ia tak punya kekuatan istimewa—menduga-duga plot sebuah cerita fantasi. Sebab normalnya memang segala sesuatu dipandang dari untung dan rugi, bukannya ketidakpastian seperti kepribadian atau ambisi.
Namun, ini adalah novel. Dunia ini dunia novel. Itu cukup untuk membuat untung rugi tidak berlaku, melainkan emosi dan ambisi yang bermain.
Villain yang kuat, cerdas, licik, ambisius. Mengapa dia yang pintar membuang kerajaannya? Mengapa dia yang pintar bekerja sama dengan kuil yang dia benci? Mengapa dia yang pintar membenci penyihir namun mengoleksi penyihir hitam?
Mengapa dia yang pintar, tahu Lumiel berkhianat namum tetap memberinya pekerjaan karena tidak peduli pada risiko, melakukan semua hal ini?
Villain dengan karakteristik seperti itu berarti ....
"Bagaimana jika Ruben percaya diri akan kemenangannya, dan dengan hal itu dia mengumumkan kekuatan pada dunia? Bukankah sejarah mengatakan chimera bahkan bisa membunuh pahlawan terkuat pada masanya?"
"...."
"Bagaimana jika dia memang sudah menyiapkan banyak jenis rencana dan membiarkan rencana manapun berjalan, lalu akan memilihnya saat melihat mana yang memberi kepastian? Chimera, sihir hitam, bersekutu dengan kuil, membuat racun, dan hal lain lagi yang tidak kita ketahui, mana saja asal berhasil, bagaimana jika dia melakukannya?"
Itu memberi Meridian sebuah ide.
"...."
"Jika kita menang, maka kuil musnah. Ruben melawan kita dengan kemampuan penuh sementara kita masih memulihkan diri dari peperangan dengan kuil. Jika kuil menang, maka Ruben tinggal menyerang kuil yang juga mengalami dampak dari peperangan. Itu kemenangan sejati."
"Tapi jika memang benar seperti itu, mengapa kuil tidak tahu mengenai kekuatanmu?"
"Apa kerajaan suci sudah dipastikan tidak tahu?"
Kuil dan kerajaan suci pada dasarnya sama. Kerajaan suci adalah pusat, kuil adalah cabang. Namun pusat tidak selalu memberitahukan cabangnya. Lagipula, kuil itu bertugas mencari pengikut, bukan bertugas mengurus peperangan.
Jadi daripada mengawasi mereka yang difokuskan menarik peminat, mengapa tidak fokus mengamati otak dari pergerakan mereka?
Andaru mengerut serius saat memahaminya. "Memasuki wilayah itu membutuhkan prosedur yang sangat rumit, Nona. Dan, hanya izin Kaisar yang bisa membawa seseorang ke sana. Akupun tidak bisa. Jika aku meminta izin, maka aku harus menyertakan alasanku pada Kaisar. Itu sama saja membongkar seluruhnya."
"Maka kuil memang bukan sesuatu yang harus kita pedulikan." Meridian menyilangkan kaki. "Dengan begini, ayo mulai buat kesimpulan. Ruben berada di pihak yang berbeda dengan kuil, namun dia bersekutu dengan seorang pendeta tinggi yang memiliki otoritas kuil."
__ADS_1
"...."
"Di sisi lain, mari anggap kerajaan suci bisa menyerang kapan saja atau minimal mengetahui dan mempersiapkan diri. Kalau begitu, pertanyaan terpentingnya, bagaimana kita memenangkan peperangan?"
Lagi-lagi mereka menatap Meridian aneh.
Iya, iya. Wanita tidak seharusnya paham sedalam itu mengenai perang.
Tapi bukankah itu pertanyaan nanti saja, kalau perang sudah selesai? Lagipula Meridian mengajukan argumentasi yang bisa dicerna oleh akal sehat mereka jadi seharusnya tidak ada pertentangan.
Dunia ini juga bukan dunia bangsawan yang nyata di wanita benar-benar didiskriminasi. Sebagai tokoh utama, Meridian adalah keberadaan yang paling penting dan omongannya paling didengar.
Jadi berhenti bersikap seakan-akan dirinya aneh.
"Aku berterus terang, aku percaya diri pada kekuatanku sekarang. Dengan Dion, Lukas, Herdian dan Lumiel, juga bantuan Anda dan prajurit Anda, Yang Mulia, kita bisa memenangkan peperangan."
"Itu terdengar sangat menyanjung, Nona." Andaru tersenyum bangga.
"Namun itu tidak masuk akal."
Meridian menopang dagu.
"Jika Ruben memiliki chimera dan para pendeta itu memiliki entah apa kekuatan suci, maka berarti kita juga harus memiliki sesuatu yang jauh lebih besar dan destruktif. Sesuatu yang juga bisa menjamin kemenangan."
Ada keheningan lama saat mereka memikirkannya.
"Keluarga Elgard akan bersama Anda, Nona." Herdian mengajukan diri.
"Terima kasih. Tapi aku ingin sesuatu yang lebih besar."
"Haruskah aku juga melakukan kudeta?" Andaru tersenyum manis. "Aku akan melakukannya sebagai persembahan untukmu, Nonaku. Jadi tinggalkan makhluk hitam itu."
"Yang Mulia—"
"Ayo pergi ke hutan kegelapan." Lumiel menunduk. "Cari batu itu. Pasukan iblis adalah jaminan kemenangan yang besar. Bukan begitu?"
Meridian tersentak.
__ADS_1
Kenapa ia tidak memikirkannya?
*