Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
68 - menjadi raja iblis


__ADS_3

Meridian merasakan mereka. Meridian bisa merasakan dengan sangat jelas kedua orang itu sedang begerak sangat cepat menuju dirinya, dan berlutut tepat di samping Lumiel.


Kekuatan yang masuk ke tubuhmu adalah milikmu sekarang.


Suara Meridian Palsu terdengar lagi.


Lakukan yang kamu mau. Seluruh iblis di dunia ini adalah milikmu.


Meridian merasakannya juga.


"Herdian." Meridian turun perlahan, memijak lantai. Dihampiri Herdian yang mematung kaku, menyentuh wajahnya.


Lagi, perasaan aneh yang familier. Meridian bisa mengetahui struktur mana di tubuh Herdian. Mengetahui bagian-bagian kosongnya.


"Berikan manamu, Dion."


Sesuatu serupa angin berwarna putih keluar dari tubuh Dion, berpindah pada Herdian. Meridian tak tahu mengapa ia bisa tahu itu mana manusia.


"Nona—"


Cahaya biru muncul begitu saja. Coba menyerang Herdian jika Meridian tak mencegahnya.


"Berhenti." Meski tidak tahu siapa orang-orang berambut biru gelap, hitam, dan ungu gelap itu, Meridian merasa mengenalnya. "Menjauh darinya."


Meridian tahu. Meridian merasakan segalanya. Kemarahan mereka hanya karena Herdian memanggilnya Nona, perasaan loyal yang meluap-luap.


Ini terasa seperti miliknya juga bukan miliknya.


"Kami menyambut kebangkitan Anda, Yang Mulia." Para iblis itu menunduk hingga kepala mereka nyaris menyentuh permukaan lantai. "Keinginan Anda adalah alasan keberadaan kami."


Itu menjijikan, tapi kenapa ia merasa itu wajar? Apa ini? Perasaan apa sebenarnya ini?


"Lumiel."


"Di sini, Yang Mulia."


"Kumpulkan pasukan."


"Segera."


Meridian hanya perlu mengayunkan tangannya ringan untuk menciptakan portal. Ia menarik Herdian pergi, meninggalkan mereka ke tempat yang tidak ia kenali namun serasa ia ketahui.


...*...


"Nona."


Kastil.

__ADS_1


Besarnya tiga kali lipat dari istana Kekaisaran yang pernah Meridian lihat. Melayang di atas permukaan awan, dipenuhi oleh monster yang menjatuhkan kepalanya ke tanah sambil menangis.


Meridian tahu ini kastilnya.


"Pergilah."


Semua monster itu menghilang.


Meridian membawa Herdian masuk, naik ke puncak kastil di mana sebuah tahta seolah menunggu Meridian datang. Tapi, Meridian tak mendekatinya. Ia berbalik pada Herdian.


"Hubungi Andaru."


Sesuatu dalam diri Meridian menolak memanggil dia Yang Mulia. Seolah berkata mengapa ia harus menghormati orang yang lebih rendah darinya?


"Bolehkan saya bertanya dulu, Nona?"


"Lakukan."


Herdian menatapnya. "Apa Anda masihlah Nona?"


Itu bukan pertanyaan apakah Meridian adalah yang asli atau yang palsu. Itu pertanyaan apakah Meridian masihlah manusia ataukah sekarang telah menjadi monster.


"Tidak." Meridian berjalan menuju tahta itu. "Aku sudah bukan."


Kenapa ini? Kenapa sudut kepalanya menolak jawaban itu namun ia menjawabnya karena merasa itulah jawaban yang benar?


Dia berbohong.


Apa?


Lumiel. Dia berbohong. Dia tidak memberitahumu sesuatu yang penting.


Apa maksudmu?


Kamu merasakannya juga. Kamu berubah. Kamu mengetahuinya. Lumiel tidak mengatakan bahwa menjadi raja iblis berarti merasakan perasaan seorang iblis.


Meridian diam.


Dia ingin kamu tetap berada di sini, selamanya.


Meridian memejam.


Dia coba menghentikanmu di saat terakhir. Kurasa dia ragu. Atau dia berpikir ada cara lain sebab kamu tetap akan tahu. Tapi kamu terburu-buru.


Tidak ada yang berubah bahkan kalau aku pelan-pelan.


Itu benar.

__ADS_1


Aku akan tetap kembali.


Meridian membuka kembali matanya. Dan suara Meridian Palsu ikut menghilang digantikan oleh suara Herdian.


"Nona, sudah terhubung."


Sosok Andaru terproyeksi di hadapannya. Dia terkejut melihat penampilan dan posisi duduk Meridian, namun Meridian tidak terlalu menganggapnya harus dipedulikan.


"Bagaimana kondisimu?"


".... Seluruh benua kacau." Dia cepat mengerti. "Kuil membuat pengumuman penghalang Hutan Kegelapan telah menghilang. Kerajaan suci mengumumkan peperangan akan terjadi dengan bangsa iblis. Namun Ruben dan Marcel tidak ditemukan."


"Lacak keberadaan mereka. Jangan menyentuhnya."


Dua iblis muncul hanya untuk berlutut. "Baik." Lalu menghilang.


"Kumpulkan semua monster di pintu keluar dungeon."


"Nona, bukankah itu berbahaya?" Herdian tak sengaja menyela.


"Baik-baik saja. Mereka tidak akan bergerak satu inci dari tempat mereka." Meridian menyilangkan kaki. "Andaru, evakuasi rakyat biasa. Kumpulkan prajuritmu juga. Terkecuali para kesatria suci, evakuasi semua orang."


"Apa maksudmu, Nona?" Dia tetap mempertahankan nama panggilan meski Meridian memanggil namanya.


"Anak-anakku tidak tahu membedakan mangsa." Meridian menjentikkan jari. "Pasukanmu tidak dibutuhkan."


Lumiel muncul dengan pakaian megahnya. "Di sini, Yang Mulia."


"Berapa banyak pemimpin negara yang kamu ketahui?"


"Hampir seluruhnya. Saya bisa mendapatkan informasi seluruhnya kurang dari satu jam jika Anda meminta."


"Ajak mereka bernegosiasi. Tawarkan dua hal. Bunuh mereka, atau patuh padaku. Mereka yang menolak, gantung mayatnya di depan istana mereka, lalu evakuasi rakyatnya. Kumpulkan bangsawan mereka dan temukan yang bisa mematuhiku. Bunuh sisanya."


"Segera."


"Apa kamu yakin?" Andaru mengerutkan kening. "Aku tahu tentu dibutuhkan kekejaman dalam memerintah, terkadang, namun membunuh mereka yang menentang adalah tindakan diktator. Apa kamu ingin seluruh rakyat membencimu, Nona?"


"Aku akan membunuh semua orang yang mengikuti kuil, tanpa terkecuali."


Meridian menjentikkan jari sekali lagi. Namun kali ini yang muncul bukan Lumiel, melainkan Dion dan Lukas. Mereka bertransformasi menjadi kucing hitam, melompat ke pangkuan Meridian.


"Mereka yang menolakku berarti memihak kuil."


".... Aku mengerti." Andaru menghela napas. "Tapi, sebagai sesama pemimpin pasukan, bisakah kuminta kemurahan hatimu, Ratuku? Ampuni mereka yang bersedia patuh padamu."


"Baiklah."

__ADS_1


*


__ADS_2