
Ketika sambungan komunikasi itu akan terputus, Andaru tiba-tiba batal melakukannya. Dia kembali menatap Meridian hanya untuk berkata, "Aku merindukanmu, Nonaku."
Sihir itu menghilang. Proyeksi Andaru otomatis menghilang pula. Meridian terdiam beberapa saat tanpa memedulikan bagaimana tatapan di sekitarnya.
"Kamu menjadi sangat dingin."
Mengapa rasanya kalimat itu mengganggu?
Tidak.
Itu seperti, entahlah, ada sesuatu yang Meridian ingat namun juga lupa.
"It must be so fun, acting like you can do anything in this world. I'm so jelous of you. The superior Meridiana."
Ugh.
"Nona!"
"Meridian?!"
Membungkuk ke tanah, Meridian merasa tercekik tiba-tiba. Ia sudah melupakan suara itu sebelumnya, tapi kenapa setiap kali terdengar, dia begitu familier?
Siapa? Siapa sebenarnya?
"Kemari." Lumiel yang telah kembali ke wujud aslinya menarik Meridian berdiri.
Satu ketukan ringan di kening memunculkan puluhan lingkaran sihir di sekitar mereka.
"Tidak ada masalah. Itu mungkin reaksi dari inti manamu yang baru saja terluka."
"Biar saya menyembuhkan Nona."
Sihir Herdian terasa dingin mengelilingi Meridian. Tapi ia diam karena menyadari sesuatu. Suara itu ... tidak bereaksi pada hal mengenai dunia ini.
Meridian merasakan sakit luar biasa. Harusnya mana di sekitar Meridian bergerak liar lagi. Ternyata tidak.
"Aku baik-baik saja. Terima masih, Duke Muda." Meridian tidak bisa berlarut-larut memikirkannya. "Aku akan berangkat besok. Dion, Lukas, kembalilah."
Mereka berdua menghilang bersama tatapan mata yang hanya dipahami oleh Meridian.
*
Meridian merasa luar biasa senang saat akhirnya bisa memakai sesuatu yang disebut celana dan baju kaus.
Oke, baiklah, itu bukan kaus.
Namun Meridian meminta bantuan Lumiel untuk membuatkan pakaian yang memiliki resistensi terhadap sihir, pakaian ala-ala perang antar penyihir yang setidaknya lebih baik daripada gaun merepotkan.
Ternyata, Lumiel juga bisa membuatnya. Diekstrak dari kulit monster dari lantai enam yang memiliki kulit elastis namun memiliki ketahanan sihir tinggi.
Rasanya Meridian tiba-tiba jadi villain di komik-komik hero. Memakai celana hitam, atasan hitam ketat, lengkap dengan topeng hitam dan rambut yang diubah dengan sihir menjadi hitam.
__ADS_1
Sebenarnya rambut Meridian tidak perlu diubah, namun ia memintanya agar sedikit lebih merasa dirinya adalah dirinya.
Rambut hitam adalah ciri khas orang normal!
"Herdian, ada apa?" Ada apa dengan anak itu? Dia tiba-tiba memalingkan muka dari Meridian, menutup mulutnya dan terbatuk-batuk kecil.
"Hei."
"Ti-tidak, Nona. Saya baik-baik saja."
Lumiel tahu-tahu berdiri di belakang Meridian, menutupi tubuhnya dengan mana berwarna merah.
Dia menatap Herdian sangat tajam. "Pria tidak terhormat. Apa ini waktunya memandangi tubuh wanita orang?"
Oh, begitu, kah? Di dunia ini kan pakaian press bodi hampir sama dengan telanjang.
Jadi begitu, jadi begitu.
Meridian melipat tangan dan tersenyum. Lucu juga Herdian bereaksi demikian. Wajar sih, kalau si Lemah itu punya tubuh yang bagus—tanpa usaha angkat beban!
"Menjauh dariku." Meridian menyentil tangan Lumiel sebelum menyambar jubahnya. "Maafkan aku, Duke Muda. Aku berpakaian tidak sopan di depanmu. Aku akan memakai ini agar tidak mengganggu."
"Hei, kenapa kamu sangat baik padanya?! Aku kan kucingmu. Akulah yang terbaik!"
"Orang baik dan orang jahat memiliki tempat berbeda." Meridian mengambil sarung tangannya untuk melengkapi outfit tersebut. "Sekarang, berhenti berdebat. Ayo pergi."
"Baik, Nona."
Laju perjalanan tidak bisa dibuat cepat dengan melesat atau berteleportasi. Sihir semacam itu, kecuali orang yang memang memiliki skillnya secara alami seperti Lukas, memerlukan sangat banyak mana.
Jika ingin menghemat penggunaan kekuatan yang lebih dibutuhkan dalam pertempuran, memang perlahan-lahan jauh lebih baik.
Herdian mengajukan diri sebagai orang yang akan bertarung paling pertama. Bagaimanapun, sepertinya dia menyadari dialah yang paling lemah dalam perjalanan ini, hingga lebih baik mengurangi mananya saja terlebih dahulu.
Apalagi, musuh-musuh di dungeon dikatakan Lumiel tidak ada apa-apanya dengan musuh di Hutan Kegelapan.
Lagi-lagi Meridian menyayangkan bahwa Herdian adalah putra Duke Kekaisaran.
Melihat dia bertarung dengan cantik di bawah sana, rasanya bakat Herdian malah jadi sia-sia harus dihabiskan untuk gelar bangsawan macam Duke.
Tidak salah sih dia putra Duke. Namun kalau dia berada di atas jabatan sekuat itu dan dengan keterampilan semahir itu, dia harus memilih salah satu. Lihat sekarang. Dia meninggalkan Duke untuk bertarung di sisi Meridian, kan?
Posisi dan kedudukan itu kekangan bagi kebebasan seseorang. Pertumbuhan dan kekuatan Herdian benar-benar tidak seimbang dengan kedudukannya.
"Kurasa dalam pemanfaatan mana, dia jauh lebih baik daripada kakakmu."
"Dion?"
"Yang satu lagi. Orang yang menyerang pasukanku begitu kamu lepas."
"Raphael?"
__ADS_1
"Ya."
Meridian juga berpikir begitu. Herdian tampak lebih tangkas dari Raphael. "Hei, aku baru saja memikirkannya. Apa ada cara melepaskan kekangan yang diberikan kuil?"
"Maksudmu batasan yang diberikan agar mananya tak meluap sepertimu?"
"Ya."
"Itu sedikit menarik." Lumiel melipat tangan dan bergumam panjang memikirkannya. "Kurasa ada sesuatu semacam itu, tapi aku tidak tahu pastinya. Kekuatan suci juga memiliki struktur yang rumit. Aku lebih tahu menggunakan mana, terutama mana iblis, daripada kekuatan manusia."
"Mungkin saja Herdian akan jadi lebih kuat jika kita melepaskannya."
"Tidak. Itu berbahaya."
"Kenapa?"
"Dia sudah terkekang dalam waktu yang lama. Jika tiba-tiba kekangan itu dilepas dan mananya melonjak, kita tidak tahu pasti seberapa besar pertumbuhannya. Bisa jadi lebih besar darimu. Manamu saja sudah menyusahkan mata si Pangeran, apalagi mana yang lebih besar."
"Jadi mereka harus tumbuh seiring waktu agar bisa terkendali?"
"Yap." Lumiel menusuk pipi Meridian. "Karena itulah kasusmu langka."
Meridian cuma mendengkus.
Tak lama mereka bisa turun begitu pertarungan Herdian berakhir. Berkat bantuan Lumiel, mereka bisa mengekstrak monster dan Herdian bisa memulihkan mananya dengan batu mana yang bertebaran di sekitaran mereka.
"Herdian, beristirahatlah dulu."
"Tidak, Nona. Tolong jangan pedulikan saja."
"Jadi aku tidak boleh peduli padamu?"
Muka dia memerah. "Ma-maksud saya, Nona tidak harus—"
"Ck."
Meridian mengibaskan angin yang menghempaskan Lumiel. "Baiklah, aku mengerti. Karena aku tidak ingin ada seseorang yang memaksakan diri karenaku, segera katakan jika kamu butuh beristirahat."
"Ya, Nona."
Sebenarnya Meridian juga ingin cepat pergi.
Sejak tadi ia berusaha sabar dan mengatur diri, jangan terlalu terburu-buru atau dirinya cuma akan membahayakan grup mereka.
Tapi Meridian juga berpikir bahwa ia segera membawa iblis, menghancurkan batunya atau apa pun itu terserah mereka, maka Meridian bisa segera membuat perdamaian dan dirinya akan kembali.
Ia akan kembali.
Ke tempat dirinya harus kembali.
...*...
__ADS_1