
Istana.
Sepertinya jika ada kalimat sederhana yang bisa mewakili tempat ini, maka Meridian hanya terpikir satu kalimat.
Tidak mirip dengan istana di film.
Fokus Laila setelah visual tampan dan baju-baju ala fantasi, nampaknya adalah dekorasi istana.
Luasnya tak kira-kira. Satu bandara Soekarno-Hatta tak cukup. Terbagi menjadi beberapa bagian taman, dipimpin oleh bangunan tinggi menjulang dengan beberapa menara kerucut.
Yang bisa punya istana seolah dialah pemilik dunia begini pasti bukan penguasa kekaisaran, melainkan anak dewa.
Dasar Laila gila!
"Berikan tanganmu."
Meridian menatap bingung pada tangan Lucas. "Untuk?"
"Berikan saja!" Dia mendelik. Padahal minta tangan orang.
Andai bukan diluar rumah, Meridian akan menendangnya. Tapi karena beberapa pasang mata melihat mereka, ia harus jaga image keluarga Marquis.
Berjalan di belakang pasangan Marquis dan Marchioness, Meridian dapat merasakan semakin banyak tatapan tertuju padanya.
Ia tak tahu apa itu karena kakak tampannya ini atau karena Meridian yang pemeran utama, tapi bisa ia tebak sepanjang pesta mereka akan jadi pusat perhatian.
Hadeh.
Meridian sudah mengantuk duluan.
"Ada apa?" Lucas berbisik. Menyadari Meridian mengusap mata.
"Aku mengantuk." Meridian sungguh-sungguh.
".... Aku bisa gila." Lucas menggerutu lirih. Tidak membalas Meridian sebab mereka mulai memasuki aula pesta.
Keramaian langsung menyambut mereka dalam ruangan. Meridian berusaha tidak menguap ketika segerombolan bangsawan wanita datang mendekati ibunya, menyapa mereka semua.
Bahkan ia bisa menebak sambil tidur, alasan kenapa bangsawan ibu-ibu bersama putrinya itu datang.
Mereka mau melihat Lucas.
Apa yang Meridian tahu dari tradisi bangsawan sebenarnya hampir sama dengan tradisi seluruh manusia di bumi. Mereka berbondong-bondong ingin segera mengawinkan anak gadis mereka yang telah debutan, sementara pria malah ditahan untuk tidak cepat menikah sampai mereka benar-benar dewasa.
Lucas adalah anak kedua setelah Dion. Usianya mungkin dua puluh lima ke atas. Dia adalah incaran para wanita bangsawan muda yang berharap punya suami tampan, terlepas dari persoalan cinta dam sejenisnya.
Yah, tapi karena ini novel romansa fantasi yang terinspirasi dari komik romansa fantasi pula, maka tentu saja peran Lucas ... adalah tebar pesona (tapi berpikir tidak sedang tebar pesona) sambil menolak-nolaki harapan mereka dengan sikap dingin.
Bahkan Meridian masih bertanya sebenarnya setting tempat ini mengikuti kebudayaan masyarakat apa?
"Hei, ayo pergi."
Meridian setuju.
Ditinggalkan pasangan ibu dan ayahnya di sana, bergegas pergi ke tempat lain yang lebih lenggang.
Lucas mengambil minuman dari atas meja. Spontan Meridian juga ingin mengambil, tapi dicegah.
"Kamu pikir ingin minum apa?" Tak lupa dia mendelik. "Tunggu di sini. Aku akan mengambilkan jus."
Meridian berharap agar sihirnya tidak bergejolak menimbulkan sesuatu yang akan mengacaukan pesta kepulangan tunangannya sekarang.
Sementara dia pergi, ia meraih gelas minuman. Menyesap alkohol entah apa yang rasanya agak pekat di lidah.
Lidah Meridian ini tidak terbiasa minum alkohol?
Dia tujuh belas tahun, sih. Baru debutan, jadi mungkin belum—
"Kurasa itu kamu, Nona Meridian."
Meridian menoleh.
Untuk sesaat saja ia mengangkat alis tinggi-tinggi pada kehadiran sosok spektakuler cantik, menyeret gaun lebay tapi anehnya cantik, lengkap bersama kipas yang menerbangkan rambut pirang emasnya yang juga cantik.
Pasti si Putri.
Pasti.
"Yang Mulia." Suka tidak suka, Meridian harus mengikuti tradisi bangsawan.
Menunduk pada keluarga kekaisaran agung meski sebenarnya ia tidak tahu keagungan mereka di mana.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu? Kudengar kamu sakit. Cukup sakit untuk lupa menyapaku sebelum mencicipi sesuatu."
Haha, antagonis. "Saya bermaksud menyapa Anda bersama Kakak Kedua saya, Yang Mulia."
"Benarkah? Di mana dia?"
Meridian hampir saja mengedik tak sopan ke arah Lucas yang sedang berjalan kemari.
Melihat gelas minuman di tangan Meridian, Lucas tampak mau menggerutu. Tapi tidak dia lakukan, melainkan hanya menyerahkan gelas pada Meridian sekaligus mengambil gelas alkohol dari tangannya.
"Kejayaan meliputi rembulan kekaisaran."
"Huek—"
"Ada apa?"
Meridian bisa merasakan tatapan membunuh Lucas padanya. Tapi ia serius tidak bisa menahan setelah mendengar salam norak itu.
Rembulan kekaisaran?
Jangan bilang si Putra Mahkota jadi Matahari Kekaisaran?
Lalu si Kaisar apa? Galaksi Kekaisaran?
"Tolong maafkan ketidaksopanan adik saya, Yang Mulia." Lucas merangkul (terpaksa) lembut tubuh Meridian sambil membungkuk sopan pada sang Rembulam Kekaisaran. "Sebenarnya kondisi kesehatan Meridian sedang sangat buruk. Dia memaksakan diri hadir demi memenuhi undangan Anda."
"Begitukah?" Si Yang Mulia menatap Meridian tajam. "Aku mengerti. Tidak sopan bagiku membebani pasien, namun kuharap setidaknya kamu menunggu Kakakku tiba. Dia benar-benar ingin bertemu denganmu, Nona."
"Sebuah kehormatan, Yang Mulia." Meridian antara mau tertawa tapi muntah.
Masalahnya, ini terpaksa.
Gadis pirang itu mengarahkan mata abu-abunya pada Meridian. Entah kenapa ia yakin ada maksud dari tatapan itu.
Meski kebanyakan Meridian tidak peduli, karena yang lebih penting, ia sudah selesai menyapa jadi bisa kabur.
Begitu yakin si Putri gagal mengganggunya sekaligus menjauh, Lucas langsung melepaskan Meridian.
"Kamu baik-baik saja?"
Hm? Dia bukannya marah?
"Ya." Meridian menyesap jusnya tenang. "Aku hanya mengantuk dan mual."
"Mengapa aku tidak baik-baik saja?"
Lukas mengacak rambutnya frustrasi. "Tidak. Lupakan saja."
"Hei—"
Meridian mau menanyakan apa yang dia sembunyikan plus siapa nama si Tuan Putri, tapi ucapannya dipotong oleh teriakan.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota memasuki ruangan!"
Hampir-hampir Meridian tepuk jidat. Saking noraknya adegan ini, spontan saja ia berjalan menjauhi tempat pemeran utama muncul, berpikir ia harus kabur ke mana saja asal tidak melihat adegan semua orang terpesona akan gagah dan rupawannya sang Pahlawan Perang.
Halah. Bikin merinding saja.
"Hei! Meridian! Meridian!"
Daripada berteriak, kalau dia mau ikut ya ikut saja.
Nona!
Herdian?
Ayo bertemu di balkon. Minta Lucas berteleportasi tanpa suara. Sekarang.
"Lucas." Meridian tak punya pilihan kecuali bersembunyi di pelukan Lucas.
Suara Herdian terdengar panik. Sepertinya dia khawatir sesuatu tentang arus sihir dan mana atau apa pun itu.
Tapi yang mengejutkan, Lucas langsung berteleportasi sesaat setelah dia terkejut. Seolah dia paham memang begitulah ingin Meridian bahkan tanpa diberitahu.
Mereka tiba-tiba berada di ruangan asing nan megah.
"Ada apa?"
Nona?
Kamu mendengarku?
__ADS_1
Anda berada di mana?
"Di mana ini?"
"Kamar tamu kerajaan."
Aku di kamar tamu kerajaan.
Nona?
Dia tidak dengar?
Aku berada di kamar tamu kerajaan.
Saya segera ke sana.
Meridian terdiam bingung beberapa saat. Mengapa suara pertamanya tidak terdengar? Biasanya dia langsung merespons dan normalnya memang begitu, lantaran suara mereka berputar di kepala.
Apa karena di sini ramai?
Atau ... itu rahasianya? Telepatinya harus dijawab agar mereka bisa berkomunikasi?
"Nona." Pintu jendela terbuka, memunculkan Herdian yang terbang sebelum mendarat di permukaan lantai.
Dia terlihat luar biasa tampan hari ini. Memakai setelan formal penuh hiasan yang mempertontonkan bahwa dialah sang putra tunggal Duke, calon Duke masa depan.
"Kenapa kamu di sini?" Lucas tidak memahami situasi.
"Sirkulasi mana di sekitar Nona Muda terganggu." Herdian membawa anginnya bergerak mengelilingi Meridian.
Itu tampak cukup kuat, tapi anehnya tidak ada yang menyentuh Meridian.
"Nona, tenanglah."
Meridian menatap telapak tangannya, bingung sendiri. "Aku tidak menyangka akan begini. Aku hanya sedikit—"
"Ini tidak sedikit!" Lucas mengomel lagi. "Apa-apaan dengan manamu? Kamu ingin mengumumkan diri sebagai penyihir berbahaya?"
Siapa suruh si Pangeran muncul dengan norak.
"Aku tidak sengaja." Meridian berpikir 'tenang', membuat seketika arus angin Herdian menjadi samar. "Duke Muda, apa tidak ada cara bagi saya menahannya?"
"Itu hanya bisa dengan pengekang." Lucas yang menjawab. "Tapi sudah kubilang, itu menyakitkan. Jadi kendalikan saja sendiri."
"Apa benar-benar tidak ada cara sederhana walau sebentar? Aku hanya perlu menyapa si Pahlawan itu lalu pulang, kan?"
Herdian terdiam beberapa saat. "Sepertinya ada. Tapi itu mungkin sedikit berisiko. Tidak secara fisik, tentu saja, Nona."
"Apa maksudmu?" Malah Lucas yang bertanya.
"Menahan secara paksa aliran mana di sekitar Nona."
"Apa?" Lucas tampaknya sangat terkejut.
"Apa itu?"
"Itu metode yang jarang dilakukan, dan risikonya akan semakin tinggi bagi pemilik kekuatan sihir kuat. Secara singkat, mana yang mengelilingi Nona dihentikan secara paksa untuk sementara waktu. Sekali lagi, itu tidak menyakitkan secara fisik. Tapi memiliki risiko yang cukup ekstrim."
"Apa risikonya?"
Herdian tersenyum entah untuk alasan apa. "Anda sangat tanggap. Risikonya, tubuh Anda akan terasa tidak nyaman beberapa hari."
"Hanya itu?"
"Itu bukan rasa tidak nyaman biasa, Nona. Pada dasarnya, mana seperti sebuah kebutuhan pokok bagi sihir dan penyihir. Saat Nona tidak menggunakan sihir, mana tetap berkumpul mengelilingi Nona. Saat Nona menggunakan sihir, mana itu tertarik ke tubuh Nona untuk membantu Anda mengeluarkan sihir. Sampai di sana, Nona pasti mengerti, kan?"
"Ya, lalu?"
"Menghentikan secara paksa berarti memaksa hal yang seharusnya terjadi tidak terjadi." Lucas menimpali. "Itu tidak sesederhana manusia membutuhkan makanan tapi bisa bertahan tidak makan apa pun sehari atau dua hari. Mana lebih seperti udara. Oksigen. Menghentikannya satu menit sudah cukup membuat kamu seperti kehilangan oksigen satu menit."
"Begitulah, Nona." Herdian mengangkat bahu. "Tentu, Anda bukan berarti berjalan tanpa bernapas. Anggap saja sihir Anda, elemen Anda yang kehabisan oksigen sementara. Setelah pengekang dilepaskan, mereka akan menyerap mana secara cepat dan paksa. Itu akan mengganggu keseimbangan mana Nona yang bisa berakibat terjadi benturan. Lalu, Nona juga akan merasa mual dan lemas, sekurang-kurangnya tiga hari."
"Lakukan."
"Kamu gila?!"
"Lalu?" Meridian mendengkus kesal. "Aku juga tidak mau merasakan penderitaan, kamu mengerti? Tapi sepertinya aku akan mengamuk jika manaku tidak dihentikan, jadi lakukan. Atau kamu lebih suka semua orang tahu aku adalah penyihir menakutkan?"
"Tuan Muda, tenanglah." Herdian mendekat. "Saya akan membantu perawatan Nona agar sebisa mungkin mengurangi dampaknya. Tuan Muda Dion juga ahli dalam masalah ini. Kita tidak bisa membiarkan kemampuan Nona terbuka di depan pesta besar semacam ini, benar?"
Lucas berdecak, tapi akhirnya diam pertanda sepakat.
__ADS_1
...*...