Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
58 - kemarahan


__ADS_3

"Kenapa pendeta harus datang terbunuh jika mereka bisa langsung mengumumkannya pada publik?" Meridian menjatuhkan diri ke sofa. "Kurasa pria licik itu tidak datang hanya untuk terbunuh. Menurutmu apa tujuannya?"


Hening. Mereka semua menatap Meridian.


"Apa? Kenapa kalian hanya melihatku?"


"Ada sihir hitam di tubuhmu." Lumiel mengetuk kening Meridian dan muncul banyak lingkaran sihir. "Ada sangat banyak jejak mana di sini. Apa kamu mengerti mengapa pendeta tidak bisa menggunakan sihir saat mereka menggunakan kekuatan suci? Dua-duanya disebut anugrah dari Dewa, namun entah kenapa bertentangan."


"Lalu?"


"Sihir hitam, mana iblis, sihir dan kekuatan suci berbenturan dalam dirimu. Namun kamu tidak merintih?"


Meridian menekan jantungnya yang sempat terasa sakit luar biasa tadi. "Kurasa hanya sesaat."


"Itu bisa jadi karena kapasitas manamu atau sesuatu yang lain." Andaru terbatuk. "Untuk sekarang, pergilah beristirahat. Aku akan kembali ke istana untuk mengurus sisanya."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Kenapa dia tidak bertanya?


Andaru benar-benar berteleportasi tanpa meninggalkan satupun tanda tanya soal Lumiel. Dia juga tidak terlihat tahu, jadi Meridian cuma berasumsi dia merasa belum waktunya bertanya.


"Bicara soal mana, apa manaku baik-baik saja?"


Kenapa tidak ada yang terhempas? Biasanya semua hal terbang menjauh karena si Lemah mengamuk.


"Entahlah." Lumiel menoleh pada Herdian. "Gunakan sihir penyembuhan padanya. Lukanya mungkin cukup dalam."


Herdian tersentak. Tapi dia bergegas mendekati Meridian. "Saya tidak tahu akan menyakitkan atau tidak, jadi tolong tahan sebentar, Nona."


"Baik—" Meridian membeku. Tak tahu kenapa, tiba-tiba nyawanya seolah tercabut.


*


Hah.


Lagi-lagi harus tempat ini.


Padahal Meridian rasa sekarang lebih penting ia menanyai identitas Lumiel sebenarnya. Tadinya Meridian pikir karena dia iblis, ya kulitnya dibuat eksotis dan manis, tapi ternyata putih.


Memang diskriminatif dunia penampilan, mau di novel atau di dunia nyata. Yang putih-putih selalu lebih baik (dalam persepsi mereka) daripada yang hitam.


Tapi dari ketampanan Lumiel itu, apa dia yang second male lead, bukannya Herdian? Ketampanan dia nyaris menyamai Andaru. Antara iblis dan manusia, mana yah yang lebih cocok dijadikan suami?


"Hei." Ayo selesaikan dulu ini. "Untuk apa mengundangku jika kamu bersembunyi? Cepat keluar. Aku lelah."


Hening.

__ADS_1


"Kursi." Meridian menjatuhkan diri pada kursi yang muncul sesuai permintaannya.


Karena ia tak merindukan si Lemah itu, Meridian cuma menguap, lalu memejam. Terserahlah. Dicueki juga nanti keluar sendiri.


"Kembarku."


Bayangan Meridian muncul seperti permintaannya lagi.


"Aku ingin mendiskusikan Lumiel. Bagaimana menurutmu?"


"Bisa jadi dia keturunan bangsawan iblis? Mungkin anak dari raja iblis?"


"Masuk akal." Dari penampilannya yang mencolok dan kekuatan besar itu, memang tidak heran kalau dia diberi latar belakang super seperti keturunan raja iblis. "Tapi matanya berwarna merah seperti Andaru. Terlepas dari mata reptil, apa mungkin itu sama?"


Meridian Dua melipat tangan. "Jika itu Laila, bukannya dia cuma suka mata merah? Mata merah cenderung menggambarkan kekuatan super, benar kan? Dia membuat perbedaan Andaru memiliki iris vertikal, sementara Lumiel tidak."


Ohiya, yah. Ini novelnya Laila. Meridian sampai lupa.


"Tapi, sejauh ini aku sudah terlibat dengan banyak tokoh super. Menilai dari kemampuan mereka semua, bukankah agar berlebihan untuk novel romansa fantasi? Maksudku, mereka tampan, tentu saja. Hanya, kenapa aku malah sibuk mengurusi masalah politik dan perang dengan kuil begini?"


"Entah? Bukannya novel transmigrasi memang berubah sesuai jiwa tokoh utamanya?"


Meridian ikut melipat tangan. Bergumam tidak puas. "Lalu aku harus menyelesaikan apa agar kembali? Menikahi Andaru? Kalau mengikuti pola novel transmigrasi yang alurnya berubah karena perbedaan jiwa tokoh utama, bukankah tokoh utamanya juga akan berubah? Apa aku harus bersama Lumiel?"


"Kalau dipikirkan lagi, sepertinya memang masuk akal." Dia mendesah kesal. "Lalu, apa konfliknya?"


Hening.


Perdebatan dengan kuil kan muncul karena Meridian. Kalau mengikuti alurnya Laila, konflik mungkin lebih berpusat pada tragedi saudara posesif yang coba mengurung saudarinya tapi saudarinya itu malah menikahi pangeran mahkota OP.


"Berarti, aku harus membunuh Dion? Atau melaporkan perbuatannya pada Andaru?"


"Bagaimana dengan kuil?"


"Aku tidak peduli pada mereka."


Mereka bertatapan, kompak mengangguk dengan satu kesepakatan.


Mari tidak usah peduli pada villain yang tidak menguntungkan. Sama seperti si Yang Mulia Tuan Putri Yang Meridian Lupa Namanya, kuil juga biarkan saja. Ruben juga biarkan saja, meskipun dia agak menarik untuk dijadikan villain sungguhan.


Paling penting adalah pulang!


"Maka, kalau begitu aku tinggal—"


"Kamu tidak akan kembali."


Segalanya tiba-tiba berubah. Meridian menoleh cepat ke belakang, agak terkejut menemukan Meridian Palsu dipenuhi lumuran darah hitam.

__ADS_1


Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut berantakan, dan suaranya hampir hilang jika suasana tak sunyi.


"Kamu tidak akan kembali."


Meridian berkacak pinggang sebelah. "Aku pasti kembali. Sudah kubilang aku ini bukan seseorang yang membuat dirinya terikat, berdarah-darah agar dikasihani. Dasar menyedihkan."


Dia tersenyum. "Kamu benar. Aku menyedihkan."


"Aku tidak perlu pembenaran."


"Tidak seperti seseorang yang kuat menghadapi sesuatu, percaya diri dan selalu baik-baik saja, aku menyedihkan."


"Ya, camkan itu." Meridian melipat tangan angkuh. "Tidak sepertimu, aku ini kuat. Mau aku terluka, mau aku bersedih, mau aku putus asa, aku tidak akan membiarkan diriku sendiri tenggelam sampai kehabisan napas. Kamu hanya orang gila yang berpura-pura jadi korban atas ulahmu sendiri."


"Kamu benar."


"Aku sudah bilang aku tidak butuh pembenaran."


Meridian menghela napas.


"Dengarkan aku, gadis kecil. Hidupmu pasti sangat berat, tapi menganggap hanya hidupmu yang berat adalah bentuk kesombongan berselimut kelemahan."


"...."


"Saat kamu berpikir kamu menderita dan disiksa, maka saat itu, secara tidak sadar, kamu juga berpikir Tuhan sedang menspesialkan siksaan untukmu. Jawab aku. Mengapa Tuhan harus menspesialkan orang yang bahkan tidak percaya pada-Nya? Orang-orang sepertimu, yang hanya terus berpikir menyerah dan menyerah hanya karena dia gagal dan gagal, pada akhirnya akan menyusahkan begini. Apa menurutmu aku tidak tersiksa? Apa aku harus membuat diriku berdarah-darah juga agar aku terlihat menyedihkan?"


"...."


"Aku sudah bilang padamu, mintalah bantuan. Jika Marquis tidak membantumu, maka minta bantuan pada kekaisaran. Jika mereka mengabaikanmu, mintalah bantuan pada kuil. Jika mereka mengabaikan, minta bantuan pada rakyat biasa. Hidupmu memiliki arti, Nona. Saat kamu tertolak, itu artinya kamu harus menggunakan jalan lain. Tuhan tidak menciptakanmu hanya untuk makan dan tertawa, mengerti?"


"...."


"Aku akan kembali." Meridian berbalik. "Jadi diam saja dan bersiap untuk kembali ke tubuhmu."


Tapi dunia ini tidak mau mengembalikan Meridian. Berapa kalipun ia coba, tidak seperti sebelumnya, Meridian tetap berada di sana.


"Hei—"


"Orang kuat sepertimu," suara itu terdengar sangat lemah, "memang diciptakan kuat."


Untuk sesaat, kemarahan membumbung tinggi dalam diri Meridian. "Terlahir kuat?" Dirinya? Terlahir kuat?


Beraninya. Beraninya dia menghina usaha Meridian seumur hidup!


"AKU MERANGKAK DARI LUMPUR UNTUK DUDUK DENGAN PERCAYA DIRI DI ATAS EMAS!"


Meridian menyambar lehernya.

__ADS_1


"AKU BERJUANG MEMAHAMI HIDUPKU, MEMAHAMI TUJUAN HIDUPKU, MENERIMA KELEMAHANKU, KELUAR DARI ZONAKU, BERGULING SETIAP HARI DALAM MASALAH AGAR AKU KUAT! AGAR AKU TIDAK BERAKHIR SEPERTI PEMALAS YANG HANYA MENGHINAKU KARENA RASA IRI!"


*


__ADS_2