Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
18 - aku minta maaf


__ADS_3

Kenapa, yah? Rasanya Meridian tidak akan pernah terbiasa.


Tidak ada usaha di dunia ini. Tidak ada tantangan atau kerja keras. Gara-gara dibuat mengikuti emosi Laila saja, segalanya harus mudah, karena dia tak suka kesulitan.


Memang sih Meridian setuju. Sulit itu membuat kalian sesak napas. Tapi kesulitan juga menciptakan adrenalin.


"Manamu bergerak gusar. Ada apa, Nona?"


Meridian menghela napas. "Sepertinya saya masih kelelahan." Bergegas ia bangkit. Meninggalkan Andaru tanpa berbalik lagi.


...*...


Meridian berpikir menemui Herdian.


Tentu saja, tidak semudah itu Meridian bisa pergi.


"Aku sangat tidak mengerti pada otakmu. Kamu meninggalkan Pangeran dengan alasan masih sakit, lalu sekarang kamu ingin mengunjungi kediaman Duke untuk Herdian?"


Lukas adalah karakter kakak yang bicara pedas tapi tidak pernah absen mengkhawatirkan adiknya.


"Kamu menyukai bajingan itu? Setelah Pangeran, sekarang Herdian?"


Meridian santai saja menunggu pelayan selesai menata rambutnya.


"Hei, jawab aku!"


"Kakak, apa kamu harus selalu marah padaku hanya untuk menunjukkan kepedulianmu? Aku terharu tapi itu menyebalkan."


Pelayan, terutama Wilona, sudah mulai terbiasa pada karakter Meridian sekarang.


"Lagipula, jika aku mengunjungi pria, itu tidak selalu berarti aku menyukainya. Aku ingin membahas 'rahasia' dengan Duke Muda jadi bisakah kamu berhenti marah-marah? Hatiku jadi terluka."


Lukas menggertak gigi seolah tahu Meridian cuma asal membalas. Meski akhirnya dia menenangkan diri, sebab perihal sihir Meridian bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan di depan pelayan.


"Aku akan mengantarmu. Teleportasi lebih cepat."


"Tidak."


"Kenapa?"


"Sudah kubilang rahasia. Apa kamu tidak mengerti arti rahasia? Demi Tuhan, berhenti menggangguku!"

__ADS_1


"Aku tetap perlu menjaga kehormatanmu, bodoh. Apa menurutmu orang-orang akan diam saja jika mereka tahu seorang gadis yang belum menikah mengunjungi kediaman pria yang juga belum menikah?"


"Mengapa kamu begitu peduli pada sesuatu seperti itu? Apa jika kehormatanku rusak maka aku tidak akan menikah? Tenang saja. Yang Mulia mengemis agar aku menikahinya."


"Bisakah kamu setidaknya mendengarku?! Berhenti membantah!"


"Aku adalah aku, jadi tidak."


Meridian melipat tangan. Akhirnya bisa beranjak, menghadapi Lukas secara langsung.


"Aku memberimu peringatan, Kakak. Aku belum mengenalmu. Jadi akan kucari tahu sendiri siapa diriku, tanpa harus kamu tuntun. Menjauh dariku."


Lukas tersebtak.


"Ayo pergi, Wilona."


"Baik, Nona."


Entah kenapa, ada perasaan aneh dalam diri Meridian. Saat ia berada di dekat kereta kuda dan seorang kesatria memegang tangannya agar Meridian bisa naik, tiba-tiba ia menoleh.


Menemukan Marquis, Lukas, Litea dan Litae, lalu Dion, masing-masing memandang kepergian Meridian dengan mata yang emosional.


Sekarang kesannya Meridian yang berbuat jahat.


Dunia ini memang bukan dunia ia seharusnya hidup.


Ayo cari tahu agar ia bisa cepat kembali.


Ia harus mencari tahu sekarang, dari Herdian, segala yang bisa membawanya kembali.


...*...


"Nona Muda." Herdian menyambutnya dengan penampilan sangat rapi. "Kami baik-baik saja. Pergilah," usianya halus pada pelayan.


Dia juga mengerti bahwa Meridian malas basa-basi karena ada pelayan.


"Aku ingin minta maaf padamu." Meridian merasa sangat bersalah. "Aku mengira itu hanya berisiko padaku, jadi aku memintanya tanpa bertanya apa risikonya padamu."


Herdian tersenyum tipis. "Normalnya itu memang tidak terprediksi, Nona. Bahkan jika ada yang menyadarinya, mereka tahu risiko pembatalan secara paksa. Jadi kecuali mereka sengaja, mereka tidak akan menyentuhnya."


"Andaru berkata dia tidak sengaja merusaknya. Manaku-lah yang aktif lebih dulu."

__ADS_1


"Bahkan jika begitu, Nona tidak berbuat salah."


"Berapa hari dibutuhkan untuk pemulihan?"


"Hanya sedikit lagi. Saya bisa mengunjungi Nona dua hari lagi jika Nona ingin."


"Maka lakukan."


Herdian ternyata kaget. "Bolehkah?"


"Ya." Kalau itu bisa mengganti kerugiannya. "Aku ingin membahas sihir denganmu. Meminta izin pada Ayahku dan Dion sangat sulit. Jadi lebih baik kamu yang mendatangiku."


Ternyata dia tertawa. "Nona menjadi sangat jujur. Itu jadi mudah dimengerti."


"Baguslah."


"Tapi bicara soal itu, Nona, saya ingin memastikan. Apa Nona memberitahu Yang Mulia tentang ingatan Anda?"


"Aku melakukannya." Meridian menjawab tenang. "Aku tidak suka berbohong. Aku juga malas berpura-pura."


"Saya tidak terkejut. Tapi itu mengejutkan Yang Mulia, jika Nona tidak tahu. Karena Nona tidak ingat, saya akan mengatakannya. Anda selalu kesulitan jujur setiap saat."


"Benarkah? Kenapa?"


"Entahlah, Nona. Mungkin itu hanya karena Nona terlalu memikirkan pendapat orang lain."


"Mungkin saja." Meridian tidak peduli. "Apa Andaru mengatakan hal lain?"


Herdian tersenyum. Lebih dulu menjelaskan daripada saat dia mengatakannya secara langsung. "Beliau sedikit kesal karena mengira saya berencana merebut Nona."


"Sebenarnya aku berkata dia membosankan."


"Benarkah? Nona benar-benar luar biasa." Herdian menopang dagu. "Pasti itulah alasan beliau kesal. Belum pernah ada yang menyebutnya membosankan."


"Aku menyukai Andaru. Setidaknya, wajahnya." Meridian berterus terang. "Aku belum pernah melihat ketampanan seperti itu seumur hidupku. Kurasa aku bisa paham mengapa aku dulu mengejar-ngejarnya."


"Jadi begitu."


"Matanya juga sangat indah. Aku terbius. Lonjakan manaku terakhir kali tidak terjadi karena kebencian, namun karena terpesona. Aku bahkan tidak sadar menciumnya."


Air muka Herdian agak berubah.

__ADS_1


...*...


__ADS_2