
Meridian mengusap cincin pemberian Herdian. Menunggu batu di tengahnya bercahaya redup sebelum berbicara.
"Herdian."
"Nona?" Suaranya agak panik. "Apa terjadi sesuatu, Nona? Nona baik-baik saja?"
"Tenanglah. Aku sedang duduk di tempat tidurku. Aku menghubungimu untuk membicarakan sesuatu."
Terdengar suara dia menghela napas. "Tentu, Nona. Apa yang bisa saya bantu?"
"Kudengar pendeta akan datang mengunjungiku."
Herdian pasti terkejut. "Apa Dion memberitahu Nona?"
Kalau dia bertanya pada Dion lalu Dion menjawab tidak, maka Meridian akan bersikap mencurigakan di mata Herdian. "Tidak. Seseorang yang memberitahuku."
".... Apa keberatan jika saya mengetahuinya, Nona? Maafkan saya jika bersikap lancang, tapi saya harus memastikan tidak ada orang lain yang coba melakukan hal buruk pada Nona."
"Akan kuberitahu saat waktunya." Meridian memilih terang-terangan menyembunyikan hal itu. "Percaya padaku. Kamu akan jadi orang pertama yang kuberitahu."
".... Saya mempercayai Nona." Entah kenapa suaranya seperti tersenyum. "Lalu, Nona, apa yang bisa saya lakukan untuk Nona?"
"Aku ingin kamu dan Yang Mulia datang menemaniku. Bukan Dion atau Lukas."
"Apa boleh saya bertanya mengapa, Nona? Tentu saja saya akan datang jika Nona meminta."
"Kamu mengetahui kebencianku pada kuil. Jika mana di sekitarku bergejolak, Yang Mulia akan melakukan sesuatu dan kamu bisa bertelepati denganku. Ini tugas yang merepotkan, Tuan Muda. Aku secara sengaja menjadikanmu—"
"Tidak, Nona. Saya akan datang. Saya akan segera memberitahu Yang Mulia permintaan Nona. Tolong jangan sungkan pada saya."
"Maka baiklah." Meridian mengusap kepala Raven yang berbaring di pahanya. "Aku akan menemuimu dalam dua hari. Sampai jumpa, Tuan Muda."
"Sampai jumpa, Nonaku."
Komunikasi terputus setelah Meridian mengusap batu itu dan cahayanya meredup.
Ketika itu, ternyata Raven langsung mengeluarkan hal yang mengganggunya sejak awal. "Aku sudah memikirkan ini sejak aku mengenalmu, Nona." Kucing itu menatapnya dengan mata emas berkilau. "Bagaimana wanita bangsawan sepertimu bisa bersikap seperti ... entahlah, haruskah kusebut seperti penguasa dunia?"
"Penguasa dunia?"
"Kamu tidak takut pada apa pun. Tidak peduli apa yang orang beritahu, bahkan ketika aku mungkin menyakitimu, kamu bersikap seakan-akan itu hanya hal biasa. Bahkan seorang veteran perang tidak akan diam saja, atau minimal akan gelisah jika mereka dijadikan sandera. Tapi kamu selalu baik-baik saja. Dan kamu wanita. Wanita bangsawan, putri bungsu Marquis dan calon istri pangeran mahkota."
Meridian paham itu memang mencurigakan. Masalahnya ia memang tak bisa pura-pura seakan dunia ini bukan dunia buatan.
Mau tuhannya, mau pangerannya, mau rakyat biasanya pun buatan halu Laila.
Bagi mereka, Meridian ternyata bersikap seperti seorang raja yang mengetahui besar kekuasaannya. Sementara Meridian malah merasa ia bersikap biasa—memperlakukan mereka sebagai karakter novel.
"Entahlah." Meridian mengangkat bahu. "Mungkin aku hanya berpura-pura."
__ADS_1
"Kamu memang menyukai rahasia."
"Mungkin."
...*...
Pikir Meridian setidaknya Andaru dan Herdian akan datang dua hari kemudian, di hari yang sama pendeta datang, sebab bukankah mereka sama-sama pewaris sebuah kedudukan besar?
Namun yang namanya novel. Tiada yang lebih berarti dari sang cinta.
Dua-duanya berkumpul malam hari setelah itu.
Lengkap bersama Dion, meski Lukas tidak hadir karena Meridian memintanya kembali saja.
"Bagaimana kondisimu, Nonaku?"
Meridian kini duduk di kursi meja makan meskipun napasnya tersengal-sengal karena lelah. "Saya berterima kasih pada kebaikan Anda, Yang Mulia."
Walau menyebalkan harus seperti perempuan sakit lemah begini, berkat dia, Meridian tak harus bertemu si Palsu. Karena itulah ia berterima kasih.
"Anda benar-benar memanjakan saya dengan kemurahan hati Anda."
Bisa dirasakan Dion meliriknya.
Itu juga salah satu rencana Meridian sekarang.
Mengungkap rahasia Dion yang sepertinya berusaha dia jaga dari Meridian sekarang. Sekarang ia sudah tahu Dion itu kakak mesum yang meniduri adik sepupunya—yang secara hukum kuil di dunia ini tidak boleh—bahkan santai-santai saja melakukan itu bersama Lukas.
Setidaknya, Meridian yakin. Sebab sekarang posisinya dan Dion sama.
Sama-sama orang yang melakukan hal terlarang untuk memuaskan 'keinginan' pribadi.
Kadang-kadang ada novel yang karakternya dibuat baik di awal, ternyata dia jadi villain di akhir. Meridian harus tahu karakter seperti apa Dion dan perkembangannya.
Sekarang setelah melakukan ini dan itu, waktunya masuk ke tahap kedua rencana Mengepoi Tokoh Ciptaan Laila.
Sangat klise. Buat dia cemburu.
Di dunia nyata atau di novel, kecemburuan selalu menunjukkan jati diri seseorang, mau wanita atau pria.
"Bukankah kamu memintaku memanjakanmu? Tentu saja aku menepati ucapanku." Andaru agak mencondongkan tubuh ke arahnya. "Aku minta maaf membuatmu harus seperti ini, Nonaku. Aku sungguh ingin mencari solusi yang lebih lembut, namun jika tidak kulakukan, tidak ada satupun yang bisa mendekatimu."
"Tolong jangan ragu melakukan apa yang Anda anggap benar." Meridian tersenyum lembut.
Untuk sesaat, ia tiba-tiba merasa tubuhnya merinding.
Tapi sepertinya itu juga pertanda bagus, bagi Meridian Asli.
"Bicara soal itu, Duke Muda, Anda juga sangat membantu saya selama ini." Meridian beralih tersenyum pada Herdian. Samar-samar ia melihat gurat memerah di telinganya, meski dia berusaha keras tidak memperlihatkan.
__ADS_1
Gampangan.
Tapi sekarang dia memang terlihat manis, sih. Mungkin karena, secara khusus, Meridian tidak lagi memusuhi Herdian.
"Yang Mulia."
"Ada apa?"
"Bagaimana dengan pembicaraan pernikahan saya dan Anda?"
Semua orang tersentak.
"Meridian." Dion langsung bersuara. "Berhenti bicara dan makanlah. Kamu harus segera kembali ke tempat tidur."
"Tapi, Kakak, aku memang sudah berjanji pada Yang Mulia untuk membicarakannya. Mumpung Kakak dan Tuan Muda berada di sini, maka kita bisa membahasnya dari segi politik bersama. Terutama, mengenai kuil."
"Itu ide bagus." Andaru sepertinya tidak terlalu peduli pada ekspresi Dion dan Herdian. Untuk kecuekannya pada hal itu, Meridian mengakui dia memang mencerminkan sikap seorang penguasa.
Tidak goyah jika sudah yakin sesuatu adalah miliknya.
Tatapan Meridian tertuju pada Herdian. Ia hanya tersenyum. Senyum sangat lembut yang mungkin tidak akan pernah ia keluarkan kecuali untuk sebuah alasan.
Apa Nona ingin mengatakan sesuatu?
Dia paham.
Jangan menyukaiku, Tuan Muda.
Kelopak mata Herdian melebar untuk sesaat.
Apa Nona merasa terganggu?
Tidak. Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan pria sepertimu.
Apa maksud Nona?
Meridian sudah memikirkan matang-matang apa yang akan ia lakukan.
Pertama, ia akan mencari tahu rahasia Dion. Lalu ia akan menikahi Andaru sesuai keinginan novel ini. Ia juga akan mulai mencintai Andaru sebagaimana seharusnya tokoh utama wanita novel berakhir.
Jika perlu, ia akan mengorbankan Lukas dan Dion setelah rahasia mereka terungkap. Menghukum mereka sebagai villain agar seluruh hal yang harusnya memang selesai diselesaikan.
Setelah itu ... Meridian akan kembali.
Namun, jika ia ternyata tidak kembali, maka Meridian akan pergi bersama Raven. Pergi ke hutan kegelapan untuk membangkitkan bangsa iblis lalu menghancurkan kuil.
Meridian punya firasat menikahi Andaru tidak akan membuat masalahnya selesai, tapi ia akan mencoba hal paling sederhana terlebih dahulu.
Karena hanya itu yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
*