Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
54 - permainan


__ADS_3

"Itu akan bagus jika saya dan Anda membicarakan pernikahan kita pada pendeta nanti, bukan begitu, Yang Mulia?"


"Aku juga berpikir begitu." Andaru menatapnya lekat-lekat. "Aku pun menunggu waktu ini sekian lama. Tentu saja aku akan bahagia jika Nona menerimanya dengan senang hati. Bukankah begitu, Tuan Muda?"


Dion membalas tatapan Andaru seolah dia bukan menatap putra mahkota, namun musuh bebuyutan. "Setelah Anda memperlakukan adik saya kasar, saya merasa harus mempertimbangkan matang-matang sekali lagi permintaan Anda, Yang Mulia."


"Tapi sepertinya adikmu tidak mempermasalahkan itu."


"Meridian harus bersikap sopan di depan Anda bahkan jika dia tidak menginginkannya."


"Benarkah, Nona?"


Meridian hanya tersenyum.


Ia tidak akan secara pasti menjawab kalau ditanya di depan Dion, karena memang Meridian mau menciptakan kesan 'hanya bersikap formal di depan calon kaisar'.


Tapi, ia juga akan terus mendorong Andaru agar Dion terganggu.


Nona.


Biarkan saja. Meridian makan dengan tenang. Aku akan menjelaskannya nanti padamu.


.... Saya mengerti.


Putra Duke yang berjiwa pengawal sejati.


"Ayo singkirkan basa-basi di meja ini." Andaru meletakkan peralatan makannya hingga Dion dan Herdian melakukan hal sama.


Meridian hanya bersikap tidak dengar, lanjut memotong daging kalkun yang hari ini terasa bisa dimakan oleh lidahnya.


"Aku akan menikahi Meridian sesuai perjanjian awal kita. Aku benar-benar tidak mengharapkan sikap tidak terhormat darimu lebih lama lagi, Dion."


"Tanpa mengurangi keagungan Anda, Yang Mulia, namun menjaga adik saya jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini."


"Kamu berbicara seakan-akan aku suka menyakiti adikmu."


"Apa Anda melupakan bagaimana sikap acuh tidak acuh Anda selama ini? Setelah Meridian kehilangan ingatannya, sikap dia berubah dan Anda mulai mendekatinya. Apa yang terlihat di mata saya hanya sikap seorang pria yang baru tertarik setelah wanita menunjukkan sisi menarik, lalu Anda bisa bosan pada sisi tidak menariknya."


Meridian mau tertawa.


Perkataan Dion romantis sekali.


Seakan-akan dia berkata 'Anda seharusnya menyukai Meridian sejak awal jika memang Anda sungguhan mencintainya'.


Kalau menurut Meridian sih, sikap Andaru itu normal. Cinta sejati di mata Meridian bukan sesuatu seperti 'aku mencintaimu sejak awal', tapi sesuatu yang terjadi, lalu bertahan dalam guncangan apa pun di antara mereka.

__ADS_1


Jika Andaru tidak tertarik pada wanita membosankan, ya tentu saja karena dia normal, bukan karena dia brengsek.


Kenapa karakter pria sejati mengatakan omong kosong begitu? Masih lebih enak didengar kalau dia berkata 'Anda sudah melecehkan perasaan adik saya sejak lama lalu sekarang Anda memintanya lagi? Kecuali Anda memberikan kerajaan, saya tidak akan setuju'.


Itu lebih masuk akal, mungkin? Wanita bangsawan kan memang alat transaksi keluarga mereka.


"Memang benar, aku melakukannya." Andaru membalas ternyata. "Tapi itu masa lalu. Aku berjanji atas namaku bahwa sampai akhir hidupku, aku akan mencintai Meridian."


Uhuk.


Meridian tersedak.


Serius dia mengatakan omongan menjijikan itu?


Tolong jangan buat Meridian batal mau menikahinya!


"Nona." Herdian menerbangkan gelas ke tangan Meridian segera. "Yang Mulia, Tuan Muda, tolong berbicara lebih lembut saat berada di depan Nona."


Dia juga klise, kah?


Hadeh.


"Nonaku." Andaru menepuk-nepuk punggungnya saat Meridian terus terbatuk. "Sepertinya aku membuatmu terkejut. Pelayan, bawa Nona kembali ke kamarnya."


Meridian dibantu oleh Wilona dan seorang pelayan lagi, dikawal oleh Yohannes yang hari ini datang bersama Andaru.


Gara-gara urusan politik, ia sempat teralihkan dari urusan asmara. Tapi ia seharusnya tak lupa kalau ini novel romansa. Urusan 'aku mencintamu' bertebaran di mana-mana.


"Raven, kemarilah." Meridian sedikit tenang saat Raven memeluknya. "Ini melelahkan. Aku benar-benar malas dengan mereka semua."


"Ada apa?"


"Aku menyukai wajah Andaru, tapi sejujurnya aku jijik pada ucapan lembutnya. Aku juga sering kecewa pada Herdian yang terus mengucapkan kalimat seakan-akan aku ini lemah. Lalu Dion, seharusnya dia mengucapkan sesuatu yang lebih berkelas daripada terus mengoceh tentang cinta!"


Raven menggosok pipinya ke pipi Meridian. "Aku tidak mengerti mengapa semua itu menyebalkan bagimu tapi kenapa kamu harus berpura-pura jika kamu tidak menyukainya?"


"Aku akan berhenti berpura-pura saat aku melihat kepura-puraanku ternyata tidak berguna. Saat ini, aku belum tahu."


Tentu saja akan bagus jika semua berakhir tanpa harus Meridian menghancurkan apa-apa.


Ia benar-benar merindukan rumah. Tempat di mana seharusnya ia berada dan bukan di tempat ini.


"Nona." Raven melompat keluar dari pelukannya. "Pangeran menuju kemari."


Jadi dia tidak akan melewatkan pertanyaan 'apa yang membuatmu berubah pikirkan?'.

__ADS_1


Jelas saja begitu. Bagi Andaru, pernikahan itu sudah diputuskan. Tapi di belakang semua orang, Meridian sudah berkata langsung padanya bahwa pernikahan itu harus dibatalkan karena ia sudah tidak menyukai Andaru.


Setidaknya dia pasti tahu Meridian tidak menyukai dia lagi.


Sambil berpura-pura memijat lengannya, Meridian bersikap seakan ia tidak menyangka Andaru datang.


"Yang Mulia."


Andaru datang dan duduk di tepi kasurnya. "Aku sepertinya mengganggumu, Nonaku. Meski begitu ada hal yang ingin kubicarakan denganmu saja."


"Tentu, Yang Mulia."


Tangan pria itu terulur. Mengambil alih lengan Meridian untuk meninggalkan pijatan kecil yang halus. "Kamu mengerti bahwa pernikahan ini bukan sekadar pernikahan yang dilakukan atas kemauan, benar kan?"


"Tentu." Meridian mendadak tidak bersemangat. "Anda bermaksud melindungi saya."


"Kamu mengerti. Jadi, Nonaku, bisakah aku benar-benar mempercayaimu? Aku tidak ingin kita berdebat lagi mengenai pembatalan dan sejenisnya. Menikahlah denganku. Aku akan melindungimu, memastikan keselamatan keluargamu, dan juga ... menyayangimu."


Kalimatnya tidak seklise yang tadi, tapi Meridian sedang teralihkan.


"Tentu." Meridian hanya menjawab seadanya. "Saya juga akan melakukan peran saya, Yang Mulia."


Andaru meraih wajahnya. Mengecup sekilas bibir Meridian sebelum dia beranjak, menuntunnya untuk berbaring. "Aku akan mengunjungimu besok pagi, Nona. Bermimpilah yang indah."


*


Seutas tali dari aura hitam datang mengikat kedua tangan Meridian di atas kepala. Untuk sejenak ia terbelalak, tapi kemudian tersenyum mengetahui pelakunya adalah Dion.


Setelah apa yang terjadi di meja makan, tentu saja dia akan melampiasksm kecemburuannya.


Mari lihat apa yang coba dia sembunyikan.


"Kakak, ada apa?"


Dion memandangnya dengan sorot mata terlalu dingin. "Aku tahu kamu merencanakan sesuatu. Kamu berkata hanya menginginkanku dan Lukas, tapi menggoda Pangeran seperti gadis murahan."


Ho, jadi ternyata dia bisa menghina seperti itu.


Meridian menggeliat gelisah. Bersusah payah membuat wajahnya memerah dengan mata basah bersiap menangis. "Aku hanya—"


"Aku tidak akan tertipu pada hal sederhana itu, Meridian."


Meridian tidak coba menipunya. Meridian sedang memanas-manasi emosinya.


Matanya yang mulai meneteskan air mata hanya memandang Dion. Bersikap seolah ia ketakutan saat kakak sepupunya itu merangkak ke tempat tidur, secara bersamaan merobek seluruh kain di tubuh Meridian dengan sihirnya.

__ADS_1


*


__ADS_2