Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
37 - dari sandera jadi mitra


__ADS_3

"Nikmati tubuhku sampai peperangan selesai." Meridian hanya tersenyum ringan. "Setelah itu mintalah tebusan pada keluarga kerajaan dan keluarga Marquis."


"Kamu sepertinya Nona Bangsawan gila."


"Kakakku menyebutku demikian. Kamu tidak ingin? Yasudah. Aku diam saja menunggu iblisku datang."


Wajah dia mulai terpengaruh.


Selama Meridian menduduki kursi tokoh utama, dunia ini berada di pihaknya.


Itulah makanya jangan terlalu memihak tokoh utama, dasar penulis brengsek.


"Apa kebetulan kamu berpikir aku tidak tahu mengenai mantra berbahaya di sekelilingmu, Nona?"


"Apa mantraku aktif sejak awal, Tuan?" Meridian mengangkat bahu. "Mantra itu katanya aktif saat aku merasa terdesak. Apa menurutmu sejak tadi aku berpura-pura tenang? Kalau iya, matamu pasti buta."


"Aku belum pernah bertemu bangsawan sepertimu." Raven mendekatkan wajahnya, meniup puncak bibir Meridian. "Kamu yakin dengan pernyataanmu? Orang mesum yang mengawasimu akan tahu."


"Karena itulah aku menawarkan diri."


Tak berbasa-basi lagi, bibir lembut itu menciumnya.


...*...


Pada sebuah alat sihir yang dibawa oleh Raven, hologram muncul, menampilkan sosok Herdian baru saja menerima kiriman alat komunikasi sepihak.


"Nona?" Terdengar suara Herdian saat membaca kertas yang datang bersama benda itu.


Lalu, tak lama muncul suara Meridian dari alat perekam yang Raven kirimkan.


"Herdian, aku baik-baik saja. Aku mengerahkan usaha yang kubisa untuk mengirim benda ini padamu. Tentu, aku tidak bisa mengatakan itu mudah atau syaratnya ringan. Tapi terlepas dari itu, aku berusaha keras agar bisa memberitahumu. Prioritaskan prajurit. Tenangkan kakakku yang mungkin gelap mata ingin menyelamatkanku. Juga, tenangkan dirimu. Jika kalian bertindak gegabah, kurasa akulah yang paling tersiksa di sini. Jadi lakukan dengan rencana yang matang. Aku tidak ingin jadi beban. Sedikitpun tidak. Aku percaya padamu, Duke Muda."


Raven terkekeh mendengar suara Meridian itu. "Aku tidak pernah berpikir akan melakukan hal seperti ini sepanjang kehidupanku. Nona memang menarik."


Untuk sekarang Meridian harap mereka tenang. Dirinya mustahil terluka, tapi mereka pasti khawatir.


Lagi dan lagi, Meridian ogah jadi beban.


"Perjanjian kita terlaksana. Aku memegang ucapanku padamu, Nona. Jadi, kamu akan memegang ucapanmu, kan?"


"Ya." Meridian membiarkan tangan Ravem membelai wajahnya. "Apa itu **** pertamamu? Kamu bergerak kaku."


Dia malah tersenyum. "Kalau begitu, kurasa kita melakukannya untuk pertama kali."


Bagi Meridian Palsu. Bagi Meridian sih tidak.


Matanya terpejam lelah sementara Raven mengecup wajahnya.


Meridian masih sibuk berpikir sebenarnya guna karakter dia ini apa. Kenapa dia jadi penjahat tapi berwajah tampan dengan aura-aura tokoh utama juga?


Berapa banyak sebenarnya anggota harem yang diciptakan Laila?


"Kamu tidak mau memberitahuku siapa iblis yang mengawasimu?"


Kelopak mata Meridian terbuka. "Apa ada alasan mengetahuinya, Tuan Penjahat?"


"Hm? Kurasa aku harus mengajaknya bertengkar karena berbuat mesum pada wanitaku."


"Wanitamu. Baiklah. Lakukan yang terbaik."

__ADS_1


Meridian menopang dagu. Sebenarnya cukup menikmati ketampanan si Raven ini.


Dia tidak setampan Andaru. Masih lebih tampan Herdian, mungkin.


Atau tidak. Herdian terlihat lebih 'berkelas' karena kulitnya putih, sementara Raven punya kulit cokelat. Dia punya aura penjahat seksi yang hobi berjemur di pantai.


"Aku merasakan sesuatu darimu, Nona." Raven menciumi lengan Meridian seperti orang yang dimabuk cinta. "Aku merasa seperti tersihir."


Yah, karena Meridian tokoh utama.


Dia menciumi tangan Meridian benar-benar keseluruhan sebelum berpindah mencium bibirnya. Tapi lama-lama Meridian tidak merasakan tenaga dari Raven, tahu-tahu terlelap nyenyak seperti orang yang disuntiki obat bius.


"Raven?"


Dia tertidur.


Suara Meridian terdengar lagi.


Kenapa dia tertidur?


Itu karenamu.


Aku?


Tubuhmu sudah tercampur dengan mana Dion. Itu membuatmu menjadi sumber afrodisiak secara tidak langsung.


Meridian menopang dagu lagi. Menatap wajah tampan di depannya yang terlelap.


Ia tidak peduli pada suara putus asa Meridian. Lebih peduli pada bagaimana sampahnya tubuh ini sekarang.


Dia tahu banyak mengenai siasat iblis. Apa dia tidak tahu hal semacam itu?


Jadi siapa pun yang menyentuhku sekarang akan terangsang padaku?


Meridian menyeringai.


Para lelaki vulg*r ini ternyata murahan. Semua pria di sekitarmu gampangan dan murahan.


Hening.


Humpt. Terserah dia mau merajuk atau sakit hati. Meridian selalu melalukan hal yang ia anggap menguntungnya tanpa peduli pada caranya.


Mumpung sekarang ia bisa mengendalikan, Meridian manfaatkan saja.


Tapi pertama, ayo mandi.


Tokoh utama di novel dan komik biasanya bisa tidur setelah berhubungan seksual. Padahal faktanya jika habis berhubungan mereka tak membilas diri, risiko terkena penyakit kelamin mengintai.


Yah, penyakit kelamin tidak ada di novel romansa. Kalau ada, kan tidak seru membuat adegan 'aku terbangun bersama pria asing yang tidak kukenal, bertelanjang dada bersama darah keperawanan di seprei'.


Lepas mandi, Meridian bermaksud untuk keluar. Tapi ternyata ada semacam barier transparan di sekitar ruangan yang menahan Meridian.


Dia tetap penjahat waspada, pada akhirnya.


Tak punya pilihan lain, Meridian kembali saja ke tempat tidur. Menyusup ke antara lengan Raven untuk ikut tidur.


Penjahat bukan penjahat, orang tampan hukumnya beda di dunia fiksi.


...*...

__ADS_1


"Sepertinya ada penyusup."


Meridian sedang asyik menyantap hamburger buatan sendirinya ketika Raven berbicara.


Sambil mengunyah perpaduan roti, selada dan daging yang rasanya jelas jauh beda dari rasa burger dunia nyata, Meridian menatap bingung pria itu.


Dia hanya duduk memandangi Meridian sejak tadi. Dari mana dia tahu ada penyusup?


"Apa manamu juga mengelilingi tempat ini?"


"Mana? Tidak. Ini kemampuan salah satu bawahanku."


Dia berpindah ke sisi Meridian. Mengusap saus di dekat bibirnya dan mengisap itu tanpa rasa sungkan. Dengan ibu jarinya yang basah, dia mengusap lagi bibir Meridian.


"Kamu merasakannya?"


Hm?


Perasaan apa ini?


Meridian tiba-tiba merasakan inderanya meluas, meliputi seluruh tempat. Itu sensasi seperti kulitnya bahkan bisa mengenali rasa angin, tekstur tanah, suhu udara, bahkan debu.


Tak tahu kenapa, ia terganggu akan dua kehadiran tidak menyenangkan yang membuat Meridian kesal luar biasa.


"Apa seperti itu rasanya sihir pendeteksi?"


"Tergantung kemampuannya, tapi ya, umumnya begitu."


Raven melepaskan tangan dari bibir Meridian. Berganti memeluknya seperti pria manja.


"Mereka mau menjemputmu, Nona. Bagaimana aku harus menghukum mereka?"


Meridian cuma makan. "Apa tidak ada bawahanmu yang bisa melihat mereka? Aku ingin tahu siapa yang menyusup."


"Sayangnya tidak ada. Tapi aku tahu siapa. Mereka bilang itu seorang pria berambut ungu, sepertinya ahli pedang yang cukup hebat. Satunya lagi seorang penyihir. Kelasnya tidak terlalu tinggi, namun kemampuan menyembunyikan mananya hebat. Aku pun tidak akan tahu jika tanpa bantuan bawahanku."


Yohannes, kah? Memang dia dikirim Andaru sih, jadi tentu dia yang akan menyelamatkan Meridian jika terjadi sesuatu.


"Beritahu anak buahmu jangan membunuh mereka. Sandera saja."


"Heeeh. Kenapa tidak dibunuh?" rengek dia seperti bocah.


Meridian mendorong wajah penjahat yang telah menyerupai kucing manja itu. "Aku wanita yang benci kekerasan dan darah. Lakukan saja."


Dia tersenyum. "Aku biasanya tidak sepengampun itu."


Kalimat klisenya muncul.


"Tapi baiklah. Nonaku menginginkannya."


Kalau saja mereka sedang tidak terlibat dengan prajurit keluarga Herdian, Meridian tidak keberatan diculik juga.


Bagus malah ia bergabung dengan penjahat daripada harus sesak di rumah si Palsu itu.


Tapi Meridian tidak pernah suka menyusahkan orang yang ia anggap baik. Jadi untuk Herdian, Meridian akan meminimalisir sebanyak mungkin kemungkinan buruknya.


Lagipula, Yohannes harus kembali pada Andaru untuk melapor.


"Biarkan aku bertemu mereka setelah menyanderanya."

__ADS_1


...*...


__ADS_2