
Meridian tidak bisa memasuki dunia itu lagi.
Tidak. Ia tidak akan percaya pada omongan orang yang suka berputus asa seperti si Palsu.
Dunia ini palsu. Segalanya palsu. Meridian hanya bermimpi atau entah apa pun itu penjelasanya. Ia pasti akan kembali entah bagaimana ceritanya harus berjalan.
Novel cuma butuh konflik, kan? Maka sekarang ia menciptakan konflik. Perang besar akan terjadi, dan Meridian akan muncul sebagai penghancur kerajaan suci. Jika itu belum cukup, ia tinggal menghancurkan segalanya agar tidak ada yang tersisa.
Jika tidak ada yang tersisa, tidak ada juga alasan untuk Meridian tetap di sini, kan?
Pasti begitu.
"Apa yang Nona lakukan?"
Meridian menoleh. Diam saja ketika Herdian datang, ikut berjongkok di sebelahnya.
Mereka sama-sama menatap pantulan bayangan di atas air jernih. Tempat ini—yang ternyata adalah dungeon—memiliki air danau sebening kristal namun memantulkan bayangan serupa cermin. Mungkin ini disebut keunikan dari sebuah wilayah sihir.
"Kurasa aku memiliki janji padamu."
"Saya akan mendengarnya kapan pun Nona merasa nyaman. Tolong jangan memaksakan diri Nona."
"Baiklah." Meridian menghela napas. Memang ia sedang tidak mood berbicara mengenai rahasia. "Tapi aku ingin kamu tahu, Herdian, keberadaanmu membantuku sangat banyak. Aku sangat berterima kasih."
Herdian tersenyum kecil. "Saya ingin lebih membantu jika saja bisa, Nona."
Memang second male lead selalu punya pesona sendiri.
"Ayo kembali." Meridian beranjak, meski sebenarnya ia pergi ke danau untuk menyendiri dan menenangkan diri.
Semakin cepat ia bergerak, kemungkinan besar juga semakin cepat cerita berakhir, kan? Ayo segera akhiri dunia konyol ini dan Meridian pulang ke tempatnya semula.
"Lumiel."
Cahaya hitam melesat ke arahnya. Namun Meridian terkejut sewaktu Lumiel yang ia panggil malah muncul dalam wujud kucing hitam bermata emas sekali lagi.
"Kamu berubah lagi?"
"Dengan begini aku bebas memelukmu." Dia menggeliat di dada Meridian. "Peluk aku, Meridian."
Meridian melirik Herdian yang tampak diselimuti aura gelap.
__ADS_1
Pasti perasaannya saja. Warna mana Herdian kan hijau, bukan hitam.
Sambil mulai berjalan menggendong Lumiel, Meridian menyebarkan mananya. Ia cuma mengingat bagaimana Herdian dulu mendeteksi sekitaran mereka dengan angin, dan ternyata cukup mudah.
"Dion, Lukas, kemari."
Keduanya ikut muncul nyaris bersamaan. Meridian menjentikkan jari, menciptakan sebuah meja beserta kursi yang dapat digunakan masing-masing dari mereka.
Ia duduk di kursi paling utama, membiarkan Lumiel santai-santai di pangkuannya sementara yang lain duduk menahan keki.
"Jadi, pertama, kurasa kita aku perlu menghubungi Yang Mulia. Apa ada cara untuk terhubung padanya sekarang?"
"Saya akan melakukannya, Nona." Herdian mengarahkan mana ke tengah meja.
Ada sesuatu yang bersinar dari cincin di jempol tangannya, dan sinar itu menghilang seiring dari kemunculan proyeksi Andaru duduk di kursi kerjanya.
"Nonaku, aku sangat senang melihatmu baik-baik saja sekarang. Maafkan aku tidak mengunjungimu belakangan ini."
"Tolong singkirkan formalitas itu dulu, Yang Mulia." Meridian mengusap-usap bulu kucing Lumiel. "Bagaimana situasi Anda? Kuil belum menunjukkan tanda-tanda atau pergerakan?"
"Itulah yang sedang kucari tahu." Andaru menopang kepalanya ke samping, samar-samar terlihat lelah. "Daripada disebut 'belum' memunculkan berita, aku melihat kuil bahkan belum mengetahui apa-apa tentangmu. Pendeta yang kubunuh hari itu, mereka dikabarkan menghilang dan mereka sedang sibuk mencarinya. Situasi ini terlihat seperti ada perpecahan kelompok. Mereka yang tahu tentangmu, mereka yang tidak tahu tentangmu."
"Pendeta Michel—tunggu, siapa namanya, Herdian?"
"Ya, itu. Marcel kemungkinan besar bersekongkol dengan Ruben."
"Aku juga memikirkannya."
"Tapi tidak mungkin hanya satu pendeta tinggi bersekongkol dengan pangeran dari negara kecil percaya diri memenangkan peperangan. Saya rasa mereka memiliki kekuatan lain."
"Ruben sangat membenci penyihir dan tidak berhubungan baik dengan pendeta, namun jumlah penelitian sihir yang dia lakukan tidak sedikit. Kurasa setidaknya dia memiliki seratus penyihir hitam di sisinya sekarang. Itu jumlah yang bisa kudapatkan dari informasi yang diberikan kerajaan."
"Masih ada lagi." Meridian mengetuk-ngetuk telunjuknya di atas meja. "Seseorang percaya diri pada sesuatu yang meyakinkan. Lagupula, melihat karakter Ruben yang tidak menggebu-gebu seperti orang bodoh, saya rasa orang seperti dia tidak akan merasa menang kecuali memang terjamin memiliki kemenangan."
"Chimera."
Dion pertama kali membuka suara.
"Penyihir hitam lebih ahli menciptakan chimera dibanding penyihir biasa. Percampuran mana dari penyatuan banyak inti mana penyihir menyebabkan perubahan pada inti mana yang dimiliki chimera. Karena itulah sihir hitam yang disebut tidak berbentuk bisa lebih fleksibel dengan mereka."
Itu terdengar masuk akal.
__ADS_1
"Yang Mulia, apa sama sekali tidak ada catatan mengenai penelitian terlarang?"
"Kurasa ada." Andaru tersenyum. "Namun aku tidak bisa mendapatkannya."
"Karena?"
"Kaisar bukanlah manusia rendah hati yang akan membantu kesulitan seorang gadis, Nona. Aku membantumu karena aku mencintaimu, namun Kaisar tidak peduli padamu. Jika dibandingkan dengan kekacauan yang akan terjadi dengan kuil, tentu saja Kaisar lebih senang melihatmu terbunuh."
Meridian menghela napas. "Benar juga."
"Bunuh saja Kaisar." Lukas membuang muka. "Lagipula dia sudah tua."
"Aku akan menganggap itu sebagai dukungan bagiku, Tuan Muda." Andaru terkekeh. "Saat ini aku hanya bisa menyiapkan prajuritku, Nona. Aku tidak tahu apa Pak Tua yang Lukas katakan itu sudah mengetahuinya atau tidak, namun kita tidak bisa bergerak terlalu sembrono. Sebisa mungkin, aku tidak ingin ada pertempuran sia-sia yang mengorbankan terlalu banyak nyawa."
"Anda benar." Meridian juga tidak ingin membunuh NPC secara sengaja.
Mau NPC atau karakter sampingan, mereka semua setidaknya bukan debu yang diinjak-injak. Serangga saja dihargai, kan?
"Mari bergerak dalam asumsi bahwa Ruben memiliki sejumlah chimera dalam pasukannya."
"Tapi, Nona," Herdian ikut bersuara, "kalaupun mereka memiliki chimera, kemungkinan besar kekuatan sihir Nona masihlah lebih besar. Itu hanya asumsi liar, namun Ruben berencana membawa Nona pergi jika tidak dicegah oleh kucing Nona."
Dia tidak mau menyebut nama Lumiel.
"Itu bisa dijadikan asumsi, namun bisa juga sebaliknya." Meridian menunduk pada kucing hitamnya. "Lumiel, apa ada senjata kuno selain chimera yang cukup berbahaya untukku?"
"Tidak. Tapi aku memikirkan sesuatu yang sempat kita bicarakan dulu." Kucing itu melompat ke meja. "Mengenai penelitian Ruben."
"Maksudmu racun yang bisa membunuh penyihir dan apa pun itu omong kosongnya?"
"Omong kosong itu sekarang jadi mulai masuk akal. Kami belum mengetahui sihir macam apa yang dia lakukan melepaskan belenggu pada inti manamu. Jika dia bisa membuat sihir yang tidak bisa diketahui oleh kami, bukankah masuk akal membuat sihir berbahaya lainnya?"
Meridian menopang pipinya ke samping dan terdiam dalam pikiran panjang.
Benar juga, yah. Tapi kalau benar, Ruben luar biasa pintar. Orang luar biasa pintar itu kenapa bisa kalah dan diruntuhkan oleh rencana setengah matang Meridian dan Lumiel?
"Kurasa kita meremehkan dia." Meridian agak gelisah. "Lumiel, pada pemberontakan yang dilakukan bawahanmu, apa mereka mengecek satu per satu siapa tentara yang dibunuh oleh mereka? Apa ada kepastian bahwa orang yang terbunuh adalah orang di sekitar Ruben? Siapa saja yang hilang bersama Ruben?"
Mereka semua tersentak. Bahkan Lumiel.
"Tidak. Aku tidak memastikannya. Lagipula, pemberontakan itu idemu. Bagaimana mereka mempersiapkannya dalam waktu sekian jam?"
__ADS_1
"Idemu?" Andaru bereaksi pada kata itu.
*