Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
77 - ini milik orang lain


__ADS_3

"Meridian." Kedua mata reptil Andaru menatapnya lekat. "Tubuhmu sudah mati."


Tidak. Dia bercanda. Mana mungkin dia tahu.


Lagipula dia tokoh utama yang kehilangan. Tentu saja dia merasa harus menghentikan Meridian apa pun yang terjadi.


"Hentikan prosesnya."


"Tidak!"


"Hentikan." Andaru tetap bersikeras.


"Kubilang tidak!"


Lonjakan sihir mementalkan semua orang menjauh dari Meridian. Lingkaran sihir Lumiel hancur akibat guncangan. Meridian mencoba mengatur napasnya, tapi dibuat tercekik oleh tatapan manusia dan iblis itu.


Berhenti. Berhenti menatapnya seakan-akan dunia ini memang dunia tempat ia tinggal!


Meridian tidak percaya pada dunia sihir. Meridian tidak percaya pada sesuatu seperti reinkarnasi atau transmigrasi atau apa pun mereka menyebutnya!


Ini bukan dunianya! Ini bukan dunia tempat ia seharusnya—


Aku mengakui kamu memang selalu optimis dan kuat.


Gadis itu bersuara di kepalanya.


Tapi apa yang harus kamu lakukan ketika memang tidak ada jalan? Bukannya kamu justru hanya lari sepertiku?


Meridian terpekur.


Tatapan seluruh bangsa iblis dan para tokoh utama novel Laila ini semakin mencekiknya. Meridian mengepal tangan. Mengalihkan mata dari mereka sebelum turun dengan tubuh terhuyung.


"Yang Mulia."


".... Aku baik-baik saja." Meridian menolak bantuan mereka. "Pergilah. Aku ingin istirahat."


...*...


"Itu Lumiel."


Meridian hanya berbaring tanpa bergerak di dunia halusinasi tempat ia selalu bertemu Meridian Palsu.


Ia tahu ada Lumiel di depan pintu kamarnya, tapi sekarang Meridian tak mau bertemu siapa pun.


"Hei."


Gadis itu tetap tidak bergerak. Meski Meridian Palsu datang mendekatinya, Meridian bahkan tak bergeser.

__ADS_1


Beri ia waktu. Beri ia sedikit saja waktu untuk berpikir.


Bagaimana dirinya bisa mati saat Meridian ingat belum ia berbaring di tempat tidur dan tiba-tiba berada di dunia ini? Bukankah harusnya keberadaan bug seperti Meridian itu bisa pergi setelah menyelesaikan misi?


Ia sudah membunuh para penjahat. Menghilangkan kuil yang otoriter itu agar Andaru selaku tokoh utama bebas berkuasa. Memang setengah dari dunia mati karenanya, tapi bukankah karena itulah Meridian tidak cocok berada di dunia ini?


Kenapa harus tubuhnya yang di sana mati?


"Sebenarnya apa yang tidak kamu sukai dari dunia ini?"


"Berhenti bicara."


"Aku bertanya. Apa yang membuatmu ingin kembali? Duniamu bahkan tidak lebih baik dari tempat ini."


"Diam."


"Aku tahu. Aku tahu semua tentangmu. Aku bertanya untuk memastikan. Bagaimana aku bisa sekuat dirimu jika dari awal aku bahkan tidak boleh bertanya?"


Lalu apa? Ia harus menjawab untuk sebuah kenyataan menyedihkan bahwa semua yang ia lakukan berakhir sia-sia di dunia ini?


Meridian menutup matanya dengan lengan. Berusaha tidak terisak ketika air matanya meleleh.


"Duniaku memang buruk," jawabnya serak. "Tidak sepertimu, tidak seperti di dunia ini, semua orang dilahirkan sama dan setara. Tentu saja ada orang kaya dan orang miskin. Ada orang hebat dan orang payah. Tapi semua orang memulainya dari nol dan berjuang dengan cara mereka."


"...."


"Aku mendapat kekuatan sihir, bahkan menjadi raja iblis hanya dengan kecerdasan dan sedikit memecahkan batu. Aku berubah jadi orang kasar dan memperlakukan semua orang seperti alat, tapi putra mahkota, duke muda, bahkan orang bebas seperti Lumiel mencintaiku sangat dalam."


"Aku bisa melakukan apa pun. Aku bisa melakukan segalanya. Aku membunuh lebih dari setengah populasi manusia, aku berpura-pura terdesak hanya untuk membunuh Ruben yang merupakan musuh dunia dan menertawakan betapa lemahnya mereka semua. Aku mendapatkan segalanya dengan menjentikkan jariku."


Isakannya pecah.


"Duniaku tidak seperti itu. Duniaku memaksaku berusaha. Bahkan ketika aku cerdas, aku pun harus kuat. Aku harus berusaha menjadi sempurna agar orang mencintaiku. Aku berselisih untuk alasan yang manusiawi. Aku membenci seseorang, seseorang membenciku, lalu kami bertengkar, lalu berpisah. Aku bolak-balik berjalan ke berbagai tempat. Belajar dari satu hal ke hal lain. Aku berjuang, bekerja keras, melakukan semuanya sampai aku sendiri pun yakin bahwa jika aku tidak berusaha keras, maka hidupku akan hancur."


Meridian meringkuk.


"Duniamu mempecundangi duniaku. Duniamu tertawa pada duniaku. Berkata, lihatlah betapa bodohnya aku dulu hidup. Aku berusaha keras padahal ada dunia yang begitu mudah dijalani."


"...."


"Aku hanya duduk dan bernapas untuk dicintai. Aku tidak berusaha dan berjuang untuk diterima. Semua orang mencintaiku karena aku tokoh utama. Itu terserahku membenci siapa. Musuhku adalah orang jahat, aku adalah orang baik. Itulah duniamu."


Tangisan Meridian seperti seseorang yang kesakitan. Mungkin saja dia tidak akan mengerti apa sebenarnya yang ia tangisi. Karena pada dasarnya ia cuma berpindah dari dunia yang buruk ke dunia yang mudah.


"Lalu bagaimana dengan usahaku?" Lengannya kasar bergerak menghapus jejak air mata. "Bagaimana dengan semua yang kukumpulkan? Tubuh itu, aku hidup sejak bayi bersamanya. Aku malu bersamanya, aku tegar bersamanya, aku belajar bersamanya, aku melakukan semua hal bersamanya."


"...."

__ADS_1


"Jika memang takdirku adalah dunia ini, beritahu aku, Meridian, kenapa tidak sejak awal akulah yang lahir di tempat ini? Kenapa aku harus berusaha keras di duniaku hanya untuk kutinggalkan dan tinggal di tubuhmu?"


".... Maafkan aku." Meridian Palsu memalingkan wajah. "Kurasa semua memang salahku."


Memang apa yang berubah kalau sekarang dia mengaku? Meridian sudah terlalu putus asa. Jika tubuhnya benar-benar mati di sana, maka ia harus tinggal di tubuh ini?


Ini milik orang. Ini milik Meridian Palsu.


Lalu di mana tubuh miliknya?


"Ambil saja tubuhku. Lagipula aku—"


Meridian hanya terisak memunggunginya. Tidak perlu ia menoleh untuk tahu bahwa mata gadis itu bersimbah tiba-tiba, pertanda bahwa sebenarnya dia juga mempertanyakan alasan mengapa dia harus kehilangan miliknya.


Jauh di hatinya ia tahu, bahwa gadis ini tidak berbuat salah sama sekali.


Apa yang dia lakukan hanya menyerah. Tentu saja dia salah pada dirinya sendiri. Namun dia tidak melukai seseorang.


Pada akhirnya mereka hanya korban permainan seseorang. Siapa? Dewa abal-abal dunia ini?


"Nona."


Keduanya menoleh terkejut. Melihat tiba-tiba Herdian muncul di dunia yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh siapa pun.


Pria itu datang, langsung berlutut menghapus air mata Meridian.


Meski wajah dan penampilan mereka kembar, dia mengetahui dengan pasti mana Meridian Asli.


Meridian terkejut. Namun ia hendak membalas pelukan Herdian sebagai obat jiwanya. Sayangnya ketika nyaris melakukan itu, ia melihat Meridian Palsu memalingkan wajah dengan lemah.


Bukan dia yang dikenali sebagai Nona di tubuhnya sendiri.


Padahal ini miliknya.


Meridian meringis menahan rintihannya. Dunia menyebalkan dan memuakkan ini. Sebenarnya apa yang sedang 'dia' inginkan?


"Nona, jangan menangis."


Mengepal tangannya kuat-kuat, Meridian mengusap air matanya dan menjauh dari Herdian.


"Aku tidak akan bertanya mengapa kamu bisa masuk ke tempat ini. Akan kuanggap itu kemampuanmu."


Satu-satunya cara untuk tetap tahan banting adalah pura-pura tidak terbanting.


"Lalu, apa tujuanmu?"


Herdian menatapnya lemah. Namun dia pun terbiasa pada Meridian yang dingin.

__ADS_1


"Besar kemungkinan ... Ruben belum mati, Nona."


...*...


__ADS_2