
Keuntungan jadi tokoh utama itu mau bagaimanapun cerita berjalan, intinya dia akan sampai pada ending bersama sang tokoh utama pria. Jadi Meridian tidak ragu memasukkan obat atau racun ke mulutnya.
Selama tidak menjijikan dilihat atau dimakan, ia baik-baik saja.
Hmm, diluar dugaan, rasanya enak.
Agak mirip seperti strawberry namun lebih sedikit asam. Ada batu-batu kecil seperti buah pir di dalamnya, namun Dion bilang untuk menelan keseluruhan.
"Ini bisa bertahan selama satu bulan?"
"Kamu bodoh? Kamu harus mengonsumsinya sekali sehari untuk menjaga kestabilan efeknya."
Meridian menghabiskan buah itu dengan cepat. Lalu bermaksud membilas mulutnya dengan air ketika tiba-tiba seluruh dunia berputar, disusul oleh perasaan tercekik di lehernya.
"Sudah kuduga." Dion mengarahkan sihir secara kilat pada Litea dan Litae agar berpindah dari paha Meridian. "Sihirmu sangat sensitif."
Meridian terbatuk-batuk. Kesulitan bernapas meski ia membuka mulutnya lebar-lebar.
Dalam kondisi itu, jelas Meridian tidak mementingkan apa pun. Ia meremas sangat kuat bahu Dion, yang entah untuk alasan apa menggenggam satu tangannya.
"Jangan panik. Itu baik-baik saja."
Meridian merasa panas. Tapi rasa tercekik itu pelan-pelan memudar. Kini ia menunduk memegangi lehernya, bernapas berat akibat rasa panas.
"Sihirmu bereaksi terlalu keras." Dion terus mengalirkan sesuatu lewat menggenggamnya. "Mereka menolak ditenangkan, karena itu mereka bereaksi dalam tubuhmu. Tapi ini hanya reaksi awal. Besok dan seterusnya hanya penyesuaian."
Meridian terbatuk. "Terima kasih."
Tubuh ini ternyata sangat merepotkan. Apa gunanya punya banyak mana kalau setiap saat harus disegel?
"Cobalah untuk tidur." Dion membawa kepala Meridian bersandar ke bahunya. "Aku perlu mengalirkan manaku padamu agar efeknya berkurang. Jadi tidurlah agar manamu lebih stabil."
Tapi tubuhnya panas.
Panas yang aneh.
Meridian merasa seperti duduk di dekat rebusan air panas. Tidak terasa terbakar atau sakit, tapi uapnya memaksa ia terus berkeringat tanpa henti.
Aku takut.
Kelopak mata Meridian yang tertutup seketika terbuka.
Sebuah suara yang bukan suaranya atau suara Herdian berputar di kepalanya.
Itu memusingkan. Akan tetapi Meridian tidak bisa menepisnya dalam kondisi seperti ini.
Aku takut.
"Dion." Meridian berusaha keras bernapas.
Seluruh wajahnya sudah basah oleh keringat. Punggungnya terasa gatal akibat lembab dan rambutnya lepek seperti habis workout berjam-jam.
__ADS_1
"Berikan sihir—"
Jangan lakukan.
...*...
Dalam sekali kedip, Meridian melihat seluruhnya berganti. Ia tiba-tiba berada di ruang hampa, tanpa rasa panas atau rasa dingin.
Yang paling mengherankan, seorang gadis berwajah Meridian Palsu memegang ujung gaunnya sambil menunduk ke bawah.
Mengerikan.
Dia seperti sadako minus adegan keluar dari TV.
Juga agak sedikit lebih rapi.
"Apa?" Meridian bertanya kesal.
Ini kan adegan yang biasa muncul di novel-novel juga. Di mana orang yang mengambil alih tubuh si Tokoh Utama bertemu dengan pemilik tubuhnya, lalu berkomunikasi.
Hei, hei! Jangan bilang dia mau berpesan agar Meridian menjalani hidupnya?!
Enak saja!
Tidak ada bakso setan dan bakso cuanki di dunia ini. Kenapa Meridian harus betah?
"Jangan lakukan." Sadako itu mengulang kalimatnya. Dengan nada yang seperti 'ah, aku malas hidup, tapi malas mati, malas juga bahagia, malas juga menderita, jadi harus apakah aku?'.
Awas saja dia benar-benar mau bilang sesuatu tentang ganti tempat. Hidup Meridian di dunia nyata lebih baik daripada jadi putri Marquis.
Dia kan calon istrinya Putra Mahkota. Kenapa pula Meridian yang harus menikahinya?
"Jangan berbuat baik padanya."
Meridian melipat tangan. Setelah tersedak dan kepanasan, mood-nya hancur total. "Begitu? Terima kasih sudah memberitahu. Sampai jumpa."
Memang orang tidak penting itu ditinggalkan saja.
Hidup kan mudah.
"Mereka iblis."
Biasanya sih di tempat seperti ini ada jalan keluar berupa pintu. Di mana, yah? Kanan? Kiri?
Hmmm, menurut hemat Meridian, kanan adalah keberuntungam.
Ayo ke kanan.
"Mereka akan menyakitimu. Jangan berbuat baik."
Tapi tempat ini apa, yah? Kenapa harus selalu muncul sesuatu seperti ini?
__ADS_1
Meridian tidak paham. Logikanya sejak awal tidak bisa menerima sihir mau sebanyak apa pun ia melihat langsung. Ia tenang-tenang saja karena memang menganggap semua mimpi alias tidak nyata.
Di dunia khayalan kan bumi bisa jadi datar, matahari bisa jadi kerucut.
"Dion bukan kakakmu."
Meridian menguap bosan. "Aku sudah tahu. Dia kakakmu. Diamlah, dasar Sadako."
"Dia iblis."
"Ya, ya. Andaru juga iblis. Iblis tampan."
Tapi sepertinya settingan tempat ini memang untuk didengarkan oleh tamu mereka.
Meridian dipaksa terpaku ketika seluruh sudut ruangan berubah menjadi layar bioskop raksasa, menampilkan potongan-potongan adegan sebuah ingatan.
Yang menarik bukan itu.
Yang menarik adalah, di sana ditampilkan sosok Meridian memasang ekspresi ketakutan tiap kali Dion atau Lucas berada di sisinya.
Kenapa?
"Hei." Meridian terpaksa berbalik. "Apa wajahku terlihat bodoh?"
"Dia bukan kakakmu."
"Aku sudah bilang aku tahu, jadi berhenti mengulang kalimat tidak penting!" Meridian menunjuk layar yang menurutnya lebih penting. "Apa gunanya ini? Kamu berpikir aku akan takut hanya karena kamu takut?"
"Dia berbahaya."
"Dia tampan, dia iblis, dia berbahaya, dia bukan kakakku, dia merawatku, dia menyebalkan, dia blablabla. Sudah kubilang tidak penting." Meridian mendengkus.
Lagi-lagi harus memijat pelipis lantaran kesal.
"Dion—"
"Akh, diam!" Meridian melirik layar itu lagi. "Sepertinya aku mengerti. Alasan rambut Dion dan Lucas hitam karena dia keturunan iblis. Bagaimana cara dia menjadi pewaris Marquis itu mudah, karena dia tampan dan Laila maunya begitu. Sampai di sini, itu tidak penting untukku. Jadi pertanyaanku hanya satu. Kamu kira aku akan berkata 'oh, tidak, ternyata begitu' pada penjelasanmu? Kalau kamu bisa muncul di sini, maka muncul dan ambil tubuhmu."
Meridian menunjuk ke atas sambil melotot pada Sadako itu.
"Kembalikan aku. Aku tidak mau tahu soal apa pun itu. Cepat."
Sadako itu tampak sedih.
Namun dia sungguhan mengembalikan Meridian dari alam bawah sadarnya, kembali merasakan panas dan pelukan Dion.
Dia berbahaya. Lagi-lagi suaranya terdengar. Berhati-hatilah.
Berhenti bersikap klise, dasar karakter novel!
...*...
__ADS_1