Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu

Transmigrasi: Terpaksa Jadi Si Palsu
23 - tergantung


__ADS_3

"Lalu? Kamu berpikir aku takut?"


"Entahlah. Saya akan tahu jika sudah melakukan sesuatu yang memancing rasa takut Anda."


Meridian berpikir menciptakan api yang luar biasa panas. Sangat panas melebihi panas apinya sampai sekarang.


Dalam sekali jentik, bola mata Andaru melebar.


Keringat jatuh dari pelipisnya menyaksikan seluruh barang dalam ruangan terbakar habis kecuali kursi yang Meridian duduki dan pakaian mereka berdua.


Dia bukan merasa takut. Tapi tekanan kuat sihir itu membebani matanya.


Pola di sana semakin rumit dan Meridian ingat semakin keras dia berusaha, semakin cepat dan rumit matanya terlihat.


"Kurasa kamu sedikit berlebihan, Nonaku." Andaru mengangkat tangannya. Tepat saat dia mengepalkan tangan, Meridian mematikan seluruh sihirnya.


Hal itu membuat dia berpaling.


"Kamu mengendalikannya dengan sempurna. Apa benar kamu hilang ingatan? Tidak mungkin kendali sesempurna itu dilakukan dalam sehari."


"Bukankah Anda mempercayai saya?"


"Aku mempercayai kejujuranmu, Nona. Bukan kebohongan." Mata Andaru tampak redup. Lalu menghilang setelah dia berkedip samar. "Dan aku percaya pada instingku."


Herdian bilang ada satu kejadian di mana Andaru merasa pikirannya dibaca. Lalu dia melakukan sesuatu pada mananya untuk memblokir kemampuan tanpa mana yang bahkan tidak bisa dideteksi oleh Dion.


Sepertinya dia tidak berbohong.


Dia curiga.


Hanya tidak jujur seperti Dion.


Sayangnya Meridian juga lebih percaya pada dirinya sendiri.


"Saya tidak berbohong." Karena ia memang tidak berbohong. Ia tak ingat apa pun soal Meridian kecuali fakta dia berjodoh dengan Andaru yang klise. "Sudah saya bilang, saya percaya segala sesuatu mudah bahkan jika kenyataannya tidak mudah."


"Aku tahu kamu berkata jujur. Hanya, ada yang kamu sembunyikan."


"Sama seperti Anda."


"Tidak, Nonaku." Andaru tiba-tiba meletakkan tangan di wajah Meridian. Mendekatkan wajah tampannya hingga Meridian terdiam kaku.


Sialan.


"Aku ingin menikahimu karena manamu yang indah. Aku tidak menikahimu untuk memanfaatkan kekuatan sihirmu. Aku hanya menyukainya. Sangat menyukainya."


Ternyata klise.


Hadeh.


Jauh-jauh Meridian datang, berpikir dia mau memanfaatkan Meridian untuk rencana keren menguasai dunia—tapi ternyata cuma soal suka pada mana.


"Sejujurnya, aku jadi menyukaimu karena perubahan ini."


Meridian berusaha tidak berekspresi 'mau sampai kapan Anda jadi klise'.


Benar-benar berjuang agar wajahnya datar saja.


"Aku tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba tidak menyukaiku, Nona. Apa karena aku membuatmu menunggu? Atau karena adikku bersikap kurang ajar padamu? Haruskah aku menyuruhnya minta maaf?"


Tolong jangan bersikap klise. Itu saja.


"Saya hanya tidak mengingat Anda. Hanya sesederhana itu."


Meridian ikut menyentuh wajah Andaru.


Lebih tepatnya pada luka berdarah di sana. "Anda sangat tampan sampai mana saya bergejolak melihat Anda."


"...."


"Sayangnya Anda membosankan, jadi tidak."


Meridian mendorong kursi mundur hingga sentuhan mereka lepas. Ia beranjak begitu saja, karena urusannya sudah selesai.


Ketika tubuhnya sudah hampir mencapai pintu, lagi-lagi Meridian ditarik secara paksa. Kali ini bukan dalam pangkuan, tapi ia mendarat di pelukan Andaru.


Tahu-tahu saja, bibir seksi itu berada di atas bibirnya. "Apa aku harus bersikap kasar agar kamu berhenti menganggapku membosankan, Nona?"


Meridian tidak menjawab. Tidak penting juga. Lebih ada gunanya ia menggerakkan bibir, kesempatan mencium pria idaman sekalipun dia klise dan memuakkan.


"Nonaku." Andaru mengerang dalam mulutnya. "Kamu merendahkanku tapi selalu jadi yang paling semangat menciumku. Sebenarnya apa maumu?"


"Saya menyukai Anda, Yang Mulia." Meridian membelai bibir manis itu. "Saya hanya tidak menyukai keadaan di sekitar Anda."


"Keadaanku?"


"Itu adalah persoalan hati wanita." Meridian mengecup pipinya. "Sampai jumpa, Yang Mulia-ku."


Lalu berbalik dengan wajah 'aku muak dengan ini'.

__ADS_1


...*...


"Yang Mulia mengirimmu?"


Herdian menopang dagu dan tersenyum kecil. "Beliau biasanya tidak bertindak seperti ini. Nampaknya beliau sangat terganggu dengan hubungan saya dan Nona."


Bukankah itu tindakan yang agak pengecut?


Oh, iya, yah. Yang menulis kan perempuan. Metode perencana wanita memang tidak seperti pria.


Biar romantis, Andaru menggunakan kekuasaannya mengirim Herdian ke wilayah pemberontakan.


Tidak usah tanya pemberontakan apa. Anggap saja sedang nonton sulap. Bagaimana begini dan begitu, ya itu urusan pesulap dan Tuhan yang melihatnya.


"Berapa lama kamu pergi?"


"Jika berjalan dengan baik, saya akan kembali dalam waktu sebulan."


"Apa masalah di perbatasan wilayah seberat itu?"


"Memperkirakan dari informasinya, tidak juga, Nona. Yang memberatkan adalah waktu perjalanan. Saya akan bergerak dengan dua ratus prajurit. Bahkan dengan sihir Dion, mustahil memindahkan dua ratus orang ke perbatasan bersama kuda-kuda dan kebutuhan pokok."


"Begitu. Siapa yang akan pergi bersamamu?"


"Raphael akan menemani saya sebagai diplomat kekaisaran."


"Terdengar menarik." Meridian menjentikkan jari agar Lucas muncul.


Orang ini mungkin tidak sadar betapa baiknya dia sampai repot-repot tetap muncul meski tahu Meridian kerap memanggil untuk alasan remeh.


Tapi karena kemampuan dia praktis, ya nikmat Tuhan mana yang perlu didustakan?


"Apa?" Dia bahkan berteleportasi dengan tangan bersedekap. "Aku akan menyuruh Dion mengekangmu jika lagi-lagi soal kompres."


"Aku hanya ingin bertanya padamu, Kakak."


Orang gampangan tinggal disogok pujian atau kalimat yang disenangi.


Setelah diamati, mau Dion, Lucas atau Raphael, bahkan si Litea dan Litae, semuanya siscon. Sayang sedikit, langsung jinak.


"Bisakah aku ikut serta dalam ekspedisi di perbatasan wilayah Duke? Kudengar Raphael akan ikut."


"Tidak." Lucas mencomot kue di atas meja dengan sombongnya. "Sudah? Aku pergi."


Dia menghilang.


Menyisakan Herdian tertawa canggung. "Mengapa Nona ingin ikut tiba-tiba?"


Dan Lucas muncul lagi. "Apa lagi?!"


"Aku ingin liburan."


"Dengan karakter barumu yang membuat orang ikut gila bersamamu, dan sihirmu yang sebentar-sebentar kamu aktifkan, kamu pikir aku akan berkata iya? Lanjutkan mimpimu dalam tidur saja. Jangan memanggilku lagi."


"Duke Muda, lepas lingkaran sihir yang menghubungkanku dengan Lucas."


Lucas tersentak. "Kamu gila?!"


Tapi Meridian balas menatap dingin. "Aku hanya membutuhkan koneksi yang berguna. Jika kamu tidak berguna, aku tidak punya alasan menyimpanmu."


"Apa?"


"Aku minta izin padamu karena menghargaimu. Sebenarnya aku bisa bebas melakukan yang kumau dengan sihirku. Tapi sepertinya kamu tidak tahu cara menghargai itu, jadi benar. Jangan memanggilmu lagi, itu keputusanku. Lepas saja koneksinya."


Herdian agak tersenyum memandangnya.


Kepribadian baru Anda menyulitkan mereka. Dahulu Anda hanya berkata iya apa pun yang Lucas katakan.


Aku tahu dia tidak akan menolakku.


Hm? Kenapa?


Karena karakter kakak dalam novel semacam ini akan selalu dibuat tersentak penuh rasa bersalah pada kemarahan tak jelas adiknya.


Lihat ekspresi pucat Lucas. Dia berusaha tidak terluka, tapi sebenarnya dia tidak pernah terbiasa jika Meridian melawannya secara agresif.


"Apa kamu harus bersikap seperti ini?"


Lucas melihat Herdian, lalu memegang Meridian. Dalam sekejap, mereka berpindah dalam kamar Meridian.


Hanya untuk bicara.


"Aku tidak peduli lagi pada ingatanmu tapi jika sekarang kamu cerdas, maka berhenti bersikap egois."


"Apa egois bagiku ingin liburan?"


"Aku akan menemanimu liburan ke tempat lain. Sudah, kan?"


"Kenapa aku harus pergi bersamamu yang tidak pernah berhenti memanggilku gila?"

__ADS_1


Meridian melipat tangan.


Matanya tanpa emosi menatap iris kristal Lucas yang tampak bersinar cerah.


"Aku akan memberitahumu satu hal, Lucas. Aku akan bersikap baik padamu jika aku membutuhkanmu. Jika aku tidak membutuhkanmu, sikapku padamu tergantung sikapmu padaku. Kamu merasa sikapku buruk? Berarti sikapmu padaku kuanggap buruk."


Nona?


Datanglah ke ruangan di sebelah kamarku.


Baiklah.


Meninggalkan Lucas yang terdiam, Meridian duduk menunggu Herdian muncul. Rupanya dia juga mengangkat semua camilan dan minuman mereka.


Dengan lihai menatanya di atas meja, lalu duduk tenang seperti semula.


Bedanya, mereka sekarang duduk di sofa.


"Saya merasa Anda sengaja bersikap buruk pada Lucas. Apa hanya perasaan saya saja, Nona?"


"Kenapa?"


"Mana di sekitar Nona mengenali Lucas."


"Aku bersamanya setiap saat—karena dia mengawasiku. Tentu saja begitu."


"Tidak seperti itu, Nonaku."


Herdian meminta buah jeruk yang Meridian sentuh untuk bantu dia buka.


"Walaupun mana bergantung pada kecerdasan, mengenali seseorang atau tidak itu tidak berdasar pada kedekatan fisik. Mereka hanya mengenali orang yang Nona tidak anggap musuh."


"...."


"Mana Nona tidak mengenali saya." Herdian tersenyum agak sedih. "Tapi mereka bereaksi pada Lucas. Nona adalah wanita yang jujur. Mana di sekitar Nona akan mengikuti itu."


Meridian tidak sadar.


Memang sih ia tidak menganggap Lucas itu musuh atau semacam pengganggu. Ia bersikap kejam cuma untuk menggertak saja.


Karakter Lucas itu juga klise. Tsundere yang khawatir tapi selalu berkata tidak.


Meridian cuma tidak suka itu, jadi ia bermaksud menyuruh Lucas lebih jujur.


"Kurasa benar." Meridian mengakuinya, kalau begitu. "Aku hanya tidak terbiasa pada apa pun. Tentu, aku berusaha. Hanya, karena masih merasa asing, aku spontan berpikir segalanya harus kulakukan dengan caraku."


"Saya tidak menyalahkan Nona. Saya hanya bertanya-tanya mengapa Nona melakukannya. Nona yang saya tahu selalu menyimpan alasan yang menarik."


"Ya. Aku akan minta maaf padanya nanti. Tapi aku tetap ingin pergi."


"Mengapa, Nona? Saya perlu tahu sebab ekspedisi umumnya berbahaya."


Herdian mengaduk tehnya dengan tenang. Jeruk yang dia kupas kini sudah kembali ke tangan Meridian.


"Tentu, saya tahu Nona tidak termasuk orang yang perlu dilindungi secara berlebihan. Maksud saya, apa ada alasan khusus? Mengenai ingatan? Atau hanya Yang Mulia?"


Alasan paling dasarnya, Meridian bosan.


Kehidupan putri Marquis benar-benar damai tanpa usaha. Yang menunggunya cuma undangan pesta di mana Meridian sudah mau muntah hanya dengan mendengar hal itu.


Yang begini-begini kan, jika ia datang ke pesta pun, pasti si Tuan Putri atau kroconya akan mengganggu dengan ocehan murahan mereka.


Lebih menarik datang ke ekspedisi.


"Aku ingin bersamamu." Meridian menatap lurus mata biru laut sang putra Duke. "Aku ingin melihat langsung kamu bertarung, walau hanya dengan bandit aneh. Juga, Yang Mulia bilang dia menyukaiku yang sekarang. Aku ingin tahu apa kamu juga menyukaiku sekarang dibanding diriku yang dulu."


Tidak menarik sih mau dia suka atau tidak. Tapi karena dia second male lead, ya nasibnya memang begitu.


"Apa Nona tahu apa yang Nona sedang lakukan?"


"Mengajakmu berselingkuh? Ya, tentu saja."


Sambil minum teh ala-ala penguasa dunia, Meridian terpejam sangat damai.


"Kamu bisa menolaknya, karena ini bukan paksaan. Karena satu sisi, aku juga mengetes sejauh apa kecemburuan Andaru padaku."


Jika dia second male lead, tidak mungkin dia menolak. Mau seburuk apa pun tawarannya.


"Baiklah."


Kan?


"Dengan satu syarat."


"Katakan."


Herdian tersenyum misterius. "Setelah saya memikirkannya."


"Lakukan sesukamu."

__ADS_1


...*...


__ADS_2