Trauma Masa Lalu

Trauma Masa Lalu
Pemakaman Pak Dani


__ADS_3

Bu Leli, Rini dan Adi kini sedang duduk di depan pusara terakhir pak Dani. Tanah merah itu nampak basah, bahkan wangi kembang tujuh rupa pun begitu menyeruak di dalam indra penciuman.


Tempat pemakaman umum yang tadi nampak ramai, kini sudah terlihat sepi karna acara pemakaman Pak Dani sudah selsai.


Bu Leli tertunduk lesu memandang batu nisan bertuliskan nama Alm suami nya Dani Hariyawan Bin Ahmad, sesekali dia menyeka air mata nya yang tak berhenti nya mengalir. Rasa nya dia begitu sedih, dan rasa nya dia sungguh ingin ikut saja bersama suami nya.


Kenapa Allah hanya memanggil suami nya saja? Kenapa dia tidak ikut di panggil sekalian? Kenapa semua nya bisa terjadi pada nya? Kenapa semua kebahagiaan seakan dengan mudah nya berbalik menjadi sebuah pil pahit yang terasa membuat nya tercekik derita?


Begitu banyak rentetan pertanyaan yang terlintas di benak Bu Leli, dia pun hanya terus menunduk meratapi nasib nya. Tangan nya terus saja menyusuri bunga yang terhampar di atas tanah merah itu, sesekali bibir nya bergumam mengungkap kan kesedihan nya.


Rini dan Adi juga sama terpukul nya seperti Bu Leli, bahkan bisa di katakan Rini dan Adi lebih merasa bersalah ke pada mereka. Karna sumber masalah nya ada pada Rey, anak kecil yang mereka kasihi dengan sepenuh hati.


Andai waktu bisa di putar, Adi dan Rini pasti akan mendengar kan ucapan pak Dani yang melarang mereka untuk mengadopsi Rey.


Mereka lebih memilih untuk meninggal kan Rey di kantor polisi saat itu, walaupun Rey akan menangis histeris karna dia tinggal kan di sana .


Yah ,itu lah hidup selalu penuh dengan penyesalan. Dan lebih mengesalkan lagi, karna penyesalan selalu saja datang di akhir.


"Bu, ayo kita pulang. Kasihan bapak, pasti sedih lihat ibu terus menangis."Bujuk Rini


"Ibu masih mau nemenin Bapak sayang, Ibu kasihan kalau ninggalin Bapak sendirian."ujar Bu Leli berasalan


"Bu, ikhlas kan Bapak. Mending kita pulang, terus berdo'a sama Allah minta yang terbaik untuk Bapak."Rini berusaha untuk membujuk Ibu nya


"Bu, ayo kita pulang. Kita harus bersiap, karna nanti malam akan mulai di adakan tahlilan Bapak. Kalau Ibu nya lemah kaya gini, pasti bapak ngga akan suka."Bujuk Adi lagi


Setelah di bujuk dengan berbagai rayuan, akhirnya Bu Leli mau di ajak pulang. Sampai di rumah, Adi langsung meminta anak buah nya untuk mempersiapkan buat acara tahlilan Bapak mertua nya.


Bahkan Adi pun sengaja meliburkan para karyawan nya untuk membantu mempersiap kan acara tahlilan selama satu minggu ke depan.


"Sayang, sekarang kamu mandi dulu terus bersiap untuk ke rumah sakit. Nanti Abang anter ke sana, kamu harus jagain Ade kasian kalau terus sendirian."Ucap Adi

__ADS_1


"Iya Bang, Ranti ngga sendirian kok aku minta Bibi Lili untuk menemani nya. Aku ngga mungkin ngebiarin anak kita sendiri, aku takut kalau dia akan histeris kalau tak ada yang menemani."Tukas Rini


"De, Jangan panggil anak kita dengan panggilan Ranti lagi. Abang ngga suka, kalau denger nama itu Abang inget sama si anak bejat itu. "Sungut Adi


Rini mengusap dada Adi"Sabar Bang, jangan emosi kayak gitu. Percuma juga ngga ada untung nya, Abang mau nya putri kita di panggil apa? "seru Rini


"Ananda Aulia Hidyat ,Nanti Abang mengurusi penggantian nama putri kita. "seru Adi


"Iya Bang, aku sih manut aja sama Abang."Pasrah Rini


"Aku mau, mulai sekarang kamu panggil dia Ana. Aku lebih suka nama itu, lebih cantik."ucap Adi lagi


"Iya Bang, aku sih bagaimana Abang saja."seru Rini menyetujui


Adi pun tersenyum "Ya sudah, mandi sana.Abang mau bantuin anak anak buat acara nanti malam,kalau kamu sudah mau berangkat langsung panggil Abang."Jelas Adi


"Iya bang" jawab Rini


Selepas bersiap, Rini langsung menghampiri Adi. Dia ingin segera menemui putri nya, dia tidak mau kalau putri nya sampai merasa kesepian tanpa kehadiran nya.


"Bang, ayo anter Ade dulu."Ajak Rini


"Iya De "seru Adi yang langsung mengambil kunci mobil nya


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Adi pun melajukan mobil nya. Selama perjalanan baik Adi maupun Rini hanya saling diam, mereka hanyut dalam pikiran masing masing.


Terkadang Rini terlihat menyeka air mata nya, walau bagaimana pun dia merasa sangat sedih. Dada nya terasa sangat sesak,karna selain sedih karna kesehatan fisik dan mental yang putri nya dapat kan ,dia juga sangat terpukul karna kematian Bapak nya.


Adi sesekali melirik istri nya dengan ekor mata nya, Adi tahu Rini sedang sangat terpukul karna itu juga yang dia rasakan.


Tapi walau bagaimana pun dia harus tetap berusaha untuk tegar, karna terlalu lama menangisi keadaan hanya akan membawa nya pada keterpurukan.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit mereka langsung masuk ke dalam ruangan Ranti, mereka bisa melihat raut wajah Ranti yang tetap murung.


Di sana juga ada Bi Lili yang sedang berusaha untuk membujuk nya agar mau makan, Ranti hanya diam tak bergeming .


Bahkan wajah nya kini nampak pucat, tubuh nya juga terlihat kurus. Adi segera menghampiri nya dan memeluk Ranti dengan erat, Ranti langsung menangis saat mendapatkan pelukan hangat dari Ayah nya.


"Sayang nya Ayah, tolong lupakan semua nya. Lupakan apa pun semua hal yang tidak menyenangkan, jangan pernah mengingat sesuatu hal yang akan membuat kamu sedih. "Ucap Adi menenang kan putri nya


Ranti mengangguk di dalam pelukan Adi, dia makin mengerat kan pelukan nya. Rasa nyaman begitu terasa saat ini, yang dia butuh kan hanyalah perhatian dan kasih sayang.


"Ayah juga mau, mulai sekarang kamu harus bangkit.Tidak ada lagi Ranti yang terluka, sekarang kamu harus punya semangat baru. Harus punya hidup baru yang lebih baik. "


Adi melonggar kan pelukan nya, dia menatap wajah Ranti lalu tersenyum. ''Mulai sekarang nama kamu adalah Ananda Aulia Hidyat, ayah akan memanggil kamu Ana. Kamu suka kan dengan nama yang Ayah berikan? "Tanya Adi


Ranti tersenyum, lalu dia menganggukan kepalanya. Adi pun ikut tersenyum,dia senang karna putri nya sudah mau tersenyum lagi.


"Sekarang makan ya ..Mau di suapain Ayah apa mau sama Bunda? "tanya Adi


Ranti tersenyum lalu dia melihat ke arah Rini yang terlihat sedang menangis"Bunda ,Ana mau di suapin sama Bunda. "itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut putri nya


Hal itu membuat Adi, Rini maupun Bi Lili tersenyum senang. Bahkan Rini langsung memeluk Ana sambil menangis, kali ini bukan tangis sedih nya. Tapi tangis bahagia, tangis dengan rasa suka cita karna putri nya sudah mulai mau bicara.


-


-


-


Terimakasi karna sudah mampir..


Jangan lupa like, koment, vote, rate, kritik, saran dan juga tekan 💓untuk memfavoritkan..

__ADS_1


TBC


__ADS_2