
Sudah satu bulan kerjaan Ana hanya termenung, dia sungguh bingung dengan apa yang terjadi pada nya.Ana sebenarnya ingin menenangkan diri dengan jalan jalan dan pergi kemanapun di mana ia bisa menemukan ketenangan. Tapi sayang nya, Ayah dan Bunda nya tak mengizinkan kan.
Begitu banyak kejutan yang dia terima dalam hidup nya, mulai dari kehilangan kesucian di usia sembilan tahun ,mengalami depresi berat sampai trauma masa lalu yang sulit untuk di hilangkan.
Ana baru saja merasakan kenyamanan ,baik dalam bekerja dan berhubungan dengan seorang pria. Sayang nya, justru pria itu lah yang hadir membawa nya ketenangan tapi perusak masa lalu nya.
Kini Adi dan Rini begitu posesif pada nya, mereka sama sekali tidak mengizinkan Ana untuk pergi jauh. Jangan kan untuk jalan jalan, untuk pergi ke kebun Bunga milik Herdiyan saja Ana harus di temani oleh Bu Leli.
Kini Bu Leli tidak di perboleh kan membantu Adi dan Rini, Bu Leli kini di tugaskan untuk menjaga Ana. Mereka takut, jika saat mereka pergi akan ada seseorang yang tak di ingin kan yang akan datang menemui Ana.
Ana POV
Mata ku hanya bisa menatap hamparan Bunga yang begitu terlihat indah, hati ku saat ini sangat terluka. Luka lama yang telah mengering, kini terasa sangat sakit karna terkena sayatan lagi.
Jujur saja aku merasa sangat nyaman dengan Pak Aditya, dia selalu saja bisa menenangkan ku. Pak Aditya selalu saja bisa memotivasi ku, dia selalu saja bisa membuat ku bahagia dan tertawa lepas.
Walau kadang dia terlihat menyebalkan ,tapi aku mulai suka pada nya. Tatapan mata nya begitu menenangkan, pelukan nya saja bahkan bisa membuat ku melupakan semua rasa gundah ku.
Tapi aku sangat syok saat tahu kalau dia lah lelaki yang sangat aku sayangi tapi juga perusak masa kecil ku, dia yang selalu ku sanjung dan ku puja karna baik dan pintar nya, dia yang selalu menenang kan di saat gundah ku, dia yang selalu memberi semangat agar aku tak pantang menyerah.
Ya Allah,, apa yang harus aku lakukan saat ini? Kalau boleh jujur aku sangat merindukan pria itu, aku sangat ingin berada dalam pelukan hangat nya. Hati ku merasa sangat sakit saat Ayah memukul nya dengan membabi buta, jantung ku seakan berhenti berdetak saat melihat dia lemah tak berdaya. "Batin Ana
Aku benar benar kesepian saat ini, untuk sekedar bertukar pesan dengan teman ku saja Ayah dan Bunda tak mengizinkan.Apa lagi kalau meminta untuk bertemu, sudah pasti Ayah akan sangat marah.
Padahal hari ini hari sabtu, weekend kalau kata anak muda mah. Tapi Ayah benar benar membatasi ruang gerak ku, dia benar benar tidak mengizinkan aku untuk pergi ke mana mana. Rasa nya aku ingin kabur saja, tapi Ayah dan Bunda pasti sangat menghawatirkan keadaan aku.
Oma yang dari pagi menemani aku pun sudah mulai terlihat bosan, ku lihat dia mulai mendekati ku dan mengelus lembut puncak kepala ku.
"Ana sayang, ini sudah pukul sebelas siang. Oma sudah lelah, kita pulang saja ya.."Ajak nya
Aku pun memandang wajah Oma, wajah tua nya terlihat sangat lelah. Apa lagi usia nya kini sudah enam puluh lima tahun, jadi wajar saja kalau dia gampang cape dan lelah.
Aku pun mencoba untuk tersenyum,"Ayo Oma, kita masuk ke rumah sekalian menunggu waktu dzuhur."Jawab ku
Oma pun langsung tersenyum senang, aku pun segera bangun dari duduk ku.Aku meraih tangan kanan Oma dan menyandarkan kepala ku di pundak nya.
__ADS_1
Aku dan Oma pun melangkah menuju rumah, tapi baru saja aku dan Oma akan menyebrang jalan ,ada mobil yang berhenti tepat di depan ku. Aku pun menatap mobil itu, aku seperti mengenal mobil siapa itu.
Tak lama sang empu nya mobil pun membuka pintu mobil nya, nampak lah Herry, Alisya, Vanya dan Clarisa yang keluar dari mobil.
Ketiga teman perempuan ku langsung berlari dan memeluk ku dengan erat, sedangkan Herry terlihat tersenyum senang saat melihat ku. Aku bisa melihat ada kerinduan di mata Herry, tapi aku juga merasa heran ,kenapa mereka bisa tahu rumah ku?
"Ana,,,, kangeeeen..."Ucap ke tiga teman ku sambil menggoyangkan badan mereka,aku pun terkekeh.
Oma pun terlihat menyunggingkan senyum nya,"Mereka ini siapa sayang? "Tanya Oma
"Mereka semua teman kerja ku Oma.."Jawab ku
Teman teman ku pun langsung memeluk Oma bergantian dan memperkenalkan nama mereka masing masing, sedangkan Herry terlihat mencium tangan Oma dengan takzim dan menyebutkan nama nya.
Oma pun tersenyum pada teman teman ku,"Kalian pasti cape, sekarang kita masuk terus kita makan siang bersama."Ajak Oma
Teman teman ku pun langsung sumringah saat di tawari makanan, mereka memang sangat suka jika ditawari yang gratisan.
"Untuk kamu, segera masukan mobil nya kedalam."Tunjuk Oma pada Herry
Kini kami pun berkumpul di ruang keluarga, mengobrol sambil menikmati minuman dan beberapa camilan yang sudah di siapkan oleh Oma, Sedangkan oma sendiri kini tengah sibuk memasak di dapur.
"An,, kenapa mendadak sekali berhenti kerja nya?"Tanya Vanya
"Iya An, bahkan surat pengunduran diri pun kamu titipan sama Om Herdiyan.Kenapa?"Tanya Alisya
"Kamu ngga sedang sakit parah kan? "Tanya Clarisa
"Kalian apaan sih? Aku ngga kenapa kenapa, ada hal yang tak bisa aku ceritakan sama kalian."Jawab ku
"An, sebulan ngga ada kamu terasa sangat sepi. Apa kamu ngga betah ya, karna seringkali aku godain?"Tanya Herry
"Tidak bukan itu, terus kenapa kalian bisa tahu rumah ku? "Tanya ku
"Nanya lah ama Om Herdiyan,,Trus dia bilang mau ke sini juga,tapi kok belum dateng ya? "ucap Clarisa
__ADS_1
Saat sedang asik ngobrol, tiba tiba Ayah dan Bunda terlihat sudah pulang dari toko."Assalamualaikum.."Ucao Ayah dan Bunda bersamaan
"Waalaikum salam "Ucap Kami bersamaan
Ayah dan Bunda langsung menghampiri kami semua, tatapan mereka seolah sedang menginterogasi siapa saja yang datang ke rumah.
"Waah, kok ramai sekali..Kaian siapa ya? "Tanya Ayah
Adi
"Kita teman nya Ana saat kerja di kota Om.. "Jawab Vanya cepat
Dan Akhirnya semua teman teman ku pun langsung bersalaman dengan Ayah dan Bunda, Saat Herry akan mencium tangan Ayah. Ayah yang menarik tangan nya, Ayah pun langsung bertanya.
"Kamu siapa nya Ana? "Tanya Ayah penuh selidik
"Saya Herry Om, teman nya Ana dari divisi keuangan."Jawab Herry
Ayah pun langsung menerima uluran tangan Herry,begitu pun dengan Bunda. Mereka tampak menyelidik Herry dengan tatapan mereka, Herry tampak terlihat gugup. Tapi dengan gugup nya Herry Ayah dan Bunda malah tersenyum, mereka pun langsung menatap ku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
-
-
-
Terimakasih karena sudah hadir..
Jangan lupa like, koment, vote, rate, kritik, saran dan juga tekan 💓untuk memfavoritkan..
Dukung aku di penulis yang masih amatiran ini ya..
Kasih kesempatan buat kami mengembangkan karya kami..
TBC
__ADS_1