
Hampir dua minggu Ana di rawat di rumah sakit, Dokter mengatakan jika keadaan nya mulai membaik. Bahkan luka di area inti nya pun sudah mulai mengering, dan hari ini Ana sudah di izinkan untuk pulang.
Setelah menyelsaikan administrasi dan memberes kan semua barang Ana , Adi dan Rini pun langsung membawa anak nya pulang. Mereka sudah sangat rindu dengan suasana rumah, mereka ingin berkumpul sambil bercerita seperti dulu lagi.
Saat sudah tiba di depan rumah, Adi langsung menuntun Ana keluar dari mobil nya. Saat melihat rumah Oma nya, Ana langsung berteriak histeris.
Dia menjerit jerit seperti orang gila, air mata nya turun menghiasi pipi tirus nya. Keadaan Ana begitu memprihatinkan, Adi dan Rini pun tanpa sadar ikut menangis.
Semua bayangan ketika Rey sedang meleceh kan nya membuat dia ketakutan, tubuh nya bergetar hebat. Ana memeluk Rini dengan sangat erat, Ana menangis di dalam pelukan ibu nya.
"Bunda,, Ana takut. Ana ngga mau tinggal di sini lagi, Ana mau pergi jauh Bunda."Kata Ana dalam tangis nya
Adi dan Rini begitu sedih mengetahui jika putri nya belum bisa sembuh dan belum bisa melupakan semua kejadian yang menimpa nya ,bahkan hanya dengan melihat rumah nya saja bisa menjadi momok yang sangat menakut kan untuk Ana.
"Sayang, bawalah Ana ke rumah Bi Lili dulu. Nanti aku akan menyusul, aku harus bicara dulu dengan Ibu."Titah Adi
"Iya Bang, Ade pergi dulu ke rumah Bibi."seru Rini
"Pergilah, hati hati di jalan. Jangan ngebut ngebut, kasian Ana. "Nasehat Adi, Rini pun tersenyum mendengar ucapan Adi.
Rini pun memapah anak nya untuk masuk ke dalam mobil, setelah nya Rini pun langsung melajukan mobil nya ke rumah Bibi nya.
Dia berharap jika dengan membawa Ana ke tempat Bi Lili, Ana bisa tenang dan tidak mengingat akan kejadian yang kemarin menimpa nya.
Setelah kepergian Rini, Adi langsung masuk ke rumah Bu Leli.Saat masuk, Adi melihat Bu Leli sedang melamun. Pandangan nya lurus kedepan , tatapan mata nya terlihat kosong.
Seperti banyak duka yang terlalu kuat menghantam kehidupan nya, sampai dada nya begitu sesak dan terlalu susah untuk berpikir jernih.
Pantas saja saat Ana menangis histeris Ibu tidak keluar, ternyata dia sedang melamun. Kasihan Ibu, pasti dia sangat terpukul. Batin Adi
Adi duduk di samping Bu Leli, dia pun menggenggam tangan Bu Leli dengan erat.Bu Leli nampak kaget, dia pun menoleh ke arah Adi.
__ADS_1
"Ada apa nak? Kenapa mengagetkan kan Ibu?"Tanya Bu leli
"Bu, jangan melamun.Ibu harus kuat, harus bisa menghadapi semua ini dengan lapang dada. "Ucap Adi
"Maaf, ibu terlalu sedih mendapat kenyataan seperti ini. Ana mana nak, kenapa kamu hanya sendirian?"tanya Bu Leli
"Tadi Ana sudah sampai depan rumah, tapi dia malah nangis histeris. Katanya dia tidak mau lagi tinggal di sini,Adi harus bagaimana? Seperti nya apa yang di lakukan anak kurang ajar itu begitu membekas di pikiran Ana, Adi harus bagaimana Bu ? "Keluh Adi
Bu Leli terdiam, dia nampak berpikir keras. Sejurus kemudian, dia pun memandang Adi dengan sangat lekat.
"Bukan kah kamu punya rumah di daerah pedesaan di kota B? Bagaimana kalau kita tinggal di sana saja? Aku yakin kalau Ana akan sangat senang, apa lagi dia sangat menyukai suasana pedesaan."Saran Bu Leli
"Baiklah Bu, seperti nya itu ide yang bagus. Aku akan minta tolong Bi Lili untuk mengurus toko kue yang ada di sini, semoga saja dia bersedia."Ucap Adi
"Pergilah nak, cepat lah bicarakan dengan Lili. Aku juga sudah tak sabar ingin pindah dari sini, aku tidak ingin hidup dalam keterpurukan."Seru Bu Leli
"Iya Bu"Sahut Adi
Sampai di rumah Bi Lili, Ana sudah tertidur dengan pulas di kamar tamu. Adi pun merasa sangat lega melihat nya, setelah memastikan keadaan putri nya Adi mengajak Rini dan Bu Lili untuk berbicara.
"Bi, De, aku dan ibu sudah berbicara. Demi kebaikan Ana, kita akan pindah ke Bandung. Kamu tahu kan jika Ana sangat menyukai suasana pedesaan, siapa tahu anak kita akan cepat sembuh."seru Adi
"Apa itu tidak terlalu berlebihan?Bagaimana dengan toko kue milik mu? "Tanya Bi Lili
"Justru itu yang ingin aku katakan pada Bibi, tolong kelola toko kue ku.. Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi,hanya Bibi yang bisa membantu ku saat ini."Mohon Adi
"Tapi__ "Ucap Bi Lili tertahan karna Adi sudah bersimpuh sambil memegang erat tangan nya,"Baiklah, demi kebaikan Ana toko kue milik mu akan aku kelola."Sanggup Bi Lili
"Terimakasih Bi,, "Ucap Adi seraya memeluk Bu Lili
Bi Lili pun mengelus lembut punggung Adi"Jaga Ana dengan baik, jangan sampai terjadi lagi hal yang tidak di inginkan kan."Nasehat Bi Lili
__ADS_1
"Iya Bi, aku akan mengurus surat kepindahan kami. Saya titip Rini dan Ana selama saya mengurus semua berkas nya, karna Ana seperti orang yang sangat syok kala melihat rumah Ibu."Ucap Adi
"Ya, Bibi akan menjaga mereka dengan baik selama kamu mengurus semua berkas nya."Ucap Bi Lili
Adi menatap istri nya dengan lekat"Maaf kan Abang ya De, kita harus segera pindah. Abang sangat khawatir dengan keadaan putri kita,seperti nya pergi dari sini."Ucap Adi
"Iya Bang, bagaimana baik nya saja. Aku akan selalu menuruti apa pun keputusan mu, selama itu yang terbaik untuk kita."Ucap Rini
"Terimakasih sayang, kalau begitu setelah shalat dzuhur Abang akan langsung ke kelurahan. Abang akan mengurus semua nya,agar besok kita sudah bisa berangkat."Jelas Adi
"Iya bang, sekarang makan lah dulu terus shalat."Titah Rini
"Iya sayang"seru Adi
Adi pun langsung di ajak ke dapur oleh istri nya, dia pun langsung makan di temani Rini. Setelah selsai, Adi pun langsung ke mushola untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Setelah urusan perut dan tanggung jawab nya terhadap sang pencipta selsai, Adi pun langsung mengurus berkas kepindahan nya. Dia tak ingin lagi membuang waktu, hari ini pokok nya semua harus sudah selsai pikir nya.
Dia ingin segera melihat putri nya sembuh, dia sudah sangat tak tahan jika melihat Ana menangis sambil menjerit. Hati nya seperti ada yang menghujam dengan ribuan pisau, perih, sesak dan membuat nya susah untuk bernapas.
-
-
-
Terimakasih karna sudah mampir..
Jangan lupa like, koment, vote, rate, kritik, saran dan juga jangan lupa tekan 💓untuk memfavoritkan..
TBC
__ADS_1