Who I Am Brother

Who I Am Brother
Episode 135


__ADS_3

mendengar ledakan begitu juga dengan ayah Frea yang langsung berlari kehutan, memanggil Ricci terus menerus dengan hati yang khawatir dan rasa bersalah yang bercampur aduk jadi satu, mencari setiap sudut hutan, menjadi tarzan walau kelebihan beban, terjatuh, tersungkur, dengan air mata yang mengalir deras tak menghentikan pencarian Ricci menantuku tersayang.. Yah walau penampilan nya yang....., Yah kurang lebihnya sih seperti yang pembaca pikiran apa yang terjadi kan sih, udah aku tak mau jelasin itu, pokoknya dan intinya si ayah Frea mencari Ricci dan Frea menyusul ayahnya yang juga ikut mencari Ricci setelah memenangkan ibunya. Sekarang para pembaca sekalian mari kita lihat kondisi Ricci sekarang.


Saat tidak sadarkan diri saat ledakan itu, Ricci masuk dalam kegelapan juga keheningan namun terdengar dengan samar-samar suara seseorang yang sedang mengomentari kondisinya dalam dunia kesehatan, suaranya seperti laki-laki namun itu juga seperti perempuan, oh banci lah tuh, woi jangan aneh aneh kau yah, tidak ada pula orang banci ngomong soal kesehatan, ada bah, apa, siapa memangnya , make up artis, kebanyakan dari mereka itu pria, weh itu beda "beda wahai kawan" sama aja tuh, ish lama-lama aku pukul kau. Udah lah korang jangan bertumbuk lagi, ih kau ya, kenapa sih datang di saat gini ha, apa peran mu gitu doang, iya, tu~rut berdukacita. Baiklah kita skip dulu untuk lanjutkan ceritanya oke. Oke, Saat membuka mata, aku melihat atap yang runcing dan wajah orang yang paling menyebalkan sehingga aku menampar wajahnya tanpa sadar walaupun aku memang niat menampar nya sih hehe. Eh tunggu Ricci dimana Ricci, ha jadi begitu ya sudah menamparku begini kamu malah menghawatirkan calon suami mu, cih siapa calon suamiku ha, ku ingatkan kau ya, jangan macam macam dengan dia kalau tidak (isyarat di tamparan lagi ), lihat jika kau begini siapa saja pasti salah paham kalau kau istrinya, ya ya yah bicaralah terus, lagi pula aku gak peduli.kata Frea yang duduk disebelah tempat tidur Ricci, dan bruv hanya mengamati dengan menghela nafas sambil berkata "haah sebenarnya aku tidak berniat membantunya tapi......". saat itu di hutan terjadi gempa yang begitu kuat tapi efek yang dirasakan hanya pusing untuk sementara dan kupikir itu hanya perasaanku doang tapi saat itu nyonya pemilik penginapan mendatangiku, dia meminta pertolongan dari ku kemudian gempa selanjutnya pun terjadi dengan sangat dahsyat separuh kota rubuh bangunannya saat itulah bruv yang pemberani langsung berlari ke arah hutan dengan hati yang bimbang berharap mereka tidak terluka sama seperti seseorang yang sangat berharga baginya dan merupakan sebuah trauma terburuk baginya jika ada seseorang yang terluka dihadapannya maka kenangan buruk kembali terbuka dan menyayat hati yang pernah sembuh dari luka lama. tapi saat mata kami bertatapan, entah mengapa aku seperti mengenalnya "bisa membantuku menggotong nya" ... Yah tentu saja. Kami membopongnya bersama tanpa mengatakan sepatah katapun sepanjang jalan dan saat sampai di rumah sakit, dokter segera merawatnya dan berkata "kenapa anda membawanya seperti itu sendirian" Tidak aku tidak sendirian kok, aku bersama... Loh, bruv melihat sekeliling ini membingungkan saat aku bertanya kepada orang -orang tentang dia tapi mereka terlihat kebingungan sambil bertanya


__ADS_2