
aku ini yu chen tidak, aku adalah Ricci yang mencegah hal yang sama seperti yang diderita kakak tidak akan pernah terjadi lagi, tidak pernah, aku rela mati untuk mewujudkan nya. Mari kita mulai cerita novel ini yang sesungguhnya.
__ADS_1
Walaupun dia trauma dengan darah tapi Ricci tetap membantu orang yang sakit di tenda pengobatan, dengan cepat dan sigap, senyum yang ramah menahan reaksinya (pusing dan muntah yang paling parah,pingsan) terhadap darah. Sesekali keluar untuk menghirup udara segar walaupun tercium amisnya darah yang bercampur dengan debu, setelah muntah beberapa kali, Ricci melihat ke arah ledakan. Mungkin ini akan berhenti jika aku maju ke garda terdepan ugh sebelum itu (mengikat kain ke sekitar hidung dan mulut sebagai masker). Aku harus Heup menahan gejolak di perut ku yang ingin memutahkan isinya. Ricci maju ke depan membawa sebuah tongkat, air dan kain sebagai pertolongan pertama. Maju maju dan terus maju, di dalam reruntuhan ada seseorang yang tertimpa serpihan bangunan dia meminta tolong dengan suara yang hampir tak terdengar dan hampir menyerah, mungkin sia-sia saja dirinya berteriak sekuat tenaga, tak nampak seseorang yang ingin membantu nya, yah aku terpendam di dalam serpihan bangunan yang hancur, mataku hanya melihat cahaya kecil yang menembus batu yang ada di depan ku, uhk debu debu ini menghalangi ku bernafas, disini pengap, gelap dan sempit, tenggorokanku kering, aku haus hah hah se seorang tolong temukan aku. matanya tertutup dan nafasnya berhenti namun "nak, nak kamu baik baik saja" Seseorang pria berlari kearahnya dengan jari jemari yang terluka karena menyingkirkan batu batu yang ada didepan muka anak itu, dan tanpa anak itu disadari air mata mengalir dari pipinya. Anak selanjutnya juga menderita hal serupa namun ia mati di tempat berbeda dari ditemukan nya satu bagian yang terpisah dari tubuhnya dan saat tim Garda depan (tim pelacak) melihat tangan yang melambai ke arah mereka, saat itu mereka melihat kenyataan yang gaib. Karena saat serpihan bangunan disingkirkan tampak tangan tanpa tubuh dengan darah yang mengalir di sekitar nya, seperti ada pembunuh sadis yang membantai semua tanpa terkecuali anak kecil. memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri dan ngeri tapi "Hai kalian aku temukan tubuh tanpa lengan". a apa benar itu, t tangan yang melambai-lambai ke ke arah kita itu mi milik anak itu, eh a apa ma maksudmu (melihat mayat itu lagi) hikc aaaaaaark ha hantuuuu lariiiii kyaaaaak. Mereka pergi dengan ketakutan dan melupakan kenyataan bahwa mereka adalah tim garda depan (tim SAR) yang bertugas mengevakuasi mayat serta menyelamatkan orang yang terluka.
__ADS_1
Dua hari perjalanan yang penuh dengan muntahan, Ugh uhk hari ini adalah hari ketiga dan kepalaku terus berputar, ingin rasanya aku pingsan tapi "tuan" Hmm, tolong bantu temukan temanku, ya baiklah. anak kecil yang ku gendong saat ini, ku temukan di bawah batu tempat ku berdiri waktu perjalanan ke garis depan. Dia menangis tanpa suara saat batu yang menindih nya terinjak oleh ku namun untungnya dia tidak mati saat aku mencoba menyelamatkan nya, ini sebuah keajaiban karena anak itu selamat dari himpitan batu besar yang mengelilinginya, padahal dia kecil
__ADS_1