Who I Am Brother

Who I Am Brother
Episode 136


__ADS_3

"memangnya kamu bersama siapa saat menolong pemuda itu" Bukankah kamu sendirian waktu itu, oh ayolah jangan bercanda kamu sendirian gitu menolongnya, orang disekitar sini juga tau hal itu.

__ADS_1


Aneh. ini benar-benar aneh, bagaimana aku bisa membawa beban berat itu sendirian sampai ke rumah sakit jika di pikir ini aneh sekali tapi jika dilihat dari kondisi dia (Ricci) yang tampak sedikit terluka dengan ledakan yang begitu dahsyat dari lokasi kejadian ditambah jahitan yang sedikit tidak karuan itu adalah bukti bahwa dia dibantu oleh seseorang. dan menurut laporan dari bibi (pemilik penginapan) dia masuk kehutan sebelum ledakan pertama terjadi namun aku menemukannya di hutan bagian depan. padahal dia masuk ke hutan begitu lama dan kemungkinan Ricci sudah tewas saat ledakan pertama di dalam hutan paling dalam dan jika ia di tolong oleh seseorang kemungkinan orang itu juga meninggal atau terluka lebih para dari Ricci. Tapi jika itu si Koki pemarah (melihat ke ayah Frea yang sedang terbaring dengan penuh luka) itu kemungkinan dia bisa selamat dari ledakan pertama namun dia tidak mungkin lolos sejauh itu setelah ledakan kedua terjadi. Tatap bruv dengan tajam. "Ricci, siapa kau dan orang itu sebenarnya"

__ADS_1


dia berada di ruangan yang sunyi dan tenang disitulah chen tidur dengan tenang tapi suara usil Paiyu dan Nuan di pinggir kasur terdengar dengan lirih "kakak, kakak ayo bangun" Ugh lima menit lagi kak, hihi kakak kedua pikil kita kakak teLtua, iya hihi, sst ayo kita kejutin dia satu dua tiga. Bum (suara kasur yang ditimpa dua orang secara mendadak sampai kasur itu pun terkejut) ditempat lain pun terjadi ledakan yang dasyat. Ricci melompat ke depan dan mencoba menyelamatkan semua orang, tapi "tidak, kau baru saja siuman jangan korbankan dirimu" Ledakan itu menewaskan Frea yang mencoba menggantikan Ricci disana, darah frea yang muncrat di pipinya itu membuat sebuah trauma baru bagi chen dan saat ini dia mulai tidak suka warna merah terutama darah jika dirinya melihat hal itu tepat didepan matanya seperti sekarang, gejala seperti muntah atau pingsan di tepat akan menjadi reaksinya. Karena itu lah setiap saat Ricci selalu mengurung dirinya sendiri tanpa bicara pada siapapun dan setiap kali aku melihat tanganku... aku melihat kakak ku (chyou) yang ditimpa kesialan ku itu. membuat hatiku sakit, marah dan sedih "kenapa kenapa tidak aku saja yang mati" Hiks jika aku tidak ada,semua ini... Tidak akan terjadi hick "chen adikku, itu bukan kesalahanmu, percayalah kakakmu ini, yang akan membantumu melawan semua itu" Walaupun kakak berkata begitu kesialan ku selalu ada bahkan (teringat kejadian frea yang mengantikan nya mati demi semua orang) dia pun mati gara-gara aku. Chen menangis memeluk bayangan kakak nya walaupun dia tau kalau bayangan itu akan menghilang. hari telah berlalu dan tanpa sadar satu minggu pun telah berlalu, matahari sangat menyilaukan mata saat Ricci di bawa keluar dengan paksa, pada hari itu, dia menyadari bukan hanya dirinya saja yang kehilangan seseorang untuk kedua kalinya tapi (melihat orang yang depresi, terluka dan ada yang menangis diluar). "Haah" Helaan nafas itu memulai sebuah tekat dan sekarang bukan waktunya bersedih, benar

__ADS_1


__ADS_2