Who I Am Brother

Who I Am Brother
Episode 140


__ADS_3

mama, tidaaaak tuan kita tidak boleh jadi seperti dia, mereka itu sama, tidaaaaak huaaaaaa, hei jangan macam macam kau ya, apa hah, woy kalian lihatlah itu, hmm bukan kah dia perempuan, kau gak waras ya dia itu pria, coba lihat dada atas itu bukanlah seperti, ssth jangan bilang. Huaaaaaa ugh ada apa ini, kenapa oleng seperti ini ugh aaaarg.

__ADS_1


Saat membuka mata, chen melihat banyak orang yang mengerumuni nya terutama anak-anak yang bertanya tentang kondisinya secara serempak walaupun dengan penyebutan yang berbeda "dokter, apa ada Baik-baik saja" kenapa kurus di tempat itu, hey jangan berkata begitu pada tuan malaikat, sudahlah kalian jangan ribu,t tuan tidak bisa istirahat jika kalian ribut terus uh, lihat lihat dia jadi jelek saat marah hahaha, apa katamu. Melihat tingkah mereka itu membuat air mata mengalir di pipi Ricci, dokter jangan menangis ya aku pasti memarahi mereka, senyuman kecil terlukis di pipi Ricci kemudian ia mengelus kepala gadis yang ia rawat sebelumnya sambil membalas perkataan nya dengan kata Terima kasih, em i iya sama-sama. Sekarang Keadaannya sedikit kondusif dan juga tenang, haah akhirnya dirinya bisa tidur tanpa gangguan walaupun sedikit muntah-muntah, ini minumlah, kata bruv yang menyodorkan semangkuk obat. Bagaimana keadaan mu, yah lumayan dari yang tadi, Terima kasih atas obatnya, bruv tidak menjawab ucapan terima kasih nya dan... saat dia berkata sesuatu pada Ricci "ada apa" Tapi bruv tidak bisa mengatakannya "besok bantu aku menolong orang yang terluka" Apa kau memaksaku, ya itu benar. kalau begitu aku pergi dulu, jangan lupa besok datang ya. Cih dasar menyebalkan. Satu hari telah berlalu dan Ricci selalu di paksa untuk bangun dengan cara diseret dari kasur dengan kasar untuk membantu di ruang pengobatan dan itu semua yang melakukannya adalah bruv yang bebas keluar masuk sesukanya, haah dia tak sama dengan ku karena jika aku ingin keluar dari sini, selalu ada pertanyaan yang menghampiri ku "dokter mau kemana " Kurus jangan pergi ke garis depan ya janji, haa kau mau ikut dengan ku dengan penampilan seperti itu, hei jika jadi beban lebih baik belajar pada si sampah itu, apa kau cakap, em uh ji jirio ayo berangkat kita ditunggu yang lain nih. Tingkah bruv yang seperti itu memang menyebalkan tapi dia terus mengawasi Ricci saat ini, bahkan saat Ricci mengunjungi makam yang membuatnya selalu penasaran tentang apa yang sedang dipikirkan Ricci yang selalu termenung melihat makam kedua orang yang ia selamatkan waktu itu dan matanya.... Sama seperti ku

__ADS_1


Waktu itu di sebuah pemakaman, ada seorang anak dengan tatapan kosong menatapi nisan keluarganya, karena Hanya tersisa dirinya seorang disini di bumi ini, yah hanya ada "aku" Seorang anak kecil yang malang, dengan memegang sebuah bunga dengan erat, aku pun menangis meratapi nasib tragis keluargaku dengan iringan suara hujan yang menutupi tangisanku dan dibawah langit yang gelap inilah, aku menangis tersedu-sendu sampai akhirnya ada seseorang memayungi ku dari hujan yang deras dibawah langit ini, aku menatap orang itu dan memeluknya. dia adalah Seseorang yang selalu ada untukku juga penjaga terpercaya kakak ku "Aspen" Dengan rambut putih

__ADS_1


__ADS_2