
Masih di gubug itu,
Azka yang berusaha mengatur nafasnya menggeser langkah nya menjauh dari Hanz, ia menepi di pinggir gubug itu. Hanz memberanikan diri mendekati Nona nya. Tiba tiba ia berlutut dihadapan Nona nya.
"Nona.. Maaf kan saya.Saya benar benar tidak bermaksud. Saya sudah keterlaluan.Nona boleh menghukum saya. "Hanz memegang kedua kaki Nona nya.
Azkayra sesaat terdiam, lalu melepaskan pegangan tangan Hanz dan ikut berlutut hadapannya pria itu. Ia mengangkat dagu Hanz hingga mereka saling bertatap muka.
Cuppppp..!!!!
Kecupan panjang Azkayra mendarat di dahi Hanz.
"Sepertinya hujannya sudah reda, ayo kita pulang." Azka segera berdiri dan keluar dari gubug, berlari kecil kearah mobil mereka berada.
Hanz terpaku dengan tingkah Azka ,sesaat kemudian Hanz tersadar dan segera berlari menyusul nya.
"Nona.. Tunggu.. Ini masih hujan.!!" teriak Hanz, namun Azka sudah jauh didepan.
Mereka akhirnya tiba di mobil,Hanz segera membuka pintu mobil untuk Azkayra.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil.
"Nona.. rambut anda basah. " Hanz segera mengambil sapu tangan dan mengusap kepala nona nya dengan penuh kekhawatiran.
"Hanya gerimis Hanz.. Tak perlu khawatir."Azka menghentikan tangan Hanz dan mengambil sapu tangan itu.
"Rambut mu juga basah. " kini Azkayra berganti mengusap rambut Hanz.
Hanz kini terpaku kembali memandang Wajah Cantik Nona nya. Mata mereka kembali saling menyelami. Hanz segera memejamkan matanya. Menghela nafas sedalam dalam nya dan membuangnya.. Berharap keinginan nya untuk mencium kembali bibir Nona nya itu ikut terbuang.
Hanz menghidupkan mesin mobil, dan melajukan nya.
Sepanjang perjalanan mulut mereka terkunci, hanya sesekali saling melirik dan kembali memandang lurus ke depan, sampai mobil mereka berhenti di depan halaman besar milik rumah keluarga Samudra.
Hanz bergegas turun membukakan pintu mobil untuk Nona nya dan langsung mengajak Nona nya untuk masuk ke dalam.
Hanz mengantar Azka sampai di depan kamarnya dan membukakan pintu.
"Mandi lah Nona, Berlinda sudah menyiapkan mandi anda, setelah itu Nona harus makan dan langsung istirahat. Nona pasti lelah." selesai berkata Hanz langsung melangkah pergi untuk ke kamar nya juga.
Azka hanya mengangguk dan memandangi langkah pria yang ia cintai itu.
.
Terdengar suara guyuran air di dalam kamar mandi Hanz, menandakan pria itu tengah mandi.
Tak lama Hanz keluar dari kamar mandi dan segera berganti.
Kini ia duduk di sofa berkutat dengan laptopnya.
Malam sudah kian meraba, Hanz sudah berkali kali terlihat menguap, ia segera menutup Laptopnya dan melangkah ke ranjang nya, membaringkan diri dikasur empuk.
Baru beberapa detik ia memejamkan matanya,tiba tiba Hp nya berdering. Dengan malas tangan nya meraba Benda itu dan meliriknya, Ia terperangah dan segera menggeser layar Hp nya untuk mengangkat panggilan itu.
"Nona."
"Hanz.. apa kau sudah tidur.? "
"Belum, kenapa Nona. Anda memerlukan sesuatu.? Saya akan memanggilkan Berlinda untuk Anda. "
"Tidak, aku hanya ingin melihat mu, bisa kah kau ke kamar ku sebentar.? "
"Nona, ini sudah malam. Anda harus istirahat. Besok kita harus ke kantor. "
"Kalau kau tidak mau kesini, aku yang ke kamar mu.Aku tidak bisa tidur jika belum melihatmu. "
"Baik Nona, saya ke sana sekarang. " panggilan ditutup dari sana.
Hanz menghela nafas, terpaksa ia melangkah keluar dari kamar nya dan berjalan menuju kamar Nona nya.
__ADS_1
Hanz berhenti di depan pintu lalu mengetuk nya. Dan pintu di buka.
"Hanz.. "Azka tersenyum manis dibalik pintu.
"Nona, kenapa belum tidur.? "Hanz melangkah masuk.
Azka tiba tiba memeluknya.
"Aku tidak akan bisa tidur jika belum melihat mu. " bisik Azka di dada Hanz.
Tangan Hanz sontak menutup pintu kamar Nona nya, ia khawatir ada yang melihat tingkah Nona nya.
Hanz tidak bisa berbuat apa apa melainkan hanya membiarkan Azka memeluk nya, sampai Azka melepas pelukan nya.
"Nona sudah melihat saya, sekarang Nona tidur ya."Hanz membimbing Azka ke ranjang.
Ia mendudukkan Nona nya di ranjang,
"Tidur Nona, ini sudah larut. Nanti Nona bisa sakit. " Ucap Hanz. Ia hendak melangkah kan kakinya, namun Azka menahan tangan nya.
"Hanz.. "
Hanz menoleh dan kini ia duduk disisi Nona nya.
"Aku selalu memikirkan mu, apa kau tidak begitu.? " ucap Azka lirih.
Hanz tidak tau harus menjawab apa, ia hanya diam menatap ke bawah.
"Kau tidak mendengar ku." ucap Azka lagi,ia menggenggam erat tangan Hanz.
Kini Hanz menoleh,ia menatap wajah Cantik Nona nya, Hanz tiba tiba meraih tengkuk Azka dan menarik lembut.
Dan mendarat kan bibir nya ke bibir mungil Nona nya. Kini Ia melu,,mat bibir itu dengan rakus nya,bahkan menekan tubuh Nona nya agar tak menjauh darinya. Mereka saling bertukar saliva untuk beberapa saat lamanya hingga saling melepaskan pagutan nya untuk kembali mengisi oksigen pada paru paru mereka, sebelum akhirnya mereka kembali saling melu,, mat.
Hanz mendarat kan kecupan panjang dan dalam ke dahi Nona nya untuk mengakhiri ciuman mereka. Ia mengusap bibir mungil yang basah oleh nya itu.
"Selamat malam Nona." Hanz segera melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintu nya.
Mengusap wajah nya dengan kasar. Ia mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Nona nya siang tadi dan baru saja ia mengulangi nya, bahkan lebih berani.
Kenapa aku seperti ini, aku tidak bisa menghargai Nona ku.
Apa yang harus aku lakukan untuk melawan perasaan ku. Ya Tuhan... aku benar benar mencintai nya.... Nona. Aku mencintai mu.
Ini tidak bisa dibiarkan, jika terus begini aku sama saja menjatuh kan harga dirinya. Aku harus mencari cara agar bisa membuat Nona menjauhiku.
Tapi Hanz kemudian berpikir, kenapa Nona nya bisa menyukainya, jika karena tampan Gavin dan masih banyak lagi yang jauh lebih tampan dari Hanz yang tergila gila pada Azkayra, apalagi umur mereka,Hanz dan Azkayra yang terpaut lebih dari sepuluh tahun.
Hanz mulai memejamkan matanya, melupakan sejenak permasalahan hatinya.
Lain dengan Azka yang masih memegangi bibirnya. Ia tersenyum sendiri.
"Hanz.. Aku mencintai mu, apa kau tau itu. Tapi kau tidak pernah mau mengatakan kalau kau mencintai ku. Apa kau memang tidak pernah mencintai ku, kau hanya tergoda dengan ku. "Azka berbicara pada dirinya sendiri.
Kini ia berbaring, dan menutup matanya mencoba untuk tidur.
Aku akan mengejar mu, kalau benar kau tidak mencintaiku ,aku akan membuat mu jatuh cinta padaku. Aku bersumpah Hanz.
Azkayra akhirnya tertidur juga.
____
Pagi hari Azka terbangun, ia melirik Berlinda yang sedang sibuk menyiapkan keperluan nya. Azka merasa seperti ada yang aneh pada dirinya.
Ia menggeliat dan memijat kepalanya.
"Berlinda.. "
"Nona.. nona sudah bangun.?" Berlinda menghampiri Azka.
__ADS_1
"Kepala ku sakit." ucap Azkayra merasakan sakit kepala.
"Nona tidak enak badan.? " Berlinda meletakkan tangan nya di dahi Azka.
"Ya Tuhan... Nona demam.!" Berlinda sangat panik saat tangan nya merasakan suhu panas Nona nya. Tanpa bicara lagi Berlinda keluar kamar Azka dan berlari ke kamar Sekretaris Hanz.
Ia menggedor pintu di sana.
"Tuan... Tuan..!! " Teriak Berlinda dengan nada paniknya.
"Berlinda.. ada apa.? " Hanz membuka pintu.
"Nona Tuan.. Nona demam. Badan nya panas sekali. " ucap Berlinda begitu panik.
"Apa...?? " Hanz langsung berlari ke kamar Azka,Berlinda menyusul di belakang nya.
"Nona.. " Hanz langsung menghampiri Azka yang masih berbaring.
Ia mengibaskan selimut yang menutupi tubuh Azka dan segera memeriksa suhu badan nya.
"Nona, anda demam..!!" Hanz terlihat sangat khawatir.
"Hanz.. kenapa kau menarik selimut ku. Aku dingin. " Azka merengek ketika menyadari jika Hanz sudah duduk disampingnya.
"Maaf Nona, saya panik." Hanz segera menarik kembali selimut tebal milik Azka dan menutupi kembali tubuh Nona nya.
"Nona maaf kan Saya, ini semua salah saya.Ini pasti karena air hujan kemarin. " Hanz menggengam erat tangan Azka dengan kedua tangan nya dan berkali kali mencium nya, ia tidak menyadari jika Berlinda yang ada di belakang nya, melirik kearah mereka.
Berlinda langsung menunduk kan pandangan nya,berpura pura tidak melihatnya.
"Berlinda, suruh Annabel menghubungi Dokter Lisa. Cepattt...!! " Hanz menoleh pada Berlinda yang langsung mengangguk dan keluar dengan buru buru.
"Aku tidak apa apa Hanz, ini hanya demam biasa, kenapa kalian heboh sekali." ucap Azka.
"Tidak apa apa bagaimana, badan Nona Panas sekali.! " ucap Hanz masih penuh kekhawatiran.
"Hanz. "
"Iya Nona. "
"Aku ingin duduk. "
"Mari, " Hanz segera membangunkan tubuh ramping Nona nya dan menyandarkan nya di sandaran ranjang. Mata Hanz terus menatap wajah pucat Nona nya. Entah kenapa ia sangat menyesal atas sakit Nona nya.
"Badan ku sakit semua. " Azka merengek.
"Sabar Nona, sebentar lagi Dokter Lisa datang."Hanz membelai lembut rambut Azka.
"Ini semua gara gara saya Nona, Maaf. Saya benar benar tidak berguna. Saya tidak bisa menjaga Nona dengan baik. " Hanz mengutuk dirinya sendiri.
"Kau bicara apa sih, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang salah. Aku yang meminta untuk pergi jalan jalan.Aku tidak tau kalau aku selemah ini dengan air hujan.Biasa juga hujan petir pun aku tidak akan sakit. "ucap Azka tak ingin Hanz terus mengutuk dirinya sendiri.
"Tuan.. Dokter Lisa sudah datang.? " Annabel telah memasuki kamar bersama Dokter Lisa, Dokter specialis keluarga Samudra.
Hanz segera berdiri dan menjauhi ranjang, Dokter Lisa pun segera memeriksa Azkayra.
"Annabel, pergi lah ke kantor dulu, mungkin siang nanti aku baru bisa berangkat. " ucap Hanz pada Annabel.
"Baik Tuan, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan membereskan semua pekerjaan Anda. " jawab Annabel.
Hanz mengangguk, ia percaya Annabel memang bisa dipercaya.
"Tuan sekretaris.." Annabel mendekat.
"Tuan harus bertanggung jawab, Nona sakit karena kecerobohan Anda.Jika Tuan besar sampai tau, wahhhh... Bisa gawat kita. "bisik Annabel,melangkah.
"Hei..." Hanz memanggil, namun Annabel tetap melenggak lenggok melangkahkan kakinya.
Ahhh... dasar boneka hantu. Tapi benar juga katanya. Kalau Tuan tau Nona Sakit dan gara gara pergi dengan ku, sungguh dia akan murka.
__ADS_1
_______________
Like nya teman teman ya... jangan lupa. dan tekan favorit..