
"Aku benar benar tidak menyangka jika kau jatuh cinta pada Putri ku. Apa karena Azka yang memaksa mu dan kau tergoda.?" Ginanjar masih menatap tajam ke arah Hanz.
"Nona tidak pernah memaksa saya Tuan , saya sendiri yang jatuh cinta padanya dan begitu juga sebaliknya. Kami sudah saling mencintai dan saya sudah berjanji untuk menikahinya. Saya tidak mungkin berani meninggalkan nya Tuan, itu akan melukai hatinya." Hanz terus berusaha menjelaskan.
"Kau jatuh cinta pada Azka karena kau sering dekat dengan nya Hanz, aku sangat mengenalmu. Dan setahu ku kau susah tertarik pada wanita."
"Tidak Tuan, anda salah. Saat itu, sehari sebelum kepulangan Nona, sebenarnya saya sudah berada di kota ini, saya tidak langsung ke rumah utama melainkan pulang ke apartemen saya. Pagi hari saya bermaksud melihat keadaan Villa pelangi sambil menunggu kabar dari Tuan yang pasti akan menghubungi saya ketika Nona akan pulang ke rumah utama." Hanz mulai sedikit bercerita .
"Saya bertemu dengan seorang gadis yang telah menyelamat kan saya ketika seseorang hendak mencelakai saya. Ketika itu saya sudah jatuh cinta pada gadis itu. Saya berjanji akan menemuinya kembali, tapi siang itu Tuan menghubungi saya dan memberitahu jika Nona telah kembali dan keluar rumah tanpa ada yang tau. Dan ketika Tuan mengenalkan Nona Azkayra saya terkejut Tuan ,ternyata gadis yang membuat saya jatuh cinta di Danau pelangi itu adalah Nona Azkayra." Hanz secara gamblang menceritakan tentang perkenalan pertamanya nya dengan Azka.
"Jadi kalian sudah bertemu sebelum saling mengenal.?" Ginanjar sedikit terkejut.
"Benar Tuan, saya murni jatuh cinta pada Nona, bukan Karna terbiasa bersama. Dan saat ini saya sungguh tidak kuasa lagi untuk menyembunyikan nya , terlebih Nona sering mengungkap kan hal yang sama tentang perasaannya terhadap saya ." jawab Hanz .
"Kau pikir dengan cerita mu ini aku akan menerimamu.!!"
"Tuan, saya sudah terlanjur berjanji pada Nona, dan saya harus menepati janji saya."
"Lalu bagaimana dengan janji mu padaku dan mendiang Ayah mu.?"
"Sisa umur saya akan saya gunakan untuk menjaga Nona dan perusahaan dengan baik, bahkan dengan nyawa saya sendiri Tuan." jawab Hanz dengan keberanian yang berlipat ganda.
"Azkayra adalah hal paling berharga dalam hidupku Hanz, kau tau itu kan.? Aku tidak akan sembarangan memberikan hidup Putri ku pada orang lain."
"Saya mengerti Tuan."
"Apa kau sudah siap dengan segala resiko nya jika kau terus melanjutkan niatmu ini.?" Ginanjar kini berjalan sedikit menjauh.
"Saya siap Tuan, bahkan jika Tuan akan memecat atau menendang saya dari perusahaan dan rumah utama saya sudah siap menerimanya." jawab Hanz dengan kemantapan.
Ginanjar terlihat tertawa dan kembali melangkah mendekati Hanz.
"Rangga .. Rangga.. Jika saja kau masih hidup, mungkin kau juga akan tertawa melihat Putramu yang kau bangga kan ini." ucap Ginanjar menyebut Nama Ayah nya Hanz, membuat Hanz sedikit gentar.
"Hanz.. apa kau sangat mencintai Putri ku.?" Ginanjar kembali bertanya. Dan Hanz mengangguk.
"Bagaimana jika aku menginginkan nyawamu untuk kau tukar dengan cinta mu pada Azka..?" pertanyaan Ginanjar kali ini begitu mengejutkan Hanz.
"Saya tidak akan mungkin memberikan nya Tuan..?" jawab Hanz.
"Kalau begitu bagaimana aku percaya jika kau benar benar mencintai nya.!!"
"Jika saya mati, Nona pasti akan bersedih, dan saya telah mengingkari janji saya untuk menikahinya. Saya akan mempertahankan nyawa saya demi hidup Nona." jawaban Hanz membuat Ginanjar tercengang.
"Kalau begitu, bukti kan padaku jika kau bisa mempertahan kan nyawa mu untuk hidup Azka." Ginanjar kemudian menggerakkan tangan nya meraih sesuatu dari balik jaket nya. Mata Hanz begitu cepat menangkap pergerakan tangan Tuan nya. Hati Hanz berdegup kencang melirik Ginanjar menarik tangannya.
Hanz melihat tangan Ginanjar telah menggenggam benda kecil berwarna kecoklatan , dan bergerak mendekatinya.
"Lihat lah..!" tanpa di sangka Ginanjar memberi kan benda itu pada Hanz yang segera menerima nya.
"Apa kau mengenalinya..?"
"Ini..!!! Ini cincin pernikahan Ayah dan ibu..!" mata Hanz terbelalak saat membuka benda berbentuk kotak itu.
"Ya..!!" sahut Ginanjar.
"Bagai mana bisa ada di tangan Tuan." tanya Hanz sangat penasaran.
Ginanjar menghela nafas dan duduk kembali di hadapan Hanz .
"Sebelum Rangga meninggal, ia menitipkan benda itu padaku. Ia berpesan agar aku memberikan nya padamu saat kau sudah menemukan wanita yang kau cintai ." ucap Ginanjar membuat Hanz semakin tak mengerti.
"Rangga bukan hanya orang kepercayaan Samudra, tapi dia juga adalah sahabat ku dan ibu mu adalah sahabat Amila istri ku. Dan pesan terakhir Rangga adalah.. Cincin itu harus bisa tersemat di jari mu dan jari Azkayra." penjelasan Ginanjar kali ini sungguh membuat Hanz terkesiap.
"Tuan.. maksud Anda..!"
__ADS_1
"Benar Hanz, semua ini sudah di atur Ayah mu jauh sebelum nya. Dan aku pun tidak menyangka jika rencana Rangga akan berjalan mulus seperti ini , bahkan ku pikir setelah dia lebih dulu pergi , rencana nya akan terkubur bersama jasad nya." Ginanjar terlihat merenung .
"Saat Rangga mengetahui Amila istri ku mengandung bayi perempuan , saat itu juga ia meminta nya untuk menjadi menantu nya. Meskipun aku sudah marah padanya karna aku tidak menyukai perjodohan, tapi Rangga memaksakan kehendak nya. Dan dia berjanji padaku untuk membuat kalian jatuh cinta dan bersatu tanpa perjodohan dari kami. Rangga mengatur semua nya. Bahkan dia menyiapkan mu dengan sebaik baik nya agar kamu bisa menjadi penjaga dan pendamping Putri ku juga kau lah yang di siapkan untuk menjadi penerus Perusahaan Samudra dan Azkayra Putri ku sebagai istri mu kelak." Jelas Ginanjar, benar benar cerita yang tidak di sangka oleh Hanz.
"Tuan.. bagaimana mungkin..? Selama ini Tuan bersikeras menjodohkan Tuan Gavin dengan Nona, dan ternyata kenyataanya..?" Hanz sama sekali tidak menyangka jika kebersamaan nya dengan Azka sudah di rencanakan oleh mereka bahkan sebelum Azkayra di lahir kan.
"Gavin.. aku sama sekali tidak berminat mempunyai menantu sepertinya. Semua itu ku lakukan hanya sekedar untuk menguji bagaimana kalian menilai perasaan kalian sendiri. Dan ternyata kau lebih memilih menjaga perasaan Azka dan Azka lebih memilih perasaan padamu."
Ya Tuhan... benarkah semua ini bukan mimpi..
Ya... ini bukan mimpi...!!!!
Hanz berkali kali menepuk wajah nya, meyakinkan dirinya jika semua yang ia dengar ini bukan mimpi.
__________
FlashBack.
Di sudut ruang tunggu di dalam sebuah Rumah sakit, terlihat dua pria dewasa sedang beradu mulut.
"Jika kali ini kau gagal lagi, hidup mu sungguh tidak berguna Tuan Ginanjar Samudra yang terhormat.!!" caci salah satu dari dua pria itu.
"Tutup mulut mu Rangga bedebah.. Kau tidak tau bagaimana perjuangan ku. Setiap malam aku selalu berusaha , bangsatt..!!" jawab Pria yang satu lagi.
Mereka ternyata adalah Ginanjar muda dan Rangga muda.
"Bagaimana aku harus menutup mulut ku, kapan Amila akan melahirkan calon menantu ku, sedangkan Putra ku saja sudah berusia sepuluh tahun." bentak Sang Rangga muda.
"Diam kau,.. atau aku akan memecat mu.!" ancam Ginanjar.
Rangga tertawa, dan melirik sinis.
"Pecat saja , jika kau merasa bisa mempertahankan perusahaan mu sendiri dan menghadapi musuh musuh mu sendirian. Paling juga kamu akan memohon padaku untuk kembali bekerja padamu." jawab Rangga dengan sombong nya.
"Bedebah ..!!! " Ginanjar menarik rambut Rangga dan dan mencekik leher Rangga.
"Uhukk... uhukkk.. " Rangga terbatuk-batuk batuk karena ulah Ginanjar.
"Mas...!!" Ginanjar segera melepaskan tangan nya ketika Amila istrinya berteriak memanggilnya.
Amila dan Wulan istri Rangga keluar dari ruangan dengan wajah yang ceria dan menghampiri mereka.
"Amila sayang.. Apa hasil nya..?" Ginanjar segera menyambut istrinya dengan tatapan serius.
"Aku hamil mas.. Aku benar benar hamil.. Lihat hasil tesnya." Amila menyodorkan kertas hasil pemeriksaan nya.
Ginanjar segera memeriksa.
"Rangga ... Istri ku hamil.. aahhh.. Istri ku hamil... !!!" Ginanjar melonjak kegirangan dan memukul mukul tubuh Rangga yang ikut meloncat kegirangan, dua pria itu bertingkah seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah dari orang tua nya.
"Kita pulang, kita harus merayakan nya..!!" ucap Rangga ia menggandeng Amila.
"Heh .. bodoh , dia istri ku .. !!" Ginanjar melotot.
"Ooh , maaf . Aku salah. Wulan sayang.. kenapa kau diam saja melihat aku salah meraih tangan wanita lain.." ucap Rangga kepada istrinya.
Wulan dan Amila hanya tersenyum melihat tingkah kedua Pria itu, mereka sudah terbiasa dengan candaan keakraban mereka.
Kedua pasangan suami istri itu melangkah bersama meninggal kan rumah sakit dengan senyum kebahagiaan yang menyelimuti mereka.
Setelah penantian panjang Ginanjar dan sang istri selama bertahun tahun akhirnya datang juga, Istri nya hamil dan ia akan segera mempunyai seorang anak.
***
Kini mereka sudah terlihat berkumpul di ruangan santai Di Mansion mewah keluarga Samudra.
"Aku ingin bayi ku laki laki Rangga, jadi aku akan mempunyai penerus untuk perusahaan ku." ucap Ginanjar.
__ADS_1
"Tidak Tuan, bayi mu harus perempuan. Jika dia laki laki bagaimana aku akan menjadikan nya menantu, aku tidak mungkin menunggu adik nya lagi. Putra ku sudah terlalu tua jika harus menunggu anak mu yang kedua." jawab Rangga tidak terima dengan permintaan Ginanjar.
"Itu derita mu, siapa juga yang mau berbesan dengan orang bringsik seperti mu. Aku tidak Sudi. Pokoknya bayi ku harus laki laki, aku harus mempunyai penerus." ucap Ginanjar.
"Kau lebih mementingkan perusahaan mu dari pada persahabatan kita.!!"
"Apa kau bilang..!!! Jelas saja aku mementingkan perusahaan ku, kalau perusahaan ku bangkrut kita hidup dari mana, kau mau hidup menggembel seperti dulu hah.!" teriak Ginanjar.
"Hei sudah lah.. kenapa kalian tidak bisa berhenti bertengkar semenit saja." Sela Amila yang terlihat pusing mendengar setiap saat kedua pria itu beradu mulut .
"Kau tidak boleh bicara seperti itu Tuan Ginanjar. Laki laki atau perempuan sama saja, yang terpenting dia lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun." ucap Wulan membuat kedua pria itu terdiam.
"Begini saja, jika nanti hasil USG menyatakan jika Bayi mu laki laki,maka kau yang menang Tuan. Tapi jika bayi mu ternyata perempuan Kau kalah dan Rangga yang menang. Kami akan melamar Putri mu untuk Hanzero putra kami. Bagaimana..?" ucap Wulan membuat kedua laki laki dihadapan nya itu saling melempar pandangan dan tersenyum mengangguk setuju.
"Ada syarat nya." tiba tiba Amila ikut bersuara, mereka menoleh pada Amila.
"Jika dia perempuan, maka Rangga harus bisa mengatur semua rencana nya sendiri tanpa merepotkan kami." ucap nya.
"Benar, jika bayi kami perempuan maka kau harus bertanggung jawab pada masa depan perusahaan Samudra. Aku tidak mau kerja keras kita selama ini akan sia sia begitu saja." ucap Ginanjar.
"Kau tenang saja Tuan, laki laki atau perempuan bayi itu kelak, Putra ku tetap akan ku persiapkan untuk mendampinginya dalam mempertahankan Perusahan Samudra." jawab Rangga dengan tegas nya.
Begitu lah janji yang terucap ke empat sahabat karib itu. Rangga dan Ginanjar bersahabat sejak mereka bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan.
Mereka meniti perjalanan yang cukup melelahkan dan penuh tantangan hingga menjadikan mereka sukses membangun Perusahaan. Di mulai dari perusahaan kecil hingga kini menjadi perusahaan besar yang ternama.
Ginanjar bisa menjadi pemilik perusahaan karena hasil dari penjualan semua warisan nya dan juga milik Amila di kampung, di gabung kan dengan hasil penjualan Tanah milik Rangga di kampungnya juga.
Dari hasil uang yang mereka dapat itulah mereka memulai usaha baru yang akhirnya membawa mereka pada ke beruntungan . Dan Rangga menjadi orang kepercayaan Perusahaan yang dipimpin oleh Ginanjar.
Mereka berdua berjuang dan terus berjuang sampai titik kejayaan mereka.
Itulah sekilas dari cerita masa lalu Ginanjar Samudra dan Rangga Ayah Hanzero.
_______
FlashBack off.
"Pulang lah Hanz, kasihan jika Azkayra harus menunggumu. Pasti dia sangat khawatir sekali ." ucap Ginanjar mengusir Hanz.
"Baik Tuan. Terimakasih atas sambutan anda yang berhasil membuat saya hampir mati." jawab Hanz tersenyum.
"Hahaha...ha.. Kau tidak boleh mati Hanz, kau sudah berjanji akan menikahi Putri ku." ucap Ginanjar tertawa bahagia.
Hanz pun membalasnya dengan tersenyum bahagia.
"Kira kira kapan hari pernikahan kalian akan dilaksanakan. ?" tanya Ginanjar.
"Saya akan membicarakan dulu dengan Nona Tuan. Bagaimana pendapat Anda..? Apa anda punya pendapat lain.?" Hanz meminta pendapat.
"Aku ingin kalian menikah setelah menyelesaikan Pembangunan Villa itu. Jadi kalian bisa berbulan madu tanpa beban." jawab Ginanjar.
"Baik Tuan. Setelah saya berhasil mendapat restu dari Tuan ,Nona juga meminta saya untuk mengumumkan pada publik tentang hubungan kami." ucap Hanz.
"Azka seperti Amila, ia tidak suka jika menjalin hubungan secara diam diam. Kau bisa melamarnya di saat acara pengesahan Villa Pelangi. Itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan untuk nya." ucap Ginanjar memberi pendapat.
"Ide bagus Tuan."
"Hanz, meskipun aku sudah memberi mu restu bukan berarti Azka sudah menjadi milik mu, kau harus bisa menjaga nya sampai kalian benar benar Sah." ucapan Ginanjar kali ini terasa merobek jantung Hanz, ia terdiam. Lidah nya kaku membeku.
________________
POV: Author
"Hai.. sahabat pecinta Hanzero dan Azkayra, mungkin sebentar lagi kalian harus menyiapkan amplop khusus untuk menghadiri pesta pernikahan mereka."
POV: Azka
__ADS_1
"Saya Azkayra Kumala Samudra minta doa restu kalian ya...."
Terimakasih*......