
Akhirnya Azkayra bisa mengisi perutnya yang sudah sangat keroncongan dengan makanan yang di masak oleh Bibi nya Hanzero, bersama Hanz juga Paman dan Bibi nya.
Mereka menyelesaikan Makan siang dengan serius tanpa suara.
"Bibi, terimakasih. Masakan nya enak sekali." ucap Azka usai menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Nona Azkayra bisa saja memuji, ini hanya masakan orang kampung Nona." jawab Sang Bibi.
"Ini enak sekali Bibi.. oh ya, kenapa Bibi memanggil saya Nona.." ada sahut Azka.
"Karena Nona memang Nona Azkayra kan.? Sudah seharusnya di panggil begitu." jawab sang Bibi sembari membereskan meja.
"Tapi Bi., Azka kan.."
"Nona, sebelum kau resmi menjadi Nyonya Hanzero, kami harus tetap memanggil Mu Nona Azka. Jadi biar kan saja." ucap Hanz yang mendengarkan perdebatan kecil mereka.
"Hanz, itu tidak sopan namanya ?" Azka mengotot.
"Nona Azka, itu cara kami menghargai Nona. Oke.. Ayo kita ke depan." Hanz mengajak Azka untuk beranjak.
"Hanz . . aku mau membantu Bibi.." jawab Azka .
"Nona.. tidak perlu. Bibi bisa melakukannya sendiri." sahut Sang Bibi.
"Nona Azka.. sebaik nya Nona ikut kami ke depan." Sang Paman pun ikut bicara.
"Hanz.. bagaimana aku akan terbiasa dengan keluarga mu, jika kalian memperlakukan aku seperti ini.?" Azka mulai merengek.
"Ah, Baik lah .. baiklah. Bibi , biarkan Nona Azka membantu mu." jawab Hanz sekali lagi kalah dan melangkah meninggalkan dapur bersama Paman nya.
Azka tersenyum dan segera membantu Bibi membereskan bekas makan siang mereka.
"Maaf Nona, mungkin makan siang nya sudah sangat terlambat." ucap Sang Bibi.
"Tidak apa Bi, Azka sebenarnya memang sudah sangat lapar. Tadi diperjalanan sama sekali tidak bertemu rumah makan." jawab Azka tersenyum sembari memegang cucian piring.
"Bibi, boleh Azka mencuci piring ? Azka sudah lama tidak melakukan nya. Dulu Azka sering mencuci piring sewaktu di kampung. Selama di kota tidak pernah lagi " ucap Azka.
"Apa Nona benar benar bisa ..?" tanya Sang Bibi.
"Bisa lah..!" jawab Azka kemudian segera memulainya . Sang Bibi tersenyum melihat nya.
Beruntung sekali Hanzero bisa mendapatkan Nona Azkayra yang berbeda dari wanita kaya lainnya .
Sementara Hanzero kini sudah duduk di teras depan bersama Paman nya. Menatap sekeliling Rumah Paman nya yang masih penuh dengan kehijauan Pohon dan Sayur Mayur milik Bibi nya.
"Bibi masih saja rajin menanam sayuran." ucap Hanz.
"Tau sendiri bagaimana Bibi mu, ia sama sekali tidak mau menganggur." sahut Sang Paman.
"Bagaimana Hanz ? Apa nanti sore kau akan pergi ke makam kedua orang tua mu.?" tanya Sang Paman.
"Iya Paman, aku akan mengajak Nona Azkayra ke makam mereka." jawab Hanz.
"Hanz, benarkah kau akan menikahi Nona Azkayra.? Apa Tuan Ginanjar sudah benar benar merestui hubungan kalian.?" tanya Paman nya sedikit khawatir.
"Aku sudah menemui Tuan Ginanjar di kampung halaman nya dan meminta restu nya. Tuan Ginanjar memberi restu kepada kami. Paman.. apa Paman tidak tau tentang hubungan Tuan Ginanjar dengan orang tua ku dulu.?" tanya Hanz menatap Paman nya.
"Paman tidak pernah tau apa apa, setau Paman hanya Ayah mu membawa kalian ke kota dengan waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya membawa kalian kesini lagi Dan Ayah mu memang pernah menceritakan tentang Tuan Ginanjar jika beliau adalah Majikan nya. Itu saja. Tuan Ginanjar juga pernah kesini sesekali bersama Ayah mu untuk melihat keadaan mu. Dan mereka lah yang menyiapkan semua pendidikan khusus untuk mu, Paman hanya sekedar bertugas memantau mu. Memang nya kenapa.? Apa ada sesuatu yang Paman tidak ketahui.?" ucap Paman nya.
"Tidak ada Paman.." sahut Hanz tidak ingin menceritakan tentang Ayah nya lah yang sebenarnya telah merencanakan kebersamaan nya dengan Azka.
"Hanz, apa kau sudah siap untuk menjadi suami seorang Nona Azkayra.? Itu pasti tidak akan mudah." tanya Sang Paman.
__ADS_1
"Paman, aku mencintai nya. Aku pasti akan siap dengan apapun resiko nya." jawab Hanz dengan yakin nya.
"Apa kau yakin Nona Azka juga mencintaimu seperti kau mencintai nya.?"
"Paman tidak perlu khawatir, jika aku tidak yakin, tidak mungkin aku sampai berani melamar nya langsung di depan Tuan Ginanjar. Lihat lah, Nona bahkan bersikeras jauh jauh ikut kemari hanya untuk bertemu kalian dan ikut berziarah ke makam orang tua ku, jika dia tidak mencintai ku, dia tidak mungkin mau melakukan itu." jawab Hanz berusaha meyakinkan Paman nya.
"Baik lah. Paman akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian. Sekarang ajak Nona ke makam sebelum senja." sahut Paman nya.
Hanz mengangguk dan segera masuk ke dalam kembali untuk mencari Azkayra dan mengajak nya ke Makam orang tua nya.
______________________
Sore itu terlihat Hanz duduk diantara Dua batu Nisan besar yang tertulis Nama Rangga Dan Wulan dengan begitu Jelas, dan di ujung sana juga terdapat makam Nenek nya, sementara Azkayra berdiri mematung di disamping nya .
"Ayah , Ibu.. Lihat lah. Hanz datang membawa calon menantu yang telah kalian siapkan untuk Hanzero. Hanz akan segera menikahi nya untuk Kalian dan tentu nya untuk hidup ku. Semoga kalian tenang di Surga." ucap Hanz, tampak kristal bening tergantung di ujung matanya.
"Terimakasih atas semua pengorbanan kalian untuk Hanz selama ini. Aku bahkan belum sempat membalas nya, tapi kalian telah pergi meninggalkan Hanz dengan begitu banyak Hal yang berharga yang kalian tinggalkan untuk Hanz." kini Air mata Pria itu tak lagi terbendung menetes lolos ke pipi nya.
"Ayah dan Ibu Calon mertua ku.. Azkayra juga meminta restu kalian. Semoga kalian bahagia di sana meskipun kalian tidak sempat melihat kebahagian kami nanti. Azkayra berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Putra kalian , dan Azkayra berjanji akan mencintai nya sepanjang sisa hidup Azkayra." kini Azka pun ikut duduk bersimpuh didepan batu nisan itu.
Keduanya kini saling terdiam memanjat kan doa masing masing dan berakhir dengan saling berpandangan.
"Hanz.. kau tidak boleh menangis. Kau sekarang tidak sendirian, ada aku yang akan terus menemani mu." ucap Azka menghapus air mata Hanz yang masih menetes.
"Ini air mata kebahagiaan Azka. Aku bahagia. Bisa mendapatkan cinta mu. Aku merasa sangat beruntung sekali dan merasa dunia ini seperti milik ku sendiri." jawab Hanz meraih tangan Azka.
"Kita pulang ya, sebelum malam." ucap Hanz menggenggam tangan Azka dan mengajak nya melangkah ke mobil mereka.
Sepanjang perjalanan pulang Hanz terlihat melamun , Azka bahkan enggan mengajak nya bicara, mungkin Hanz sangat merindukan kedua orang tua nya yang telah banyak berbuat hal yang berharga untuk nya, salah satu nya adalah mempersatukan nya dengan Azka.
Tiba di rumah Hanzero segera menyiapkan air hangat untuk Azka dan menyuruh nya mandi sesegera mungkin sebelum malam ,karena itu akan terasa sangat dingin bagi Azka yang tidak tahan dingin.
___________________
Malam kini sudah kian meraba, terasa sepi sunyi dan senyap di rumah itu, hanya terdengar suara suara binatang malam yang menghiasai kegelapan. Paman dan Bibi Hanz pun sudah terlelap di kamar nya, usai berbincang panjang lebar dengan keponakan dan calon menantu nya itu.
Hanz melirik Azka, ia melangkah mendekati nya.
"Apa Nona kedinginan.?" tanya nya.
"Sudah tau, nanya.!" ketus Azka.
"Perlu di hangat kan..?" bisik Hanz di telinga Azka.
"Emm.." Azka mengangguk dan tersenyum penuh semangat.
Hanz pun menelusup ke dalam selimut tebal itu dan mendekap tubuh Azka dari belakang.
"Tidur lah, aku akan menghangatkan mu." ucap Hanz mempererat pelukan nya.
Azka pun memejamkan matanya. Tapi itu tak bertahan lama, Azka menggeliat dan membalikkan badan nya kini mereka saling berhadapan dan Azka menaikan paha nya dan menaruh nya di atas paha Hanz. Hanz yang telah menutup matanya terlihat tak bereaksi.
"Kau sudah tidur .?" bisik Azka, tak ada jawaban dari Hanz.
."Jahat sekali, mendahului aku. Bangun Hanz.. aku tidak bisa tidur..!!" rengek Azka mencubit hidung Hanz.
Hanz hanya menggeliat dan merengkuh tubuh Azka , menenggelamkan dalam pelukan nya dan kembali terlelap.
"Hanz...!!" Azka kembali berbisik.
"Ah.. kau benar benar tega." kembali Azka menggerutu.
Ia menatap wajah Hanz dengan dalam, meniti setiap lekuk wajahnya. Jemari nya yang lentik kini menyusuri wajah itu dan berhenti di ujung bibir Pria itu . Azka yang nakal kini mendekati bibir itu dan mengecap Liar di sana. Ia tidak peduli meski Hanz tak merespon nya. Bibir nya terus mengecap di sana dan dengan tangan nya ia membuka mulut Hanz agar ia bisa memain kan lidah nya di rongga mulut Hanz.
__ADS_1
Azka mendesah sendirian merasakan sesuatu yang kini menjalari tubuhnya.
Tangan nya mulai liar meraba dada Hanz dan semakin turun kebawah dan kini menyentuh junior Hanz yang telah mengeras.
Tangan Azka yang nakal mencoba menelusup ke dalam Celana training Yang di kenakan Hanz dan menyentuh milik Hanz itu . Meraba dan meremas lembut disana, memainkan nya dengan tangan nya. Kini Azka mendekatkan wajah nya ke junior Hanz dan menciumi nya.
Tiba tiba tangan Hanz menahan tangan Azka dan menarik cepat wajah Azka.
"Azka .. ! Apa yang kau lakukan.?" Hanz menatap wajah yang mulai terengah engah itu.
"Hanz.. aku ingin menyentuh nya." bisik Azka penuh gairah.
"Dari mana kau tau cara itu .?" Hanz menarik tangan Azka dan memegang nya erat tak membiarkan Azka menyentuh juniornya.
"Aku...!!" Azka gelagapan.
"Dari mana..?" Hanz kini menatap serius mata indah Azka.
"Aku.. emm.." Azka tak bisa menjawab.
"Kau sering melihat video dewasa ya, atau membaca novel 21+ , ayo jawab Azka.??" sekali lagi Hanz bertanya.
"Tidak Hanz.. aku hanya mengikuti kata hati ku.!" jawab Azka.
"Kau tidak boleh seperti itu." ucap Hanz kini bangun dan duduk memperbaiki Celana nya yang telah di buka separuh oleh Azka yang nakal.
"Kenapa.. ? Apa karena kita belum menikah. Kita sebentar lagi akan menikah Hanz. Ayo lah..Aku merindukan mu. Sangat..!!" Azka mendekap tubuh Hanz dari belakang.
"Azka.. meskipun kita sudah menikah , kau jangan melakukan itu. Aku tidak mau." jawab Hanz menoleh.
"Kenapa..? Kau saja pernah memainkan punya ku. Kau tidak ingat..?" ucap Azka.
"Itu beda Azka, kau tidak perlu melakukan nya, biar aku saja, kau hanya perlu menikmati rasa nya." jawab Hanz segera menyumpal mulut Azka dengan bibir nya. Mendorong tubuh Azka dan menindihnya.
Terus mengecap Liar di sana.
"Dengar kan Aku Azka. Kita tidak boleh melakukan nya lagi sebelum Resmi. Kau harus bisa menahan nya." ucap Hanz melepas bibirnya dan membelai wajah Azka.
"Tidur lah.. Aku akan tidur di luar." Hanz mengecup singkat dahi Azka dan beranjak.
"Hanz..!!!" Azka mendengus kesal, Hanz yang mendengar nya hanya tersenyum tanpa menoleh terus melangkah keluar kamar dan menutup pintu
"Ahhh...... Berat sekali..!!" Azka membanting tubuh nya di kasur dan menarik selimut. Mencoba memejamkan matanya sebisa mungkin.
Sementara Hanz berbaring di atas sofa, di ruang depan.
Kau pikir aku tidak merindukan mu Azka.. !!! Tapi aku harus bisa menepati janji ku. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi.
Hanz menutup wajah nya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.
____________________________
"Hai.... Kalian dapat salam dari Azkayra.. katanya jangan lupa untuk selalu mendukung nya.. ...
bay.........
besok Azka datang lagi ya.. ?
Sampai jumpa...!!!!!!
**
__ADS_1
*