"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Perjalanan Pulang Kampung.


__ADS_3

Pagi itu Hanzero nampak sibuk berkemas.


Ya , hari itu ia akan pulang ke kampung halaman nya.


Ia memasuk kan beberapa pakaiannya ke dalam koper milik Azkayra.


Ia melangkah menarik koper tersebut, tiba tiba langkah nya terhenti dan ia kembali masuk kedalam kamar nya, menghampiri meja dan menarik laci. Tangan nya meraih sebuah benda yang terlihat sedikit berat dan membawa nya di balik jaketnya.


untuk sekedar berjaga jaga, aku tidak mungkin membawa pengawal untuk pulang ke kampung ku.


Kemudian ia kembali melangkah menuju kamar Azkayra dan mengetuk pintu disana.


"Nona.. Apa Anda sudah siap..?"


"Tunggu di bawah Hanz.. sebentar lagi aku menyusul..!!" sahut yang di dalam.


Hanz hanya bisa mendengus dan berlalu.


Hanz kini sudah berada di depan,menghampiri Annabel yang sudah menunggu didekat mobil.


"Annabel, aku akan pulang ke kampung ku. Nona ikut dengan ku. Ingat jangan ada yang mengetahui kepergian kami." ucap Hanzero pada wanita yang menjadi kepercayaan nya itu.


"Siap Tuan." jawab nya.


"Kau urus semua pekerjaan kantor , jika ada yang bertanya terserah kau mau cari alasan apa. Kau kan pintar dalam hal mengelabuhi." tambah Hanz sembari mengangkat koper memasukkan nya ke dalam bagasi.


"Beres Tuan, anda tidak perlu pusing memikirkan hal itu. Yang terpenting jaga Nona dengan baik dan jangan mengecewakan saya." jawab Annabel.


"Apa..!!"


"Maaf Tuan , maksud saya jangan mengecewakan Tuan Ginanjar . Begitu.. hhehe.." jawab Annabel.


huh.. matanya sudah hampir keluar saja.


"Panggil Nona mu sebentar, lama sekali. Apa lagi yang mau dibawa.?" gumam Hanz.


"Biasa Tuan, Perempuan itu banyak kebutuhan nya." jawab Annabel membalik kan badan hendak melangkah menyusul Nona nya di kamar.


Tapi ternyata Azkayra sudah terlihat menuruni tangga.


"Nona.. Tuan Hanz sudah kering menunggu Nona." ucap Annabel. Azka hanya tersenyum menanggapi Annabel.


"Maaf Hanz, aku lama ya.?" sahut Azkayra menghampiri Hanz yang sudah membuka kan pintu mobil.


"Tidak apa Nona., Silahkan." Azka langsung masuk dan duduk dengan baik, dan Hanz langsung menyusul.


tidak apa Nona, tadi aja ngomel...


Annabel melambaikan tangan nya pada Azkayra.


"Hati hati Nona.. selamat bersenang senang." teriak Annabel mengiringi mobil mereka.


Mobil Hanz kini melaju dengan cepat melintasi jalanan yang nampak sedikit sepi dan hanya beberapa mobil yang terlihat melintas.


"Kampung saya tidak lah sebagus Kota ini, apa Nona akan menyukai nya.?" ucap Hanz mengusir sepi.


"Aku juga pernah tinggal di perkampungan Hanz.!" jawab Azka menoleh ke arah kekasih nya.


"Oh iya, benar juga . Saya lupa." ucap Hanz.


Kembali Hanz terdiam dan fokus dengan jalan. Beberapa saat lama nya tak ada suara dari mulut Azka. Hanz sempat melirik wajah Azka yang terlihat mulai jenuh.


"Nona tidur saja." ucap Hanz .


"Aku tidak mengantuk, hanya jenuh sekali. Memang kampung mu masih jauh ya..?" tanya Azka mulai merentangkan tangan nya.


"Jauh sekali. Sore hari baru kita sampai."


"Hah.. seharian kita akan di mobil.? Bagaimana kalau aku lapar..? Kita harus beristirahat di rumah makan dulu Hanz .!" sahut Azka.


"Kita tidak akan melewati rumah makan Nona." jawab Hanz tersenyum.


"Ya Tuhan..!!! Kenapa tidak bilang.? Tau begini aku akan menyuruh pelayan memasak bekal untuk kita.?" Azka menggerutu.


Hanz melirik jam tangannya,


sekitar satu jam lagi.


Kini mobil mereka melewati jalanan yang sedikit rusak dan terlihat sangat sepi.


Hanz menurun kan kecepatannya dan berjalan sedikit melamban.


Tiba tiba dari arah depan ada lebih dari lima pria berwajah garang menghadang mobil mereka dan berteriak menyuruh mereka turun dari mobil. Beberapa dari mereka membawa senjata tajam.


"Turun.. atau kami akan hancurkan mobil kalian.!!" teriak salah seorang dari mereka mencoba mengancam.


"Seperti nya kita mendapat masalah Nona." ucap Hanz pada Azka yang sudah menyadari jika Pria pria itu adalah kawanan perampok yang ingin menjarah mereka.


"Huh.. memperlambat saja.! Mana aku sudah lapar sekali." Azka menggerutu kembali.


"Apa Nona takut...?" tanya Hanz menatap Azka yang sama sekali tidak peduli dengan kedatangan mereka.


"Aku takut,.. takut pingsan Hanz..? Perut ku ini sudah berontak dari tadi." rengek Azka.


"Tunggu sebentar ya..?" ucap Hanz membuka pintu mobil dengan tenang nya.


Ia melangkah menghampiri kawanan rampok itu.


"Beri kan semua yang kalian punya, kami akan berbaik hati melepaskan kalian..!" Ucap ketua mereka. Salah satu dari mereka mendekati mobil.

__ADS_1


Hanz tersenyum miring.


"Punya kami sangat berharga, jadi mana mungkin akan kami serahkan..!" jawab Hanz dengan santai nya.


"Kurang ngajar, cari mati kamu ya..!!!" hardik ketua mereka itu.


"Bang.. ada cewek cantik rupanya.!" seru seorang pria yang sudah di dekat mobil itu melihat Azkayra di dalam mobil.


"Tarik keluar..!!!" perintah sang ketua mereka.


Pria itu langsung membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil berusaha menarik tangan Azka, tapi bukan nya Azkayra yang keluar tapi malah Pria itu yang terpental keluar mobil dan jatuh tersungkur di tanah. Baru kemudian Azkayra muncul dari dalam mobil.


Hanz tersenyum melihat itu.


Karena merasa dipermainkan Para pria itu akhirnya menyerang Hanz. Ternyata Hanz yang jago berkelahi sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Dan satu persatu dari mereka jatuh tersungkur.


Begitu juga Azka tak mau ketinggalan momen itu, ia ikut menghajar para pria itu dengan sangat semangat.


Hanz mengambil benda dari balik jaket nya dan mengarah kan ke arah ketua mereka yang bangkit dari tersungkurnya dan siap menerjang Hanz dengan Pisau di tangan nya.


Door....!!!!


Peluru yang sengaja di arah kan hanya untuk menakuti mereka melesat tepat di dekat kaki ketua itu ,membuat mereka tiba tiba menekuk lutut mereka.


"Ampun bang.. Ampun bang... !!!! " teriak mereka memelas memohon ampunan.


Hanz mendekati ketua mereka dan menempelkan moncong Pistol nya ke kepala ketua itu.


"Jika kamu berani mengganggu pemakai jalan ini lagi. Ku pecah kan kepalamu...!!!" ucap Hanz membuat sang Ketua itu gemetar ketakutan begitu juga dengan yang lain yang tak kalah takut nya.


"Ampun bang.... Kami janji tidak akan melakukan nya lagi." Jawab sang ketua itu bersujud di kaki Hanz.


"Pergi..!!! Kali ini aku akan melepaskan kalian. Tapi jika aku melihat mu lagi dengan pekerjaan kalian seperti ini. Aku tidak kan melepaskan kalian lagi...!! " Hanz menendang Pria itu. Dan mereka akhirnya memilih kabur melarikan diri dengan lari sekencang-kencangnya.


Hanz menghampiri Azkayra yang terlihat tertawa terbahak bahak.


"Ada yang lucu ..?" tanya Hanz kembali menyimpan Pistol milik nya di balik jaket nya.


"Muka mu lucu sekali saat marah.!" ucap Azka menyeka keringat Hanz yang menetes di pelipisnya.


Hanz menarik tangan Azka hingga tubuh Azka menabrak tubuhnya, dan Hanz langsung mendekap nya.


"Kau terlihat sangat Cantik ketika berkelahi. Aku belum pernah melihat kau berkelahi, kau teryata hebat sekali Azka.Aku jadi takut. Takut kau banting juga."bisik Hanz mengecup singkat bibir Azka dan membopong tubuh mungil itu ke dalam mobil.


"Kita lanjutkan perjalanan kita." ucap Hanz menghidupkan mesin mobil.


"Memang nya mereka sering menjarah di sini ya..?" tanya Azka.


"Tidak tau juga, aku belum pernah bertemu mereka . Baru kali ini, mungkin mereka tau kalau aku sedang membawa seorang bidadari. Makanya mereka menghadang perjalanan kita." jawab Hanz kembali melirik bibir Azka.


manis sekali ..


Hanz hanya bisa menghela nafas.


Setelah beberapa menit Hanz membelok kan mobil nya ke jalan yang sedikit sempit dan berhenti di depan sebuah rumah yang sederhana namun terlihat lebih besar dari ukuran rumah warga yang lain nya.


"Hanz.. apa kita sudah sampai..?" tanya Azka menyadari jika Hanz telah menghentikan mobilnya.


Hanz tersenyum dan mengangguk.


"Kau membohongi ku, kau bilang sore hari baru sampai..? Ini masih tengah hari." Azka mencubit pinggang Hanz.


Hanz masih tersenyum, dan membuka pintu mobil. Meloncat turun dan segera membuka kan pintu mobil untuk Azka.


"Ayo..!!" Hanz menggenggam tangan Azka dan mengajak nya melangkah.


Hanz mengetuk pintu dan mengucapkan salam berkali kali sampai suara seorang Pria tua menjawab Salam nya jauh dari dalam.


Pintu pun di buka dan Paman Hanz segera histeris melihat siapa yang datang.


Bukan nya menyambut Hanz , Paman nya malah kembali masuk berlari memanggil sang istri. Tak lama kemudian Sang bibi pun berlari tergopoh-gopoh menubruk Hanz.


"Hanzero... Kau sudah pulang ...!!" ucap Bibi Hanz menangis sesenggukan, begitu lah dia setiap kali keponakan nya pulang akan disambut nya dengan air mata bahagianya.


"Iya bibi,apa kabar kalian berdua .?" Sapa Hanz.


"Bibi dan Paman mu selalu sehat. Ayo duduk.." jawab Bibi. Ia menoleh kepada Azka.


"Hanz.. kau benar benar membawa calon istri mu..?" seketika sang Bibi menghampiri Azka.


Hanz hanya tersenyum.


"Cantik sekali.." ucap Sang bibi meraih tangan Azka.


"Duduk Nak , duduk." Bibi membimbing Azka untuk duduk. Azka hanya tersenyum.


"Anak gadis siapa yang kau bawa Hanz..?" tanya Paman nya sembari duduk.


Hanz masih tetap tersenyum.


"Sesuai permintaan Paman. Aku pulang dengan membawa calon istri ku." jawab Hanz ringan.


"Kau masih terlihat sangat muda , berapa umur mu nak..?" tanya Sang bibi memandang Azka.


"Bibi.. tidak sopan bertanya tentang umur.?" Sahut Hanz.


"Tidak apa Hanz.. Umur ku baru memasuki dua puluh tahun bibi..?" jawab Azka.


"Apa..? Dua puluh tahun..?" Sang Bibi sedikit terkejut.

__ADS_1


"Apa kau tau umur Hanzero berapa..?" tanya Bibi lagi.


"Iya.. saya tau bibi , kami selisih lebih dari sepuluh tahun."jawab Azka.


" Oh.. Bibi pikir kau tidak tau. Atau Hanz sudah membohongi mu. Mengaku lebih muda dari usia sebenarnya.?" celoteh bibinya.


"Tidak bibi, Hanz tidak pernah berbohong." jawab Azka melirik Hanz yang tetap tersenyum.


"Siapa namamu Nak..?" tanya sang Paman.


Azka tidak segera menjawab melainkan menoleh ke arah Hanz yang mengangguk memberi isyarat agar Azka menyebut kan namanya.


"Azkayra Paman."


"Azkayra .. !!!" ucap sang Paman Bibi bersahutan dan saling memandang.


"Hanz.. jangan bilang kalau yang kamu bawa ini adalah Nona Azkayra." ucap Sang Paman menatap Hanz dengan tatapan penuh ancaman.


"Dia memang Nona Azkayra.. Putri Tuan Ginanjar Samudra." jawab Hanz membuat kedua pasangan suami istri di depan itu melotot dan tercengang.


"Hanz... kau benar benar sudah gila ya..? Kalau memang kau belum mendapatkan calon istri paman tidak akan marah. Tapi bukan berarti kau harus membawa Nona Azkayra dan mengaku kepada kami sebagai calon Istri mu.!!" ucap sang Paman memperingatkan Hanz.


"Paman.. Nona Azkayra memang calon istri ku. Memang nya ada yang salah ..?" sahut Hanz.


"Hanz.. Nona.. semua ini apa benar atau hanya akal akalan Hanz saja.?" tanya Sang bibi menatap Azka.


"Benar Bibi , Paman. Saya memang Azkayra Putri Ginanjar Samudra. Dan kami kesini untuk meminta doa restu kalian. Kami akan segera menikah, mungkin bulan depan jika tidak ada halangan ." jawab Azka menjelaskan.


"Sungguh kah . Tapi bagaimana dengan Tuan Ginanjar.? Apa beliau merestui hubungan kalian..?" tanya sang Bibi dengan nada cemas.


"Ayah Azka telah menyetujui nya dan merestui kami." jawab Azka.


"Benar kah semua ini Hanz..? Kalian tidak sedang berbohong kan.?" tanya Sang Paman masih meragukan.


"Paman... Apa selama ini Hanzero pernah berbohong.?" ucap Hanz menatap Paman nya.


Kali ini mereka terdiam , Paman nya hanya mengangguk. Kini kedua orang tua itu mengerti walau terlihat sangat canggung sekali dengan Azka.


"Bibi.. bisakah menyiapkan makan Siang untuk kami..? Nona Azka sudah kelaparan sejak tadi." ucap Hanz.


"Oh, ba.. baik lah.. Bibi akan segera menyiapkan." jawab Sang bibi mengangguk dan langsung melangkah ke dapur.


"Nona.. selamat datang di rumah kami yang jelek ini." ucap Sang Paman pada Azka.


"Jangan bicara begitu Paman.? Azka kesini untuk bertemu dengan Paman dan Bibi. Bukan untuk melihat rumah kalian." jawab Azka.


"Baik lah kalau begitu ,semoga Nona betah. Dan Hanz , bawa dulu Nona ke kamar. Mungkin Nona ingin mencuci muka atau mandi dulu, sambil menunggu Bibi menyiapkan makan siang untuk kalian." ucap Sang Paman.


"Iya Paman. Mari Nona." Hanz segera menggenggam tangan Azka dan membawa nya ke kamar yang khusus di pakai Hanz jika ia pulang ke rumah itu.


Kamar yang berukuran kecil tidak seluas kamar mereka di kota itu nampak terlihat rapi dan bersih serta segar meskipun tidak pernah ada yang memakai nya. Karena Sang Bibi selalu membersihkan nya dengan rutin.


"Nona mau mandi..?" tanya Hanz menutup pintu kamar itu dan tak lupa menguncinya.


"Tidak Hanz. Aku hanya ingin mencuci muka saja. Tapi kau duluan ya..? Aku ingin rebahan sebentar. " jawab Azka langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur yang berukuran kecil itu.


Hanz tak menjawab, ia bergegas ke kamar mandi dan terdengar mandi di dalam sana.


Tak lama Hanz selesai dan segera menyuruh Azka untuk masuk ke kamar mandi.


Dengan malas karena sudah mulai nyaman dengan baringan nya , Azka melangkah ke kamar mandi.


Hanya sebentar saja Azka berada di dalam kamar mandi langsung keluar lagi.


"Hanz.. air nya dingin sekali..!" ucap Azka yang terlihat menggigil.


"Air disini memang dingin Nona, seperti di pegunungan. Apa Nona ingin memakai air hangat ? Aku akan menyiapkan nya." jawab Hanz menghampiri Azka.


"Nanti sore saja Hanz kalau aku ingin mandi." jawab Azka sembari menyeka sisa air di wajah nya dengan handuk yang telah di siap kan Hanz.


Terlihat wajah Azka yang segar natural tanpa make up semakin cantik dan membuat Hanz begitu tergoda untuk menyentuh nya.


Hanz mendekap tubuh kekasihnya itu dari belakang.


"Kau tidak tahan dingin teryata, ini masih siang hari. Bagaimana kalau malam hari. Disini malam hari terasa lebih dingin." bisik Hanz.


"Kan ada kamu yang akan menghangatkan ku. Kau tidak mungkin membiarkan aku kedinginan kan..?" jawab Azka menatap wajah Hanz.


"Kau jangan nakal disini ya.. ? Nanti aku benar benar akan tergoda." bisik Hanz lagi.


"Kau yang jangan menggoda ku Hanz, dengan begini kau telah menggoda ku." jawab Azka mencium bibir Hanz dan mengullum nya dengan lembut.


Hanz yang memang sudah menahan keinginan nya untuk merasakan bibir itu sedari di dalam mobil tadi pun tak menyia nyiakan kesempatan itu. Hanz langsung membalas nya dengan sangat sempurna.


Lidah nya dengan liar menari di rongga mulut Azka dan terus mengecap bibir itu. Hanz menekan kan sesuatu yang sudah mengeras di balik celana nya pada tubuh Azka, membuat mereka semakin memperdalam ciuman mereka, dan saling menekan.


Sampai terdengar ketukan pintu yang membuyarkan kenikmatan cumbuan mereka.


"Hanz.. ajak dulu Nona Azka makan..! Bibi sudah selesai menyiapkan nya." suara Sang Paman dari luar kamar.


"Iya Paman..!!" Sahut Hanz melepaskan pagutan nya. Tapi tidak dengan pelukan nya. Ia masih tetap mendekap tubuh Azka dan enggan untuk melepaskan.


"Ayo Hanz.. aku lapar..!!" rengek Azka.


"Sebentar lagi Azka. Diam lah." Hanz kembali mengullum bibir itu.


"Aku selalu merindukan mu Azka, padahal aku selalu di dekat mu." bisik Hanz disela sela kecapan nya.


________________

__ADS_1


Lumayan panjang, Insya Allah besok Author up lagi ...


Tinggalin jejak kalian ya...???


__ADS_2