
Gavin terus menarik tubuh Azka menjauh dari kursi, tepat lurus di hadapan Hanz .
Azka mencoba memberontak, dan tiba tiba,
Dorrr....!!!!" suara letusan pistol membuat jantung Azka hampir berhenti , Azka segera menoleh kearah letusan. Anak buah Gavin sengaja melepaskan nya ke atas untuk menakuti Azka.
"Berani kau melawan, Hanzero akan terkapar. Nyawa nya di tangan mu Azka.Jadi menurut lah." ucap Gavin menodongkan pistol nya tepat di jantung Azka.
Azka tak berani bergerak. Ia kini menurut saat Gavin meraih tubuh nya dan menarik nya hingga menabrak tubuh Gavin.
"Dengar kan aku sayang.... aku tidak akan menyakiti mu, kita hanya akan bercinta. Biar kan Hanzero melihat bagaimana kita tidak bisa di pisah kan." ucap Gavin.
"Bedebah kamu Gavin, kamu sudah berjanji akan melepaskan nya .!!!" Teriak Hanz.
Bukkkkkk...!!! Salah satu dari anak buah Gavin menendang perut Hanz.
"Bunuh saja aku Gavin, lepaskan Azkayra...!!!" kembali Hanz berteriak.
"Kau mau mati baik lah.. jika itu mau mu." Gavin menoleh dan memiringkan senyum nya.
"Jangan...!!! Gavin, aku mohon jangan . Aku akan menuruti apapun mau mu. Jangan bunuh Hanz. " Azka segera berlutut di kaki Gavin.
"Nona.. kau tidak perlu berlutut padaku hanya untuk bawahan seperti dia. Kau tidak pantas melakukan ini. Ayo berdiri." Gavin membantu Azka bangun dengan satu tangan nya,sementara tangan yang satu nya masih setia menodong jantung Azka.
"Gavin, lepaskan Hanz," Azka mengiba.
"Ia sayang, .. setelah kita selesai bercinta. Ayo segera kita selesai kan." ucap Gavin menjilat telinga Azka.
Azka mundur beberapa langkah, namun Gavin langsung menarik nya kembali.
"Kau mau melakukan apapun untuk ku bukan..? Jadi lakukan lah. Jika kau berani macam macam, maka anak buah ku akan menarik pelatuk nya." bisik Gavin.
Azka hanya mengangguk.
"Sekarang, buka bajumu.!! Ayo cepat .!!" teriak Gavin.
Dengan ragu Azka menggerakkan tangan nya.
"Azka , jangan lakukan itu. Ku mohon Azka jangan...!!! " Hanz berteriak, lagi lagi anak buah Gavin menendang nya.
"Ayo, atau..!!" Gavin melotot.
"Baik lah."
maaf kan aku Hanz.
Tanpa berpikir lagi Azka membuka baju nya, kini Azka hanya menggunakan bra renda warna putih, terlihat jelas kulit mulus nya dan belahan dada nya yang menyembul ke atas.
"Azka...!! Kau tidak harus melakukan itu.!" Hanz mendesis.
Gavin terperangah melihat pemandangan di depan nya. Ia segera meraih tubuh Azka dan mellumatt rakus bibir Azka, tak sampai disitu kini Gavin mulai merambat kan bibirnya ke leher Azka.
Lalu Gavin yang sudah haus birahi karena kemolekan tubuh Azka langsung menyelipkan pistol di pinggang nya dan segera membaringkan tubuh Azka dengan lembut di lantai begitu saja.
__ADS_1
Azka tidak bisa berbuat apa apa selain menurut, mata nya terus melirik tangan Anak buah Gavin yang masih tetap menodongkan pistol ke kepala Hanz.
"Azka..!!" Hanz memejamkan matanya ia tidak sanggup melihat pemandangan di depan nya itu.
Hati nya hancur se hancur hancurnya. Jika boleh memilih ia memilih mati bersama Azka, dari pada harus melihat Azka di gagahi Pria terkutuk itu tepat di depan matanya.
Kini Gavin sudah menguasai tubuh Azka, sibuk mellumatt dan meremas di sana.
Tiba tiba tangan Azka tak sengaja menyentuh sepotong besi di sisi kanan nya.
Tanpa pikir panjang, tangan kiri Azka memeluk Gavin. Tiba tiba Azka mellumatt bibir Gavin, seolah ia membalas cumbuan Gavin, Gavin yang merasa terbalas langsung memuncak, dengan rakus nya ia membalas ciuman Azka.
Dengan sangat hati hati Azka meraih besi itu sedikit memiringkan tubuh nya agar tak mencurigakan. Saat besi itu sudah benar benar di genggam nya, secepat kilat Azka melempar dengan sekuat tenaga tepat kearah tangan anak buah Gavin yang menodong Hanz.
Sontak saja pistol itu terlepas dan jatuh, membuat semua tersentak.
Tanpa hitungan detik Azka langsung mendorong tubuh Gavin,dan menendang nya dengan begitu kuat hinggap terpental, Azka langsung melompat kearah anak buah Gavin yang baru tersadar dan hendak mengambil pistol, namun kaki Azka sampai duluan menendang tangan Tomi.
Doorrr... Doorrr....Doorrr..!!!!!!
Dengan sangat cantik, Azka membidik kan tiga peluru pistol yang baru saja diraihnya itu tepat sasaran.
Gavin yang sudah siap dengan pistol ditangan nya ambruk bersimbah darah sebelum sempat mengangkat pistol nya.
Dan kedua anak buah Gavin pun terkapar tak bernyawa.
"Hanz...!!!" Azka langsung memeluk Hanz.
"Ku pikir aku tidak akan bisa melihat mu lagi. Maaf kan aku Hanz, ini semua salah ku." Isak Azka.
Azka segera melepaskan ikatan Hanz.
"Azka, apa kau baik baik saja.?" Hanz memeluk erat Azka.
"Aku baik baik saja Hanz.. Maaf kan aku."
"Kita harus cepat keluar dari sini Azka. Ayo...!! " Hanz segera meraih tangan Azka dan membawa nya melangkah cepat .
"Tunggu Hanz.!!" Azka menghentikan langkahnya ia kembali kedalam untuk meraih baju nya dan segera memakai nya kembali.
Hanz melirik Tubuh Gavin , tangan nya bergerak menggenggam pistol dan mengarah kan pada Azka.
"Azka...!!!!" Hanz yang menyadari itu langsung berlari melindungi Azka. Hanz tak sempat mengelak , peluru itu tepat mengenai punggungnya. Dan tangan Gavin pun terjatuh kelantai.
"Hanz..!!" Azka segera menangkap tubuh Hanz yang lunglai ke lantai.
"Hanz ..!!" Azka mendekap kepala Hanz, ia melihat punggung Hanz sudah berlumuran darah.
"Azka, maaf kan aku. Aku tidak bisa melindungi mu. " Tangan Hanz menyentuh wajah Azka.
"Bertahan lah Hanz..!!" Azka menangis.
"Cepat pergi dari sini Azka, disini berbahaya, kau harus tetap hidup." Ucap Hanz semakin tak terdengar.
__ADS_1
"Tidak Hanz, kita akan pergi bersama sama. Bertahan lah." Azka terus mengusap wajah pria itu terlihat mulai sesak bernafas.
"Pergi Azka.. ce.. ce pat.. Pergi...!" Hanz kini menutup matanya perlahan.
"Hanz....!!! Buka mata mu Hanz.. bangun , Ayo kita pulang Hanz.. ku mohon bangun lah . Kita akan pergi bersama. Hanz..!!!" Azka terus menjerit namun Hanz tak lagi mendengar nya.
"Hanz....!! Gavin...!!! Biadab.!!" Azka kemudian menaruh kepala Hanz dengan sangat hati hati. Lalu ia bangkit dan menghampiri Gavin yang masih terkapar .
"Bajingan kamu...!!" Azka menendang Gavin berkali kali. Ia melihat Gavin memang masih bernafas. Azka langsung meraih pistol yang tergeletak di bawah tangan Gavin dan menembak kan berkali kali ke tubuh Gavin. Azka benar benar membabi-buta. Ia menghabiskan semua peluru pistol itu ke tubuh Gavin.
Setelah pistol itu tidak lagi meledak, ia melempar begitu saja, dan Azka kembali menghampiri Hanz.
"Hanz, aku sudah membunuh nya, ayo kita pulang Hanz..!!" Azka menepuk nepuk wajah Hanz yang tetap terdiam.
"Hanz.. kenapa kau diam saja.. Bangun Hanz.. bangunnnn...!!!!" Azka terus mengguncang tubuh Hanz yang tak merespon itu.
"Aku harus mencari pertolongan, kau tunggu sebentar Hanz, bertahan lah." Azka segera berlari keluar.
Sementara dari jauh, Arwan yang melihat nona nya langsung berlari mendekat bersama anak buah nya yang lain.
"Nona..!!" Arwan memanggil nya.
"Bang Arwan. Tolong Hanz.. cepat....!!!" mereka segera berlari ke dalam rumah.
"Tuan,..!!" Arwan segera memeriksa nadi Hanz.
"Tuan masih hidup. Cepat bawa ke mobil dan cari rumah sakit terdekat ." teriak Arwan. Beberapa anak buah nya langsung menggotong tubuh Hanz dan langsung membawa nya pergi tanpa menghiraukan Arwan dan Azka lagi .
Sementara Azka yang masih syok, masih saja terduduk di halaman rumah itu, pikiran nya sudah melayang. Bahkan air mata nya pun tak lagi menetes.
"Nona, mari kita pergi." Arwan segera meraih tangan Azka.
"Bang Arwan, apa Hanz mati.?" ucap nya.
"Nona.. Cepat lah."
"Hanz.. kau tidak boleh mati. Hanz kau tidak mati...!!!" Azka histeris.
plaakkk...!!!
Tamparan tangan Arwan mendarat di wajah Azka ,membuat Azka tersentak dan sadar dari syok nya.
"Maaf kan saya Nona, saya harus melakukan nya." ucap Arwan segera menarik tangan Azka.
Azka segera bangun dan melangkah cepat mengikuti Arwan yang terus menarik tangan nya.
Arwan segera membuka pintu mobil untuk Azka. Arwan pun ikut masuk, dan menyuruh sopir nya untuk cepat meninggalkan tempat itu menyusul mobil Anak buah nya yang sudah pergi dahulu membawa Hanz.
Sementara mobil yang membawa Hanz langsung berbelok ke arah rumah sakit terdekat dan segera berhenti.
Mereka langsung mengangkat tubuh Hanz yang sudah tak berdaya itu dan membawa nya secepat mungkin ke dalam rumah sakit.
Beberapa suster yang menyambut mereka langsung membawa tubuh Hanz ke ruang Khusus, Dokter pun segera tiba untuk memberi pertolongan pertama.
__ADS_1
____________________
Azka meminta doa kalian , semoga Hanz masih bisa hidup.