
Gracia terlihat menunduk kan wajah nya , sedang Hanz entah seperti apa perasaannya saat ini.
"Nona. Kami.. ini tidak seperti yang anda lihat." ucap Hanz gugup.
"Tuan Hanz, saya permisi dulu." ucap Gracia melangkah keluar dari ruangan Hanz, ia menunduk kan pandangannya saat melewati Azka.
"Tunggu..!!" Azka menyambar pergelangan tangan Gracia, membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"Apa kau tau siapa aku.?" tanya Azka tanpa menoleh ke arah nya.
Gracia mengangguk, "Nona adalah Presdir Perusahaan ini. Saya banyak mendengar cerita tentang Nona." jawab Gracia tanpa menatap Azka.
"Kau tau siapa Hanz.?"
"Tuan Hanz adalah Sekretaris perusahaan ini." Gracia kembali menjawab pertanyaan Azka.
"Ku peringatkan padamu, jika tidak ada urusan pekerjaan jangan menemui Hanz lagi. Kau tau, perbuatan mu ini hanya mengganggu waktu kami." Azka menghempaskan tangan Gracia .
"Baik Nona, maaf kan saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi." jawab Gracia memegangi pergelangan nya yang terasa panas karena Azka terlalu kuat mencengkeram nya, dan cepat berlalu dari tempat itu.
Azka kini menghampiri Hanz yang masih berdiri di sana dengan wajah yang nampak khawatir.
plakkkk.....!!!!
Tangan mungil Azka mendarat di pipi Hanz, Hanz segera mengusap pipinya yang terasa panas.
"Nona.. Ini tidak seperti yang Nona lihat." Hanz berusaha menjelaskan.
"Ternyata ini kelakuan mu di belakang ku." sahut Azka yang kemudian berlalu meninggalkan Hanz yang masih kebingungan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Azka terus berjalan setengah berlari ke ruangan nya. Sementara Hanz berusaha mengejarnya.
Annabel yang melihat Nona nya kembali dengan tangisan itu tampak menyesal telah membuat Nona nya mendatangi mereka.
Annabel memilih keluar dari ruangan Azka setelah melihat Hanz muncul disitu.
"Bodoh kau , bukan nya menahan Nona disini.!!" ucap Hanz pada Annabel yang sudah melangkah keluar.
"Maafkan saya Tuan." jawab Annabel, Hanz tidak peduli ia terus melangkah masuk menghampiri Azka yang sudah menangis di ujung sofa.
"Azka dengar kan aku ." Hanz meraih bahu Azka.
"Jangan menyentuh ku.. Tangan mu bekas jalang tadi ." bentak Azka menepis tangan Hanz.
"Azka , aku sama sekali tidak menyentuh nya." jawab Hanz membela diri.
"Tapi dia menyentuh mu kan,? Aku melihat sendiri bagaimana dia memelukmu.!!" teriak Azka .
"Kau jahat Hanz.. kau jahat ...aku benci kamu..!!! " Hanz langsung membungkam mulut Azka dengan bibirnya.
"Nona.. saya tidak tau jika wanita tadi akan memeluk saya, jika saya tau saya akan menghindar. " jawab Hanz mendekap tubuh Azka .
"Lepas Hanz..jangan memeluk ku. Jas kamu saja bau wanita tadi.!" ucap Azka mendorong tubuh Hanz.
Ya Tuhan....
Hanz segera melepas Jas nya dan melemparnya sembarangan.
"Saya sudah membuangnya Nona, jangan marah lagi ya...?" ucap Hanz kembali mendekati Azka.
Azka hanya terdiam.
__ADS_1
"Azka.. Lihat aku." Hanz mengangkat dagu Azka, gadis itu menatap Hanz dengan wajah yang tertekuk.
"Aku hanya mencintaimu, aku hanya menyentuh mu dan aku ingin memiliki mu. Kau percaya padaku kan..?" Hanz kembali mendekap Azka dan mengecup kepalanya.
"Jika hanya masalah seperti ini, kau jangan cepat mengambil kesimpulan. Bagaimana kita akan menghadapi masalah yang besar untuk memperjuangkan cinta kita, jika masalah sepele seperti ini saja sudah membuat mu membenci ku." ucap Hanz .
Azka terdiam, ucapan Hanz sangat menyentuh hatinya.
"Sebelum ada Azka di hidupku saja, aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Apalagi sekarang ada Azkayra di hati ku, tidak ada lagi alasan ku untuk melirik siapapun lagi."
Azka kini menatap wajah Hanz.
"Maaf ."
Hanz mengangguk.
"Berjanji lah untuk tetap bersama ku. Aku sudah terlanjur tidak bisa melepaskan mu Azka."
Azka mengangguk.
"Kita pulang saja." ucap Hanz.
" Tapi Hanz, pekerjaan mu belum selesai."
"Biar saja, biar Annabel yang menyelesaikan nya. Ini hukuman nya karna sudah lalai menjagamu."
"Ini bukan salah Annabel Hanz..!"
"Tetap saja, dia pasti yang sudah membuat mu datang ke ruangan ku tadi. Jika kau tidak ke sana, kau tidak akan menangis seperti ini." jawab Hanz ,meraih tangan Azka dan mengajak nya pulang.
_________
"Hanz.. boleh aku ke Apartemen mu.?" ucap Azka di tengah perjalanan mereka.
"Aku kangen saja." jawab Azka.
"Baik lah, hanya sebentar ya.?"
Azka mengangguk.
Tak lama Hanz menghentikan mobilnya di depan Apartemen milik nya, dan membawa Azka masuk ke dalam Apartemen itu.
Sampai mereka di depan kamar Hanz, tangan Azka membuka pintu dan melangkah masuk di ikuti Hanz di belakangnya.
Azka tersenyum mengingat saat pertama kali ia datang ke kamar ini. Azka segera menghampiri ranjang milik Hanz dan membuka bantal yang ada di sana.
Hanz menarik laci meja dan mengeluarkan sesuatu.
"Anda mencari ini Nona.?" Hanz menyodorkan buku Diary milik nya yang tempo lalu pernah membuat Azka penasaran.
Azka tersenyum dan menerima buku itu.
"Sekarang anda boleh membaca nya Nona." ucap Hanz.
"Ku rasa,.. ini tidak perlu lagi." Azka mengembalikan Buku itu ke dalam laci.
"Simpan saja, kelak kau boleh memberitahukan pada anak kita. Agar dia tau awal cerita kedua orang tuanya bertemu. Seperti orang tua ku, Ayah menceritakan pertemuan nya dengan ibu ku." jawab Azka.
Hanz tertegun mendengar ucapan Azka yang begitu dalam. Bahkan Azka menyebut Anak .
benarkah kita bisa menikah Azka, dan memiliki anak .
__ADS_1
Hanz mendekati Azka, dan memegang kedua tangan nya.
"Apa kau benar benar ingin menikah dengan ku Azka." ucap Hanz menatap gadis itu.
"Aku benar benar ingin menjadi istrimu Hanz, dan melahirkan anak anakmu. Apa kau masih tidak percaya..? Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya." jawab Azka membalas tatapan Hanz.
"Kau akan malu Azka. Apa kau sudah siap harga dirimu sebagai seorang Presdir akan ditertawakan orang karena menikah dengan bawahan mu."
"Kau terus mengatakan itu Hanz, aku bosan mendengarnya. Bahkan aku rela melepas semua nya demi bersama mu, kau masih tidak mengerti juga."
Azka tiba iba mencium bibir Hanz, dan terus melu,,mat nya. Hanz pun membalas nya dengan penuh gairah.
Kini mereka bercumbu melebihi biasanya. Tubuh Azka yang kini sudah terbaring di atas ranjang milik Hanz dan posisi Hanz sudah di atasnya .
Tangan Azka mulai membuka kancing kemeja Hanz dan berusaha melepasnya . Hanz pun mulai menanggalkan pakaian gadis itu satu per satu.
Seperti nya kali ini gairah mereka tak bisa terbendung lagi, dan Hanz pun semakin tak berdaya dengan hentakan demi hentakan dari dalam tubuh nya yang terus menuntut lebih dari sekedar bercumbu.
Meskipun Hanz belum berpengalaman apapun , tapi Hanz tetap lah pria dewasa yang mempunyai gairah, apalagi saat berdua dengan wanita jelita seperti Azka, terlebih wanita yang sangat ia cintai dan wanita yang mencintai ya juga, tubuh Hanz merespon dengan sendirinya.
Kini mereka benar benar dalam keadaan tanpa busana . Terasa kulit mereka saling bersentuhan membuat kedua nya semakin kalap. Hanz terus menyelusuri setiap lekukan tubuh Azka ,hingga sampai paha pangkal paha gadis itu.
Kedua tangan nya mulai bereaksi sendiri, merenggangkan ktdua paha itu.
Azka terus mendesah saat ia merasakan lidah Hanz menyentuh kewanitaan nya.
Tangan nya meremas rambut Hanz dengan kuat . Setelah beberapa saat , Hanz mulai mendekatkan juniornya pada pangkal paha Azka dan Hanz mulai mencoba menekan kan juniornya . Berkali kali ia meleset dan gagal, namun gairah kedua nya yang telah memuncak dan Tak mampu lagi dibendung membuat kedua nya semakin berambisi untuk melakukan nya.
Kini Hanz mulai bisa memasuki kewanitaan Azka , mendesah merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya . Ia terus menekan nya hingga benar benar masuk sepenuh nya.
Azka tiba tiba menjerit .
"Hanz.. apa yang kau lakukan.. kenapa ini sakit .. !!" Nafas Azka tersengal .
"Nona.. Apa ini sakit. ?" Hanz mengusap wajah Azka.
Azka mengangguk. "Sakit Hanz, sakit sekali..!! " jawab Azka.
Hanz melihat Azka meringis dan mulai meneteskan air mata.
"Nona.. maaf kan saya." Hanz menahan gerakan nya dan perlahan ia ingin mencabutnya, tapi Azka segera menahan tubuh Hanz .
"Jangan Hanz.. aku menginginkan nya." jawab Azka ia terus melu,,mat bibir Hanz mencoba mengusir rasa sakit pada kewanitaan nya.
Hanz kembali menggerakkan tubuhnya. Semakin cepat dan lebih cepat lagi
"Tahan Nona." suara Hanz terdengar tertahan.
"Hanz.. Aaahhhh...... Hanz.. Hanz.... !!!" Mulut Azka terus memanggil nama Hanz ia Merasakan perih dan rasa sakit itu semakin hilang terganti dengan rasa yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya. Rasa yang begitu indah dan nikmat yang membuat nya seakan melayang layang di udara, Azka sampai menggigit bahu Hanz karena tak sanggup menahan kenikmatan itu.
Begitu juga dengan Hanz, ia berhasil menyemburkan benih di dalam rahim Azka.
Kedua nya mendapatkan pelepasan bersamaan.
" Aku mencintaimu Nona." bisik Hanz.
Kini kedua nya terbaring lemas, Hanz memeluk Azka dan mereka terlelap tanpa busana.
sesuai janji author, author up dua episode untuk hari ini. Semoga kalian terhibur.
__ADS_1
Dan maaf ya jika kali ini author telah melewati batasan Hanz. ya mau bagai mana lagi, cinta dan nafsu itu berdampingan.
Dan itu salah Azkayra sendiri yang selalu membuat Hanz tergoda, dan kali ini Hanz tidak mampu lagi menahan diri.