
FLASHBACK,
Hanzero tersentak saat menyadari dirinya berada di sebuah dataran yang luas. Matanya terus menatap ke sekeliling. Di sisi sana tampak tebing dengan jurang yang cukup dalam.
Semakin ia heran ketika melihat sosok wanita bergaun putih yang tengah melintas di depan nya menuju arah tebing. Semakin ia bingung ketika menyadari jika wanita itu tengah menyayat tubuh nya dengan sebuah pisau cutter yang digenggam nya.
Nampak darah terus menetes dari luka luka di sekujur tubuh nya.
"Nona.. Apa yang kau lakukan..?" Hanz berusaha menyapa wanita itu, namun wanita itu tak mempedulikan nya. Wanita itu terus menyayat tubuh nya dan terus melangkah mendekati tebing.
"Nona.. Jangan kesitu. Itu berbahaya..!!" jerit Hanz berlari mengejar wanita itu.
Betapa terkejut nya Hanz ketika mengenali wajah wanita itu.
"Azka..!!" Teriak Hanz.
"Azka , apa yang kau lakukan berhenti lah..!" Hanz terus berusaha menggapai tangan Azka, namun ia semakin heran, tangan nya tak mampu meraih nya.
"Apa yang terjadi, kenapa aku ini. Apa aku hanya bermimpi.?" Ucap Hanz.
"Azka, apa yang kau lakukan.? Berhenti lah Azka, kenapa kau menyakiti dirimu sendiri. Azka ku mohon berhenti lah, itu tebing Azka. Kau bisa jatuh..!!" Hanz terus meneriaki Azka yang tetap melangkah dan semakin dekat dengan tebing di depan nya.
"Kau sudah meninggalkan aku Hanz, lebih baik aku mati. Hidup ku sudah tidak berguna lagi." gumam Azka dengan menunduk.
"Aku tidak meninggalkan mu Azka, lihat aku..! Aku tidak mungkin meninggalkan mu. Azka... ku mohon berhenti lah. Ayo kita pulang Azka. Kita akan menikah.!!" Hanz terus berteriak namun Azka sama sekali tak mendengar nya.
Hanz kebingungan, tangan nya tak mampu meraih Tubuh Azka yang semakin mendekati tebing curang itu. Satu langkah lagi kaki Azka sudah berada di sana.
Sedetik dua detik,. Hanz menjerit sekuat nya ketika melihat kaki Azka benar benar mencapai tepi tebing tersebut.
"Azka....!!!!"
______
"Dokter... Jantung pasien melonjak..!!" jerit seorang Suster menghampiri sang Dokter dengan terburu buru.
Sang Dokter pun langsung berlari keruangan di mana Hanz masih berbaring.
"Ya Tuhan.. Ini bahaya. Jika ini terus berlangsung jantung Tuan Hanzero bisa pecah . " ucap Sang Dokter panik.
Dokter berusaha menyuntik kan obat penenang, melirik alat pendeteksi jantung Hanz yang terus meningkat melebihi normal.
Sang Dokter terlihat berkali kali mengusap wajah nya, kepanikan tergambar jelas di wajah Dokter dan para suster itu.
Kedua tangan Hanz terlihat mencengkeram kasur. Dan mendadak mata nya terbuka.
"Azka..!! Azka..!!" Hanz terus menggumam.
Dokter pun terkejut menyaksikan keajaiban di depan nya itu.
"Tuan, anda sadar Tuan. Benar kah.?" Ucap sang Dokter sangat tidak percaya.
"Detak jantung nya mendekati normal." ucap seorang suster.
"Dimana ini..?" Hanz tiba tiba bangun dan memandang sekeliling ruangan.
"Dimana Nona Azka..? Apa yang terjadi padanya. Azka...!!" ucap Hanz bertubi tubi.
"Tuan Hanzero tenang lah, anda baru saja sadar . Anda sudah hampir satu Minggu berbaring koma disini." sahut sang Dokter.
"Koma,? Hampir satu Minggu, lalu di mana Nona Azka.. bagaimana keadaan nya.?" tanya Hanz menatap Dokter dan para Suster itu.
"Nona Azkayra baik baik saja, sekarang berada di Rumah Utama. Hari ini ia tidak datang kemari. Biasa nya Nona Azkayra selalu ada disini. Tapi hari ini mereka sedang.."
"Sedang apa..? Tanggal berapa ini.?" Hanz kembali bertanya.
"Tanggal 11 Juli Tuan.!"
__ADS_1
"Apa.. 11 , Hari ini..? Tidak.. Jam berapa ini.?" pekik Hanz seperti mengingat sesuatu.
"Ini sudah jam 17:45 Tuan.?" sahut sang Dokter itu.
"Ya Tuhan.. Aku harus cepat pulang. Azka.. ! Kau pasti menunggu ku.!" Hanz langsung beranjak , melepas semua semua selang yang ada di tubuh nya.
"Tuan, anda baru saja sadar, jantung anda masih lemah. Anda tidak boleh banyak bergerak dulu.!" Dokter segera memegangi nya.
"Tidak Dokter , lepas kan aku. Aku harus pulang. Hari ini adalah hari pernikahan ku. Dan ini sudah sangat terlambat sekali. Nona Azkayra pasti sangat bersedih. Ia akan mengira jika aku mengingkari janji." ucap Hanz berontak , seketika seluruh suster pun menahan tubuh nya.
"Tuan, saya mohon . Anda tidak boleh memikirkan itu dulu. Pikir kan nyawa Tuan. Anda baru saja sadar ,ini sangat berbahaya.!" Sang Dokter segera mengambil sebuah jarum suntik dan hendak menyuntik kan bius ke tubuh Hanz agar Hanz tidak banyak bergerak.
Namun Hanz terus berontak.
"Lepas kan aku..! Aku tidak bisa membiarkan Azka menunggu. Lepas.!!" teriak Hanz. Suara gaduh di dalam ruangan mengagetkan para anak buah nya yang berjaga di luar ,mereka segera membuka pintu ruangan.
"Tuan Hanzero.!" pekik mereka.
Hanz langsung mendorong para Suster yang menahan tubuh nya. Mereka semua terpental dan Hanz langsung berlari keluar.
"Tahan mereka.!" Hanz memberi perintah pada anak buah nya yang segera menahan para Suster yang berusaha mengejar nya.
Hanz terus berlari keluar rumah sakit itu ikuti salah satu dari anak buah nya.
"Bawa aku Rumah Utama, cepat..!!"
"Baik Tuan,." pengawal itu langsung membuka pintu mobil untuk Hanz dan ia sendiri langsung meloncat masuk.
Mobil itu melaju cepat ke jalan dan melesat ke arah Rumah Utama.
Tanpa bicara sedikit pun pengawal itu terus menginjak gas dengan kecepatan tinggi, walau di dalam otak nya belum mampu mencerna apa yang di lihat ini.
"Azka..! Maaf kan aku.! " desis Hanz.
"Ayo cepat...!!! " ucap Hanz menoleh ke arah pengawal yang sedang mengemudi itu.
"Tuan harus tenang. Sebentar lagi kita sampai..!" Sambung pengawal itu.
Berkali kali Hanz menghela nafas seraya memegangi dadanya nya yang masih terasa nyeri.
Setelah beberapa saat , mobil mereka pun memasuki halaman luas Rumah Utama yang terlihat sudah penuh dengan mobil mobil mewah yang berjejer rapi.
Hanz segera keluar dari mobil dan melangkah, ia sempat bingung dengan keadaan Rumah Utama yang terkesan Ramai orang namun sepi.
"Apa yang terjadi..?" Hanz berbisik.
"Tuan Hanzero. " Seorang pengawal yang melihat nya langsung berlari menyambutnya.
"Tuan..!" pengawal itu seperti tak percaya.
"Ada apa di dalam.?" tanya Hanz masih belum menyadari nya.
"Masuk lah Tuan, kami sudah sangat menunggu Tuan." jawab pengawal itu nampak berkaca kaca.
Hanz melangkah ragu, ia kini sudah berada di depan pintu. Betapa terkejut nya saat ia menangkap deretan Manusia berjejer rapi di deretan bangku dengan wajah sedih dan menunduk.
Lalu pandangan nya mengarah ke Seorang pria yang sedang berbicara pada wanita bergaun putih yang sangat di rindukan nya itu.
"Azka..!!" desis nya. Hanz langsung melangkah masuk tanpa ragu lagi.
Flashback off.
"Azka.. Maaf kan aku sudah membuat mu menunggu." bisik Hanz di telinga Azka, ia terus mendekap tubuh Azka setelah mereka berada di dalam kamar Azka.
"Hanz, kau membuat ku takut. Apa kau tau jika aku hampir putus asa menunggu mu.?" jawab Azka menyandarkan kepala nya di dada Hanz.
"Maaf." sahut Hanz.
__ADS_1
"Hanz, berjanji lah tidak akan meninggalkan aku lagi."
"Aku berjanji." jawab Hanz menatap wajah Azka dengan dalam.
"Azka.. kita sudah menikah. Apa kau bahagia..?"
"Em,.. Sangat Hanz , Sangat bahagia. Aku sudah berpikir jika pernikahan ini hanya akan menjadi khayalan ku saja." jawab Azka.
"Tidak Azka, aku tidak mungkin mengingkari janji ku. Aku mencintaimu Azka." Hanz mencium bibir wanita yang kini telah menjadi istri nya itu.
"Hanz.." tiba tiba Azka mendorong wajah Hanz.
"Kenapa Azka, apa kau tidak merindukan aku.?" tanya Hanz menatap penuh keheranan.
"Aku.. Apa kau tidak merasa jijik padaku Hanz.?"
"Apa maksud mu Azka..?"
"Aku sendiri bahkan jijik pada diri ku. Pria lain sudah menyentuh tubuh ku.!" ucap Azka menunduk kan wajah nya.
"Azka, kenapa kau bicara seperti itu.?" Hanz mengangkat dagu Azka.
"Dia tidak berhasil menodai mu, sekalipun dia berhasil, itu tidak akan merubah rasa ku. Kau mengerti.?" Hanz langsung mellumatt bibir Azka, dan terus memperdalam ciuman nya.
"Azka, kau sangat berharga bagi ku. Jangan pernah kau bicara seperti itu lagi. Kau melakukan itu untuk melindungi nyawa ku. Azka.. Aku mencintai mu. Aku mencintai mu.." bisik Hanz merebahkan tubuh Azka di ranjang.
Kini ia terus mellumatt bibir Azka ,menyesap manis bibir istri nya itu dan Azka pun membalas nya. Kedua nya semakin memperdalam lummatan nya.
"Hanz..!" Azka menahan tangan Hanz yang berusaha melepas Gaun nya.
"Kenapa Azka,.? Aku sudah menahan nya sangat lama." bisik Hanz dengan nafas yang memburu.
"Tidak Hanz, kau tidak boleh melakukan nya sekarang." jawab Azka.
"Azka, kau tidak menginginkan nya.?"
"Bukan begitu, kau baru sembuh Hanz. Kau tidak bisa melakukan itu sekarang. Kau harus pulih dulu."
"Tidak Azka ,aku baik baik saja. Aku sungguh menginginkan nya."
"Tidak Hanz, aku tidak mau. Aku tidak mau mengambil resiko. Hanz .. ku mohon bersabar lah. Aku tidak ingin terjadi apa apa lagi padamu." ucap Azka membelai wajah suami nya.
"Hanz.. ku mohon. Aku sungguh takut. Setidak nya tunggu Dokter memastikan jika jantung mu benar benar sudah pulih.." ucap Azka mengiba.
"Azka.. Apa kau akan bersabar menunggu sampai Dokter mengatakan itu .?" jawab Hanz.
"Ya, kita harus bersabar. Besok pagi Dokter yang akan datang kemari untuk memeriksa rutin keadaan mu." ucap Azka.
"Bersabar ya Hanz.. ? Aku tidak mau terjadi sesuatu yang bisa mengakibatkan aku harus kehilangan kamu lagi."
"Iya sayang.. maaf kan aku. " jawab Hanz.
Azka memeluk Hanz." Aku mencintai mu Hanz, aku ingin kita terus bersama sama . Menua bersama dan terus bersama menghadapi apapun itu." bisik Azka.
"Aku berjanji Azka. Aku berjanji.!" Jawab Hanz mengecup kening Azka dan merebah kan tubuh nya di sisi Aska.
"Kalau begitu biar kan aku tidur di pelukan mu ." bisik Hanz .
"Aku akan berganti baju dulu." jawab Azka bangun dari dari tidurnya.
"Tidak perlu Azka, tidur lah dengan gaun ini. Aku ingin memandang mu dengan Gaun pilihan ku ini."
Azka hanya bisa mengangguk. Dan meraih tubuh Hanz, mendekap nya dengan sangat dalam.
_________________________________________
"Sekian saja dulu ya Readers ..
__ADS_1
Tetap dukung mereka ya.. dengan like dan vote kalian.. dan Komen kalian yang sangat membuat Author semangat.."