
______
"Hanz, aku tidak menyangka kau akan memberi ku kejutan seperti ini." ucap Azka malam itu di dalam kamar nya selepas dari pesta peresmian Villa Pelangi.
"Nona tidak menyukai nya..?" sahut Hanzero seraya melepas jas nya.
"Aku suka sekali... !!!!" Teriak Azka sambil berjalan mendekati Hanzero.
"Terimakasih sudah menerima ku." ucap Hanz meraih pinggang Azka dan mendekatkan tubuh mereka.
"Hanz,. aku mencintai mu. Kau juga mencintai ku kan..?" ucap Azka menatap mata tajam milik Hanz.
"Tidak Azka , aku tidak mencintai mu." jawab Hanz membuang muka nya.
"Hanz.....!!!!!!!" Azka menjerit membuat Hanz langsung menutup telinganya.
"Kau aneh sekali, kalau aku tidak mencintai mu, tidak mungkin aku melakukan semua ini. Apa kau tau, kalau aku hampir saja di habisi oleh Tuan Ginanjar karena nekad melamar mu di depan nya." sahut Hanz mencengkeram dagu Azka dengan lembut.
"Aku kan hanya ingin memastikan.! "
"Yakkkk....!!! Aku mencintai Azkayra, Aku mencintai mu.!!!!! Mencintai mu Nona..!!!! Ingatlah itu ,seumur hidup mu.." teriak Hanz melangkah dan duduk di tepi ranjang.
"Huuhh... tidak harus seperti itu juga." dengus Azka ,ia tau Hanz kesal padanya, Azka pun melangkah ke kamar mandi.
Hanz tersenyum dan keluar kamar Azka untuk ke kamar nya sendiri.
"Hanz... Kau meninggalkan aku. Ah, aku kan belum mendapat jatah untuk bekal tidur .??" gumam Azka ketika keluar kamar mandi dan melihat Hanz sudah tidak di kamarnya.
Azka akhirnya memilih menyusul Hanz ke kamar nya. Ia pun segera membuka pintu kamar Hanz tanpa mengetuk pintu.
Saat tidak melihat Hanz ,Azka nakal iseng membuka kamar mandi.
Mata nya terbelalak melihat Tubuh Hanz yang sepenuh nya bugil.
"Hanz... !" pekik nya.
"Azka..!" Hanz yang terkejut segera menutup tubuh nya dengan Handuk.
"Hei, tutup pintu nya.!!" bentak Hanz melihat Azka yang bukan nya segera menutup pintu tapi malah melotot menatap tubuhnya.
"Oh.. iya , maaf." Azka segera menutup pintu dan melangkah duduk di ranjang Hanz.
"Tubuh nya indah sekali kalau sedang mandi, aku baru ini melihatnya dengan utuh." Azka tersenyum senyum sendiri , merebahkan tubuh nya di kasur dan berguling guling sambil membayangkan pemandangan yang baru di lihatnya tadi.
"Azka, bukan nya tidur kau malah kesini." tegur Hanz keluar dari kamar mandi dan menghampiri Azka.
"Kau melupakan sesuatu. Aku kesini ingin mengingatkannya." jawab Azka , iseng tangan nya menarik handuk yang melilit tubuh bagian bawah Hanz.
"Azka,..!!" Hanz menahan nya dan segera menghampiri lemari untuk mencari ganti.
"Aku sudah pernah melihatnya, kenapa harus malu..!!" kembali Azka berteriak.
Hanz hanya menggeleng kan kepalanya.
Teruskan saja Azka, jangan salahkan aku jika aku menerkam mu nanti..
"Ini sudah larut Azka, kau harus beristirahat." ucap Hanz setelah memakai piyama dan menghampiri Azka di ranjangnya.
"Iya, aku tau...!"
"Lalu..?? Apa kau mau tidur disini..?"
"Boleh...??"
__ADS_1
"Yaa.. Syarat nya jangan memancing ku." ucap Hanz langsung membanting diri disisi Azka.
"Siapa bilang aku memancing mu, ada nya aku yang terpancing.." jawab Azka lirih.
"Ayo tidur.!" Hanz meraih tubuh Azka hingga terbaring dan menutupi nya dengan selimut.
"Hanz... kau mau membunuh ya..?" jerit Azka di dalam selimut.
Hanz segera membuka selimut itu dan menutup mulut Azka dengan mulut nya. Sesaat menyesap bibir manis kekasih nya itu.
Hanya beberapa saat berlangsung Hanz segera mengakhirinya dan memeluk tubuh Azka.
"Hanz, kita sudah resmi bertunangan. Lalu kapan kau akan menentukan hari pernikahan kita..? " tanya Azka di sela sela kantuk nya Hanz.
"Biar kan aku berunding dulu dengan Ayah mu." jawab Hanz .
"Bagaimana kalau Minggu depan ?" bisik Azka.
"Terserah kau saja Azka, meskipun aku menolak , kau pasti akan mengotot." jawab Hanz.
"Hanz... aku serius.." Azka mencubit hidung Hanz.
"Yakkkkk... aku tau.. sudah . Tidurlah sayang .. besok kita masih banyak urusan." bisik Hanz.
Untung saja , malam itu mereka terlihat saat lelah. Mereka tidak lagi peduli dengan rasa kangen dan gejolak perasaan mereka lagi, terlelap begitu saja sampai pagi hari.
Hari itu di rumah utama, terlihat beberapa Karyawati dan seorang Desainer yang tentunya Desainer ternama di kota itu tampak sedang sibuk mengukur tubuh mungil Azkayra.
Mereka sengaja di sewa Hanzero untuk mendesain baju pengantin untuk Hanz dan Azka, sedang Undangan pun sudah selesai dibuat dan sudah di sebar ke seluruh orang orang yang di anggap penting dan berhak menghadiri pesta pernikahan mereka.
Dan hari pernikahan mereka pun sudah di tentukan tepat satu Minggu lagi, dan tentu nya sudah atas persetujuan Tuan Ginanjar Samudra .
"Ah, baiklah.. Aku menurut saja." jawab Azka tak ingin berdebat.
Hanz terlihat melangkah menghampiri Azka.
"Nona, setelah ini Anda tidak boleh kemana mana, apapun alasan nya. Anda harus tetap di dalam rumah sampai saya kembali dari kantor." ucap Hanz hendak berangkat ke kantor.
"Baik Tuan Hanz, saya akan patuh." sahut Azka dengan senyuman manisnya.
"Kalian boleh pulang setelah menyelesaikan semua ini." ucap Hanz pada Sang Disaenar itu.
"Baik Tuan."
Hanz pun melangkah pergi.
Sementara di tempat lain,
"Kau sudah mengecewakan aku Ginanjar.!" ucap seorang lelaki separuh baya melalui ponselnya.
"Apa maksud mu Glen.?" sahut Ginanjar di sana.
"Apa kau tidak mengetahui tindakan lancang Sekretaris mu yang berani melamar putri mu di depan publik.? Ku pikir kau mengetahui nya." ucap Glen yang ternyata ayah Gavin.
"Aku memang mengetahui nya. Hanzero sudah melamar putri ku langsung pada ku sebelum melamar nya di depan publik." jawab Ginanjar dengan santai.
"Jadi , kau menyetujui mereka..?"
"Aku tidak ada alasan untuk menolaknya. Hanzero pemuda yang baik, bertanggung jawab dan bisa di percaya. Sementara putri ku sendiri juga mencintai nya. Lalu apa masalah mu Glen.?"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan putra ku, kau tau bagaimana putra ku menyukai Putri mu.?"
"Itu semua salah putra mu sendiri. Selama ini aku sudah menunggunya, tapi dia sama sekali tidak pernah mengutarakan padaku tentang keseriusannya dengan Putri ku. Bahkan aku tidak melihat usaha nya untuk meningkat kan hubungan nya dengan putri ku . Jadi kau jangan menyalahkan kami. Mulai sekarang katakan pada putra mu , jangan mengganggu putri ku lagi..!!! Kau mengerti.?" Ginanjar segera mematikan panggilan secara sepihak.
"Brengsek.. kau masih saja angkuh Ginanjar..!!" pekik Glen.
"Ayah.. apa yang di kata kan Tuan Ginanjar.?" tanya Gavin yang tidak mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
"Semua ini salah mu bodoh, dasar anak tidak berguna. Kau sudah menyia nyia kan kesempatan yang selama ini aku tunggu. Kau sudah menghancurkan harapan ku untuk bisa menguasai Kekayaan Keluarga Samudra. Bisa bisa nya kau kalah hanya dengan sekretaris rendahan itu. Dasar tidak berguna..!!" umpat Glen.
"Ayah.. semua karena sekretaris sialan itu, dia yang selalu menghalangi ku untuk mendekati Azkayra, dan ia selalu berusaha untuk menjauhkan Azkayra dari ku." bantah Gavin.
"Karena kau tidak berguna. Kau hanya bisa bermain perempuan dan menghabiskan uang perusahaan. Sekarang aku tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu mu. Mereka sudah mendapatkan restu dari Ginanjar sendiri.. Kau terlalu lelet..!!" bentak Glen.
"Ayah.. kita harus menggagalkan pernikahan mereka. Masih ada waktu Ayah." ucap Gavin.
Glen hanya melirik,
"Aku sudah melakukan segala cara untuk menghancurkan Ginanjar, tapi dia terlalu kuat. Ku pikir setelah dia hengkang dari perusahaan nya, aku akan bisa mengalah kan perusahaan Samudra. Tapi putri ingusan nya itu dan Hanzero ternyata lebih hebat dari Ginanjar. Perusahaan ku selalu kalah bersaing dengan perusahaan nya." gumam Glen.
"Jika saja waktu itu, Amila istrinya tidak melintas didepan nya, saat aku hendak memecahkan kepalanya,Mungkin Nama Ginanjar saat ini hanya tinggal kenangan." desis Glen.
"Apa..?? Jadi Ayah lah pembunuh Ibu nya Azkayra .?" Gavin tercengang.
"Sudah lah, Kau tau apa hah..!!!!"
"Ayah.. kita gagal kan rencana mereka." usul Gavin.
"Terserah, aku tidak mau lagi peduli dengan mu anak bodoh ." jawab Glen, berlalu meninggalkan Gavin yang masih tercengang.
"Aku akan buktikan padamu Ayah, kalau aku tidak sebodoh yang kau tuduhkan. Jangan panggil aku Gavin, jika aku tidak bisa menghancurkan Hanzero.!!" desis Gavin, ia pun melangkah meninggalkan rumah dengan mobilnya.
.
Terlihat Gavin melangkah memasuki Caffe dan tampak sedang berbicara serius dengan seseorang.
"Awasi gerak gerik Hanzero dan Nona Azkayra, segera laporkan padaku jika ada kesempatan walau sedikit pun itu." ucap Gavin melempar sebuah amplop coklat yang terlihat tebal.
"Kau tidak perlu khawatir Tuan,." sahut seseorang itu tersenyum setelah membuka amplop tersebut.
"Oke.. ! Aku tunggu dan aku tidak mau terlambat.!!" ucap Gavin.
"Baiklah Tuan , jika kesempatan itu tidak ada ,maka aku yang akan mencari celah nya."
Gavin hanya menyeringai dan berlalu meninggalkan seseorang itu untuk kembali ke mobil nya.
Bersenang senang lah dulu kau Hanzero..
Tunggu kehancuran mu...
______________________
****Hai..readers, jangan bosen untuk pantengin terus kisah mereka ya**** ...??
"*Dan buat para teman teman yang gabung di Grub Chat mohon maaf karena author jarang membukanya.
Jika kalian mau bersapa ria dengan author mending Chat WA aja, biar author bisa langsung membalas nya...
wa, 081286872951.
dengan syarat, sertakan dulu nama pena di profil NT kalian...
Sambil menunggu kehadiran Azkayra dan Hanzero.. kepoin karya baru Author yang berjudul* legenda Dewi api. kisah fantasi ketimuran, siapa tau kalian tertarik...
__ADS_1
Terimakasih...