"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Pertengkaran yang tidak berguna.


__ADS_3

Hanzero masih terus meminta maaf pada istri nya yang malah semakin sewot padanya.


Tiap kali Hanz ingin memeluk nya, Azkayra terus menolaknya. Sampai Hanz kini kehabisan cara untuk menenangkan hati Azka.


"Azka, aku sungguh minta maaf." rengek Hanz merebahkan kepalanya di pangkuan Azka.


"Tolong maafkan aku." Hanz terus memohon.


Azka tidak menjawab,


"Azka,.. baik lah, kau boleh memasak sesuka hatimu. Kau boleh belanja dan bersenang senang dengan para pelayan mu. Tapi maafkan aku..!!" Hanz mengiba.


"Kau pasti bohong, kau hanya sedang merayu ku. Pergi sana, aku tidak mau mendengar mulut manis mu. Besok kau akan marah kembali jika aku menyentuh sayuran." ucap Azka.


"Sungguh Azka, aku janji tidak akan marah lagi. Kau boleh menyentuh sayuran, daging atau Pisau , golok sekalipun. Asal kau berhenti mendiamkan aku.." kembali Hanz merengek sambil mendongak menatap wajah istri nya yang tertekuk itu.


"Bohong..!!"


"Tidak Azka.!!"


Hanz langsung meraih tubuh Azka untuk mendekap nya.


"Tidak mau...!! Lepas... Aku akan menamparmu Hanz..!!" teriak Azka kembali berontak.


"Lakukan saja kalau kau bisa." sahut Hanz memeluk erat tubuh istrinya dan tidak membiarkan nya untuk berontak.


"Aku merindukan mu Azka, sebab itu aku cepat pulang. Tapi kau malah mengajak ku bertengkar." ucap Hanz.


"Siapa yang mengajak mu bertengkar, kau yang membuat ku kesal." bantah Azka.


"Iya, sudah lah. Aku kan sudah meminta maaf. Maafkan aku...!"


"Kau pasti akan mengingkari janji mu." ucap Azka.


"Tidak Azka, tidak..!! Asal kau berjanji untuk tidak capek."


"Benar..?" Azka kini tidak berontak lagi.


"Em...!" Hanz mengangguk.


"Awas kau bohong."


"Tidak akan. " sahut Hanz langsung menyambar bibir istri nya.


Terus mengecap liar di sana.


"Hanz... kau bau keringat." Azka segera mendorong kuat tubuh Hanz.


"Masa sih.!!" Hanz menciumi baju nya dan tersenyum.


"Aku mandi dulu sebentar kalau begitu, tunggu ya. ? Kau jangan kemana mana." Hanz beranjak dan segera pergi ke kamar mandi.


Azka menghela nafas, ia tersenyum menatap pintu kamar mandi yang telah di tutup Hanz itu.


"Ternyata kau lucu juga Hanz, kalau panik. Untung saja aku masih baik hati. Jika tidak, kau akan panik sampai besok." bisik Azka merasa menang sudah bisa menaklukan kemarahan Hanz .


Tak lama Hanz sudah kembali keluar dari kamar mandi, sementara Azka sudah selesai menyiapkan ganti untuk Hanz.


Hanz tersenyum menerima baju dari tangan istri nya, dan segera memakai nya.


Tak lupa Azka menyisir rambut Hanz, yang terus menatap nya itu.


"Azka, aku mencintaimu." ucap Hanz .


"Diam..!!" jawab Azka ketus , sambil terus menyisir rambut Hanz sampai selesai dan segera melempar sisir itu ke atas meja.


"Kau masih marah..?" tanya Hanz sedikit terkejut.


"Masih lah," jawab Azka sewot.


"Ya Tuhan Azka..., ku pikir kau sudah memaafkan aku.?"

__ADS_1


"Tidak semudah itu." jawab Azka.


Mendengar itu Hanz langsung meraih tubuh Azka dan menggendong nya, berputar putar di tepi ranjang.


"Hanz... berhenti... Turun kan aku.!!! " Azka menjerit jerit.


"Baik lah." Hanz mendaratkan tubuh Azka di atas kasur dan segera menimpah nya. Lalu segera menghujani ciuman di wajah Azka.


Berhenti di bibir mungilnya dan mengecap dalam di sana.


Azka merintih ketika Hanz menggigit kecil bibirnya, membuat Hanz melepaskan pagutan nya dan menatap mata indah milik istrinya itu.


Beberapa saat mereka saling menatap dan akhirnya kembali melanjutkan ciumn bibir mereka.


Kedua nya kini sudah saling mendesah dan saling melepas kan pakaian masing masing.


Hanz terus menikmati setiap lekukan indah tubuh Azka, setelah puas dengan tubuh istrinya, Hanz kembali menatap wajah Azka yang sudah menatap nya sayu.


"Emm..!!!" suara desahan Azka yang sangat menyentuh hati Hanz, seraya memejamkan matanya itu ketika merasakan Junior Hanz yang telah terbenam di area sensitif nya.


Hanz sampai mencengkeram sisi ranjang merasakan kenikmatan di dalam tubuh istri nya.


Semakin ia bergerak, rasa itu semakin meningkat. Hanz terus mengorek ngorek kenikmatan di surga dunianya itu dengan sesekali membungkam mulut Azka dengan bibir nya, mulut yang terus mendesah itu membuat Hanz semakin menggila di atas tubuh Azka.


Sampai kedua nya mengerang melepas cairan kenikmatan mereka dengan bersamaan.


"Hanz,.." bisik Azka dengan nafas yang tak beraturan.


"Aku mencintai mu Azka.." Hanz mengusap wajah istri nya dan belum juga melepaskan tubuh nya, malah terus memandangi wajah istrinya , sampai Azka mendorong nya baru Hanz melepaskan tubuhnya dan berbaring di sisi Azka.


"Terimakasih." bisik Hanz.


"Sama sama Hanz.." jawab Azka mencium pipi Hanz.


"Nikmat sekali Azka. Apa kau juga merasakan nya.?" kembali Hanz berbisik seraya memeluk tubuh Azka.


"Em.." Azka mengangguk.


"Yang benar saja Hanz, aku capek, !! Belum ada lima menit." teriak Azka memukul dada Hanz.


"Aku bercanda Azka..!!!" Hanz tertawa melihat wajah Frustrasi istrinya.


"Mandi lah, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita." ucap Hanz beranjak duduk dan membelai wajah istri nya yang kembali tertekuk.


Namun Hanz sendiri malah memasuki kamar mandi tersebut untuk mandi kembali. Hanya beberapa saat saja Hanz sudah keluar kembali dan segera menyuruh Azka untuk beranjak.


Hanz lalu keluar kamar nya untuk memanggil pelayan. Tak lama kemudian sang pelayan yang sudah di perintah Hanz pun segera menyiapkan makan malam untuk mereka di kamar.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Setelah makan malam mereka selesai , kedua nya pun mulai bersantai sejenak dengan obrolan ringan.


"Hanz, dimana kaset DVD waktu itu.? Aku ingin menonton nya." tiba tiba Azka mempertanyakan kaset itu.


"Ada, tapi tertinggal di kantor Azka, tadi aku sempat memutarnya di sana dan lupa membawanya pulang." sahut Hanz.


"Huh, padahal aku ingin sekali menonton nya." gumam Azka.


"Itu tidak penting Azka, isi nya sangat mengerikan. Kau tidak akan menyukainya."


"Tapi itu kan berisi video orang hamil dan melahirkan. Dan aku harus mengetahui nya agar aku bisa bersiap menghadapi masa kehamilan ku nanti." jawab Azka.


"Azka," Hanz tiba tiba memeluk istri nya.


"Bagaimana jika, kau tidak usah hamil. Kita tidak perlu mempunyai anak.." ucap Hanz membuat Azka begitu terkejut dan sontak melepaskan pelukan suami nya.


"Hanz, kau bicara apa.? Bukan nya kau yang sangat menginginkan kehamilan ku.?" Azka menatap heran Hanz.


"Tapi setelah melihat betapa payah nya wanita hamil dan melahirkan ,aku jadi berpikir lagi Azka, aku tidak tega melihat mu harus mengalami nya. Apa kau kuat.?" ucap Hanz.


"Kau meragukan aku Hanz.?" tanya Azka menatap suami nya.

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi ... aku sungguh tidak sanggup melihat mu harus menderita. Azka, kita bisa mendapatkan anak dengan cara lain." Hanz mengusulkan.


"Cara lain bagaimana.? Kau tidak menginginkan aku hamil .? Mau menikah lagi agar mendapatkan Anak dari perempuan lain..?" Azka terlihat naik pitam.


"Azka, kau bicara apa.? Itu tidak mungkin.?"


"Lalu..?"


"Kita bisa mengadopsi Azka, Aku sungguh mengkhawatirkan mu jika kau hamil dan melahirkan. Itu sungguh payah." ucap Hanz dengan kekeh .


"Kau jangan keterlaluan Hanz, semua wanita memimpikan hal itu, mengandung dan melahirkan adalah keinginan semua wanita agar hidup nya sempurna. Tapi kenapa kau malah ingin menghancurkan impian ku .?" Azka kini menangis.


"Azka, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya takut kau menderita. Azka, aku sangat menyayangi mu, aku tidak mau kau mengalami sakit. Ku harap kau mengerti."


Hanz mulai panik melihat istri nya kembali menangis.


"Tidak Hanz, kalau kau melarang ku untuk hamil, lebih baik aku mati saja." Azka tiba tiba berlari meninggalkan Hanz dan membanting tubuhnya di ranjang.


"Azka,.!!" Hanz merasa menyesal telah membuat Azka marah kembali dan menangis lagi. Ia menghampiri Azka di ranjang, duduk di samping nya dan meraih tangan nya.


"Azka,..!"


"Hanz, kau benar benar jahat. Kau sungguh keterlaluan pada hidup ku. Aku akan membenci mu Hanz, pergi...!!! Aku tidak mau melihat mu. Pergi .!!" Azka menendang nendang Hanz yang masih saja duduk di samping nya dan hanya bisa berusaha menahan tendangan kaki istrinya.


"Pergi Hanz, aku mau mati saja..!!! Tidak ada guna nya aku hidup jika aku tidak di perbolehkan untuk mengandung...!!" teriak Azka.


"Azka.. Maafkan aku." Hanz langsung memeluk tubuh Azka dengan erat.


"Tolong jangan bicara seperti itu, aku melakukan ini karena aku sangat menyayangi mu." ucap Hanz.


"Kau bukan menyayangi ku Hanz, kau hanya bermaksud untuk menjadikan aku pajangan hidup penghuni kamar. Wanita tidak berguna dan wanita bodoh yang selalu terkekang ." Aku benci kamu hanz.. Aku benci...!!!" Azka terus menjerit.


"Tidak Azka, tidak. Kau salah. Kau begitu berharga bagi ku, hingga aku takut melihat mu menderita. Aku takut kehilangan kamu Azka. Aku sungguh ingin melindungi mu dari rasa sakit apapun itu." bantah Hanz.


"Tapi kau menyakiti hati ku Hanz, kau melukai ku dengan permintaan konyol mu itu.?"


"Iya Azka, iya. Aku mengijinkan mu hamil. Berhenti mengatakan aku menyakitimu. Maafkan aku... Maaf." kini Hanz benar benar menyesal. Ia sadar Jika keinginan nya mungkin memang sudah di luar batas dan itu sangat melukai perasaan Azka.


"Berhenti sayang.. Berhenti, jangan menangis lagi ya..? Maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi ." Hanz mengusap ngusap punggung istri nya yang masih saja terisak.


"Kenapa kau tiba tiba bicara seperti itu Hanz.. Aku tidak habis pikir dengan mu. Seharusnya kau menguatkan aku, mendukung ku.. hu.. hu...hu.." Azka masih melanjutkan tangisnya.


"Iya Azka ku.. ! Maafkan aku. Lupakan ucapan ku tadi ya..? Sudah sudah. Aku sungguh minta maaf." Hanz terus merayu Azka.


"Diam lah, besok malam aku akan mengajak mu jalan jalan." rayu Hanz.


"Kalau kau mengulangi permintaan mu yang konyol itu aku akan benar benar mati Hanz." celoteh Azka.


"Azka, berhentilah bicara seperti itu, itu menyakiti ku. Aku sudah berjanji tidak akan mengulangi nya lagi." pinta Hanz terus menepuk lembut punggung istrinya.


Azka masih sedikit terisak, mengangkat wajahnya untuk menatap Hanz.


Hanz begitu menyesali ucapan nya, ia mengusap sisa air mata Azka dan mengecup lembut bibir istri nya.


"Jangan sedih lagi, Aku tidak mau kau sedih."


"Kau akan mengajak ku jalan jalan besok malam.?" tanya Azka mengingat kan Hanz dengan janji nya tadi.


Hanz mengangguk.


"Jangan menangis lagi, tersenyum lah Azka..!" Hanz menarik kedua pipi istri nya yang menggemaskan itu.


Azka kini tersenyum walau hanya sedikit, dan itu sudah membuat hati Hanz lega.


Aku akan mengalah Azka, aku akan siap melihat mu hamil dan melahirkan, walau itu sangat berat untuk ku.! batin Hanz.


Sungguh pertengkaran yang tidak berguna.


Pikir Azka.


Bersambung...!

__ADS_1


__ADS_2