
Hanzero telah memasuki halaman luas milik Mansion mewah keluarga Samudra.
Ia segera meloncat dari mobil sesaat setelah menghentikan mobilnya. Langkahnya terlihat cepat memasuki Mansion. Di pikiran nya saat ini hanyalah Nona nya Azkayra yang tengah sakit.
Langkahnya dengan cepat menaiki tangga dan menuju kamar Azkayra. Tak lama Hanz sampai di depan kamar Azka dan langsung membuka pintu kamar memang tak pernah dikunci itu.
Hanz melangkah masuk, langkah nya terhenti mendadak dan matanya terbelalak , Azka keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk tipis di badan nya.
Rambutnya tergulung ke atas menampakkan leher jenjang dan dada nya yang putih mulus, belum lagi kulit pahanya yang mulus, pemandangan yang sama sekali belum pernah Hanz lihat seumur hidupnya.
"Hanz.. Kau sudah pulang!!!. " Azka sedikit memekik ia juga nampak terkejut relfek menutup dada bagian atas nya dengan kedua tangannya.
Hanz langsung membalik kan badan nya tanpa suara ia melangkah keluar dan menutup pintu.
Hanz membuang nafas dengan kasar.
"Huuufff..!!" ia menyandarkan punggung dan kepalanya di pintu.
bagaimana aku bisa menjaga Nona dengan baik, jika keimanan ku harus terus di uji.
Tak begitu lama terdengar suara Azka dari dalam.
"Masuk lah Hanz, aku sudah selesai.!!" teriak Azka. Dengan ragu Hanz kembali membuka pintu dan melangkah masuk.
Hanz menghampiri Azka dengan wajah yang masih terlihat tegang.
"Kau mengaget kan ku Hanz. " ucap Azka sudah berpakaian rapi sembari menyisir rambut nya,tapi matanya tetap melirik pria itu.
"Lain kali jika Nona sedang mandi kunci dulu pintunya, Tubuh Nona tidak boleh di lihat oleh siapa pun." sahut Hanzero.
"Kenapa kau menyalahkan ku, seharusnya siapa pun yang akan masuk ketuk pintu dulu. Kau yang slonong boy, tapi menyalahkan aku. " jawab Azka memasang muka cemberut.
"Maaf Nona, saya salah. Saya terlalu khawatir dengan keadaan nona. " Hanz menyadari kesalahan nya.
Azka tidak menyahut,
"Nona, bagaimana keadaan Anda , apa sudah mendingan.?" tanya Hanz, yang hanya di jawab anggukan oleh Azka.
"Syukur lah. Kalau begitu saya permisi dulu Nona. " Hanz membalik kan badan dan melangkah.
Brukkkkk...!!!!
Azka melempar punggung Hanz dengan bantal nya.
"Nona.!! " Hanz menoleh dan meraih bantal yang telah jatuh di lantai.
"Aku menunggumu dari tadi, tapi kau datang hanya untuk pergi lagi..!!" ucap Azka dengan nada kesal.
"Maaf Nona.." Hanz kembali menghampiri Azka.
"Pergi lah, urusan mu di luar lebih penting kan..? " ucap Azka lagi, seperti nya ia sangat kesal dengan Hanz.
Hanz hanya terdiam tidak berani menjawab lagi, ia kini duduk di sebelah Azka.
"Maaf. " Hanz meraba jari jemari tangan kanan Azka yang menggengam sprai. Dan tangan kanan nya menarik dagu Azka agar menoleh padanya.
"Cantik Nona berkurang jika cemberut. " Hanz mencoba menggoda Azka, walau harus mengumpulkan keberanian.
"Kau membuat ku kesal, kau berjanji akan menemani ku sepulang dari kantor.! " cetus Azka menatap tajam kearah Hanz.
"Saya kira Nona masih ingin istirahat, Saya takut mengganggu Nona." suara Hanz sedikit lirih, ia menatap mata indah Azka dengan lembut. Dan perlahan menarik wajah Azka. Mata mereka mulai kembali saling menyelami.
Sebenarnya Hanz sudah berusaha untuk menahan nalurinya, tapi getaran demi getaran dari dalam tubuh Hanz terus memaksa nya. Tiap kali tatapan nya beradu dengan Nona nya selalu naluri nya yang memenangkan dirinya.
Bibir Hanz mulai terbuka dan dengan sendirinya mengecup bibir mungil Azka.Kembali kedua laju darah kedua insan itu berdesir cepat saat bibir mereka bertemu dan perlahan mulai saling melu,, mat.
Tok.. tokk.. tookk..!!!
Suara ketukan pintu membuyarkan kenikmatan yang baru saja menyebar keseluruh aliran darah mereka, segera menarik wajah masing masing dan berusaha mengatur nafas.
"Nona.. Boleh saya masuk..!! " suara Berlinda di balik pintu.
__ADS_1
"Ya.. masuk saja. " sahut Azka, tersenyum kearah Hanz yang juga tersenyum sambil mengacak rambutnya.
Berlinda membuka pintu dan melangkah masuk.
"Maaf Nona, saya sudah mengganggu, saya tidak tau jika Tuan Hanz sudah pulang. Saya kira Nona sendirian. " nampak Berlinda menyesal sudah mengganggu mereka.
"Tidak apa Berlinda. Ada apa.? " jawab Azka dengan tersenyum.
"Saya hanya ingin menemani Nona, tapi baiklah, sudah ada Tuan Hanz jadi saya permisi saja. Masih banyak pekerjaan saya yang belum selesai." selesai berkata Berlinda langsung kembali keluar dari kamar Azka tanpa menunggu jawaban Azka.
Ia sempat melirik tangan Hanz yang masih menggengam tangan Nona nya. Tak lupa ia menutup pintu kamar Nona nya kembali.
Ya Tuhan... aku benar benar tidak tau jika ada Tuan Hanz. Aku pasti sudah mengganggu mereka, aahhhhh.. jangan jangan Tuan Hanz akan memecat ku setelah ini.
Berlinda terlihat khawatir.
Sedang di kamar Azka malah cekikikan. Ia merasa lucu sekali, ketika sedang berciuman dengan Hanz malah terganggu oleh kedatangan Berlinda.
"Kenapa Nona tertawa.? " tanya Hanz, sebenarnya ia tau kenapa Nona nya tertawa.
Azka hanya menggeleng. Hanz tiba tiba memeluk tubuh Azka dan mencium pucuk kepalanya.
"Nona sembuh ya.. Nanti jika Nona sembuh, kita jalan jalan lagi. " bisik Hanz mengeratkan pelukan nya.
"Kau mau mengajak ku main hujan lagi..,?" tanya Azka melingkarkan tangan nya di pinggang Pria itu.
"Tidak akan lagi Nona. Kita akan pergi jika cuaca benar benar dalam kondisi baik." balas Hanz masih memeluk Nonanya.
"Hanz.. kita menengok Ayah saja ya.? "
"Tuan baru saja pulang ke kampung, masa iya Nona sudah akan menengok nya. " jawab Hanz.
"Kalau begitu ajak aku ke kampung halaman mu saja.Aku ingin mengenal keluarga mu. " ucap Azka membuat Hanz tercengang.
Ia kini melepaskan pelukannya dan menatap serius wajah Azka.
Hanz teringat ucapan Paman nya, jika ia harus datang kembali dengan membawa calon istrinya.
"Kita akan pergi kesana setelah penyelesaian pembangunan Villa Pelangi Nona. Nona bersedia untuk bersabar kan..? " jawab Hanz mencoba mencari alasan.
"Ya.. tapi kau janji kan.? "
Hanz mengangguk kembali.
"Tadi bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan Gavin.?" tanya Azka.
"Ya.. " Hanz mengangguk.
"Kalian sudah membahas tentang penyelesaian Villa itu.? "
"Belum Nona."
"Kalian sudah bertemu tapi belum membahasnya..kenapa.? Ada masalah.?. "tanya Azka merasa ada yang terjadi.
"Sepertinya saya ingin mengakhiri kerja sama kita dengan Tuan Gavin." jawab Hanz mengejutkan Azka.
"Hanz.. ada apa? Kenapa tiba tiba kau berpikiran seperti itu, bukan nya dulu kamu bersemangat sekali untuk bekerja sama dengan nya.? " Azka semakin penasaran.
"Nona.. " Hanz menatap kembali mata Azka.
"Apa Nona menyukai Tuan Gavin.?" Hanz bertanya dengan tatapan mata yang serius.
"Ya.. aku menyukai nya, dan mungkin aku sudah jatuh cinta padanya." jawaban Azka berhasil menyengat hati Hanz.
"Nona.. saya sedang tidak bercanda.!!" Hanz mengguncang bahu Azka, seperti ingin marah.
"Kenapa..? Bukan nya kau senang jika aku bisa menerima nya..?" Azka sengaja memancing Hanz.
"Itu dulu, karna saya belum tau yang sesungguh nya Tuan Gavin itu seperti apa. tapi tidak sekarang.Saat saya tau Tuan Gavin Pria seperti apa. " jawab Hanz masih dengan tatapan seriusnya.
"Memang sekarang kau tau dia seperti apa..? "
__ADS_1
"Jawab dulu pertanyaan saya Nona..? "
"Hemmm.. Bagaimana ya..? "
"Nona, Tuan Gavin itu Pria brengsek... Sebelum Nona benar benar jatuh cinta padanya sebaik nya Nona mempertimbangkan nya dulu." ucap Hanz dengan nada cemas.
"Dari mana kau tau dia brengsek.? " Azka terus menggali.
"Tadi saya sengaja menemuinya ke kantornya, saya memergoki nya sedang bersama wanita di kantornya. " Hanz mencoba jujur.
"Siapa tau wanita itu teman nya Hanz, atau sekretarisnya mungkin.? "
"Nona.. Wanita itu posisinya telanjang bulat dan Tuan Gavin juga hanya mengenakan Boxer, meskipun itu teman atau sekretarisnya, apa yang mereka sedang lakukan dengan keadaan seperti itu.? " Hanz terus mencoba menjelaskan.
"Apa Hanz.. kau melihat tubuh wanita itu..?" Azka terlihat kecewa.
"Ya.. ooh tidak, tidak Nona, saya langsung membalik kan badan. " Hanz segeta sadar jika ia sedang menggali kuburannya sendiri.
"Kau pasti mengintip nya kan..? "
Ya Tuhan... kenapa jadi salah begini sih.
Hanz tampak kebingunan melihat Azka yang terus cemberut.
"Tidak Nona tidak..!!" Hanz mencoba meyakin kan Azka yang terlihat marah.
"Alah...!!" Azka membuang mukanya.
"Nona. Saya sedang membahas Tuan Gavin yang brengsek itu, kenapa Nona Malah marah kepada saya." ucap Hanz, tak lagi punya cara untuk menghentikan Azka yang marah.
"Aku sudah tau, kalau dia itu Pria tidak benar. Pria Brengsek. "
"Nona sudah tau..? "
"Jelas lah.. lihat saja, dia selalu merayuku, sering mencoba untuk menyentuh ku. Apa itu namanya kalau bukan pria brengsek.Makanya aku membencinya. " jawab Azka.
Saya juga sering menyentuh Nona, bahkan lebih dari itu, berarti nona juga akan mengangap saya Pria brengsek.?
"Kau tenang saja Hanz, meskipun Gavin itu Priabaik, bagiku Kau adalah yang terbaik, tidak akan tergantikan oleh siapapun. " ucap Azka menatap Hanz.
"Nona.. Apa Nona mencintai Saya." tanya Hanz kini menggengam tangan Azka.
"Apa Hanz, kau lucu sekali..Memang selama ini apa yang kau rasakan..? "
"Nona saya bertanya serius."
"Apa menurutmu aku ini wanita murahan, yang mau disentuh dan cium sembarangan Pria. Begitu.?? Apa kau pernah melihat ku bersama Pria lain selain kamu..? "
"Bukan begitu Nona.. Saya... "
"Apa Hanz..?? Seharusnya aku yang bertanya apa kau mencintai ku..? " Suara Azka mulai meninggi.
Hanz terdiam dengan semua ucapan Azka.
"Kau tidak bisa menjawab nya kan..? kenapa.. karna kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya tergoda dengan ku. Kau sama saja Hanz, Brengsek." Azka menangis.
"Nona, dengarkan saya dulu."
"Tidak perlu menjelaskan nya Hanz, aku sudah tau." Azka beranjak dari duduk nya dan menjauh.
Hanz kini merasa tersudut.
Ia segera mendekati Azka dan memeluk Azka dari belakang.
"Tolong dengar kan saya Nona..!!! "
________________
sekian dulu ya.. besok disambung lagi, tinggalin jejak kalian ya.. jangan lupa.
Azkayra
__ADS_1