
Hanzero masih menatap lekat wajah yang masih terlelap itu menggeser kepalanya dengan pelan dan menarik lembut tangan nya serta meletakan nya kembali kepala istri nya itu di bantal.
"Sudah siang rupanya." gumam nya melirik jam , lalu beranjak bangun.
Dengan duduk di tepi ranjang nya, Pria itu masih tak berkedip memperhatikan wanita yang semalam ia nikmati berkali kali setiap inci tubuh nya itu.
Tangannya menyentuh lembut bibir itu,
"Aku sangat bangga Azka, sekian banyak pria yang menggilai mu, kau memilih aku. Kau menerima aku yang tidak sepadan ini dengan mu. Aku merasa sangat beruntung sekali bisa memiliki mu seutuh nya. Aku berjanji akan menjagamu sampai pada batas nyawa ku terlepas dari raga ini." ucap Hanz.
Kini ia bangun dan bergegas ke kamar mandi.
Melihat wajah nya di cermin, dan menepuk pipinya.
"Hanzero, kau sangat beruntung sekali." bisik nya , tersenyum dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air.
Tak lama ia sudah keluar dari kamar mandi, segera memakai baju dan kembali mendekati istri nya yang belum juga bangun.
"Azka, " bisik Hanz di telinga Azka.
Azka menggeliat merentangkan kedua tangan nya, hingga tak sadar selimut yang menutupi tubuhnya sedikit menurun memperlihatkan dada nya yang mulus dan sebelah pahanya, sungguh terlihat seksi sekali bagi Hanz.
"Ah, jam berapa ini.?" Azka yang tersadar segera menarik kembali selimut nya.
Hanz tersenyum melihat istri nya yang tersipu itu.
"Sudah siang, bangun lah. Apa kau tidak lapar.?" ucap Hanz.
"Em, lapar Hanz. Lapar sekali." jawab Azka masih juga belum beranjak.
"Kalau begitu mandi lah, aku akan mencari makanan untuk kita." ucap Hanz.
"Em," Azka menjawab namun masih enggan untuk menggerakkan tubuh nya.
"Azka, Ayo lah. Atau aku akan mengulangi nya lagi." Hanz menyingkap selimut Azka.
"Aahhh.. Baik baik." Azka menahan selimut nya.
"Aku lelah Hanz, kau tidak merasakannya." rengek Azka sembari bangun dan duduk di samping Hanz masih dengan selimut nya.
"Maaf Azka, aku sudah menyiksa mu semalaman." ucap Hanz mengecup kening istrinya.
"Kau terus mengulangi nya Hanz, mentang mentang sudah resmi. Lihat lah , kaki ku sampai lemas." jawab Azka. Memang benar Hanz menyerang Azka lebih dari dua kali semalam.
"Maaf, tapi aku masih sangat rindu pada mu Azka, benar saja. Sekarang pun aku masih menginginkan nya." ucap Hanz merengkuh tubuh Azka.
"Hanz,.! Kau mau membunuh ku ya, setidak nya beri aku makan dulu agar ada tenaga lagi.!!" bentak Azka mendorong tubuh suaminya.
"Tidak Sayang.. aku hanya bercanda. Mandi lah, aku akan turun mencari makan ." ucap Hanz melangkah.
"Jangan sampai aku kembali nanti kau belum juga belum mandi ya, jika begitu Aku akan kembali menyiksa mu lagi." pesan Hanz sebelum membuka pintu.
Azka hanya mendengus , dengan malas nya ia melangkah juga ke kamar mandi.
Lama Azka di dalam kamar mandi bergelut dengan air hangat yang sudah di siap kan Hanz untuk nya. Sesekali ia tersenyum mengingat pergulatan nya dengan Hanz semalam.
"Bukan hanya tampan, ternyata Hanz juga jago membuat ku lemas begini." bisik Azka kembali tersenyum.
__ADS_1
Sedang Hanz sudah kembali ke kamar dengan membawa banyak makanan di tangan nya. Melihat Azka masih belum juga keluar dari kamar mandi Hanz menghela nafas.
"Azka, kenapa lama sekali. Apa kau ketiduran .?" Hanz mengetuk kamar mandi.
"Iya , sebentar lagi.!!" teriak yang di dalam.
Hanz hanya bisa menghela nafas. Ia lalu meletakkan makanan itu di meja dan dengan sabar duduk di sofa menunggu Azka.
Tak lama terdengar Azka membuka pintu kamar mandi, setelah beberapa saat Azka menghampiri Hanz sudah dengan pakaian yang rapi, dan rambut terurai tampak masih terlihat basah.
"Hanz,.. " Azka menyapa suaminya dan duduk di sebelah nya.
"Mandi apa berendam.?" sindir Hanz.
"Mandi lah Hanz, aku kan harus mandi sebersih bersihnya agar Fresh." jawab Azka menaruh kepalanya di bahu Hanz.
"Kau seperti tidak tau wanita itu seperti apa. Wanita itu kalau mandi memang lama, karena banyak yang harus di lakukan.Memakai sampo, kondisioner , belum lulur nya, memang nya kau kalau mandi hanya lima menit. Itu nama nya mandi bebek." ucap Azka.
"Ya, memang kau selalu menang dalam segala hal Azka." jawab Hanz, merengkuh pinggang Azka.
"Tidak juga,. buktinya semalam aku kalah." ucap Azka.
"Kalau masalah itu, aku memang harus menang Azka, jika aku kalah di mana harga diri ku sebagai suami terhebat mu." jawab Hanz langsung menyambar dan mellumatt bibir Azka.
"Azka , aku menginginkan nya lagi." bisik Hanz.
"Hanz, kenapa kau sekarang agresif sekali sih.? Dulu saja kau suka menolak ku jika aku merayu mu." Azka menarik tubuh nya.
"Beda lah Nona, dulu aku selalu ketakutan jika kau agresif . Takut khilaf. Kalau sekarang tidak ada yang aku takutkan lagi." Hanz kembali menarik tubuh istrinya.
"Itu bukan pekerjaan berat Azka, hanya melelah kan saja. Aku juga harus mengingat pesan ayah mertua Ku. Dan aku harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan nya." jawab Hanz dengan antusias.
Azka kini tertunduk.
"Kalau aku tidak hamil hamil bagaimana Hanz.?" Azka sedikit gelisah.
"Kita akan ikut program hamil. Kau mau kan.? Kasian Ayah mu, dia ingin segera melihat cucu nya lahir."
Azka mengangguk.
"Kita juga harus rajin berusaha Azka, bila perlu setiap malam." ucap Hanz tersenyum genit.
"Kalau itu memang mau mu sendiri Hanz. Bukan karena Ayah." Azka melengos.
"Karena kau sangat cantik Azka, aku selalu tergoda jika menyentuh mu. Apa kau tau ,bagaimana dulu aku harus tersiksa menahan nya saat kau begitu agresif padaku. Aku ingin sekali menerkam mu pada saat itu. Tapi aku harus bisa bertahan. Kadang kadang kepala ku sampai pusing kau buat." ucap Hanz.
"Benar kah?"
"Ya, benar sekali. Dulu kau sangat menyiksaku, dan sekarang lihat lah, aku akan membalas mu. Aku yang akan menyiksa mu setiap malam. Bila perlu setiap ada kesempatan." ucap Hanz kembali menyambar bibir Azka.
"Hanz.. Hentikan. Aku lapar..!!!" Azka memukul lengan Hanz.
"Ya Tuhan.. Maaf Azka, aku sampai lupa kalau istri ku kelaparan. Baiklah , ayo kita makan dulu." Hanz segera melepaskan Azka dan meraih makanan di atas meja itu.
Mereka akhirnya menyantap makanan itu, Antara sarapan pagi dan makan siang.
__ADS_1
Selesai dengan acara makan nya , Azka sibuk membenahi bekas makanan itu. Sedang Hanz kini duduk berselonjor di bawah di atas Hambal tebal yang terhampar di lantai, menghadap Tv.
Azka yang sudah selesai pun segera menyusul Hanz, dengan sikap manja nya Azka merengkangkan kedua paha Hanz, dan duduk diantara nya ,menyandar kan punggung nya di perut sispack Hanz dengan kepala di dada pria itu.
Hanz pun segera menghujani kecupan di pucuk kepala Azka.
"Apa kau sudah mau pulang ke rumah utama.?" tanya Hanz memainkan rambut Azka.
"Belum Hanz, Aku belum puas disini. Aku masih ingin berdua dengan mu tanpa gangguan siapapun." sahut Azka mendongak kan wajah nya.
"Apa kau masih merindukan aku.?" bisik Hanz.
"Jelas lah.. Aku masih sangat merindukan mu. Setiap saat Hanz. Setiap saat aku merindukan mu. Kau tidak tau bagaimana aku hampir putus asa saat aku merasa bahwa aku akan kehilangan kamu waktu itu." ucap Azka kembali mengingat saat Hanz terbaring di ruang sakit tempo lalu.
"Jangan di ingat lagi Azka, jadi kan pelajaran untuk kita agar lebih berhati hati lagi."
"Maaf kan Hanz, aku tidak akan bandel lagi. Aku sudah berjanji pada diri ku sendiri, tidak akan keluar rumah jika tanpa kamu." jawab Azka.
"Gadis pintar.. Aku senang jika kau patuh pada ku. Apa lagi sekarang aku adalah suami mu, kau harus ingat pesan ayah, Suami adalah raja. Kau harus melayaninya dengan baik." ucap Hanz menjentikkan telunjuk nya pada hidung mancung Azka.
"Ya, Baginda raja. Saya akan melayani anda dengan baik." jawab Azka dengan senyum kepatuhan.
Hanz tertawa melihat tingkah lucu istrinya. Kini ia menaruh bibir nya di leher jenjang istri nya dan menyelusur di sana.
Terus mengecap liar meninggalkan bekas merah di leher mulus itu, tangan nya mulai nakal meremas gumpalan daging di dada Azka ,membuat Azka meringis kembali.
"Hanz, apa kau juga dendam karena aku pernah memerahi leher mu waktu itu.?" ucap Azka di sela desahan nya.
"Benar Azka, Aku akan membalas semua perlakuan mu dulu padaku. Aku memang dendam Azka. Aku sudah menunggu waktu ini untuk membalas nya." jawab Hanz dengan nafas yang sudah memburu.
Azka hanya bisa pasrah ketika Hanz mengangkat tubuhnya dan membaringkan nya di ranjang. Kembali menelanjangi nya dan berhasil membuat tanda merah di sekujur tubuhnya terutama bagian leher dan dada nya. Hanz pun mulai menanggalkan baju nya sendiri.
"Hanz,. kenapa harus sebanyak ini.?" keluh Azka.
"Dimana mana pembalasan itu lebih kejam Azka." sahut Hanz melanjutkan aksi nya.
"Azka , aku menginginnya lagi." bisik nya.
Jlebbb..!!
Tanpa menunggu persetujuan Azka , Hanz sudah menancap kan junior nya pada lubang surga milik Azka dan kembali mengorek ngorek kenikmatan di dalam sana.
Azka hanya bisa mendesah dan merintih manja menikmati segala perlakuan Hanz padanya.
Siang itu kembali pasangan pengantin baru itu merengguk kenikmatan masa bulan madu mereka.
Dan Hanz, berhasil menuntaskan dendam nya pada Azka yang dulu sering membuat nya tersiksa karena harus menahan birahinya dengan setengah mati.
Sekian dulu ya teman teman.
Ini masih bab tentang manis nya bulan madu mereka. Jangan lewatkan bab bab berikut nya yang akan mengisahkan perjuangan rumah tangga mereka dengan permasalahan baru yang muncul di saat masa masa indah mereka.
*Tetap dukung azkaHanze dengan vote sebanyak banyak nya dan komen pedas kalian di bawah ini.
bye bye*....
__ADS_1