
Hanzero masih memeluk istri nya dengan erat, namun entah mengapa, perasaan Azkayra yang biasa nya selalu damai jika berada di pelukan suami nya kini seperti tak di rasakan nya.
Gelisah, ya kata itu yang tepat untuk suasana hati Azkayra saat ini.
Ide gila, hah.! Sungguh kah ia harus mengatakan itu pada Hanz.?
Huh, berat rasanya Azka untuk memulai ucapan nya. Tapi itulah satu satu nya cara nya agar kegelisahan nya berakhir.
Apa Hanz akan setuju,? Apa Hanz akan menuruti nya kali ini.? Benar kah jalan ini yang harus mereka tempuh.?
Lagi lagi Azka berperang dengan pikiran nya.
Kembali Azka menimbang.
"Azka, kata kan padaku apa yang ingin kau bicara kan. Hari ini aku milik mu sepenuh nya. Waktu ku akan ku persembahkan untuk mu." ucap Hanz masih dalam posisi memeluk pinggang istri nya.
"Hanz , aku.. Em, kau tidak akan marah jika aku mengatakan nya.?"
"Tidak Azka, asal itu masuk akal. Kata kan saja." jawab Hanz, sudah menangkap hal lain dari istrinya.
Azka memutar tubuh nya, menatap dalam mata suaminya. Kedua tangan nya menggenggam erat tangan Hanz.
"Hanz, mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi ini demi kebaikan kita. Aku ingin.."
Dretttt... Drettttt....!
Ponsel Hanz tiba tiba berbunyi.
"Siapa sih mengganggu saja, tidak tau apa orang sedang berduaan.." gumam Hanz.
"Angkat dulu Hanz, siapa tau penting."
"Sudah, Abaikan saja. Cepat lah, apa yang ingin kau bicarakan.?"
Dreeeettt ... Dreeerrttt...
Kembali Ponsel Hanz berdering.
"Tunggu sebentar ya..." dengan kesal nya Hanz menyambar ponsel nya.
"Arwan.. Kenapa.?" tanya Hanz setelah menggeser tombol hijau di layar Hp nya, serta meletakan nya begitu saja setelah menekan tombol louspacker.
"Tuan, maaf mengganggu."
"Cepat katakan ada apa.?" jawab Hanz terdengar ketus.
"Apa anda masih ingat Tuan Galih.?"
"Ya jelas lah, dia rekan kerja kita yang sangat baik. Kenapa tiba tiba membicarakan nya. Bukan kah hari ini jadwal pertemuan kita dengan nya. ?"
"Tuan Galih meninggal dunia semalam Tuan, pagi ini akan di makan kan. Ini saya singgah melayat sebentar." jawab Arwan.
"Apa..? Benarkah.? Kenapa? Apa dia sakit parah, atau apa Arwan.?" mendadak Hanz terkejut dan segera meraih Hp nya dan mendekatkan ke wajah nya.
Azka pun mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
"Ia bunuh diri Tuan, menembak kepala nya sendiri tepat di depan istri nya." jelas Arwan di sana.
"Ya Tuhan... Tragis sekali."
"Menurut cerita mereka, istri nya terus meminta Tuan Galih untuk menikah lagi, karena kemandulan istrinya. Sementara Tuan Galih tidak ingin memenuhi permintaan istrinya dan memilih mengakhiri hidup nya." kembali Arwan menjelaskan.
Mendengar itu , seketika tubuh Azka gemetaran.
Ah, sungguh mengerikan pikir nya.
"Baik lah Arwan, besok aku akan datang ke rumah nya untuk belasungkawa. Sebaik nya kau segera ke kantor jika sudah selesai." ucap Hanz.
__ADS_1
"Baik Tuan, saya hanya ingin mengabarkan itu. Selamat beristirahat Tuan," Arwan mengakhiri panggilannya.
Hanz menarik nafas berat.
Sementara Azka sendiri menunduk, meremas jari kedua tangannya.
"Azka, kau tidak apa apa.?"
Azka menggeleng. "Tidak Hanz, itu tadi siapa yang meninggal.?"
"Oh, dia adalah rekan bisnis ku, padahal dia pria yang sangat baik. Dan setia dengan istri nya, kemana mana selalu membawa istri nya. Walaupun ada pertemuan sekalipun, ia akan membawa serta istri nya." jelas Hanz.
"Apa penyebab ia meninggal Hanz, ?" tanya Azka, padahal jelas jelas ia mendengar semua nya dengan begitu jelas, tapi tetap saja Azka ingin sekali lagi mendengarnya.
"Istri nya di vonis mandul, dan memaksa suami nya menikah lagi. Dan ia lebih memilih mengakhiri hidup nya dari pada harus membagi cinta nya. "
"Sampai segitu nya Hanz.!" Azka menggigit jari nya. Ah, benar benar mengerikan. Tidak tidak,.. Ia tidak ingin itu terjadi pada suami nya.
"Nama nya juga laki laki sejati Azka, aku pun akan melakukan hal yang sama jika istri ku menuntut ku seperti itu. Kami para pria yang memiliki cinta sejati, tidak akan sanggup membagi cinta." jelas Hanz, semakin membuat hati Azka menciut.
"Jangan Hanz, aku mohon jangan lakukan itu." Azka menjerit seketika, bayangan Hanz menempelkan pistol di kepala nya menari di ujung matanya.
"Aku berjanji tidak akan menyuruh mu menikah lagi Hanz, sungguh.!!" Azka mengguncang tubuh suaminya membuat Hanz seketika panik dengan tingkah Azka.
"Azka, .. Kau kenapa sih.?" Hanz menatap wajah Azka yang sudah menangis.
"Azka, apa yang kau pikirkan.?" Hanz segera membawa Azka dalam pelukan nya.
"Azka, tenang lah. Yang bunuh diri itu bukan aku. Aku tau , kau juga tidak mungkin menyuruh ku untuk menikah lagi. Kau tidak akan mungkin menghacurkan perjuangan kita bukan..?" ucap Hanz membelai rambut istri nya.
Azka mengangguk pelan, dan masih menenggelamkan kepalanya di dada Hanz.
"Aku tidak akan Hanz , tidak akan. Aku tidak ingin kau mati." ucap Azka lirih.
"Astaga Azka, kau. " Hanz seketika ingat jika Azka ingin membicarakan sesuatu yang serius padanya.
"Azka, apa kau pernah berpikir seperti itu.?" tatap mata yang tajam itu seperti ancaman buat Azka. Hanz mulai curiga dengan sikap Azka yang langsung panik,Ia mencoba menggali.
Seketika Azka menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku Hanz, maaf. Aku tidak jadi berbicara serius padamu . Lupakan Hanz, lupakan.? Aku mencintai mu Hanz, aku mencintai mu..!!!" Azka ambruk di dada Hanz.
Ia terus menangis..
"Azka, jangan pernah kau berpikir seperti itu. Atau kau akan.."
"Hanz,!" Azka segera memotong ucapan Hanz dengan membungkam mulut Hanz dengan tangan nya.
"Berhenti, jangan lanjutkan. Aku akan membuang jauh jauh pikiran itu."
Hanz tersenyum, mengusap air mata Azka.
"Hanya akan ada aku dan kamu, tidak akan ada orang ketiga dalam hidup kita. Kau paham.?"
Sesekali lagi Azka mengangguk.
"Baik lah, karena kau tidak jadi membicarakan sesuatu. Sebagai ganti nya, bagaimana kalau kita jalan jalan ke taman bunga Favorit kita." usul Hanz., Ia bisa menebak apa yang di pikirkan Azka sebelum ia menerima telepon dari Arwan.
Azka tersenyum, mengusap sisa air mata nya.
"Aku senang sekali."
"Baik lah, kita bersiap siap sekarang." ucap Hanz.
Azka pun segera meraih tas nya, memasukan beberapa barang milik nya.
"Untung Tuhan segera menyadarkan aku dari niat salah ku.! Maafkan aku Hanz, tidak seharusnya aku berpikiran seperti itu." Bisik Azka dalam hati.
__ADS_1
Mereka telah siap. Hanz segera meraih tangan istri nya dan membawa nya melangkah.
"Hanz, " Azka menghentikan langkah nya dan terlihat memegangi kepala nya.
"Azka,. Kau sakit?"
"Kepala ku mendadak pusing Hanz," ucap Azka berpegangan erat pada lengan Hanz.
"Azka, Azka..!!" Hanz panik seketika saat tubuh istri nya melemas dan tak sadarkan diri di pelukan nya.
Hanz segera mengangkat tubuh Azka dan membaringkan nya di ranjang.
"Kau kenapa Azka.. kenapa tiba tiba seperti ini..!!!" Hanz terus berusaha menyadarkan Azka. Kepanikan mulai menguasai nya, dan ia segera meraih Hp nya , menghubungi Berlinda.
Berlinda berlari cepat menuju kamar Nona nya, sesaat setelah menerima panggilan dari Hanz,
"Tuan,..Nona kenapa?" raut panik wajah Berlinda pun nampak begitu kuat.
"Panggil dokter Lisa , cepat.!"
"Baik Tuan,!" Berlinda segera menghubungi dokter pribadi Keluarga Samudra dan keluar kembali dari kamar Nona nya.
Masih dengan kekhawatiran nya, Hanz terus menggenggam tangan Azka yang terasa dingin itu.
"Azka, Kau terlalu banyak pikiran , kenapa kau terus melakukannya, itu hanya menyiksa mu . Berhenti lah berpikir." gumam Hanz.
"Hanz, " Azka membuka matanya dan beranjak duduk.
" Kau sudah sadar Azka,.? Apa yang kau rasakan .?" Tangan Hanz mengusap wajah Azka yang berkeringat.
"Aku,.! Awas Hanz..!" Azka hendak mendorong tubuh Hanz, namun terlambat.
hooekkk...!!!!
Azka menumpahkan isi perut nya tepat mengenai baju Hanz.
"Azka ,!"
"Minggir Hanz, minggir.!!"
Hanz tak peduli ia malah segera melepas baju nya dan menadah kan di depan Azka.
"Keluarkan semua Azka, !" Hanz memijat lembut tengkuk istri nya.
Hoooekkk...!!!
Kembali Azka muntah, hingga berkali kali sampai Azka terlihat lemas.
Hanz lalu membersihkan muntahan Azka yang berantakan. Segera memungut bajunya dan memasuk kan kedalam tempat sampah. Lalu membersihkan wajah istri nya dengan begitu telaten.
Azka hanya bisa menatap suami nya, dengan berbaring lemas.
"Hanz, biar pelayan yang membersihkan nya. Apa kau tidak jijik.?" ucap Azka.
Hanz hanya tersenyum lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan segera keluar menghampiri Azka kembali.
"Apa masih mual,? Apa kau perlu teh hangat .? " tanyaHanz.
"Kepala ku pusing Hanz .." rengek Azka.
"Sebentar lagi Dokter Lisa datang , Berlinda sudah menghubungi nya dan sedang menunggu nya di depan, sabar ya.? Aku akan memanggil pelayan dulu agar membuatkanmu teh hangat untuk mengurangi mual mu. Kau pasti masuk angin karena semalam tidur terlalu larut." ucap Hanz melangkah meninggal kan Azka.
.
.
Bersambung...!!!!
__ADS_1