"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Apa Hanz suami ku.?


__ADS_3

Hanzero mengguyur tubuhnya dengan air dingin dengan sesekali membuang nafas kasarnya. Ia segera menyelesaikan mandi dan kembali ke kamar nya untuk berganti.


Menatap dirinya di cermin dan mengusap wajah nya dengan kasar. Kembali mengingat istrinya yang kini benar benar sudah melupakan nya.


"Secepat ini aku tersingkir dari pikiran mu Azka. Dulu kau yang terus berusaha mendekati ku, dan kini aku harus berjuang untuk mendekati mu, sedang kan kali ini kau seperti tidak menyukai ku. Benar benar berat." keluh Hanz.


Kini ia duduk di sofa , menyeruput kopi dan memakan beberapa potong kue yang sudah di siap kan seorang pelayan.


Meraih Hp nya dan menggeser Layar Hpnya, memperhatikan beberapa foto mesra nya dengan Azka.


"Seberat ini ujian pernikahan kita Azka, saat aku sedang bahagia bahagia nya bisa memiliki mu, kau telah melupakan aku." Hanz berkata pada diri nya sendiri.


Ia beranjak dari duduk nya dan melangkah keluar menuju kamar Azka, sejenak ia berdiri di depan pintu dan dengan perlahan membuka nya, mengintip ke dalam.


Terlihat Azka sudah berbaring di ranjang di temani Berlinda yang duduk di kursi di pinggir ranjang.


Hanz kemudian masuk dengan pelan pelan.


"Tuan, Nona sudah tidur." ucap Berlinda menyadari Tuan nya sudah ada di belakang nya.


"Apa Nona mu tadi mau makan.?"


"Iya Tuan, Nona mau makan lumayan banyak." sahut Berlinda.


"Istirahat lah Berlinda, biar aku yang menemani Nona mu."


"Tapi Tuan, jika Nona bangun melihat Tuan Nona pasti akan marah." sahut Berlinda khawatir.


"Tidak mengapa, itu sudah resiko ku, pergi lah tidur. Aku tau kau lelah." ucap Hanz.


"Baik Tuan, jika anda membutuh kan saya, Tuan bisa memanggil saya." jawab Berlinda segera keluar dari kamar Nona nya dan menutup pintu.


Hanz mendekati Azka yang tengah terlelap, ia duduk di tepi ranjang itu memandangi wajah istrinya.


"Azka, aku merindukan mu." bisik nya membelai pelan wajah itu.


Setelah beberapa saat terlihat Hanz mulai menguap dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur di atas sofa.


Berkali kali Hanz membolak balik kan tubuh nya. Resah menggelantung di hati nya.


"Azka, aku ingin memeluk mu.. Ah,. baru saja sehari aku tidak bisa menyentuh mu sudah segelisah ini, lalu bagaimana jika ini berlaku lama.?" ucap Hanz lirih., menutup wajah nya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.


Sekitar tengah malam,


"Hanz,.. Hanz...Hanz..!!!" Azka mengigau dan terus memanggil nama Hanz .


Hanz yang masih terlelap pun segera sadar saat mendengar Azka memanggil manggil nama nya, ia segera menghampiri Azka.


"Azka, kau bermimpi..!! Azka sadar lah. " Hanz terus berusaha membangunkan istri nya.


"Hanz, jangan tinggalkan aku. Hanz.. aku mencintai mu, Hanz..!!" Azka terus meracau.


"Azka , aku disini. Aku tidak akan meninggalkan mu. Azka.. sadar lah ."


Azka tiba tiba membuka matanya, ia sangat terkejut menyadari jika Hanz sudah di atas ranjang nya.


"Kau, .. kenapa kau ada dalam mimpi ku." ucap Azka menatap tajam kearah Hanz, membuat pria itu langsung kebingungan.


"Nona, nona bermimpi."


"Ya, mimpi , kau ada dalam mimpi ku. Aneh sekali." sahut Azka mengusap wajah nya.


"Mungkin karena tadi sore kita sempat berdebat, jadi saya masuk dalam mimpi Nona, itu hanya kebetulan Nona." ucap Hanz .


"Mungkin, tapi kenapa kau ada di kamarku. Hei,.. siapa yang menyuruh mu ke kamar ku malam malam begini hah.!! " bentak Azka menyadari jika Hanz berada di kamar nya.


"Nona , saya.."


"Keluar... Keluar atau ku tendang kau..!!"


"Nona, saya memang menjaga Nona, saya tidur di sofa. Sungguh Nona, ini sudah menjadi tugas saya menjaga Nona sampai pagi lagi." jawab Hanz memberi alasan.


"Kenapa harus menjaga ku, aku kan cuma tidur, aneh sekali. Keluar...!!! Aku tidak mau kau ada di kamar ku..!!" Azka segera menarik tangan Hanz dan membuka pintu.


"Nona, saya tidak bisa meninggalkan Nona, tolong Nona, saya harus menjaga Nona." Hanz terus berusaha bertahan.


"Tidak.. aku tidak mau. Apapun alasan nya. Cepat keluar...!!" Azka menarik tangan Hanz ,mengeluarkan Hanz dari kamar nya, dan segera menutup pintu nya.


"Azka.. buka Azka..!!" Hanz terus menggedor pintu, dan Azka pun tidak mempedulikan nya.


"Dasar mesum, bisa bisa nya tidur di dalam kamar seorang gadis.Memang nya dia pikir dia siapa..?" Azka menggerutu dan kembali ke ranjang nya untuk melanjutkan tidur.


"Kenapa Pria itu bisa hadir dalam mimpiku ya..? Atau jangan jangan selama ini aku menyukai nya hanya karena aku tidak mengingat nya sekarang."


"Astaga...apa yang ku lakukan.? bukan kah ayah melarang ku untuk bersikap buruk padanya.?" Azka menepuk dahi nya.


Sedangkan Hanz yang di luar kamar hanya bisa menyandarkan kepalanya di pintu , terus meratapi nasib nya.

__ADS_1


"Azka, aku hanya ingin menjaga mu, kenapa kau begitu membenci ku.?" ucapnya lirih, tiba tiba pintu kamar di buka oleh Azka.


"Nona."


"Masuk."


Dengan sedikit heran Hanz menatap Azka.


"Kenapa malah menatap ku seperti itu, ayo masuk.? Bukan kah kau mau menjaga ku.?" ucap Azka.


Hanz mengangguk dan kembali masuk ke kamar itu.


Kini Hanz duduk di sofa sementara Azka duduk di tepi ranjang, Hanz masih terus menatap Azka.


"Kenapa kau menatap ku terus, kau sedang tidak jatuh cinta pada ku kan..?" celetuk Azka.


"Maaf Nona, saya hanya heran saja . Kenapa tiba tiba Nona menyuruh saya masuk setelah Nona mengusir saya tadi." kilah Hanz.


"Karena aku tidak mau membuat kesalahan, Ayah menyuruh ku untuk bersikap baik padamu. Kau puas , sudah membuat ayah ku lebih menyayangimu dari pada aku putri nya sendiri." ucap Azka melirik sinis.


"Maaf Nona." Hanz menunduk kan pandangan nya.


"Kau boleh menjaga ku, tapi kau jangan dekat dekat dengan ku, aku benar benar akan memecat mu jika kau berani mendekati ku, apalagi sampai menyentuh ku. Kau mengerti.?" kembali Azka melirik sinis ke arah Hanz yang masih menunduk.


"Baik Nona, saya akan di sini saja." sahut Hanz.


Azka kembali merebah kan tubuh nya, dan Hanz sedikit melirik ke arah Azka, ada perasaan hancur di dalam hati nya.


kenapa kau sekarang kasar sekali Azka, kau benar benar berubah .


"Hanz, " tiba tiba Azka kembali duduk dan memanggil Hanz yang sudah menyandarkan kepalanya di sofa.


"Ada apa ?" Hanz langsung menjawab nya.


"Apa kita punya hubungan spesial sebelum aku lupa ingatan.?" tanya Azka , membuat Hanz bingung untuk menjawab nya.


"Kita.. Nona , kita memang sangat dekat dan saling Dekat, Dekat sekali." jawab Hanz , kini mereka saling memandang.


"Benarkah,?" Azka nampak memegang kepala nya. Melihat itu Hanz hendak mendekati Azka, tapi dia segera mengingat ucapan Azka yang tidak ingin dia dekat dekat dengan nya.


Hanz mundur kembali.


"Nona, kau tidak boleh memikirkan apapun, biar lah. Suatu saat nanti Nona akan mengingat kembali semua nya, Nona tidak boleh memaksa untuk mengingat nya. Saat ini yang perlu Nona lakukan hanya lah segera sembuh dan setelah itu Nona bisa belajar mengingat semua nya." ucap Hanz.


"Apa kecelakaan yang menimpa ku terlalu serius? Kepala ku selalu sakit jika aku ingin mengingat sesuatu."


"Iya Nona, maka dari itu Dokter pun melarang Nona untuk berpikir keras, sekarang Nona tidur lah kembali, pagi masih jauh." sahut Hanz.


Hanz, aku tidak merasa menyukai nya, tapi kenapa dada ku selalu bergetar saat beradu pandangan dengan nya. Sebenar nya siapa dia.? Dan Ayah seperti nya sangat mempercayai nya bahkan tidur pun aku masih harus bersama nya.


Azka terus bergumam di bawah selimut tebal nya, memijat kepala nya yang selalu sakit ketika ia sedang berusaha mengingat.


_________________


Pagi menjelang, Hanz sudah meninggalkan kamar Azka, bersiap untuk pergi ke kantor.


"Hanz." Ginanjar menghampirinya.


"Untuk saat ini biar ayah yang mengurus pekerjaan mu bersama Arwan dan Annabel. Fokus lah bersama Azka, meskipun Azka belum mengingat mu setidak nya kau harus berusaha mendekati nya , agar Azka bisa kembali dekat dengan mu." ucap Ginanjar.


"Tapi Ayah, pekerjaan kantor sangat lah menumpuk. Aku juga mengkhawatirkan ayah jika harus menyelesaikan nya." sahut Hanz.


"Percaya lah, semua akan beres di tangan ku. Aku hanya ingin kau fokus pada istrimu." Ginanjar menepuk bahu Hanz memberi sedikit dorongan kekuatan.


"Terimakasih Ayah."


"Kau tidak perlu berterimakasih, aku tau apa yang harus aku lakukan. Kalau begitu Ayah berangkat dulu." ucap Ginanjar.


"Ayah.. Ayah mau kemana.?" tiba tiba Azka sudah berdiri di belakang mereka.


"Azka, ayah harus ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus ayah selesaikan. Hanz akan menemani mu di rumah." jawab Ginanjar memandang putri nya.


"Kenapa tidak Ayah saja yang menemani ku dan Hanz yang ke kantor.?"


"Azka, Hanz lebih mengetahui apa yang kau butuh kan, karena memang dari dulu Hanz lah yang selalu bersama mu dan mengurus mu." ucap Ginanjar.


"Ayah, kenapa harus Hanz sedang kan banyak pelayan wanita di rumah ini. Ganti saja ayah..?" rengek Azka.


"Azka, apa kau juga sudah melupakan ucapan ayah kemarin tentang Hanz.?" Ginanjar mendekati putrinya.


"Baik lah, " Azka pun menyerah dan kembali ke kamar nya.


"Hanz, kau harus bersabar dan jangan menyerah, Aku tau ini sulit untuk mu, tapi hanya kesabaran mu itu yang di butuhkan Azka saat ini." Ucap Ginanjar memandang sedih pada menantu nya itu.


"Ayah tidak perlu khawatir, saya tidak pernah menyerah. Saya pasti bersabar untuk menghadapi Azka meskipun saat ini Azka tidak menyukai kehadiran saya di dekat nya." jawab Hanz meyakinkan Ginanjar jika ia baik baik saja.


"Ya sudah, Ayah berangkat dulu." Ginanjar akhirnya meninggal kan Hanz.

__ADS_1


Hanz hanya bisa memandangi langkah lelaki yang selalu di hormati nya itu, yang dulu adalah Tuan nya yang selalu di patuhi nya serta disegani nya, dan kini Pria hebat yang selalu ia kagumi itu telah menjadi Ayah mertua nya.


Hanz melangkah ke kamar nya.


Sementara Azka sedang berada dikamar nya bersama Berlinda.


"Nona, mandilah, semua sudah siap.!" ucap Berlinda.


Azka hanya mengangguk, dan melangkah.


"Berlinda." Azka menghentikan langkah nya.


"Ada apa Nona.?"


"Apa aku punya kekasih.?" pertanyaan Azka membuat Berlinda bingung untuk menjawab nya.


"Jawab saja Berlinda. Aku siap mendengar nya." ucap Azka menangkap keraguan di mata Berlinda.


"Saya tidak berani Nona, lebih baik Nona bertanya pada Tuan Hanz, Tuan pasti bisa menjelaskan nya." tidak ada pilihan lain bagi Berlinda kecuali hanya bisa menyudutkan Tuan Hanzero nya.


"Kenapa harus dia lagi sih..?" sahut Azka merasa semua orang terlalu mengandalkan Hanz.


"Kerena Tuan Hanz memang yang memahami semua tentang Nona, baik dari hal pribadi Nona sekali pun." jawab Berlinda.


"Segitu nya..?"


"Benar Nona, sungguh. Nona harus percaya pada kami." Berlinda berusaha meyakinkan Nona nya.


Azka hanya terdiam, dan langsung masuk ke kamar mandi.


Setelah beberapa lama berada di kamar mandi Azka keluar dari kamar mandi dan menghampiri Berlinda yang sudah menyiapkan ganti untuk nya.


"Berlinda, aku tidak mau memakai baju ini."


"Nona mau pake baju seperti apa, biar saya mencarikan gantinya. " jawab Berlinda segera melangkah mendekati lemari pakaian untuk mencari ganti baju Azka yang tidak di inginkan nya itu.


"Terserah, yang penting jangan seperti ini." ucap Azka.


"Yang ini,.?" Berlinda menunjuk kan sebuah baju pada Azka.


"Kau ini bagaimana sih, bukan kah kau ini pelayan kamar ku dari dulu.? Kenapa bisa tidak tau selera baju ku seperti apa.?" ucap Azka dengan sewot nya.


"Selera Nona sekarang berubah.?" jawab Berlinda sedikit pelan dan menunduk kan wajah nya.


"Minggir, biar aku cari sendiri.!" Azka segera melangkah.


"Nona jangan.!" Berlinda mencegah nya dengan tatapan panik.


Braagggg.!!


Azka sudah terlanjur membuka lemarinya. Matanya menyelusuri setiap isi lemari.


"Kenapa banyak sekali baju pria di lemari ku.?" tanya Azka terbelalak ketika menyadari begitu banyak pakaian Pria di lemari nya.


"Itu.. itu." Berlinda sangat gugup.


"Berlinda, jelaskan padaku. Jangan bilang jika ini adalah pakaian Hanzero." ucap Azka terus memeriksa.


Ia meraih baju baju itu dan memeriksanya.


"Hanz, baju ini baju Hanz. Benar kan Berlinda.?" Azka terus memeriksa.


"Nona, maaf kan saja, mungkin saya salah menaruh nya. Saya akan segera memindahkan nya." sahut Berlinda segera meraih baju baju Hanz.


"Berlinda,. Jelaskan padaku yang sebenarnya." Azka segera menyambar tangan Berlinda.


"Nona, saya benar benar salah menaruh." kini Berlinda terlihat sangat takut.


"Tidak mungkin kau salah, ini tertata rapih, di gantungan pun ada. Bahkan pakaian dalam Hanz pun ada di dalam lemari ini. Apa yang kalian sembunyikan dari ku. Atau jangan jangan apa yang kau kata kan kemarin itu benar, jika Hanzero adalah suami ku.?" kini Azka memegang kepalanya , ia terus berusaha mengingat ingat sesuatu.


"Aarg..!!" Azka terus memegang kepalanya.


"Nona, berhenti lah untuk mengingat, itu berbahaya Nona. Berhenti lah saya mohon.!" Berlinda nampak panik melihat Nona nya menjerit sambil memegangi kepalanya.


Azka ambruk, tak sadarkan diri.


"Nona..!!" Berlinda menjerit ketakutan.


"Nona.. Ya Tuhan.. Bagaimana ini..?" tanpa pikir panjang lagi Berlinda segera berlari meninggalkan Azka untuk memanggil Hanz.


"Tuan.. Tuan Hanz.. Tolong..!!!" Berlinda menggedor pintu kamar Hanz.


"Berlinda, ada apa..?" Hanz membuka pintu dan menatap raut ketakutan di wajah Berlinda.


__________________


sekian dulu...

__ADS_1


"Somoga Azka cepat mengingat semua nya ya. ?"


Tetap dukung mereka dengan like koment dan Vote dari kalian untuk mereka.


__ADS_2