"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Dasar Pengecut, kenapa kau tidak bangun?


__ADS_3

Pagi itu,


Masih di ruang rumah sakit yang sama tapi ini hari ke enam Hanzero berada di sana.


"Hanz, besok adalah hari pernikahan kita, Apa kau masih akan tetap berada disini dan membiarkan hari itu berlalu begitu saja.?" ucap Azkayra menyentuh wajah Hanzero yang masih terdiam itu.


"Aku tidak menyangka jika kau semarah ini padaku..!" ucap nya lirih.


"Azka,.. " Ginanjar Samudra mendekati putri nya.


"Sudah tiga hari kau tidak mandi, tidak istirahat dan juga belum menyentuh makanan. Jika kau sakit bagaimana.? Hanzero pasti akan sangat sedih Sayang.. Setidak nya makan lah barang sesuap.!" ucap nya menyentuh pundak Putri nya.


"Ayah, bagaimana Azka bisa makan, sedang kan Hanz masih berjuang melawan maut Ayah. Dan besok adalah hari pernikahan nya . Tapi lihat lah, dia masih bersantai disini." kembali Azka terisak.


"Kau benar, besok adalah hari pernikahan kalian. Jika Hanz belum bisa bersiap, kau yang harus bersiap. Pulang lah Azka. Kau harus beristirahat. Besok kau harus bugar untuk menyambut hari pernikahan mu." ucap Ginanjar getir.


"Kau benar Ayah, aku harus pulang dan bersiap. Aku tidak ingin saat Hanz pulang melihat ku kusut begini.?"jawab Azka menyeka air mata nya.


"Hanz, aku pulang dulu ya, aku akan mempersiapkan pesta untuk pernikahan kita. Kau tidak perlu khawatir. Saat kau pulang nanti semua sudah akan siap." Azka mencium kening Hanz dan melangkah lunglai. Ginanjar mengikuti dari belakang.


Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terucap dari mulut Azka, tatapan mata nya kosong dan jiwa nya terasa riang melayang.


Sampai di Rumah Utama pun Azka tak bersuara ,bahkan tak menjawab sapaan Berlinda maupun para penjaga. Ia terus melangkah lemas ke kamar nya dan berdiri menatap gaun pengantin milik nya.


"Nona makan dulu ya.?" sapa Berlinda.


Azka hanya menggeleng.


"Aku tidak ingin makan Berlinda, aku ingin Hanz segera pulang." ucap nya membuat hati Berlinda teriris.


"Nona, Tuan Hanz pasti pulang." jawab Berlinda menuntun Nona nya ke ranjang.


"Benar kah Berlinda..?"


"Iya Nona, Nona harus percaya itu. Sekarang Nona makan dulu ya, saya suapin." ucap Berlinda meraih piring.


"Kalau begitu katakan pada Ayah untuk mempersiapkan semua detik ini juga. Aku tidak mau ada yang terlupa. Cepat Berlinda ,beritahu Ayah.!!" ucap Azka.


"Tapi Nona, Tuan besar masih sibuk. Nona makan lah dulu." Berlinda menyendok kan nasi ke mulut Azka.


Namun Azka langsung menepis nya.


"Kau membantah ku Berlinda. Sejak kapan kau berani.!" Azka tiba tiba emosi.


"Maaf Nona.!" Berlinda menunduk.


"Cepat beritahu Ayah, atau aku akan memecat mu.!!" bentak Azka.


"Baik Nona. Baik.!" Berlinda yang mengerti keadaan mental Nona nya langsung mengangguk dan pergi untuk menemui Ginanjar.

__ADS_1


Sedang kan Azka langsung membanting tubuh nya di ranjang.


_______________


"Tidak akan ada pesta di rumah ini. Tidak akan ada. Batal kan semua nya..!!!" teriak Ginanjar di hadapan Berlinda dan Bimo serta Arwan dan seluruh pelayan yang ada.


"Kalian tau bagaimana keadaaan Hanzero, bagaimana mungkin Hari pernikahan mereka akan tetap berlangsung hah.!!" Ginanjar mengusap air mata nya.


"Baik Tuan, kami akan segera membatalkan nya." jawab Bimo.


"Tidak Ayah..!!!" tiba tiba Azka muncul di belakang mereka.


"Tidak ada yang boleh membatalkan pesta pernikahan Hanzero. Dia sudah menentukan hari nya. Dia yang mengingingkan besok. Aku tidak mau sampai pernikahan ku gagal. Aku tidak mau...!!" jerit nya.


"Ayah,.. aku mohon jangan batal kan pernikahan kami. Kami sudah menunggu nya Ayah, kami sudah sangat memimpikan hari itu..!!" Azka terus menangis.


"Azkayra.. Ayah tidak membatalkan nya ,tapi hanya mengundur nya sampai Hanz siap. Hanz belum siap untuk besok Azka. Hanz masih butuh waktu. Kau mengerti kan sayang...?" ucap Ginanjar.


"Tidak...!!! Jangan ada yang berani membatalkan atau mengundur nya. Jika ada yang berani, lihat saja. Aku akan menghancurkan Rumah ini. Dan kita semua akan segera menyusul Hanz berbaring di sana..!!" ancam Azka berlari ke kamar nya.


"Azka...!!! Ya Tuhan... bagaimana ini ..?" Ginanjar memukul kepalanya.


"Tuan, jiwa Nona sedang terguncang. Kita tidak boleh egois." ucap Bimo.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Bim,.?"


"Lalu apa kata orang nanti, jika pesta itu tanpa pernikahan yang sebenar nya. Semua orang juga sudah tau keadaan Hanzero.!" ucap Ginanjar.


"Kita bisa mengatakan pada semua nya, jika pesta itu hanya untuk mengurangi guncangan Frustasi Nona. Ku rasa mereka bisa mengerti." jawab Bimo.


"Lalu setelah itu, Azkayra akan lebih terluka jika menyadari bahwa Hanzero tidak pulang untuk menikahi nya." ucap Ginanjar sedikit marah.


"Percaya lah Tuan, saat Nona sudah lelah dengan penantian nya. Nona akan sadar dengan sendiri nya. Mungkin Nona akan terluka ,tapi itu akan menyadarkan nya dari syok nya. Tuan harus percaya." jelas Bimo.


"Kalau begitu, cepat kau suruh mereka mempersiapkan semua nya." Jawab Ginanjar dengan nada putus asa.


"Berlinda, kau tahan Nona mu di kamarnya, jangan biar kan dia keluar kamar sampai aku kembali. Bagaimana pun caramu." ucap Ginanjar memberi perintah pada pelayan kamar Azka.


Berlinda mengangguk dan bergegas.


"Bimo, antar aku ke rumah sakit. Aku harus menemui Hanzero." Ucap Ginanjar melangkah.


"Arwan, kau urus semuanya, dan usaha kan pesta besok berjalan normal." ucap Bimo pada Arwan.


"Baik Tuan Bimo, saya akan lakukan yang terbaik." jawab Arwan.


Bimo pun melangkah menyusul Ginanjar, dan membawa Tuan nya ke rumah sakit.


Sampai di Rumah sakit, Ginanjar melihat Seorang Dokter yang baru selesai memeriksa Hanzero.

__ADS_1


"Apa ada perkembangan.?" tanya Ginanjar.


Dokter itu menggeleng.


"Jantung Tuan Hanzero semakin melemah kembali." ucap sang Dokter itu.


"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamat kan nya. Ke luar negeri mungkin.?" usul Ginanjar.


"Bagaimana caranya Tuan ? Sedang kan menggeser tubuh nya saja kami tidak berani, itu sangat berpengaruh dengan keadaan jantung nya." jelas Sang Dokter.


"Maaf kan kami Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya sebuah keajaiban yang bisa mengubah keadaan ini." sang Dokter memohon diri.


Ginanjar mengusap wajah nya dengan kasar. Menghembuskan nafas berat nya dan melangkah memasuki ruang tempat Hanzero di rawat tetap di ikuti Bimo di belakang nya.


"Bimo, tinggal kan aku sendiri. Aku harus bicara empat mata dengan Hanzero." ucap Ginanjar.


"Baik Tuan." jawab Bimo melangkah keluar.


jiwa Tuan Ginanjar juga mulai terguncang.


Batin Bimo.


"Hanzero..!" ucap Ginanjar mendekati Hanz.


"Kenapa kau tidak bangun, kenapa kau membiarkan kan Putri ku menderita karena menunggu mu? Besok Azka menunggu di depan penghulu. Jika kau tidak berusaha untuk membuka mata mu dan bangun, bagaimana dengan nasib Azka.? Kau tidak memikirkan itu Hanzero." ucap Ginanjar melirik alat deteksi jantung Hanz.


"Dasar pengecut . Ayo bangun.., kau sudah menghancurkan impian Azka.!!" Ginanjar berteriak. Ia kembali melirik alat itu.


ini berhasil..!! detak jantung Hanz meningkat.


"Hanzero.. Pecundang..!!" Ginanjar menendang ranjang milik Hanz membuat tubuh Hanz sedikit terguncang.


"Apa kau tau, Azka sudah mengadu padaku. Kau sudah meniduri putri ku kan.? Kau benar benar bedebah..!! Kau sudah mengecewakan aku . Berani nya kau berbuat seperti itu pada Putri ku dan kau seenak jidat mu membiarkan dia menanggung nya sendiri. Lalu bagaimana dengan masa depan nya. kau sudah menghancurkan nya Hanz . Kau pikir ada yang mau menikahi bekas mu hah..!!"


Kembali Ginanjar melirik alat deteksi jantung Hanz, ia terbelalak. Jantung Hanz bereaksi.


"Bangun Hanzero, jika kau benar benar mencintai putri ku, kau harus bangun. Aku akan menunggu mu besok. Jika kau tidak bangun juga, Jangan salah kan aku kalau aku akan membenci mu seumur hidup ku. Aku akan membawa Azka pergi sejauh mungkin agar kau tidak bisa menemui nya lagi. Aku tidak akan peduli lagi padamu. Sampai kau menangis darah pun , aku tidak akan mengijinkan mu bertemu dengan putri ku lagi. Kau dengar baik baik Hanzero.. Aku akan memecat mu dan menendang mu dari rumah utama. Ingat itu.."


"Aku benar benar kecewa padamu Hanz, kau berlagak seperti malaikat yang melindungi Azka, padahal kau malah menghancurkan nya. Kenapa kau tidak membiarkan nya tertembak saja waktu itu , biar saja Azka mati, dari pada harus menderita seperti saat ini. Kau perusak hidupnya Hanzero. Aku muak pada mu.!" Ginanjar kemudian melangkah keluar meninggal kan Hanzero yang seperti nya mampu mencerna ucapan Ginanjar.


______________


^^^**Hai, ... sekian dulu ya, nanti Insya Allah Author up satu episode lagi.^^^


^^^Tunggu aja yaa.. tetap jaga jarak dan rajin cuci tangan dengan sabun.. dan kalau bisa^^^


Mending Tetap di rumah saja... bersama Author Any......


bye ..bye**....

__ADS_1


__ADS_2