
Sudah hampir satu bulan Azkayra kehilangan ingatan nya, dan hari hari Hanzero pun begitu tertekan. Meski kini Azka sudah mengetahui jika dia adalah suaminya, namun sikap Azka masih sedikit dingin padanya. Tak jarang ia menjaga jarak dengan Hanz , meski Azka pun tak menolak jika Hanz mendekati nya bahkan sekedar untuk mencium nya.
Hanz hanya bisa bersabar dan berharap Azka akan segera sembuh , Hanz setidak nya bisa mulai berusaha untuk membawa Azka pada ingatan dulu. Meskipun dalam hati Hanz ragu, apakah Azka bisa kembali mengingat kenangan indah cinta mereka dulu. Paling tidak Hanz harus mencoba untuk membuat Azka benar benar Kembali jatuh cinta padanya.
Berat, ini sungguh berat. Jika dulu Azka yang terus menggoda serta mendekati Hanz dan menyatakan perasaannya ,kini Hanz lah yang harus berjuang menggoda dan mendekati Azka. Padahal tidak di pungkiri oleh Azka sendiri, jika hatinya selalu berdebar saat bersama Hanz, bahkan tubuh nya selalu merespon setiap sentuhan Hanz, namun masih terselip keraguan di hati nya. Entah kenapa..? Hanya Azka dan Tuhan lah yang tau.
.
Sore itu, pemeriksaan Azkayra oleh Dokter Abraham menghasilkan kenyataan yang sangat menggembirakan seisi Rumah Utama. Terutama Hanzero dan Ginanjar Samudra.
"Nona di nyatakan sembuh total Tuan. Hanya saya belum bisa memastikan apakah ingatan Nona bisa kembali lagi atau tidak." jelas Dokter Abraham pada Hanz saat sudah berada di luar Kamar Azka .
"Syukur lah Dokter, kami senang sekali mendengar nya. Dan terimakasih atas usaha keras Dokter." jawab Hanzero bernafas lega.
Begitu dengan Ginanjar yang langsung bahagia mendengar penjelasan Dokter Abraham.
"Apa ada cara untuk membantu ingatan putri ku Dokter.?" tanya Ginanjar .
"Semoga saja kenangan kenangan terindah Nona Azkayra bisa menjadi cara pertama untuk menarik kembali ingatannya. Saya tidak bisa memastikan nya. Tapi paling tidak, sudah tidak berbahaya lagi bagi Nona Azka untuk berusaha mengingat semua nya." jelas sang Dokter.
"Baik lah, saya permisi kalau begitu." Dokter Abraham pun pamit.
"Hanz, apa kau tau apa yang harus kau lakukan sekarang.?" Ginanjar menatap serius menantu nya.
"Aku akan membawa Azka ke setiap tempat yang pernah kami singgahi dulu Ayah, semoga itu bisa memicu ingatan Azka." sahut Hanz.
"Bukan cuma itu Hanz, kau juga harus melakukan apa yang pernah kau lakukan pada Azka saat pertama kali dulu kau menaklukkan hati nya." Usulan Ginanjar kali ini membuat Hanz agak kebingungan.
"Kenapa Hanz, seperti nya kau kebingungan.? Apa Azka yang dulu mendekati mu dan menaklukan mu.?" tanya Ginanjar.
"Bukan begitu Ayah tapi, ah baik lah aku akan mencoba nya." sahut Hanz menyembunyikan kebenaran. Jika memang Azka lah yang selalu mendekati nya, sampai Hanz akhirnya tidak bisa memendam cinta nya.
" Temui istri mu dulu, dan terus lah berusaha Hanz.!" Ginanjar menepuk bahu Hanz yang mengangguk dan segera kembali ke kamar Azka.
beginikah perjuangan mu dulu Azka ,ketika kau ingin mendapatkan aku. Tapi kau pasti tidak sesulit aku, karena dulu aku memang mencintaimu, hanya saja aku pengecut . tapi sekarang aku tidak tau, apa kau masih mencintai ku atau tidak.
Hanz menatap Azka yang berdiri menatapnya jendela.
"Azka.!" Hanz memeluk istrinya dari belakang.
"Hanz.!" Azka meraih lengan Hanz yang mendekap perut nya.
"Dokter mengatakan jika kau sudah sembuh." ucap Hanz menenggelamkan wajah nya di leher jenjang Azka.
"Berarti aku sudah boleh berusaha mengingat semua nya .?" tanya Azka membelai rambut Hanz membuat hati Hanz sedikit damai.
"Apa kau mau mengulangi nya dari awal.?" Hanz kini memutar tubuh Azka hingga berhadapan dengan nya.
Azka mengangguk.
"Tentu Hanz,!" sahut nya pelan.
Hanz menatap mata indah istrinya dan beralih ke bibir mungil nya. Tangan nya mulai menarik pinggang Azka dan mendekatkan bibir nya ke bibir mungil itu.
"Hanz," Azka tiba tiba memundurkan tubuh nya membuat Hanz sedikit tercengang.
"Maaf." ucap Hanz.
Azka kini melangkah dan duduk di tepi ranjang diikuti oleh Hanz.
"Azka, aku takut perasaanmu sudah berubah padaku." ucap Hanz lirih.
"Tidak Hanz, aku yakin perasaan ku tidak akan berubah padamu." Azka segera menyahut dan meraih tangan Hanz.
"Tapi kau selalu meragukan nya Azka,"
"Aku, sebenar nya bukan begitu. Aku hanya takut salah , mencintaimu sekarang tidak sebesar cinta ku yang dulu." jawab Azka.
Hanz tertegun dengan penyataan Azka, benar saja ,Azka memang tidak berubah dalam mencintai nya, namun tidak sebesar dulu lagi.
__ADS_1
"Azka, kau tidak perlu memaksa kan nya." ucap Hanz membelai lembut rambut istrinya.
"Tapi Hanz, aku takut jika aku tidak bisa mengingat untuk selamanya." ucap Azka dengan tatapan penuh kecemasan.
"Kau tidak perlu takut, jika itu terjadi, anggap saja kita memulai nya dari awal. Pertama bertemu dan saling mengenal, kemudian saling menjalin hubungan." jawab Hanz mengelus lembut punggung istrinya dan merebahkan kepala istrinya di bahu nya.
"Kalau ternyata perasaan ku tidak sedalam dulu bagaimana, apa kau akan kecewa padaku.?" Azka mengangkat wajah nya.
"Tidak akan Azka, kalau pun kau tidak pernah lagi mencintai , aku tidak akan pernah memaksamu. Kau tidak perlu pusing memikirkan nya. Tetap bersama ku itu sudah cukup membuat ku bahagia. Biar aku saja yang mencintai mu. Aku saja." sahut Hanz.
Azka tersenyum, lagi lagi senyuman itu berhasil membuat Hanz menelan Saliva nya.
"Kau mau menceritakan bagaimana pertama kali nya kita ketemu.?" tanya Azka.
"Tidur lah, besok aku akan mengajak mu ke suatu tempat. Dimana kita bertemu untuk pertama kali nya." ucap Hanz.
"Kau tidak mau menemaniku.? Kita tidak pernah tidur seranjang Hanz? Kita kan suami istri."
"Baiklah, aku akan menemani mu." kini Hanz berbaring di ranjang itu, lalu Azka pun ikut berbaring di sisinya.
"Hanz,.!" Azka memiringkan tubuhnya menghadap Hanz yang juga menghadap nya.
"Tidur lah.!" Hanz membelai lembut wajah istrinya.
"Kau tidak mau sedikit dulu bercerita padaku tentang kita.?" Azka menggenggam erat jemari Hanz.
Hanz menarik nafas panjang.
"Apa saja yang kau ingat tentang kenangan mu bersama ayah mu.?" tanya Hanz kini menatap mata istrinya.
"Yang ku ingat hanya lah, ayah selalu meninggalkan aku di suatu tempat yang aku pun tidak mengingatnya. Tapi ayah akan selalu datang menemui ku dan menemaniku beberapa hari ke depan sebelum akhirnya meninggalkan aku lagi." jawab Azka.
"Apa kau mengingat sesuatu yang pernah di ceritakan oleh ayah mu.?" kembali Hanz melontarkan pertanyaan.
Azka nampak berfikir keras untuk mengingat nya.
"Ya aku sedikit ingat," tiba tiba Azka mengingat sesuatu.
"Siapa Nama Pria itu Azka..? Apa kau mengingat nya."
Azka terdiam, ia terus mencoba mengingat nama Pria yang selalu diceritakan Ayah nya dulu padanya.
"Azka, berusaha lah untuk mengingat nama Pria itu. Ayo Azka.. Sebut kan nama nya.!" Hanz terus berbisik.
"Nama nya.. Ah, " Azka memegangi kening nya dan terus memejamkan matanya.
"Hanzero..., ya ..Namanya Hanzero. Hanz...!!! Kau.. kau pria yang di ceritakan ayah ku kan..?" Azka langsung menoleh ke arah Hanz yang nampak tersenyum senang dengan keberhasilan Azka dalam mengingat pertama kali Azka mengenal nama nya.
"Jadi, aku mengenal mu jauh sebelum aku bertemu dengan mu.?"
"Benar Azka, aku senang kau bisa mengingat pertama kali kau mengenal namaku ,sekarang tidur lah. Istirahatkan dulu pikiran mu, besok kau harus berjuang lagi." Hanz mendekap istri nya dan Azka pun menenggelamkan kepalanya di dada Hanz.
"Hanz ,!" bisik nya.
"Ya." sahut Hanz lirih.
"Kau kan suami ku, apa kau tidak menginginkan aku .? Selama ini kau tidak pernah menuntut hak mu." pertanyaan Azka kali ini mampu membuat Hanz tegang.
"Aku menginginkan mu Azka, hampir setiap saat bersama mu. Tapi aku tidak akan mau melakukan nya jika masih ada keraguan di hatimu." jawab Hanz harus berusaha sekuat nya menahan keinginannya yang satu itu.
"Jika saja kau ingat, pertama kali kita melakukan nya dengan perasaan cinta yang menggebu. Suka rela melakukan nya tanpa sedikit pun paksaan dan terjadi begitu saja karena besar nya cinta kita." ucap Hanz.
"Maafkan aku Hanz, aku sudah sangat menyiksa mu." sahut Azka.
"Tidak Azka, kau tidak pernah menyiksa ku. Tidurlah." bisik Hanz menghujani Pucuk kepala Azka dengan kecupan.
Akhirnya malam itu mereka tidur seranjang untuk pertama kali nya setelah Azka kehilangan ingatan nya. Kedua nya terlelap dengan saling berpelukan saja.
.
__ADS_1
Pagi pun datang dengan sinar cerah, secerah hati Hanz yang pagi hari nya di sambut senyuman manis sang istri tercinta nya.
Walau Azka belum mengingat tentang kenangan mereka ,tapi hal itu sudah cukup membuat Hanz bahagia.
"Kau akan mengajak ku pergi kan.?" tanya Azka sumringah, ia sudah tidak sabar untuk keluar rumah dan mengetahui kemana Hanz akan membawa nya untuk berusaha membantu ingatan nya.
"Tentu Azka, apa kau sudah siap.?"
"Aku sudah siap dari tadi." sahut Azka cepat menyambar tas kecil nya.
"Kalau begitu mari Nona." Hanz mengulurkan tangan nya yang langsung disambut oleh istri nya itu.
_____________
Kini Hanz telah berada di dalam mobil bersama Azka di samping nya. Hanz terus melajukan mobilnya di jalanan yang sedikit ramai. Sambil sesekali melirik wajah istrinya.
Tak ada suara dari mulut Azka, hanya menatap lurus ke depan dengan berbagai rasa penasaran di dalam benak nya.
Beberapa lama kemudian Hanz menghentikan mobilnya dan segera turun membuka kan pintu untuk Azka.
Hanz menggenggam tangan Azka dan membawa nya berjalan ke arah sebuah Danau.
Hanz berhenti ditepi danau itu ,
"Azka, apa kau tau kenapa aku membawa mu kesini?" tanya Hanz menoleh ke arah istrinya yang hanya menggeleng.
"Apa kau bisa mengingat sesuatu disini.?"
Azka nampak diam , kembali ia berusaha mengingat. Hanz dengan sabar menunggu jawaban dari Azka. Tapi kali ini mungkin Hanz masih harus bersabar karena kemudian Azka menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengingat apapun Hanz.!" jawab Azka dengan raut wajah sedih.
"Tidak apa Azka, kau tidak boleh bersedih. Kita akan mencoba lagi di tempat lain." Hanz membelai rambut Azka dengan tersenyum.
"Hanz, bisakah kau menceritakan apa yang terjadi disini.?"
"Disini lah pertama kali kita bertemu Azka." ucap Hanz kini meraih tangan istrinya dan membawanya melangkah menyusuri tepi Danau pelangi itu.
"Hari itu, kau baru saja kembali ke Rumah Utama dan pagi hari nya kau kabur dari rumah. Kau datang ke danau ini. Begitu juga dengan ku. Aku baru saja pulang dari kampung halaman ku dan tidak langsung kembali ke rumah utama melainkan ke Apartment ku. Tidak ada yang memberitahuku jika kau sudah kembali. Karena aku belum mendengar kabar tentang kepulangan mu, aku memutuskan untuk kemari sekedar ingin melihat lihat Danau Pelangi hasil buatan perusahaan kita ini." Hanz mulai bercerita sambil terus membawa Azka melangkah.
"Apa kau Azka, kau menampar ku disini saat aku tak sengaja menginjak kaki mu. Aku tidak melihat mu yang sedang duduk melamun disini, karena aku sibuk membayang kan wajah Nona Azkayra yang sebentar lagi akan aku jumpai . Lalu aku marah dan meninggalkanmu. Aku sempat memanggil mu anak kecil." kembali Hanz melanjutkan ceritanya.
"Sungguh menarik sekali, aku ingin sekali mengingat nya. Pasti itu sangat indah Hanz." ucap Azka ia kini menitik kan air mata.
"Azka," Hanz menghentikan langkah nya dan menyeka air mata Azka.
"Setelah itu, apa kau ingat, Kau menyelamatkan aku dari serangan seseorang yang hampir saja menewaskan aku. Kau memukul pria itu dengan balok kayu pada saat pria itu hampir menusuk ku." Hanz melanjutkan ceritanya sambil menyeka air mata Azka yang masih tersisa.
"Jika kau ingat pasti kau akan tertawa Azka, saat aku meminta maaf dan berterimakasih padamu. Lalu menawarkan diri untuk mengantar mu pulang karena ingin membalas budi padamu. Tapi kau menolak dan malah menyuruh ku mengajak mu berkeliling kota. Lalu aku mengajakmu ke taman kota , di sana lah awal pertama pandangan kita bertemu. Di sana lah aku merasa jatuh cinta pada mu, dan ku rasa di taman itu juga lah kau mulai jatuh cinta padaku." ucap Hanz, terus menceritakan secara detail tentang pertemuan mereka.
Hanz juga menceritakan tentang perkenalan resmi mereka yang sangat mengejutkan ketika di Rumah Utama, ia dan juga Azka tak pernah menyangka jika mereka sudah bertemu sebelum saling mengenal dengan jelas , namun sudah terlanjur saling jatuh hati.
Tak luput Hanz pun menceritakan tentang hari hari yang di jalani nya selama mendampingi dan harus menjaga Azka. Pedih tertekan ,menderita , itu lah yang di alami nya sepanjang waktu bersama Azkayra.
Antara cinta dan pengabdian, terus berperang di hatinya. Hingga suatu saat mereka tak lagi bisa mengendalikan perasaan nya.
Hanz pun menceritakan bagai mana proses ciuman pertama mereka terjadi tanpa di rencana. Semua mengalir begitu saja.
Azka dengan setia terus mendengar cerita Hanz, sesekali ia tersenyum Malu, dan sesekali ia tampak bahagia. Ia membayangkan diri nya berada di masa masa itu, masa yang tidak bisa ia ingat. Azka bahkan bisa Merasakan nya dan ikut hanyut dalam kebahagiaan masa masa itu.
Kini Hanz membawa Azka kembali ke mobil nya.
"Kau akan membawa aku kemana lagi Hanz,?"
"Ke tempat yang menjadi favorit mu Azka. Tempat di mana kita berbulan madu, sebelum kau melupakan semua nya."
__________________
hai, Semua...
__ADS_1
***Terimakasih atas kesetiaan kalian.
Jejak kalian jangan lupa ya***..???