"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Azze Mu adalah Halilintar ku, Anak yang luar biasa.


__ADS_3

"Mam, Jangan hukum Papa. Az mohon Mam, papah tidak lah bersalah. Az yang menginginkan nya." Halilintar memohon seraya memegang kedua tangan Ibu nya, seolah mengerti apa yang akan terjadi ketika Azka menyuruh nya ke kamar nya sendiri.


Dengan muka acuh Azka tak menjawab ucapan Halilintar, namun tidak bisa di pungkiri hati nya mendadak ciut ketika mendengar pengakuan Putra nya jika Halilintar sendirilah yang menginginkan nya. Rasa tak masuk akal untuk anak seusia nya menginginkan hal exstrim seperti itu.


"Hal,!" Hanz memanggil putranya dengan panggilan kesayangan nya." Mama hanya menyuruh mu ke kamarmu. Bukan untuk memarahi Papa." bujuk Hanz .


"Benarkah Mam, ?" Halilintar menatap Azka.


"Azze, cepatlah ke kamar mu,


Mama hanya ingin bicara pada Papa mu. Kenapa kau sangat khawatir kalau Mama akan memarahi nya.?" Azka menyentil telinga Putra nya.


"Mama suka berbohong."


"Apa..? Kau kembali melawan ku.?"


"Tidak Mama cantik , Az hanya mengingat kan." kecupan manis milik bibir mungil Halilintar mendarat di kedua telapak tangan Azka seolah ingin merayu nya.


"Baiklah, kalau begitu pergi lah ke kamar mu, atau aku yang akan mengantar mu sekarang." mendengar itu Halilintar segera menyingkir, ia paham betul jika Ibu nya sudah berkata demikian itu pertanda tidak baik.


Azka akan mengantar nya memasuki kamarnya dan pasti nya akan mengunci kamarnya dari luar. Itu lah sebab nya Halilintar langsung gentar dan memilih untuk menurut.


Dengan kedipan mata seolah kode untuk Hanz ,sesaat sebelum Halilintar melangkah keluar kamar mereka , mampu membuat Hanz terkekeh.


Tapi tawa itu tak berlangsung lama ketika Azka meraih pundak nya dengan kasar hingga Hanz terduduk di atas sofa dengan Azka yang tepat berdiri di hadapan nya.


"Kau ingin menjadikan Halilintar mu seperti apa Hanz.?" sorot mata itu kembali tajam.


"Azka, dengarkan penjelasan ku." Hanz menarik nafas.


"Halilintar adalah seorang laki laki


Kelak ia harus bisa menjaga dirinya sendiri dan juga keluarga nya. Aku hanya ingin memberi kan yang terbaik untuk Calon penerus Samudra."

__ADS_1


"Lantas, kau mau mempersiapkan dia seperti Ayah mu dulu mempersiapkan mu , begitu. Lalu mengulang masa kecil kita yang kehilangan masa kanak kanak kita. Dan hanya bisa menuruti kehendak orang tua nya. Berlatih dan terus berlatih ,belajar dan terus belajar tanpa tau bermain. Aku tidak ingin Azze ku kehilangan masa kecil nya seperti kita dulu Hanz. Kau tidak mengerti juga." ucap Azka.


"Azka, dunia bisnis itu keras. Persaingan begitu ketat. Lebih banyak lawan dari pada kawan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depan nya. Azze mu atau Halilintar ku sama. Satu satu nya penerus kita. Dan aku tidak mau mengambil resiko yang kemungkinan saja bisa terjadi . Mengertilah. Semua ku lakukan demi kebaikan nya." jelas Hanz.


Azka menelan ludah kasar nya. Ia mulai memahami ke khawatiran suaminya, kendati hati nya belum bisa menerima , ia lebih menginginkan Azze nya memiliki hidup Normal selayak nya anak seusia nya.


Namun cara sudut pandang Hanz berbeda, ia lebih memilih jalan yang pernah di tempuh Ginanjar Samudra sang mertua nya saat mendidik putri nya dan Rangga ayah nya saat menyiapkan hidup nya.


"Apa kau pernah tau keunikan Azze mu.?" kini Hanz menatap lekat wajah istrinya, membuat Azka semakin menatap nya pula.


"Sejak ia memasuki usia delapan tahun, aku memergoki nya mencuri Pistol ku dan terus memainkan nya. Beruntung aku mengetahui nya . Ia terus merayu ku untuk mengajari nya menggunakan nya. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengajari nya setelah usia nya menginjak sepuluh tahun. Apa kau tau ia bahkan bisa meretas komputer milik ku dalam waktu sehari.?"


Azka menggeleng kan kepalanya. Sungguh hal yang ia tidak mengerti, bahkan selama ini ia tidak pernah merasa jauh dari Azze nya, tapi kenapa ia sampai tidak mengetahui nya.


"Kau harus bisa menerima kenyataan, jika Azze mu lebih terbuka dengan ku. Dan menerima kenyataan jika Halilintar ku adalah Seorang anak yang luar biasa." ucap Hanz .


"Hanz, aku mengkhawatirkan nya."


"Aku tau, maafkan aku." Azka terisak.


"Kau pernah hampir celaka. Aku pernah hampir mati. Kau pun pernah hampir meninggalkan aku, Semua itu karena aku tidak bisa menjaga mu dengan baik. Aku tidak ingin Halilintar ku selemah Papanya." ucap Hanz membelai rambut istrinya.


Azka tak bisa lagi berkata. Semua ucapan Hanz adalah bentuk kepedulian Hanz pada Azze nya. Dan Hanz sengaja mempersiapkan nya bukan karena menekan nya, semua juga atas keinginan Halilintar sendiri.


Mulai hari itu, Azka tidak lagi melarang Hanz melatih Azze nya. Bahkan saat Hanz mendapat kan guru bela diri untuk khusus mengajari Halilintar bela diri di Rumah Utama, Azka hanya bisa mendukung keinginan mereka yang begitu kompak.


Hingga Azze mendapatkan kemajuan yang pesat dalam waktu beberapa bulan saja.


____________


Pagi itu, senyum ceria berkembang di bibir Halilintar ketika Sang ayah mengijinkan ia ikut ke perusahaan Samudra. Hanz memang sudah pernah mengajak nya beberapa kali , namun hal itu malah seperti menjadi candu bagi Halilintar. Ia sering merengek lagi dan lagi.


"Azze , kau tidak boleh nakal di sana. Mama akan menyusul agak siang nanti." ucap Azka melepas keberangkatan Putra dan suami nya.

__ADS_1


"Az Janji Mam.!" teriak Halilintar seraya melambaikan tangan nya.


Hanz tersenyum menepuk lembut kepala jagoan nya. Dan Arwan segera menginjak pedal gas nya.


Arwan yang sudah menikahi Berlinda dan mendapatkan seorang putri yang cantik itu masih setia mendampingi Hanz hingga kini. Begitu juga dengan Berlinda yang masih selalu setia mendampingi Azka.


.


.


"Duduk lah disini jagoan Papa." ucap Hanz sesaat setelah memasuki kantor nya, menarik sebuah kursi tepat di samping kursi kerja nya.


Langsung meloncat girang , Halilintar segera duduk di sebelah Ayah nya. Mata nya terus menatap layar komputer yang masih sibuk di sentuh jari jemari kekar Ayah nya. Seolah ingin memahami isi nya, Halilintar terus merekam semua nya itu di memori otak nya.


"Tuan, seorang tamu ingin bertemu dengan Anda." Arwan sudah berdiri di depan meja kerja Hanz.


"Siapa.?"


"Pemimpin perusahan Purwa Gemilang ." sahut Arwan.


"Apa kita ada janji.?"


"Seperti nya tidak Tuan.?"


"Baik lah, suruh ia menunggu ku di ruang tamu." ucap Hanz, dan Arwan pun segera melangkah keluar.


"Hal, bisa kah kau menunggu di sini sebentar.? Papa harus menemui seseorang." Hanz menepuk bahu putranya yang segera mengangguk.


Hanz melangkah keluar ruangan nya menuju ruang tamu, ia sempat melirik tiga pengawal tamu nya yang memang pemimpin dari perusahaan baru yang masih naik daun itu,berada di luar ruangan tamu nya. Mereka segera menunduk hormat padanya.


Hanz hanya membalas dengan senyuman tipis sesaat sebelum Hanz melangkah menemui Tamu nya.


Bersambung..!!

__ADS_1


__ADS_2