
Bagi yang belum pernah bagi Vote untuk Hanzero, jangan pelit ya... di tunggu vote nya...
_______________________________________
Pagi itu di kantor perusahaan Samudra,
Terlihat Hanzero dan Sang sekretaris nya sedang duduk serius menatap layar televisi yang sedang memutar kaset pemberian sang Dokter wanita kemarin.
Wajah Hanzero yang tadi nya terlihat bersemangat dan serius tiba tiba berubah menjadi tegang. Ia terlihat menggigit jari nya sambil terus menatap adegan demi adegan yang memperlihatkan berbagai proses kehamilan dan berakhir dengan proses persalinan Normal.
"Argh.!" Hanz tiba tiba membungkam mulut nya sendiri tatkala video itu menampak kan betapa payahnya perjuangan seorang wanita yang tengah melahirkan.
"Ya Tuhan... Seperti itukah.?"
"Tuan, Anda baik baik saja.?" tanya Arwan yang sedari tadi menemani tuan nya.
"Arwan, apa kau juga melihat nya.?" Hanz balik bertanya.
"Iya Tuan," jawab Arwan.
"Mati kan Arwan Mati kan, aku tidak sanggup melihat nya." teriak Hanz .
Arwan langsung mematikan Televisi itu.
Melirik wajah Tuan nya yang sangat tegang dan kali kali mengusap wajah nya yang berkeringat.
"Itu pasti sangat menyakitkan. Apa tubuh Nona kita akan sanggup menerima semua itu ?" tiba tiba saja Hanz membayangkan Azkayra dengan perut buncit yang membesar dan bayangan Azkayra yang sedang berjuang melahirkan,
jantung nya berdegup kencang dan semakin tegang.
Tangan nya mencengkeram kuat pinggiran sofa.
"Tidak Arwan, Nona Azka terlalu lemah untuk menanggung semua itu. Aku tidak mungkin tega membiarkan dia seperti wanita tadi. " Hanz memegangi kepalanya, masih terngiang di telinga nya teriakan dan jeritan seorang wanita yang ada di video tadi.
"Tuan, Nona Azka adalah wanita yang kuat. Ku rasa Nona pasti bisa." ucap Arwan.
"Tapi Arwan, itu sangat mengerikan. Aku tidak sanggup membayangkan jika Azka ku harus mengalami nya."
"Tapi Tuan, semua wanita pasti mengalami nya. Ibu ku atau pun Ibu Tuan juga. Lalu bagaimana jika Nona tidak harus mengalami nya? Bagaimana cara Tuan bisa mendapatkan seorang keturunan.?" ucap Arwan berusaha meyakinkan Tuan nya agar bisa membuka sedikit pikiran nya tentang keinginan nya agar Nona nya Azka cepat mengandung.
"Tapi.. untuk Azka. Apa aku tega..! Itu sangat mengerikan." sahut Hanz masih mencengkeram pinggiran sofa.
"Nona bisa melahirkan dengan cara cesar tuan , tidak harus melahirkan Normal. Dan banyak cara yang lain." ucap Arwan sekali lagi.
Hanz kini menoleh ke arah Arwan .
"Tapi proses kehamilan nya, ngidam nya , semua nya terlihat berat Arwan. Bagaimana mungkin aku melihat Azka seperti itu.? Sedang kan waktu demam saja sudah membuat ku sangat khawatir dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. AH... sungguh delima untuk ku." keluh Hanz.
"Tuan, percaya lah. Nona pasti bisa. Jika Tuan sampai memutuskan untuk Nona tidak hamil, itu sangat membuat Tuan dan Nona kehilangan masa depan, dan pasti nya akan membuat kecewa Tuan Besar." Arwan segera mengingat kan Tuan nya.
"Entah lah Arwan, melihat video tadi , aku jadi sangat ragu. Jika boleh memilih , aku memilih untuk tidak mempunyai anak seumur hidup ku dari pada harus melihat Nona Azka harus menderita seperti itu."
"Tuan, Anda tidak boleh bicara seperti itu. Anda tidak boleh tidak mempunyai keturunan. Lalu bagiamana nasib masa depan kalian berdua nanti tanpa seorang anak.?" Arwan terus meyakinkan Tuan nya.
"Biar aku berpikir dulu Arwan, ini sangat berat untuk Ku. Ayo kita pulang. Mendadak aku ingin sekali melihat Nona Azka." ucap Hanz segera bangkit.
"Tuan, tapi ini belum jam pulang."
__ADS_1
"Kita selesai kan besok saja Arwan. Ayo lah " Hanz terus memaksa sekretarisnya untuk segera beranjak dari kantor.
"Baik lah Tuan." akhirnya Arwan menurut saja.
"Simpan baik baik kaset itu Arwan, jangan biarkan Nona menemukan nya." perintah Hanz.
Arwan pun mengambil keping kaset itu dan langsung memasuk kan nya dalam tas nya, lalu segera melangkah membuka kan pintu untuk Tuan nya, mengutit langkah tuan nya dari belakang.
Arwan langsung membawa Hanzero menuju Rumah Utama.
Arwan melirik wajah Tuan nya yang masih terlihat tegang.
bagaimana ini, jika Tuan sendiri merasa tidak yakin bagiamana dengan Nona.
"Tuan, anda harus meyakinkan diri jika Nona mampu untuk menjadi seorang ibu yang sempurna. Jika Tuan sendiri tidak yakin bagiamana Nona bisa yakin.?" Arwan memberanikan diri untuk menasehati Tuan nya.
Hanz nampak menghela nafas berat.
Dan lagi lagi mengusap wajah nya.
Tak lama berselang, mobil mereka tiba di rumah utama. Hanz langsung meloncat dari mobil dan melangkah terburu ke dalam Rumah. Berlari kecil menapaki tangga dan langsung menuju kamar Azka.
Rasa tak sabar nya ingin melihat Azka begitu bergejolak, Hanz langsung membuka pintu kamar setelah sampai di depan kamar tersebut.
"Azka...!! " panggil Hanz. Hanz mencari cari Azka, namun Ia tidak menemukan istrinya di dalam kamar.
Hanz melempar tas nya di atas ranjang, mengendor kan dasi nya dan menarik nya serta melemparnya sembarang juga membuka jas nya .
Ia memutuskan untuk melangkah mencari Azka ke arah dapur.
Benar saja, saat Hanz sudah memasuki dapur, ia melihat Azka sedang sibuk memotong sayuran di sana dengan beberapa pelayan nya dan juga Berlinda nampak di antara mereka.
Mata Hanz sudah melotot memerah dan langkah nya makin mendekati mereka.
Terlihat wajah ketakutan di raut mereka semua tak terkecuali Azka sendiri yang langsung menjatuhkan pisau yang masih di genggam nya. Ia tidak menyangka jika Hanz akan pulang secepat ini. Biasa nya Hanz akan pulang tepat waktu.
"Hanz, kau sudah pulang .?" tanya Azka sedikit gemetaran melihat wajah Hanz yang sudah tertekuk itu.
"Apa yang kau lakukan..?"
"Hanz, aku merindukan mu." Azka segera memeluk suami nya untuk sekedar meredakan amarah Suaminya.
"Apa yang kau lakukan.. Arwan... Arwan...!!!" Hanz langsung berteriak memanggil sekretaris nya.
"Hanz, aku.. aku hanya belajar memasak. Sungguh, aku hanya memotong sayuran saja. Sudah lah." Azka tau kalau Hanz pasti akan menyuruh Arwan untuk menghukum para pelayan dapur nya.
Mereka semakin ketakutan ketika Arwan muncul di hadapan mereka.
"Tuan ada apa..?" tanya Arwan sedikit bingung melihat para pelayan wanita itu sudah menunduk dengan tubuh yang gemetaran.
"Pukul mereka semua,..!! Mereka sudah membuat Nona Azka berada disini dan memegang pisau dapur. Sungguh tidak bisa di percaya." ucap Hanz sangat murka.
"Baik Tuan."
"Bang Arwan jangan. Hanz.. Jangan hukum mereka. Mereka tidak bersalah. Aku sendiri yang menginginkan nya . Hanz , kumohon." Azka merengek.
"Aku tidak peduli.. Ini pelajaran buat kamu Azka, kau selalu membantah ku." jawab Hanz.
__ADS_1
"Maafkan aku Hanz, aku tidak akan mengulangi nya lagi. Hanz.. mereka tidak bersalah." Azka terus memohon sambil memegangi tangan suaminya.
"Cepat ke kamar mu." bentak Hanz pada Azka.
"Tidak,.. Aku tidak mau. Kau pasti akan menghukum mereka." Azka melangkah mendekati para pelayan nya yang masih menunduk sambil meremas ujung baju mereka.
"Azka, jangan membuat ku semakin marah.!! Menurut lah." ucap Hanz , ia melirik Azka yang kini menetes kan air mata.
"Aku tidak mau...!!" teriak Azka.
"Nona.. Nona ke kamar saja, kami tidak akan apa apa, ini memang salah kami. Kami siap menerima hukuman nya." ucap Berlinda merayu Azka.
"Tidak Berlinda, ini juga salahku." jawab Azka.
"Azka..!!" Hanz masih memasang muka marah nya.
"Tidak Hanz, kau sudah keterlaluan. Hanya gara gara aku ingin belajar memasak saja kau sudah akan menghukum mereka. Aku tidak akan membiarkan kalian menghukum mereka..!" Azka membanting piring ke lantai membuat Hanz dan Arwan terkejut.
"Azka,." Hanz menurunkan nada suara nya, mendekati istri nya dan meraih tangan nya.
"Lepas, aku tidak mau , kau jahat." Azka menarik tangan nya.
"Azka, kau sedang menjalani program hamil, kau tidak boleh lelah sedikit pun Kau tidak ingat pesan Dokter kemarin." ucap Hanz mulai lembut.
"Memang nya memotong sayur akan menguras tenaga ku, terus membuat ku kelelahan dan pingsan begitu...!! Kau yang sudah membuat ku lelah. Pikiran ku lelah karena kau terlalu melarang ku. Aku benci kamu Hanz...!!!" teriak Azka, ia segera berlari ke kamar nya.
"Azka..."
"Arwan, urus mereka." ucap Hanz menoleh ke arah Arwan dan segera menyusul istri nya.
"Baik Tuan," jawab Arwan melangkah mendekati para pelayan.
Para pelayan itu langsung berlutut di hadapan Arwan begitu juga dengan Berlinda.
"Ampuni kami Tuan Sekretaris, ampuni kami..!!" rengek mereka.
Arwan tersenyum melihat tingkah mereka.
Ia terus mendekati mereka dan meraih tangan Berlinda.
"Berdiri..!!" ucap Arwan menatap wajah Berlinda yang sudah berdiri itu , wajah nya sangat ketakutan.
" Kau tau kesalahan mu..?? Kau adalah pelayan pribadi Nona, kenapa bisa seceroboh ini. Apa kau lupa jika nona kita sedang menjalani program kehamilan.? Yang arti nya Nona tidak boleh lelah sedikit pun." tanya Arwan, makin membuat mereka takut.
"Maaf Tuan, saya salah.. Ampun..!!" rengek Berlinda.
"Baik lah, karena ini keinginan Nona Azka, maka aku akan mengampuni mu dan teman teman mu. Tapi jika ini terulang lagi, aku tidak akan pernah mengampuni kalian lagi. Aku akan memukul kalian seratus kali.! Ingat itu." ucap Arwan melangkah meninggalkan mereka.
"Terimakasih Tuan.. Terimakasih." jawab mereka akhirnya bernafas lega karena terbebas dari hukuman.
Sementara Hanz , ia menghampiri Azka yang masih terisak di ujung ranjang.
"Azka..!!" ucap nya lirih, menyentuh jemari istri nya.
"Pergi... Aku benci kamu Hanz.. Aku benci..!" Azka menepis kasar tangan Hanz.
"Maafkan aku Azka, aku tidak bermaksud mengekang mu. Aku hanya terllau khawatir padamu...!! " ucap Hanz sangat menyesal.
__ADS_1
Keinginan nya pulang untuk segera bertemu dengan istrinya karena tiba tiba merasa sangat khawatir setelah menonton video di kantor tadi, tapi malah di suguhi pertengkaran yang membuat Azka menangis.
Bersambung...