"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Berakting.


__ADS_3

Jam tujuh malam, Hanzero sudah berada di kamarnya , terlihat sudah mandi dan duduk menikmati secangkir kopi.


Seseorang mengetuk pintu.


"Tuan, ada yang tamu." ucap Berlinda ketika Hanz membuka pintu.


"Siapa..?"


"Entah Tuan, tapi katanya mencari Nona." jawab Berlinda.


"Saya sengaja memberitahu Tuan dulu, takut kesalahan jika langsung memberitahu Nona." ucap Berlinda.


"Pintar Kau Berlinda , peraturan di rumah ini siapa pun Tamu yang ingin bertemu Nona Memang harus lewat aku dulu. " jawab Hanz membenarkan alasan Berlinda.


"Iya Tuan saya mengerti."


"Baik lah ,aku akan menemui nya. Kau urus saja Nona mu dengan baik." ucap Hanzero segera melangkah menemui Tamu itu.


Dalam pikiran nya ia sudah menebak siapa tamu itu.


Dan benar saja, Gavin adalah tamu yang di pikirkan Hanz.


"Tuan Gavin." sapa Hanzero menghampirinya.


"Di mana Nona Azkayra, malam ini kami sudah membuat janji untuk keluar." balas Gavin.


" Tunggu sebentar Tuan, saya akan memanggil Nona.." jawab Hanz.


"Bagus lah , cepat panggil ..?" ucap Gavin tersenyum miring.


"Baik lah , Mohon tunggu sebentar.." jawab Hanz segera melangkah menuju kamar Azka.


Kau pikir semudah itu akan mengajak Azka ku pergi. Kita lihat saja Gavin..


Hanz langsung membuka pintu kamar Azka ketika sampai disana. Ia menghampiri Azka yang sedang mengobrol riang dengan Berlinda.


"Nona.. Anda harus bertanggung jawab dengan ucapan Anda." ucap Hanz membuat Azka sedikit bingung.


"Apa maksudmu Hanz..?" jawab Azka.


Hanz melirik Berlinda, mungkin Berlinda belum menyampaikan pada Azka tentang tamu yang datang mencari nya.


"Tuan Gavin datang menepati janji nya untuk mengajak Nona keluar. Bagaimana menurut Nona? Apa Nona akan menepati janji Nona untuk pergi dengan nya malam ini.?" ucapan Hanz terdengar seperti ancaman.


"Aduh Hanz... bagaimana ini Aku tidak mau pergi dengan nya.. ? Bantu aku..? " suara Azka memelas.


"Salah Nona sendiri...!!" jawab Hanz ketus.


"Hanz... Berlinda..!!" kini Azka menatap Berlinda yang juga bingung tak mengerti dengan ucapan mereka.


"Nona .. sebenarnya siapa tamu itu..?" tanya Berlinda.


"Pacar Nona mu Berlinda. Pacar kesayangan nya." Hanz yang menjawab pertanyaan Berlinda dengan nada ketusnya.


"Hanz.. !!!" Azka berteriak ke arah Hanz.


"Lalu bagaimana.? Tadi saya sudah terlanjur mengatakan untuk memanggilkan Nona dan menyuruhnya untuk menunggu ." ucap Hanz.


"Berlinda, temani aku keluar ." Azka mengajak Berlinda keluar menemani nya menemui Gavin.


"Aku harus berpura pura sakit. Dan kau harus membantuku." bisik Azka pada pelayan kamar nya itu.


Berlinda yang paham dengan situasi Nona nya langsung mengambil posisi.


Ia memapah Nona nya menuruni tangga.


"Nona hati hati .!" ucap Berlinda ketika sampai di ruangan utama, sengaja dikeraskan agar Tamu itu mendengarnya.


Gavin segera menoleh ketika mendengar suara Berlinda, dan menghampiri Azka yang tengah berjalan di papah oleh Berlinda.


"Nona, apa yang terjadi.?" terlihat wajah Gavin mendadak khawatir.


"Aku terjatuh di kamar mandi.?" sahut Azka.


"Kenapa bisa begitu..?" tanya Gavin semakin panik.


"Iya. Aku tadi saat pusing sekali. Dan waktu masuk kamar mandi aku tidak tahan dan jatuh. Untung Pelayan ku segera datang dan menolong ku." ucap Azka bermain sandiwara.


"Tapi Nona tidak apa apa kan..?" ucap Gavin lagi.


"Dokter sudah datang Tuan, dan Nona sudah di obati. Hanya saja kata Dokter Nona butuh istirahat yang cukup." Berlinda menyela pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu Nona istirahat ya.?" ucap Gavin.


"Lalu bagaimana dengan mu Tuan Gavin, aku sudah berjanji malam ini akan pergi bersama mu." jawab Azka sembari memijit mijit kepalanya.


" Nona.. Nona harus dengar kata Dokter tadi. Nanti kalau terjadi apa apa pada Nona bagaimana.? Tuan Ginanjar akan memarahi kami semua." Berlinda kembali berakting.


"Benar Nona, apa yang dikatakan pelayan Nona. Masalah pergi denganku bisa kapan kapan lagi kan, kesehatan Nona itu lebih utama. " ucap Gavin dengan bijak nya.


"Baik lah kalau begitu Tuan Gavin , maaf ya, sudah mengecewakan mu." sahut Azka.


"Tidak apa apa.. Kalau begitu aku pulang dulu ya..? Nona istirahat saja." jawab Gavin.


"Hati hati ya..?"


Gavin hanya mengangguk dan melangkah pergi, Azka segera menutup pintu dan menghela nafas lega.


"Huh... untung kau pintar berakting Berlinda. Aku jadi terhindar dari makhluk mengerikan itu." Ucap Azka melangkah menaiki tangga bersama Berlinda.


"Ternyata Tuan tadi itu bodoh ya Nona, bisa bisanya percaya sama akting kita." sahut Berlinda.


"Dia memang bodoh, tapi sok pintar.." jawab Azka. Kedua nya tertawa terbahak-bahak.


"Ehemmmm..." Hanzero berdehem dan tersenyum melihat mereka.


"Tidak menyangka Nona Azka yang jelita ini pintar berbohong." ucap Hanz menghampiri mereka.


"Kompak sekali dengan pelayan nya." Hanz juga melirik Berlinda yang menunduk.


"Diam kau..!!! Sudah tidak mau membantu , malah mengejek kami. Lihat lah, tanpa bantuan Tuan Hanzero aku bisa menghadapi singa tadi." bentak Azka .


"Siapa suruh mudah menyebar janji." jawab Hanz terkekeh dan pergi meninggalkan mereka.


"Hanz... kau keterlaluan..!!!" Azka membungkuk meraih sandal yang dipakainya dan melemparnya pada punggung Hanz.


Hanz menoleh dan masih tertawa.


"Nona harus istirahat.. kan masih sakit..!!" teriak Hanz terus melangkah.


"Hanzero....!!" teriak Azka kesal dengan ejekan Hanz.


"Sudah Nona, yang pentingkan kita sudah berhasil mengelabuhi Tuan tadi, ayo ke kamar." ajak Berlinda menenangkan Nona nya yang tengah kesal.


Mereka akhirnya kembali ke kamar Azka, dan kembali mengobrol santai melupakan ejekan Hanz .


_______


Sore hari mereka tampak sedang menuju Rumah Utama usai pulang dari perusahaan.


Azkayra terlihat menggeliat dan sebentar sebentar merentangkan kedua tangan nya.


"Nona.. Anda kenapa.?" tanya Hanz melihat gelagat Azka.


"Badan ku tidak enak sekali." jawab Azka singkat.


"Nona sakit..?" Hanz mulai panik.


"Tidak, aku hanya merasa tidak enak badan , mungkin pengaruh karna aku telat datang bulan." jawab Azka .


"Apa...??? Nona terlambat datang bulan..?" Hanz sangat terkejut dengan jawaban Azka.


"Kau kenapa kaget, aku sudah biasa seperti itu. Kadang rutin kadang juga telat. Tapi kali ini terasa lain sekali. Badan ku tidak enak sekali rasanya Hanz.." jelas Azka tidak mengerti alasan Hanz kaget dengan ucapan nya.


"Sudah berapa hari Nona terlambat." tanya Hanz semakin panik.


"Seminggu." jawab Azka menatap kepanikan Hanz namun ia tetap tidak paham dengan apa yang di khawatirkan Hanz saat ini.


"Kenapa Nona tidak bilang."


"Ini masalah perempuan Hanz, masa harus bilang sih." jawab Azka .


"Ini masalah saya Nona." ucap Hanz menghentikan mobil nya yang kebetulan memang telah sampai di rumah utama.


"Nona duluan masuk ya..?" ucap Hanz membuka kan pintu.


"Kau mau kemana Hanz...?" tanya Azka melihat Hanz tidak ikut masuk ke rumah.


"Saya pergi dulu sebentar saja ." jawab Hanz langsung kembali ke mobil.


Dan segera pergi.


Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan.. Jika nona benar benar hamil. Aku benar benar sudah mengecewakan Tuan Ginanjar.

__ADS_1


semua sudah terjadi, aku harus menanggung nya. Aku harus segera menikahi nya , tidak peduli dengan Villa pelangi. Mau selesai atau tidak, menyelamatkan Nama baik Nona itu lebih penting.


Bodoh sekali kau Hanz... bodoh.


Hanz terus memaki dirinya, ia berhenti di depan sebuah Apotik dan segera turun melangkah ke arah Apotik tersebut. Ia membeli sesuatu dan segera kembali ke mobil nya untuk pulang kembali ke rumah utama .


Hanz langsung menuruni mobilnya sesaat setelah berhenti di parkiran rumah utama dan bergegas memasuki rumah itu, menuju kamar Azka.


Di ujung sana ia melihat Berlinda juga menuju kamar Azka dengan membawa sesuatu. Ia mengikuti langkah Berlinda di belakang.


"Nona, ini obat yang Nona inginkan. Semoga bisa mengurangi sakit Nona.?" Berlinda mengulurkan kan Botol minuman yang ternyata obat untuk melancarkan datang bulan.


"Terimakasih Berlinda." Azka segera menerima nya dan membuka nya.


Ia mulai hendak menegak minuman itu,


"Azka..!!" teriak Hanz dan tiba tiba tangan Hanz segera menepis botol itu sebelum terminum oleh Azka , hingga botol itu jatuh di lantai dan pecah berantakan.


Azka dan Berlinda terkejut dengan sikap Hanz yang kini menatap tajam ke arah mereka dengan tatapan yang menakutkan.


Berlinda Sampai ketakutan melihat tingkah Hanz.


"Hanz.. kau kenapa..?" tanya Azka dengan keheranan.


"Apa yang kau lakukan Azka, apa kau sudah meminumnya..?." Hanz mengguncang bahu Azka dengan tatapan panik nya.


"Kau sudah membuat nya pecah, bagaimana aku meminum nya. Kau kenapa sih..? Aneh sekali. Kau pikir aku meminum racun .?" bentak Azka mendorong tubuh Hanz.


"Lalu itu apa..?" tanya Hanz kembali menatap Azka.


"Itu obat khusus untuk wanita yang sedang telat datang bulan.. Siapa tau bisa mengurangi sakit ku, aku sengaja menyuruh Berlinda membelikan nya untuk ku." jelas Azka merasa sikap Hanz sudah berlebihan.


"Berlinda.. tinggalkan kami." Hanz menatap Berlinda yang mengangguk dan segera keluar dari kamar Azka. Dan Hanz langsung mengunci pintu.


"Azka, kau tidak mengerti." ucap Hanz memeluk Azka.


"Hanz .. kenapa.?" tanya Azka yang masih bingung dengan sikap Hanz.


"Kita harus memastikan nya dulu, apa kau benar benar telat datang bulan atau ini karna..?" Hanz mengeluarkan sesuatu dari saku nya.


"Hanz.. maksud mu..?" Azka baru sadar maksud Hanz setelah melihat apa yang di genggam Hanz .


"Tampung Air kencing mu Azka, kita harus memastikan nya. Kau mengerti.?" ucap Hanz menuntun Azka ke kamar mandi.


"Hanz.. aku takut..!!" ucap Azka menoleh kearah Hanz.


"Lakukan lah Azka, kita akan segera mengetahui nya." ucap Hanz membuka pintu kamar mandi.


Azka mengangguk dan menuruti Hanz, ia masuk kedalam kamar mandi dan menampung Air kencing nya kedalam wadah yang diberikan Hanz tadi, lalu menaruh nya di atas Westafel.


"Hanz ... aku sudah selesai." ucap Azka manggil Hanz.


Hanz melangkah menghampirinya. Tangan Hanz mulai membuka Alat Tes kehamilan yang ia beli di Apotik tadi. Dengan sedikit gemetaran Hanz mengeluarkan alat itu dari wadahnya.


"Hanz.. " Azka memeluk Hanz.


"Bagaimana kalau aku hamil.?" bisik Azka.


"Kita akan menghadapi nya bersama Azka, kau jangan khawatir. Tenang lah ." ucap Hanz.


Tangan kiri nya mendekap tubuh Azka dan tangan kanan nya mulai mencelupkan benda itu ke dalam air kencing Azka sesuai petunjuk, sedang kan Azka menenggelamkan kepalanya di dada Hanz.


Setelah satu menit , Hanz mengangkat benda itu, dengan Jantung yang berdebar Hanz menatap benda yang menghisap air kencing Azka , cairan itu terlihat memerah dan naik ke bagian tengah, perlahan memudar meninggal kan garis merah muda disana.


Hanz terbelalak memastikan apa yang ia lihat itu .


"Azka lihat lah.." Hanz mengguncang tubuh Azka yang tetap tidak mau melihatnya .


Azka menggelengkan kepalanya. Dan terus memeluk Hanz.


"Azka kau harus melihat nya." ucap Hanz.


"Apa hasilnya Hanz ...?" tanya Azka tanpa menoleh sedikit pun..


"Kau harus melihat nya sendiri."


______________


*sekian dulu ya teman teman.. kita ketemu besok lagi... kira kira... positif apa negatif ya.. hasil testpack nya Azkayra..


Mau positif atau enggak.. yang jelas Hanzero tetap akan menikahi Azkayra..

__ADS_1


sampai jumpa*....!!!!


__ADS_2