"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Jangan kau ambil putri ku.


__ADS_3

Malam itu di kamar Azkayra yang sudah kedap suara, pasangan pengantin baru itu sedang berduaan.


Hanzero masih saja dengan sikap rakus nya, melanjutkan aksinya yang terus mendekap dan mellumatt bibir seksi milik istrinya, bahkan tak membiarkan tubuh Azka bergeser sedikit pun dari nya.


Kedua tangan nya yang kini telah berubah liar tiap saat dekat dengan Azka, menerobos ke balik baju Azka dan terus meraba dan meremas di sana.


Azka yang memang selalu merindukan sentuhan Hanz pun tak merasa keberatan , ia sangat menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya.


Tanpa ada pembicaraan sedikit pun dari mulut kedua nya, hanya bahasa kalbu dan tubuh yang di lontarkan mereka , seolah memahami keinginan satu sama lain.


Kedua nya kini saling menyerang , desahan dan rintihan manja ,hanya itu yang terdengar di kamar itu.


Peluh Hanzero terus mengalir membasahi rahang nya. Sementara Azka sesekali menggigit bibir bawah nya membuat Hanz semakin menggila melihat itu.


Terlihat kedua tangan Azka mencengkeram sprei, dan Hanz terus menghentak tubuh nya dengan keras dan menekan nya dengan penuh semangat.


Sampai kedua nya mengeluarkan desahan panjang berakhir dengan tubuh lemah, terbaring dengan saling berpelukan.


"Azka, aku mencintai mu.!" ucap Hanz menatap wajah cantik milik Azka.


"Aku juga Hanz, berjanji lah untuk tetap bersama ku, apapun yang terjadi." jawab Azka kini mengecup panjang kening Hanz.


"Aku tidak akan meninggalkan mu Azka, tidak akan. Hanya kau yang ku punya Azka. Hanya kau masa depan ku." ucap Hanz dengan senyum kebahagiaan di bibirnya.


"Tidurlah Hanz, besok kau sudah harus ke kantor kan.?" Azka membelai rambut Hanz penuh dengan kasih sayang.


"Baik lah, kau juga ya.?"


Kini mereka pun sepakat untuk tidur, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah akan kenikmatan yang baru mereka teguk tadi.


______


Pagi menjelang,


Hanzero sudah bersiap untuk kembali ke perusahaan Samudra yang sudah sekian lama ia tinggalkan, hanya di percayakan kepada Annabel saja.


"Hanz, Kopi mu." ucap Azka masuk,membaca secangkir kopi di tangan nya dan menghampiri Hanz yang sudah siap.


"Kau yang membuat nya.?"


"Iya Hanz, aku ingin mulai sekarang aku lah yang akan membuatkan kopi untuk mu setiap pagi." jawab Azka menyodorkan cangkir itu.


Hanz menerimanya dan segera meminum nya.


"Nikmat sekali.! Terimakasih sayang... Tapi kau tidak perlu melakukan ini Azka, sudah ada yang bertugas membuatkan kopi untuk Ku, Kau tidak perlu merepotkan dirimu." ucap Hanz menatap istrinya.


"Hanz, kau suami ku, aku yang berhak mengurus semua keperluan mu, terutama kopi dan sarapan untuk mu." sahut Azka.


"Aku menikahi mu bukan untuk mengurus hidup ku Azka , tapi untuk menemani hidup ku." ucap Hanz.

__ADS_1


"Aku tidak mau berdebat Hanz, cepat lah berangkat, ini sudah siang." ucap Azka mengusir Hanz.


"Baik lah, kau baik baik saja di rumah dan jangan pergi kecuali dengan ku." ucap Hanz mengecup panjang kening istri nya.


"Aku sudah berjanji Hanz, dan aku akan menepati nya." jawab Azka.


Hanz tersenyum dan melangkah.


"Aku pergi ya, tidak perlu mengantar ku ke depan. Istirahat lah atau lakukan kegiatan yang bermanfaat. Jangan membuat ku marah dengan kau melakukan pekerjaan dapur. Jika aku sampai mendengar nya, maka aku akan memecat semua pelayan di rumah ini." ucap Hanz sebelum benar benar melangkah.


"Iya Tuan Hanzero.. cepat lah berangkat.!" sahut Azka mulai kesal dengan ancaman suami nya.


______________


Hari berganti Minggu dan Minggu pun berganti bulan.


Kini sudah tepat satu bulan pernikahan Hanzero dan Azkayra.


Mereka menjalani hari hari penuh kebahagiaan. Bukan hanya mereka yang merasakan kebahagiaan itu. Namun seluruh penghuni Rumah utama pun merasakan kebahagiaan dan keceriaan yang menghiasai Rumah Utama.


Terutama Ginanjar Samudra.


Ayah dari Azkayra itu semakin percaya jika Hanzero benar benar pria yang tepat untuk putri nya, tidak sia sia jika selama ini mempercayai ucapan sahabat nya dulu yang bersikeras menjodohkan Putra putri mereka.


Meskipun usia Hanz dan Azka terpaut jauh, namun mereka tidak pernah terlihat berbeda, terkadang Hanz bisa terlihat lebih muda dan mengimbangi Azka yang masih berumur tepat dua puluh tahun. Dan terkadang pun Azka bisa terlihat lebih dewasa mengimbangi Hanz yang memang sudah matang itu. Mungkin jodoh, atau karena kedua nya sudah mengikat janji cinta suci mereka membuat mereka selalu setia dan bisa terikat dengan jalinan batin yang kuat.


Skip.


Pikirnya , sudah saat nya ia meninggal kan kembali Rumah Utama setelah memastikan Putri dan menantu nya hidup bahagia.


"Hanz, jaga istri mu dengan baik. Aku tidak mau mendengar kabar buruk dari kalian." ucap nya pada Menantu hebat nya itu.


"Baik Ayah, hidup saya sudah saya siapkan untuk menjaga Putri anda." sahut Hanz.


Ginanjar tersenyum dan beralih menatap Putri nya.


"Azka, jadi lah istri yang baik. Jangan membantah suami mu,."


"Iya Tuan, Saya akan menjadi istri yang baik." sahut Azka menunduk hormat dengan tingkah lucu.


"Azka, kau bukan lagi putri kecil ku, melainkan Nyonya Hanzero, dan bersikap lah lebih dewasa lagi."


"Iya Ayah, Azka mengerti. Ayah baik baik di sana ya.?" kini Azka menjawab nya dengan serius.


"Kau tenang saja Azka, kalian tidak perlu khawatir. Dan masalah cucu, aku tidak akan menuntut kalian. Semua tergantung pemberian yang Kuasa. Kita serahkan saja padaNya." ucap Ginanjar penuh kebijakan.


Hanz dan Azka tersenyum lega, akhirnya Ayah mereka bisa mengerti dan tak Lagi menuntut mereka dengan hal cucu.


Setelah semua nya siap, Bimo sang asisten setia Ginanjar membuka kan pintu mobil untuk Tuan besar nya.

__ADS_1


"Ayah berangkat Ya..?" Ginanjar menepuk bahu Menantu nya, dan melangkah.


"Ginanjar Samudra...!!!" Teriak seseorang pria yang sudah berdiri di depan gerbang dan melangkah mendekati Ginanjar dengan sebuah pistol yang di genggam di tangan nya dan terarah tepat ke jantung Ginanjar.


"Glen,..!!" ucap Ginanjar mengangkat kedua tangan nya.


Semua yang ada terkejut , tak terkecuali Azka dan juga Hanz.


Mereka semua yang ada melangkah mundur beberapa meter. Tapi tidak bagi Hanz yang terus menatap seksama tangan yang menggenggam pistol itu.


" Bukan kah kau di penjara.?" tanya Ginanjar sempat memundurkan langkah nya.


"Diam di tempat.!!" kembali pria itu berteriak sambil memiringkan senyumnya.


"Aku datang untuk menuntaskan dendam ku. Bersiap lah menyusul istri mu ke neraka." teriak Glen ayah dari Gavin itu.


Mendengar ucapan pria itu, Hanz tanpa ragu lagi langsung menembak kan pistol yang dengan cepat ia raih dari balik punggung nya tepat ketangan Glen tanpa sempat di hindari oleh nya.


"Arrghh..!!!!" Pria itu meringis dan pistol yang ia genggam pun otomatis jatuh.


Merasa gagal dan tidak mungkin melawan mereka Glen segera berlari ke jalan untuk menyelamatkan diri.


"Tangkap dia, jangan biarkan kabur..!!" Teriak Hanz langsung mengejar pria itu di ikuti beberapa anak buah nya, sementara Ginanjar yang masing mematung segera sadar dan ikut mengejar ke arah jalan di ikuti Azka putri nya .


Tembakan demi tembakan milik Hanz tepat sasaran, tubuh Glen ambruk bersimbah darah tak jauh dari jarak Hanz yang mengejar nya.


Ginanjar yang sedikit jauh tertinggal di belakang masih berusaha mengejar, dari arah belakang nya muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang tak disadarinya .


Tapi tidak bagi Azka yang cepat menyadari sesuatu hal buruk akan terjadi, dengan gesit meraih tubuh Ginanjar yang hampir saja tertabrak mobil itu. Tapi sayang.. Azka tidak sempat mengelak, tanpa hitungan detik tubuh mungil nya terpental kesamping, sedang kan mobil yang baru saja menghantam nya itu menabrak sebuah tiang listrik dan meledak seketika jauh dari tubuh Azka yang sudah terkapar.


Menyadari hal itu Ginanjar langsung berlari ke arah Azka, begitu juga Hanz yang mendengar ledakan hebat itu.


"Azka.." Ginanjar langsung meraih tubuh putri nya yang sudah bersimbah darah tak sadarkan diri.


"Azka...!!!" Hanz pun segera menghampiri mereka dan langsung mengangkat tubuh istri nya.


Tanpa bertanya atau berbicara sepatah pun Hanz langsung berlari menuju mobil.


"Buka pintu nya cepat...!!!" ucap Hanz segera di patuhi oleh Bimo.


Tanpa mempeduli kan Mertua nya yang masih syok Hanz langsung menyuruh Bimo segera melaju .


"Bertahan lah Azka..!!" ucap Hanz, di kursi belakang dengan Azka di pangkuan nya.Kini air mata nya telah mengalir deras. Ia terus menggenggam erat tangan Azka dan mendekap kepala Azka, darah segar milik Azka pun membasahi kemeja putih Hanz.


Sementara Bimo tanpa di beritahu sebelum nya sudah mengerti, ia harus segera menemukan rumah sakit terdekat.


Sementara Ginanjar langsung menyusul Mobil Bimo dengan Arwan yang membawa nya.


"Cukup Istri ku saja yang Kau ambil Tuhan, .. Jangan Putri ku..!!" sebuah rasa penyesalan yang terselip begitu dalam di hati seorang ayah yang menyaksikan perbuatan nekad putri nya untuk menyelamatkan nyawa nya.

__ADS_1


________________


"Like dan Komen, Jangan lupa Vote nya.. Hari Senin kan..??"


__ADS_2