
"Kau bilang namamu Ero, kau sudah membohongiku." ucap Azka memukul tangan Hanz.
"Nama panjang saja Hanzero Nona." jawab Hanz menunduk kan pandangan nya.
"Ya.. Aku tau itu, tapi kenapa tidak berterus terang kalau... "
"Saya tidak mungkin mengatakan hal pekerjaan saya pada orang yang baru saja saya kenal Nona. Maafkan saya. Bukan bermaksud membohongi Nona. " potong Hanz.
"Tetap saja, kau sudah membohongi Ayah, kau sudah berada di kota sejak kemarin kan..? "tanya Azka sembari duduk.
"Saya hanya ingin beristirahat sebentar Nona, pikir saya, Tuan akan segera menghubungi saya saat Nona hendak pulang ke rumah Utama. Saya tidak pernah menyangka kalau Nona sudah kembali. "jawab Hanz memberi alasan.
"Baiklah.. Tapi kau masih berhutang padaku." Azka mengingatkan.
"Saya tidak akan lupa Nona." jawab Hanz melirik wajah Nona nya.
( Ya Tuhan.. Ternyata gadis itu adalah Nona, pantas saja wajah nya begitu jelita.) Hanz dalam hatinya.
"Lalu bagaimana janji mu pada Azka, sore ini kau berjanji menemuinya lagi kan..? " tanya Azka memiringkan senyumnya.
"Saya.. Sudah bertemu disini." jawab Hanz kembali menunduk.
"Kalau begitu, kau harus membawa ku ke sana sore ini, anggap saja untuk menepati janji mu, bagaimana.? " Azka menatap Pria yang masih berdiri ditempat nya semula.
"Baik Nona, saya akan membawa anda ke sana." Jawab Hanz.
"Benar kah... Ahhh.. Aku sungguh senang Hanz.. " jawab Azka girang.
Hanz hanya tersenyum melihat Nona nya.
"Duduk lah Hanz, aku akan bicara pada Ayah sebentar. " ucap Azka yang dibalas anggukan lembut Hanz. Azka segera bergegas menemui Ayah nya dikamar.
Sampai dikamar Ayah nya, Azka segera membuka pintunya dan menghampiri Ayah nya yang masih sibuk dengan komputer nya.
"Ayah.. Azka akan pergi bersama Hanz. " ucap Azka.
__ADS_1
"Kau boleh pergi kemanapun kau mau, jika bersama Hanz , Ayah tidak akan pernah khawatir. "jawab Ginanjar tersenyum. Ia memang tidak akan pernah khawatir jika Azka pergi bersama Hanz yang memang sudah bisa ia andalkan kemampuannya.
huuhh.. ayah benar benar mempercayai Hanz.
"Terimakasih Ayah.. " Azka kembali keluar dari kamar Ayahnya.
Azka kembali lagi menemui Hanz yang telah duduk di sofa, Hanz sepertinya sedang menghubungi seseorang.
"Siap kan sekarang, kita akan segera berangkat. " ucap Hanz mengakhiri panggilan nya, dan melihat kedatangan Nona nya.
"Hanz.. Kita akan berangkat sekarang..??? " ucap Azka bersemangat.
"Jika Nona ingin berangkat sekarang, Mari..! " jawab Hanz, melangkah kan kaki. Azka segera mengikuti langkah Hanz.
Hanz segera membuka kan pintu Mobilnya, saat telah berada di parkiran, dan mempersilahkan Nona nya duduk didepan.
Dengan senyum sumringah Azka segera duduk, Hanz langsung menjalan kan mobilnya.
"Apa kau tau Hanz, aku tidak pernah melihat kota. Selama ini aku hanya melihat perkampungan yang sangat membosankan. " ucap Azka melirik wajah pria yang duduk disampingnya itu. Hanz hanya tersenyum.
(Ya ampun... Hanz benar benar tampan.. Dan sangat berwibawa, pantas saja Ayah begitu membanggakan nya. Kalau begini bisa bisa aku jatuh cinta padanya. Atau malah aku sudah jatuh cinta ya..) Azka memegang dadanya.
"Kenapa jantungku berdegup kencang begini sih, tatapan Nona membuat ku gugup, ahhh mungkin karena aku baru mengenalnya. " ucap Hanz dalam hati.
"Kau mau membawa ku kemana Hanz..? " suara Azka mengejutkan Hanz yang tengah melamun.
"Ke taman tadi pagi Nona. " jawab Hanz.
"Kenapa harus ke sana lagi, kenapa tidak ketempat lain..? " tanya Azka.
"Kalau begitu kita Danau tadi pagi saja, sekalian ada yang ingin saya tunjuk kan pada Nona, setelah itu Terserah Nona, saya akan mengantar kemana pun yang Nona inginkan.? " jawab Hanz sembari melirik ke arah belakang memastikan Dua mobil pengawalnya yang telah mengikuti mobilnya lewat kaca spion.
"Baiklah, tapi setelah itu kau harus menuruti ku." jawab Azka mendengus.
Hanz mengangguk. Tak lama kemudian mereka tiba di tepi danau yang pagi tadi mereka datangi. Hanz segera menghentikan mobilnya dan segera turun dan langsung membukakan pintu mobil untuk Nona nya turun.
__ADS_1
Hanz membawa Nona nya berjalan kearah sebuah Villa yang sepertinya masih dalam proses pembangunan yang tidak jauh dari tempat mobil mereka berhenti. Hanz menoleh kebelakang kepada beberapa Pria berbadan tegap dan berpakain rapi serba hitam, yang berjalan hanya berjarak beberapa langkah dari mereka.
"Apa mereka pengawalmu Hanz..? " tanya Azka yang juga menoleh kebelakang, menyadari jika mereka sedang mengikuti Hanz dan dirinya.
"Lebih tepatnya pengawal Nona." jawab Hanz.
"Kenapa harus membawa mereka. Inikan hanya jalan jalan sore biasa. " tanya Azka merasa risih.
"Mereka dipekerjakan untuk itu, kemanapun Nona melangkah diluar rumah,mereka harus selalu ada. "jawab HanZ.
"Memang di luar buat ku sangat berbahaya ya..?" tanya Azka lagi.
"Itu sudah menjadi peraturan yang kita buat sebelum Nona kembali." jawab Hanz yang tidak di balas lagi oleh Azka. Mungkin dia memang harus membiasakan diri untuk dikawal setiap berada di luar.
Tak lama kemudian, Langkah mereka sampai pada bagian Halaman Villa itu, Hanz segera mengajak Nona nya memasuki Villa tersebut.
"Hanz.. Kenapa membawa ku kemari, apa yang ingin kau tunjukkan, villa ini..? Bahkan Villa ini masih dalam proses pembangunan.? " tanya Azka merasa heran, kenapa Hanz membawa nya pada Villa yang masih terlihat berantakan itu.
"Saya hanya ingin meminta pendapat Nona tentang Villa ini. " jawab Hanz menghentikan langkah nya di teras Villa.
"Pendapat..??" ucap Azka masih belum mengerti.
"Menurut Nona, Apa Villa ini akan terlihat indah saat sudah selesai di bangun nanti..?" tanya Hanz.
"Ya.. Tentu saja Villa ini akan sangat terlihat Indah.. Karna berdiri tepat dipinggir danau. Dari teras nya saja kita sudah bisa melihat pemandangan Danau yang indah. Belum lagi ditambah udara segarnya. "Jawab Azka tersenyum.
"Nona.. Villa ini adalah bagian dari bisnis yang akan kita jalankan. " ucap Hanz.
"Benar kah..?? " Azka begitu terkejut.
"Benar Nona, ini hanya lah salah satu dari beberapa Villa yang lain. Bahkan Danau ini pun adalah hasil buatan Perusahaan Samudra. " jawab Hanz menjelaskan.
Azkayra hanya bisa berdecak tanpa berkata. Ia mengeleng geleng kan kepalanya merasa takjub dengan kehebatan Ayah nya dan tentu saja Hanz yang pastinya telah mengurus semua nya ini.
Ia menatap danau buatan yang sangat indah itu, yang diberi nama Danau pelangi oleh mereka.
__ADS_1
________
Minta Like dan komen nya teman teman... jangn lupa tekan favorit.