
"Arwan, Kenapa kau tersenyum senyum sendiri..? Kau tidak sedang sakit kan..?" tanya Hanz menatap curiga pada sekretarisnya yang sedari tadi tersenyum sendiri.
"Tidak Tuan, saya masih sehat. Saya hanya sedang... Ah, Tuan saya seperti sedang bermimpi." sahut Arwan tersipu.
"Bermimpi.?"
"Iya Tuan, kemarin yang lalu saya masih ada di rumah Utama untuk mengatur para pengawal dan penjaga, dan sekarang saya berada di perusahaan Samudra sebagai Sekretaris pribadi Tuan Hanzero. Apa itu tidak seperti mimpi.?" curhat Arwan.
"Kau tidak menyukai nya.?" Hanz menatap sekretaris baru nya itu.
"Tentu saja saya menyukai nya Tuan, hanya saya merasa malu pada diri saya sendiri. Bahkan seorang sarjana pun memimpikan posisi saya. Sedang saya yang bukan tamatan apa apa bisa berada di posisi ini. Itu sungguh luar biasa." sahut Arwan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu.
"Kau pantas mendapatkan nya , dan mulai sekarang berjanji lah untuk menjaga kepercayaan ku pada mu." ucap Hanz , lagi lagi menatap Arwan.
"Dengan nyawa saya Tuan, saya berjanji." jawab Arwan.
"Baiklah, sekarang kita pulang. Ini sudah sore , aku sudah sangat merindukan Nona kita." ajak Hanz segera berkemas.
"Baik Tuan." sahut Arwan mengikuti langkah Tuan nya.
ah Tuan membuat ku iri saja, lalu aku merindukan siapa...???
______________
"Arwan, besok kau urus semua pekerjaan ku. Aku tidak akan pergi ke kantor. Besok aku akan membawa istri ku ke Rumah Sakit." ucap Hanz di dalam perjalanan pulang mereka.
"Rumah sakit.? Ada apa dengan Nona Tuan,? Apa Nona masih sakit.?" Arwan langsung menoleh kearah Tuan nya sembari mengemudi.
"Tidak, Nona baik baik saja. Kami akan mengikuti program hamil Arwan, jadi aku harus membawa Nona Azka sendiri ke Rumah Sakit." jawab Hanz menjelas kan.
"Baik lah Tuan, semoga berhasil , dan Tuan bisa secepat nya mendapatkan seorang penerus." sahut Arwan.
Hanz tersenyum mendengar ucapan Arwan, sekelebat bayangan Azka dengan perut buncit nya terbayang di benak Hanz.
Azka, kau pasti semakin lucu dan menggemaskan dengan perut buncit mu. Aku jadi tidak sabar ..
Tak lama kemudian mereka telah sampai di Rumah Utama. Hanz segera turun dari mobil nya dan melangkah masuk dan langsung menuju kamar Azka.
Dengan segera Hanz membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk.
"Azka, " Hanz memanggil istri nya yang terlihat berbaring di atas ranjang dengan posisi miring.
"Hari masih sore, kenapa kau sudah tidur se lelap ini Azka, apa yang kau lakukan seharian di rumah. Atau kau sibuk memasak lagi.?" bisik Hanz membelai istri nya yang sama sekali tidak bergerak itu.
Biasa nya Azka selalu menyambut kepulangan Hanz dengan tawa ceria nya dan sore ini Azka bahkan tidak menyadari jika suami nya telah berada di kamar.
__ADS_1
Tak ingin menggangu sang istri Hanz pun membiarkan Azka nyenyak, ia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Hanz kembali menghampiri Azka yang masih saja terlelap itu sesaat setelah berganti baju.
Kecupan panjang Hanz di dahi Azka adalah senjata ampuh untuk membangunkan nya.
Benar saja, Azka menggeliat dan membuka matanya.
"Hanz,.. kau sudah pulang.?" tanya Azka melihat suami nya sudah duduk di samping nya.
Hanz hanya tersenyum.
"Kau sudah dari tadi ya.? Kenapa tidak membangunkan aku.?" kembali Azka bertanya ketika menyadari jika Hanz bahkan sudah mandi.
"Maaf kan aku Azka, aku tidak bermaksud mengganggu tidur mu. Lanjutkan saja, kau seperti nya sangat lelah." sahut Hanz kembali mencium kening istri nya.
"Sebenar nya aku tidak lelah, akhir akhir ini aku sering merasa mengantuk yang berlebihan." ucap Azka.
"Apa kau tidak enak badan Azka....?" tanya Hanz mulai khawatir.
"Tidak , aku merasa baik baik saja, hanya merasa sering mengantuk." sahut Azka ,kini ia pun duduk di samping Hanz.
"Maaf kan aku.. mungkin karena setiap malam aku menganggu tidur mu Azka." ucap Hanz memeluk istri nya.
Azka tersenyum. "Bisa jadi. Tapi malam ini kau harus membiarkan aku tidur dengan tenang. Kau tidak akan bisa mengganggu ku Hanz." ucap Azka.
"Aku sedang datang bulan Hanz.!!"
Hanz membuang nafas berat.
"Kenapa dia masih datang juga..? Kapan kau akan telat Azka..?" Hanz merasa sedikit kecewa, ia sudah berharap Azka tidak lagi kedatangan tamu nya itu.
"Aku juga tidak tau Hanz, ini bukan mau ku." Azka menunduk kan wajah nya sedih.
"Azka, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat mu sedih. Maaf..!" Hanz segera menyadari jika ucapan nya sudah menyakiti hati istrinya.
"Aku juga menginginkan nya Hanz.. tapi..!"
"Sudah Azka, maafkan aku. Kau tidak boleh bersedih. Kita akan berusaha. Besok kita akan ke Rumah sakit untuk mengikuti program hamil. Setidak nya kita akan berusaha, dan selanjut nya serahkan pada Yang Maha Kuasa saja." Hanz kembali menyesal dengan ucapan nya.
"Kau mau kan.. ? Mengikuti program hamil.?"
"Iya Hanz, aku mau. Tapi jika aku tidak hamil juga bagaimana..?"
"Tidak apa apa Azka.. Yang penting kan kita sudah berusaha." sahut Hanz.
__ADS_1
Azka hanya sedikit tersenyum, namun di hati nya mulai terselip kekhawatiran. Ia mulai takut jika ia tidak bisa hamil atau lambat hamil seperti Almarhum ibu nya dulu ketika menginginkan nya bahkan ibu nya harus menunggu hingga bertahun-tahun lama nya.
"Apa kau sudah makan Azka,? " tanya Hanz.
Azka menggeleng.
"Biar aku mengambilkan makan malam mu kalau begitu." ucap Hanz beranjak.
"Biar aku saja Hanz, kau juga pasti belum makan kan.?" Azka mencegah Hanz.
"Kenapa..? Aku biasa melakukan nya."
"Tidak untuk sekarang Hanz, aku yang harus melayani mu . "
"Kau bukan pelayan ku Azka, Kenapa harus melayani ku.?"
"Hanz, aku ini istri mu. Aku yang harus melayani. Aku tidak mau menjadi istri durhaka." bantah Azka.
"Baik lah, kalau begitu biar Berlinda yang membawakan makan malam kita ke sini." akhirnya Hanz memutuskan untuk memanggil Berlinda.
"Kau tetap Nona ku Azka, Nona Azkayra ku.!" bisik Hanz pada istrinya sambil memeluk nya sebelum melangkah keluar untuk memanggil Berlinda.
Azka hanya mendengus, selama ini Hanz selalu menolak pelayanan dari Azka, kadang hanya sekedar ingin membuatkan kopi suami nya pun Azka harus berdebat dulu dengan Hanz . Apalagi jika Azka ingin memasak makanan untuk Hanz, pasti Hanz akan mengomel dan lebih parah nya para pelayan di dapur akan terkena imbas nya.
Padahal Azka ingin sekali merasakan seperti istri istri pada umum nya, memasak melayani dan memijit sang suami. Tapi Hanz selalu memperlakukan Azka seperti Tuan putri yang selalu di perlakukan berlebihan.
Lain hal dengan maksud Hanz, ia tidak ingin Azka melayani nya karena merasa jika Azka istrinya di nikahi nya untuk di jaga nya , di lindungi nya dan menemani hidup nya bukan untuk mengurus hidup nya apalagi melayani makan minum nya. Hanz tetap memperlakukan Azka seperti Nona nya yang harus di layani nya bukan melayani nya.
Perdebatan kecil sering saja muncul di antara pasangan itu, tapi aneh nya sekarang Azka lah yang sering kalah dan mengalah di banding Hanz yang dulu selalu kalah dan mengalah.
Hanz sedikit mulai keras kepala dalam mengatur istri nya, mungkin karena Hanz benar benar ingin menjaga Azka dengan sebaik baik nya. Ia tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada Azka dan dalam pernikahan nya.
Hanz sudah terlalu trauma dengan kejadian kejadian pelik yang pernah menghampiri nya dan Azka, itu sebab nya Hanz begitu hati hati sekali dalam menjaga Azka.
Setelah makan malam mereka selesai , terdengar obrolan kecil dengan penuh candaan dia antara mereka.
Tak lama setelah itu Hanz membopong tubuh kecil istri nya dan membaringkan nya ke ranjang.
"Tidur lah Azka, persiapkan diri mu untuk besok." kecupan lembut Hanz untuk ucapan selamat malam bagi istri tercinta nya mendarat berkali kali di kening Azka.
"Peluk aku Hanz." rengek Azka.
Hanz langsung memeluk tubuh istri nya sembari terus mengelus lembut punggung istri nya .
ah, kenapa kau bangun sih, Nona mu sedang kedatangan tamu. Tidur lah junior... jangan menyulitkan aku.
__ADS_1
Dengan susah payah akhir nya Hanz berhasil menenangkan Juniornya dan ikut terlelap dengan memeluk Azka.
Bersambung ..!!!