
Sampai di halaman depan rumah utama Hanz langsung melangkah masuk, dan Arwan kembali ke Perusahaan bersama Annabel.
Derap kaki Hanz terlihat tergesa menaiki tangga. Tangan nya pun langsung meraih gagang pintu kamar nya dan langsung saja memutar nya. Mata nya menangkap Istri nya yang tengah bersama Berlinda sedang sibuk menimang Putra nya yang terdengar menangis.
"Azka, Kenapa dengan Halilintar ku .? Mengapa dia menangis.?" tanya Hanz dengan raut khawatir.
"Hanz, untung kau segera pulang." sahut Azka merasa lega melihat suaminya sudah ada di kamar.
Berlinda langsung menggeser kaki nya menjauh dari ranjang Nona nya.
"Kenapa dia Azka.? Berikan padaku." Hanz segera meminta Bai nya dari gendongan Azka.
"Aku tidak bisa menyusui nya dengan benar Hanz, mungkin dia kehausan." jawab Azka menyerahkan bayinya.
Hanz menyambut jagoan kecil nya dengan kedua tangan kekarnya.
"Halilintar .. Kenapa kau menyusahkan Mama mu nak.?" ucap Hanz mengecup lembut wajah bayi mungil nya.
"Ada apa dengan ASi mu Azka, kenapa dia sampai kehausan.?" tanya Hanz terus menimang bayi nya hingga kini terdiam. Kelihatan nya Halilintar kecil nyaman dengan tangan sang Ayah hingga diam dari tangis nyaring nya itu.
"Payyudara ku bengkak Hanz, lihat lah. Sakit sekali. Badan ku sampai demam." rengek Azka.
Hanz menghampiri istri nya setelah membaringkan bayi kecil nya di ranjang bayi nya.
"Ini pasti sakit sekali Azka.? Kenapa bisa begini.?" Hanz nampak khawatir melihat kedua payyudara Isti nya membengkak. Semakin khawatir ketika tangan nya merasakan suhu panas badan Azka yang meninggi.
"Azka, kau sakit. Berlinda cepat panggil dokter Lisa." ucap Hanz.
"Dokter Lisa sudah dari sini Hanz,. Berlinda sudah memanggilnya tadi siang, saat aku mengeluh sakit." jelas Azka.
"Lalu apa katanya.?" tanya Hanz merapihkan rambut Azka yang terlihat berantakan.
"Katanya , seperti ini normal di alami ibu yang baru menyusui. Akan membengkak dan nyeri beberapa hari. Nanti akan sembuh sendiri." jawab Azka.
"Dokter Lisa sudah memberi obat untuk Nona, Tuan." Berlinda ikut menjelaskan.
"Baik lah. Kau bisa meninggalkan kami Berlinda. Siapkan air mandi nona sebentar lagi. Dan makan malam Nona." Ucap Hanz pada Berlinda.
"Baik Tuan." Berlinda pun segera keluar dari kamar mereka.
Hanz melanjutkan merapihkan rambut, Istrinya, dengan menyisir dan mengikatnya ke atas.
"Azka, jika kau kesusahan apa tidak lebih baik kau tidak melanjut kan menyusui nya. Kita bisa mengganti nya dengan susu formula saja. Aku tidak tega melihat mu menderita seperti ini. Itu pasti sakit sekali." ucap Hanz kembali membujuk Azka.
__ADS_1
"Tidak Hanz, apapun yang terjadi aku akan tetap menyusui nya." jawab Azka bersikukuh.
Hanz hanya bisa membuat nafas berat nya melihat kekerasan hati istrinya.
"Mandi dulu ya.? Ah, tidak perlu mandi. Aku akan menyeka badan mu saja.Setelah itu aku akan mengompres mu." ucap Hanz.
Tak lama Berlinda sudah datang kembali dan segera menyiapkan keperluan mandi sang Nona.
Hanz menyuruh Berlinda untuk keluar karena Hanz sendiri yang akan membantu Azka. Hanz membantu Azka melepas baju nya dan menyeka tubuh istrinya yang masih belum pulih pasca melahirkan.
Setelah selesai mengganti baju istri nya Hanz mulai mengompres payyudara Azka yang memang membengkak akibat kebanyakan ASI , itu di sebab kan karena si kecil belum lancar meminum nya.
"Azka, bagaimana kalau aku mencari baby sister untuk Halilintar. Itu akan sangat meringankan mu." kembali Hanz mengusulkan.
"Untuk sementara ini aku tidak menginginkan nya. Aku ingin merawat bayi ku dengan tangan ku sendiri. Kau ke apa sih.? Biarkan aku menikmati hari hari ku sebagai seorang ibu Hanz..! Aku sudah menunggu sekian lama untuk menjadi seorang ibu." jawab Azka.
"Baik lah, aku kan hanya mengusulkan saja. Jika kau keberatan juga tidak apa apa. Aku hanya khawatir kau kelelahan Azka." ucap Hanz yang sebenarnya memang melakukan semua itu demi istrinya.
&&&&&&&&
Sepuluh tahun kemudian.
"Azze.. !!! Hanz...!!!" Teriakan dari mulut Azka melengking di siang hari itu setelah menyadari Putra dan suami nya tidak ada di mana mana.
"Apa yang mereka lakukan di sana siang siang begini.?" tanya Azka.
Berlinda hanya menunduk tanpa berani mengatakan apapun.
Tanpa pikir panjang ia pun melangkah menuju taman belakang Rumah Utama.
"Hanz...!!! Azze .. !!" Azka masih saja meneruskan panggilan nya.
Sementara di sana nampak kedua anak dan ayah itu sedang sibuk melakukan sesuatu.
"Jangan hiraukan suara Mama, ayo lanjutkan..!!" suara keras Hanz seperti memberi dorongan kuat pada Halilintar kecil.
Door...!!! Door...!! Door..!!!!
Suara tiga kali letusan pistol yang tepat mengenai sasaran berbarengan dengan tangan mungil yang tersentak kebelakang karena masih terlalu lemah untuk menahan lepasan timah panas dari gagang yang ia genggam itu.
"Bagus Hal, lakukan lagi. Kau banyak sekali kemajuan." tepuk tangan semangat dari Sang Ayah mengembangkan senyum puas di sudut bibir Halilintar.
"Hanz..!!" Pekik Azka tepat di dekat Hanz, membuat kedua nya menoleh.
__ADS_1
"Apa yang kau ajar kan pada Putra ku.!!" mata indah milik Azka seketika berubah menyeramkan ketika melihat apa yang tengah di genggam kuat oleh tangan Halilintar.
"Azka..! Tenang lah aku.. Aku hanya ingin menjadikan Halilintar laki laki yang hebat." ucap Hanz sedikit gugup.
"Tidak begitu caranya. Dia masih terlalu kecil untuk melakukan itu. Kau tidak mengkhawatirkan keselamatan nya.??" sergah Azka berkacak pinggang.
"Azka,...!! "
"Tidak Hanz, aku tidak suka."
"Mam, AZ menyukai ini. Jangan menyalahkan Papa. AZ ingin menjadi pria hebat setelah dewasa nanti...! " ucapan Halilintar kecil yang masih berusia sepuluh tahun itu, membuat Azka semakin khawatir. Ia segera meraih tangan Mungil itu dan merebut pistol itu lalu melemparnya begitu saja.
Azka menarik paksa tangan Halilintar dan mendudukkan nya di bangku.
"Dengar Mama, kau tidak perlu menuruti Papamu. Ini berbahaya. Kau mengerti. Kau akan menjadi pria hebat tanpa harus melakukan itu." Azka menyentil kuping Putranya.
"Sorry Mam, AZ menyukai nya.!" bantah Halilintar menatap tajam mata menyeramkan milik Mama cantik nya.
"Kau membantah ku.?" bentak Azka.
"Azka, sudah lah. Kau tidak mengerti urusan laki laki." cegah Hanz melihat perdebatan mereka.
"Diam.. Nanti giliran mu!" sahut Azka.
"Azze, jawab Mama. Sudah berapa kali kau melakukan ini tanpa sepengetahuan Mama.?"
"Sering Mam, Papa sering mengajari AZ setiap Papa libur." jawab polos Halilintar.
"Kau...!!" berbalik menatap Hanz yang langsung menggeser kaki nya.
"Ayo masuk, sekarang atau Mama akan marah." Azka menoleh cepat pada Putra nya yang kali ini langsung menunduk kan kepalanya dan melangkah cepat memasuki Rumah.
Kini Azka menghampiri Hanz , meraih telinga suami nya dan menarik nya kasar.
"Apa maksud mu.!!! "
"Ahh... sakit Azka. Ampun.. aku bisa jelaskan..!!" rengek Hanz , kepalanya condong mengikuti gerakan tangan Azka yang terus menarik telinga nya.
"Masuk...!!!"
"Iya .. iya...!!" Hanz menurut saja ketika Azka menarik nya dengan kasar.
bersambung....!!!!!
__ADS_1