"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Hanz Cemburu.


__ADS_3

"Maaf kan saya Tuan, saya berjanji tidak akan melakukan nya lagi sebelum saya benar benar menikahi Putri Tuan." ucapan Hanzero hanya mampu sampai tenggorakan saja.


Kini ia telah melajukan mobilnya ke arah pulang. Dengan perasaan yang begitu senang , Hanzero tak sabar untuk kembali bertemu dengan Nona nya.


Setelah beberapa jam ,sekitar hampir jam sembilan malam Hanz akhirnya sampai di Rumah Utama. Ia langsung disambut para penjaga .


"Apa ada yang terjadi saat aku pergi.?" Hanz melirik penjaga.


"Tidak ada Tuan, semua baik baik saja." jawab mereka membuka kan pintu.


Hanz melangkah dan menaiki tangga, di sana terlihat Berlinda baru keluar dari kamar Nona nya.


"Bagaimana kabar Nona hari ini.?" Hanz bertanya pada Pelayan kamar Azka itu .


"Nona murung Tuan, hampir seharian Nona mondar mandir di kamar." jawab Berlinda.


"Apa Nona juga tidak mau makan.?"


"Nona makan Tuan." jawab Berlinda lagi.


"Bagus lah." Hanz segera meninggalkan Berlinda dan melangkah menuju kamar Azka.


Ia mengetuk pintu .


"Masuk." Suara Azka dari dalam.


Hanzero membuka pintu dan masuk kedalam. Ia melihat Azkayra tengah duduk di sofa tanpa menyadari jika dia yang datang.


"Selamat malam Nona."


"Hanz ..!!" Azka langsung menoleh ketika mengenali suara itu, dan berlari memeluk Pria itu.


"Kenapa tidak memberi ku kabar apapun.??" Azka memukul mukul dada Hanz.


"Maaf Nona, saya sampai melupakan Nona. ' jawab Hanz membawa Azka kembali ke sofa nya.


"Hanz.. bagaimana.? Apa Ayah murka ..? Apa kau di pukul nya..?" tanya Azka sambil memeriksa wajah dan tubuh Hanz .


"Nona, saya baik baik saja. " jawab Hanz tersenyum dan kini duduk di depan Azka.


"Hanz, Ayah bilang apa..?" Azka sepertinya sangat khawatir.


"Tuan tidak bilang apa apa." jawab Hanz.


"Hanz, aku serius.! " kini Azka mulai kesal.


"Tuan hanya memberi ini pada saya Nona." Hanz mengeluarkan kotak kecil yang ia dapat dari Ginanjar.


Azka yang tak sabar itu langsung merebut nya dan memeriksa nya.


"Ini cincin Ayah kamu Hanz, kenapa bisa di pada Ayah ku .?" ucap Azka mengenali cincin itu.


"Nona mengenali Cincin itu.?"


"Waktu itu aku tidak sengaja melihat Ayah sedang memegangi nya, aku bertanya itu punya siapa.? Lalu Ayah bilang kalau itu cincin Ayah Hanz yang di titip kan ke Ayah." jawab Azka.


"Hanz .. apa maksud Ayah memberi mu cincin itu ? Apa dia tidak menyukai mu makanya ia mengembalikan cincin Ayah mu yang di titipkan padanya.?" tanya Azka semakin penasaran.


"Ayah Nona , ingin Kita memakainya." jawab Hanz.


"Apa Hanz .. ? Maksud mu .?"


"Tuan Ginanjar merestui ku Nona." Hanz menatap Azka dengan keseriusan.


"Hanz... " Azka langsung memeluk Hanzero.


"Benar kah itu Hanz,.?"


"Benar Nona , jika Nona tidak percaya Nona bisa bertanya langsung pada Tuan." jawab Hanz masih dalam pelukan Azka.


Hanz sengaja tidak menceritakan pada Azka apa yang di ceritakan Ginanjar padanya.


"Terimakasih Tuhan.....!!" bisik Azka.


"Nona, kita akan menikah setelah peresmian Villa Pelangi."


"Hanz.. apa itu tidak terlalu lama. Sedangkan pembangunan nya saja belum selesai.?" tanya Azka


"Itu hanya tinggal hitungan bulan, kita harus bersabar. Karena itu permintaan Ayah Nona." jawab Hanz melepas pelukan Azka.

__ADS_1


Azka hanya mengangguk.


"Sekarang Nona tidur ya.? Ini sudah malam. Saya juga harus istirahat." Hanz mengecup bibir gadis itu. Dan melangkah meninggalkan Azka.


______


Kini Hanz sudah selesai mandi dan masih duduk di sofa di dalam kamarnya.


Pikirannya masih tertuju pada permintaan Ayah Azka yang menginginkan pernikahan mereka dilaksanakan setelah penyelesaian Villa Pelangi. Sedang Hanz memikirkan Hal lain yang mengganjal.


"Masih memakan waktu sekitar dua tiga bulan lagi. Kalau aku menolak dan mempercepat nya Tuan pasti curiga. Tapi jika aku setuju, bagaimana kalau Nona Hamil.? Itu akan sangat memalukan keluarga Samudra." Hanz mengusap wajah nya dengan kasar.


Ia meraih HP nya dan menggeser layar nya, menatap kalender di sana dan menandai tanggal dimana ia telah menodai Azka.


"Aku harus mengingat hari ini."


Hanz menyimpan kembali Hp nya dan kini berbaring di tempat tidurnya, memejamkan mata hingga pagi menjelang.


_________


"Nona yakin sudah mau bekerja.?" tanya Hanz sesaat sebelum mereka memasuki mobil.


"Aku sudah sehat Hanz..?" jawab Azka duluan memasuki mobil.


Hanz hanya bisa menarik nafas dan ikut memasuki mobil dan menjalankan mobilnya ke Perusahaan Samudra.


Setelah sampai di Perusahaan , mereka segera turun dan melangkah ke ruangan Azka .


Azka langsung duduk di kursinya dan dengan semangat berkutat dengan komputernya. Hanz tersenyum melirik wajah yang penuh semangat itu.


Semoga semua berjalan lancar dan kita bisa bersama Nona.


Hanz melangkah meninggalkan Azka untuk ke ruangan nya sendiri.


Hingga siang menjelang Hanz kembali melangkah keruangan Azka untuk mengajak nya makan siang.


Saat ia hampir sampai di ruangan Azka matanya menangkap seorang pria yang tengah berjalan menuju keruangan Azka juga ,dan ternyata Pria itu adalah Gavin, Hanz langsung menghampirinya.


"Tuan Gavin, ada keperluan apa..? Sepertinya kita tidak ada jadwal pertemuan.?" sapa Hanz menatap tajam kearah Gavin.


"Saya memang tidak ada jadwal pertemuan dengan anda Tuan Hanzero, tapi saya ada janji dengan Nona Azkayra." jawab Gavin tak kalah juga menatap tajam ke arah Hanz.


Tiba tiba Azka muncul di balik pintu .


"Hanz .. ada apa ini.?" tanya Azka mendengar keributan.


"Maaf Nona Tuan Gavin kemari, apa Nona ada janji dengan nya.?" Hanz bertanya.


"Tuan Gavin, anda sudah datang rupanya." ucap Azka ke arah Gavin.


"Iya Nona , tapi sekretaris anda ini melarang saya untuk bertemu Nona." jawab Gavin melirik sinis kearah Hanz.


"Nona.." Hanz menatap Azka penuh pertanyaan.


"Hanz, aku memang yang menyuruh Gavin kesini, ada hal yang ingin ku bicarakan dengannya." jawab Azka memberi penjelasan pada Hanz.


"Mari Tuan Gavin, silahkan masuk." Azka mempersilahkan Gavin untuk masuk, mereka pun melangkah masuk bersama.


"Nona , ini sudah jam makan siang , sebaiknya Nona makan dulu." ucap Hanz masih melirik sinis pada Gavin.


"Hanz.. bisa kah kau mencarikan aku makan siang.? Aku akan makan siang disini saja. " Azka memberi perintah.


"Tapi Nona..?"


"Hanz.. Tolong kau cari makanan untuk ku, aku ingin berbicara empat mata dengan Tuan Gavin. Apa kau bisa meninggal kan kami dulu..?" ucap Azka.


"Baik lah Nona." Jawab Hanz, ia sempat melihat senyum kemenangan di bibir Gavin.


"Hanz, jangan lupa dua Porsi ya..?" ucap Azka sebelum Hanz melangkah.


Hanz hanya mengangguk dan melangkah pergi.


Apa yang ingin dibicarakan Nona dengan Gavin ? kenapa harus menyuruh ku pergi. Atau jangan jangan Nona mulai tertarik pada Gavin.


Tidak.....


Kau milik ku Azkayra.. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh cinta pada Gavin brengsek itu.


Hanz terus berprasangka buruk.Ia segera melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah restoran, memesan makanan dan segera kembali lagi ke ruangan Azka.

__ADS_1


Pikiran nya mulai resah ,membayangkan Azka sedang berduaan dengan pria itu.


"Menyuruhku membeli dua porsi makanan, jangan jangan Nona ingin makan siang bersama Gavin." ucap Hanz pada dirinya sendiri.


Hanz berhenti di depan pintu ruangan Azka yang terbuka sedikit, ia mendengar suara gelak tawa Azka.


Darah Hanz terasa mendidih saat mendengar kedua orang yang didalam itu saling bercanda dan tertawa.


Entah kenapa tiba tiba perasaan cemburu menguasai dirinya. Hanz langsung melangkah memasuki ruangan.


Benar saja ia melihat Gavin sedang memegang tangan Azka .


"Nona." Hanz menatap kearah Azka.


"Hanz, cepat sekali kau kembali." jawab Azka cepat menarik tangan nya, ia menangkap mata Hanz yang sudah dipenuhi api cemburu .


Kau berharap aku lama karena kau juga mau berlama lama dengan nya kan..?


"Hanya membeli makanan, tidak akan selama yang anda pikiran Nona." jawab Hanz ketus.


"Maaf Tuan Gavin, Nona kami harus makan siang dulu. Sebaiknya anda pulang dulu." ucap Hanz pada Gavin.


"Tuan Hanzero , anda hanya seorang sekretaris, kenapa terlalu lancang dengan saya. Bahkan Nona Azkayra sendiri belum menyuruh saya pergi." jawab Gavin.


"Maaf kan saya Tuan Gavin, Nona kami harus menjaga kesehatan nya. Jadi Nona kami harus makan tepat waktu." ucap Hanz semakin kesal.


"Nona Azka, bukan nya Nona akan mengajak saya makan siang bersama anda, bahkan anda sudah menyuruh sekretaris anda untuk membeli dua porsi makanan bukan..?" Gavin menoleh pada Azka.


deegggg..... !!!!! Dada Hanz terasa di tusuk sembilu, mendengar ucapan Gavin yang akan makan siang berdua dengan Azka.


"Ooh.. Tuan Gavin , benar kata Sekretaris Hanz, saya harus makan siang dulu. Dan dua porsi itu untuk saya dan Sekretaris Hanz yang biasa nya memang menemani makan siang saya." jawab Azka tak ingin berlarut dalam ke salah pahaman.


"Oh begitu ya, kalau begitu saya pulang dulu, apa nanti malam Nona bisa jalan dengan saya. Kita akan melanjutkan obrolan kita tadi." ucap Gavin.


"Baik lah, nanti malam saya akan pergi dengan anda." jawab Azka memberi alasan agar Gavin segera pergi .


"Sampai ketemu nanti malam Nona." ucap Gavin melangkah keluar ruangan. Tak lupa ia menabrak bahu Hanz dengan bahunya, seperti sedang memberi peringatan pada Hanz sambil memiringkan senyum nya.


Setelah memastikan Gavin sudah jauh melangkah, Hanz menutup pintu dengan kasar membuat Azka terkejut .


"Hanz.. kau kenapa..?" tanya Azka pura pura tidak tau kalau saat ini Hanz tengah cemburu.


"Kau benar benar akan pergi dengan nya nanti malam..?" tanya Hanz langsung menghampiri Azka.


"Hanz, itu hanya alasan ku agar Gavin cepat pergi dari sini.?" jawab Azka mendekati Hanz yang kini sudah duduk di sofa.


Hanz hanya diam saja.


"Hanz, kau marah ..?" Azka memeluk Pria itu.


"Nona, apa yang sebenarnya anda bicara kan dengan nya ? Kenapa harus menyuruh saya pergi." tanya Hanz tak menoleh.


"Aku hanya membujuk nya agar cepat menyelesaikan pembangunan Villa itu." jawab Azka merebahkan kepalanya ke bahu Hanz.


"Tidak perlu meminta bantuan nya Nona , saya bisa menambah pekerja dari perusahaan lain." ucap Hanz .


"Hanz.. Gavin kan yang bertanggung jawab tentang pembangunan itu, jadi ya harus dia yang menyelesaikan nya. Dan aku meminta waktunya di percepat, itu saja." kini Azka melingkarkan tangan nya di bahu Hanz dan memeluk nya dengan erat .


"Itu hanya alasan Nona saja, kenapa tadi Tuan Gavin memegang megang tangan Nona segala? Dan Nona sepertinya senang di pegang tangan nya." ucap Hanz .


"Hanz... aku tadi mau menarik tangan ku, tapi kau sudah keburu masuk dan melihatnya. Sungguh Hanz, aku tidak suka di pegang oleh nya ." Azka seperti nya sudah kewalahan meladeni Hanz yang sedang cemburu .


Azka segera menarik kepala Hanz hingga menghadap wajahnya. Azka mencium bibir bibir Hanz dan melu,,mat nya dengan kasar.


"Aku merindukan mu Hanz, bahkan kita belum sempat mengobati rasa rindu kita. Kau malah sudah marah seperti ini dengan ku." bisik Azka ditelinga Hanz. Membuat tubuh Hanz terasa kesetrum, merasakan hangat nafas Azka.


Hanz masih terdiam , ia mencoba bertahan dengan kemarahan nya dan seolah tak peduli dengan cumbuan Azka .


Azka tak mau menyerah begitu saja. Ia terus menghujani wajah Hanz dengan ciuman panas hingga ke leher pria itu, tangan nya pun bergerak agresif meraba dada bidang Hanz .


"Berhenti lah Nona , Ini di kantor. Kalau ada yang masuk lagi seperti waktu itu bagaimana.?" bisik Hanz namun bibirnya mulai membalas perlakuan Azka. Hanz mendorong tubuh Azka perlahan hingga terbaring begitu saja di sofa dan menindih nya.


Hanz sepertinya tidak tahan dengan godaan Azka, ia kini menyelusuri wajah dan leher jenjang gadis itu. Kini mereka bercumbu dengan mesra nya.


Sesaat Hanz menghela nafas dan menarik tubuh nya.


"Nona..kita makan dulu." ucap Hanz bangun dari duduk nya dan mengambil makanan yang di beli nya tadi.


aku harus bisa menahan diri sampai pada waktu nya..

__ADS_1


__________


__ADS_2