
Masih dengan penderitaan yang belum berubah, malah terkesan lebih sengsara, namun membuat Hanzero semakin bersemangat menghadapi nya.
Meski kadang lelah menggerogoti tulang nya, tapi rasa bahagia menepis kelelahan nya. Ia bahkan semakin sabar dan telaten dalam menghadapi masa masa ngidam Azkayra yang bagi nya menjadi kekuatan tersendiri untuk nya itu.
Kulit mulus Azka yang terlihat semakin indah di mata Hanz, namun badan Azka sedikit lebih kurus di banding hari hari sebelum ia di positif kan hamil. Mungkin karena Azka terus memuntahkan asupan gizi yang setiap saat menyinggahi perut nya.
Sore itu, Hanz terus menatap perut istri nya yang nampak datar dan belum terlihat membuncit itu. Dalam hati nya ,ia tidak sabar menanti kan kapan perut indah itu akan membesar.?
Ia melangkah menghampiri," Azka, malam ini kau ingin makan apa.?" mengelus perut istirnya.
"Tidak ada." jawaban singkat dari Azka tanpa mempedulikan si pemberi pertanyaan.
"Jangan begitu,? kau harus punya keinginan."
"Hah, kenapa memaksa.? Aku yang mau makan kan.?" sahut si judes Azka.
"Dari pada nanti kau membangunkan aku, lebih baik sekarang saja kau sebutkan permintaan mu malam ini." jawab hal, menghindari kekacauan yang bakal terjadi nanti malam.
"Kau tidak ikhlas ya.?" sorot mata sinis itu melirik Hanz.
"Ikhlas kok, hanya saja kadang aku terlalu terlelap. Kasian kau harus membangunkan ku sampai berkali kaki." sahut Hanz.
"Kau menyindirku.?"
"Astaga... Bukan begitu." Hanz jadi serba salah.
"Hanz, maaf kan aku ya? Aku selalu menggangu tidur mu. Tapi ini permintaan anakmu lho. ?" rengek Azka memanja.
"Iya, ! Aku tau. Permintaan anak ku, Makanya aku senang menuruti nya." jawab Hanz menggaruk rambut nya, padahal tidak gatal.
"Oh, begitu ya.?"
"Iya Azka.!"
"Berarti kalau murni permintaan ku, kau tidak mau menurutinya hah.!!" mata itu kini melotot penuh penekanan.
"Ya Tuhan,.. kenapa salah lagi. Ya jelas aku turuti lah.!" ucap Hanz membela diri.
"Jangan jangan ,setelah Anak mu lahir, kau tidak peduli lagi dengan ibu nya." Azka masih saja dengan penekanan nya.
"Azka, tidak lah. Kau dan dia sama sama, aku peduli kan kalian sampai kapan pun. "
"Pokok nya aku harus tetap yang pertama. Tidak mau kalau di nomor duakan." ucap Azka dengan nada kesal.
"Pasti lah. Kau tetap nomor satu dan anak ku juga nomor satu." jawab Hanz.
"Hanz, nomor satu itu hanya ada satu. Kenapa dua.?" cuppp...!! malas pusing Hanz langsung menyambar mulut Azka dan mellumatt liar di sana.
"Diam lah, aku tidak mau berdebat. Atau aku akan melukai bibir mu malam ini Nona Azkayra.". bisik Hanz menarik tubuh istri ke ranjang.
"Lepas Hanz, lepas. !" Azka berontak.
"Tidak akan, sebelum kau berhenti mengoceh." Hanz mengeratkan belenggu nya.
__ADS_1
"Ampun Hanz, aku tidak akan mengoceh lagi.!"
Hanz tersenyum menang dan melepaskan pelukannya.
" Sekarang Kau makan dulu ya,? " tawar Hanz.
Azka menggeleng.
"Azka, kau harus makan walaupun nanti nya kau muntah lagi, tapi kau tetap harus mengisi perut mu."
Sekali lagi Azka menggeleng. "Aku akan makan kue buatan Berlinda. Malam ini Berlinda sudah berjanji akan membuatkan kue permintaan ku." jawab Azka.
"Oh ya,? Kue apa.?" tanya Hanz.
"Permisi Nona." dari balik pintu Berlinda sudah melangkah.
"Apa saya boleh masuk.?"
"Tentu, apa kau sudah selesai membuat nya?" tanya Azka menghampiri Berlinda yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Sudah Nona, sesuai permintaan Nona." jawab Berlinda menyerahkan sebuah piring berisi makanan yang di maksud.
"Terimakasih Berlinda." ucap Azka dengan senyum puas nya.
"Silahkan menikmati nya Nona, saya permisi dulu ya.?" Berlinda segera pamit.
Hanz yang penasaran pun mendekati Azka yang sudah duduk di sofa memangku piring tersebut .
"Apa ini Azka, ? Bukan kah ini gorengan biasa.?" tanya Hanz sambil meraih salah satu kue itu.
"Hah, .. Tahu kenapa bisa bunting.?" Hanz heran dengan nama makanan yang tak pernah di lihat nya itu.
"Cuma namanya Hanz, gak beneran bunting. Sudah , jangan mengganggu ku." potong Azka langsung melahap tahu tersebut dengan lalap cabe rawit.
"Kenapa kau memakan cabe rawit segitu banyak nya Azka..? Sejak kapan kau suka pedas?" Hanz sempat khawatir melihat Azka begitu rakus nya memakan cabe rawit tanpa merasa kepedesan.
"Sejak hari ini. Dan memakan tahu seperti ini memang cocok nya pake cabe Hanz, kau mau mencoba nya ? "
"Tidak tidak, .!" Hanz menolak nya, dan hanya memperhatikan tingkah Azka yang terus melahap makanan itu sampai habis.
Kenapa orang hamil bisa berubah segalanya ya.? Apa ini juga termasuk bawaan bayi.?
________________
Waktu berjalan terasa lambat bagi Hanz, rasa tak sabar nya menanti sang buah hati lahir pun semakin menggebu.
Dan hari ini kandungan Azka masih berjalan memasuki bulan ke enam membuat Hanz semakin tak sabar menunggu penantian nya yang terasa sangat lama. Perut rata itu sudah terlihat membuncit, dan semakin menambah keseksian tubuh Azka di mata Hanz.
Setiap sebulan sekali Hanz tidak lupa mengantar istri nya untuk melakukan pemeriksaan rutin kandungan nya. USG pun sudah di lakukan untuk mengetahui perkembangan janin Azka, tapi mereka berdua sudah sepakat untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka meskipun nanti sudah terlihat jenisnya.
Mereka ingin, itu menjadi kejutan yang mendebar kan nanti nya.
Masa ngidam Azka pun sudah berakhir, dan Hanz sudah bisa bernafas lega lagi tanpa harus terganggu permintaan Azka yang aneh aneh.
__ADS_1
Tubuh Azka pun sudah terlihat menggemuk.
"Ah, kau semakin cantik Azka." puji Hanz merengkuh tubuh istrinya dari belakang.
"Tubuh ku semakin lebar Hanz, kau bilang semakin cantik. Kau sedang menghina ku ya.?" ketus Azka.
"Tidak Azka. Kau sungguh semakin cantik. Percayalah." Hanz ingin meyakinkan Azka dengan menarik nya ke depan cermin.
"Lihat lah, kau tidak menyadari nya ?" ucap Hanz menaruh bibir nya di leher jenjang Azka.
Azka hanya tersenyum sambil meraba perut nya.
"Tapi kemungkinan , setelah aku melahirkan tubuh ku akan melar Hanz.?" ucap Azka.
"Apa hubungan nya.?"
"Karena aku akan menyusui bayi mu dengan Asi ku sendiri. Dan katanya menyusui bayi itu kan membuat tubuh semakin gemuk." jawab Azka.
"Benarkah kau akan menyusui bayi kita Azka.?" Hanz menatap tak percaya.
"Ya, kenapa memang nya. Kau keberatan.?"
"Azka, aku sungguh salut padamu. Jarang ada di zaman sekarang seorang wanita mau menyusui bayi mereka. Aku bahagia sekali. Kau benar benar ibu sejati." ucap Hanz menghujani kecupan di kepala Azka.
"Tidak Hanz, aku malah ingin sekali melakukan nya. Tapi nanti kau harus siap kehilangan pegangan favorit mu." ucap Azka tersenyum mengejek.
"Hah, benar juga. Lalu bagaimana nasib ku. ?" Hanz yang sadar langsung terlihat kecewa.
"Kau sudah Tua Hanz, kau harus mengalah."
"Tidak bisa, kau harus bisa berbagi dengan Adil." ucap Hanz menangkap kan kedua tangan nya di dada Azka.
"Ini milik ku." gumam nya.
"Hanz, kau tidak mau mengalah demi anak mu hah..! Kau egois sekali." Azka menepis tangan Hanz yang meremas dada nya.
"Begini saja biar adil, aku hanya perlu wadahnya. Dan dia isi nya." ucap Han meraba perut Azka yang tersenyum geli mendengar ucapan suami nya.
"Dia bergerak Azka, dia bergerak.!" seketika Hanz terkejut sana terus meraba perut Azka. Merasakan gerakan mungil di sana.
"Apa kau merasakan nya Azka.?"
"Ya, dia marah padamu karena kau mau merebut milik nya." jawab Azka tersenyum bahagia.
"Benar kah.? Tidak sayang... Papa tidak akan mengganggu yang akan menjadi milik mu nanti." ucap Hanz mendekat kan telinganya di perut Azka.
Azka membelai rambut Hanz , hati nya sungguh bahagia.
*Tiga bulan lagi, ah.. Aku akan menjadi seorang ibu dari anak Hanzero. Bahagia nya aku.
\_Terimakasih Tuhan\_
__ADS_1
Azkayra*
Bersambung..!!