
"Berlinda, apa aku kelihatan cantik dengan gaun ini.?" tanya Azkayra sambil terus menatap dirinya di cermin. Ia sedang mencoba Gaun pengantin milik nya.
"Nona terlihat seperti bidadari." sahut sang pelayan kamar nya dan terus menatap Nona nya dengan rasa kagum.
"Benar kah..? "
"Benar Nona, jika anda tidak percaya coba tanyakan pada Tuan Hanzero. Pasti Tuan akan mengatakan hal sama ." sahut Berlinda.
"Hanz , aku pakai sarung saja di bilang cantik, apalagi memakai gaun seperti ini, dia sama sekali tidak bisa menilai wanita.." ucap Azka melepas gaun nya.
"Karena Tuan sangat mencintai Nona, itu sebab nya di mata nya Nona akan selalu terlihat seperti bidadari." jawab Berlinda.
"Apa kau tau Berlinda, aku sangat bahagia sekali. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Hanzero. Aku akan menikah dengan nya Berlinda..!!" teriak Azka , saking girangnya ia meremas kedua pipi pelayan nya itu.
"Oh, iya Nona, itu sudah pasti. Jika seorang gadis akan menikah dengan pria yang di cintai nya, pasti sangat bahagia perasaan nya." jawab Berlinda berusaha melepaskan diri.
"Huh, aku tegang sekali, Berlinda. Setiap hari aku merasa seperti mimpi. Aku tidak menyangka jika hari pernikahan ku dengan Hanz tinggal satu Minggu lagi. Aku.. bla .. bla... bla....bla.....!!" Azka terus berceloteh membuat Pelayan kamar nya itu sedikit pusing menanggapi Nona nya yang sedang di Landa perasaan bahagia menjelang hari pernikahan nya.
Azka kini berbaring di kasur, terlihat lelah dengan segala uji coba nya pada gaun gaun pengantin nya.
Berguling ke sana ke mari, merasa bosan karena harus tetap di dalam rumah.
Selama satu Minggu ke depan Hanzero memang telah melarang nya untuk keluar rumah, Azka di harus kan tetap di dalam rumah dan tidak boleh pergi kemana pun juga sampai di hari pernikahan mereka tiba. Itu lah sebab nya Azka terlihat begitu bosan.
"Astaga.. aku melupakan sesuatu..!!" tiba tiba Azka terbangun dari ranjang dan menghampiri Berlinda yang tengah sibuk menata kembali gaun gaun Nona nya ke dalam lemari.
"Berlinda, aku belum menyiapkan Aksesoris untuk ku pakai di pernikahan ku nanti." ucap Azka.
"Nona , semua sudah di siap kan oleh Perias pengantin nya, dan juga Desainer kemarin juga akan menyiapkan Aksesoris yang cocok untuk Gaun yang akan anda kenakan nanti. Anda tidak perlu khawatir." sahut Berlinda.
"Aku tidak mau Berlinda, aku ingin memakai Aksesoris pilihan ku sendiri.!" ucap Azka.
"Lalu bagaimana.?" tanya Berlinda.
"Kita harus pergi untuk mencari nya." sahut Azka.
"Tidak Nona, Tuan Hanzero tidak mengijinkan Nona keluar rumah.!" jawab Berlinda merasa sangat khawatir jika Tuan nya akan murka jika sampai Nona Nya keluar rumah tanpa ijin nya.
"Ayo lah Berlinda, kita hanya sebentar.?" rengek Azka.
"Nona, saya tidak berani.!!"
"Kita bisa membawa pengawal sebanyak banyak nya. Bagaimana.?"
"Tetap saja Nona, tanpa ijin Tuan Hanzero para pengawal pun akan menghadang kita." jawab Berlinda.
"Huh, menyebalkan sekali. Sebenarnya ada apa di luar, selama ini aku baik baik saja jika berada di luar, tidak pernah terjadi apa apa.!" desis Azka kembali membanting dirinya di kasur.
Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kemudian Azka meraih Hp nya dan menghubungi Hanz.
Tak lama panggilan nya pun diangkat.
"Nona.?" suara Hanz di sana.
"Hanz, kau sedang apa.?" tanya Azka hanya untuk basa basi.
"Bekerja Nona, ada apa.?" jawab Hanz.
"Hanz, ijin kan aku keluar ya..? Sebentar saja. Aku ingin mencari aksesoris." rengek Azka.
"Tidak Azka, kau tidak boleh kemana mana, diam lah di rumah saja. Semua keperluan mu sudah ada yang mengatur. Kau tidak perlu sibuk." jawab Hanz menutup panggilan nya .
"Hanz...!!!.. ih.. kenapa di matiin sih.!!" Azka mendengus kesal. Ia kembali menghubungi Hanz.
"Hanz, kenapa tiba tiba di matiin sih.!!" jerit nya saat Hanz kembali mengangkat nya.
__ADS_1
"Maaf Nona, aku sedang sibuk sekali." jawab Hanz.
"Hanz.. ijinkan aku dulu. Aku akan pergi bersama Berlinda dan para pengawal mu..!!"
"Azka , apa kau tidak bisa menungguku pulang.? Aku akan mengantarmu.!!"
"Itu pasti malam."
"Tidak Azka, aku akan pulang lebih awal. Bersabar lah."
"Tidak, kau masih lama. Belum nanti kau capek , mandi dulu. ini lah itu lah dulu. Ayo lah Hanz.. sekali ini saja. Kalau kau tidak mengijinkan ku, aku akan pergi sendiri dengan cara ku.!" Azka mengancam.
Dasar keras kepala..!!
"Baik lah.. Lima belas menit tidak boleh lebih dari itu. Jika lebih , Aku akan menghukum para pengawal yang mengantar mu dan juga pelayan kesayangan mu itu. Menghajar mereka sampai pingsan." Hanz pun mengancam.
"Kau ini, kenapa harus seperti itu..?"
"Ya sudah, aku akan menghubungi Arwan." sahut Hanz, menutup panggilan nya.
"Yeah...... Akhirnya. Berlinda....!!" Azka berteriak seraya berhambur keluar kamar nya mencari keberadaan Berlinda.
"Nona.. Ada apa..?" tanya Berlinda terkejut dan berlari menghampiri Nona nya yang berteriak.
"Bersiap siap lah, kita akan pergi." ucap Azka.
"Nona..!! Tuan Hanz akan marah." sahut Berlinda.
"Hanz sudah mengijinkan kita."
"Masa sih..??" Berlinda seperti tak percaya.
"Nona, apa Nona Akan keluar.?" seorang pengawal masuk menghampiri mereka.
"Bang Arwan.! Apa Tuan Hanz sudah menghubungi mu.?" tanya Azka pada Kepala pengawal itu.
"Iya Nona, apa anda akan keluar sekarang.?" tanya Arwan.
"Baik Nona." sahut Arwan segera melangkah pergi.
"Ayo kita bersiap siap Berlinda." ajak Azka.
Berlinda mengangguk dan mereka pun segera bersiap untuk Pergi.
Beberapa saat kemudian Azkayra dan Berlinda sudah melangkah ke luar rumah Utama. Di luar para pengawal sudah bersiap mengantar mereka.
Seorang sopir segera membuka pintu dan mempersilahkan Nona mereka untuk memasuki mobil. Dan beberapa pengawal menaiki mobil yang berbeda.
Mobil yang membawa Azka dan Berlinda pun melaju di antara mobil mobil para pengawal nya menuju sebuah toko perhiasan mewah di kota itu.
Sementara di tempat lain.
Dreeetttt.... dreeetttt .!!!
Ponsel Gavin bergetar, dengan cepat Gavin mengangkat panggilan itu sesaat setelah membaca nama sang pemanggil.
"Kami melihat beberapa mobil keluar dari Rumah utama Tuan Ginanjar, dan Nona Azkayra ada diantara mobil tersebut." ucap sang penelepon.
"Apa kau melihat Hanzero juga.?"
"Sepertinya tidak ada Tuan.!"
"Bagus, ikuti kemana mereka dan bawa seluruh anak buah mu yang ada. Aku akan segera menyusul ke sana." Gavin menutup panggilan.
"Hanzero,.. aku tidak bisa mendapat mu, tapi aku akan mendapatkan sesuatu yang akan membuat mu bertekuk lutut di hadapan ku." Gumam Gavin segera meninggalkan kantor nya. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaan nya.
Sementara itu, mobil yang membawa Azkayra telah berhenti di sebuah toko perhiasan ternama di kota itu, mereka para pengawal segera turun, dan salah satu dari mereka segera membuka pintu untuk Sang Nona mereka.
Azka melangkah keluar bersama Berlinda dan segera masuk kedalam toko perhiasan tersebut. Beberapa pengawal mengiringi Azkayra dan beberapa lagi menunggu di luar .
__ADS_1
Azkayra melangkah di belakang, sedang kan Arwan berjalan di depan.
"Minggir !!! Beri jalan untuk Nona kami." ucap Arwan tidak mengijinkan siapa pun mendekat Nona nya. Semua yang ada di sana pun segera menjauh dan beri jalan. Terlihat rasa kagum mereka menatap Azkayra.
"Silahkan Nona." ucap Arwan mempersilahkan Nona nya untuk melangkah.
"Selamat datang Nona Azkayra." sapa pemilik toko yang sudah mengenal Azkayra dengan baik. Mereka pun segera melayani Azkayra dengan sangat sopan.
Azkayra membalas nya dengan senyuman ramah nya. Ia melihat lihat Aksesoris aksesoris dan perhiasan perhiasan yang ada dan para pelayan pun sibuk menunjuk kan Produk produk terbaru toko mereka.
"Berlinda, lihat lah yang ini bagus ya,.? Lihat yang itu juga bagus. Yang ini juga.." Azkayra sibuk menunjuk satu persatu perhiasan itu.
"Nona, kita tidak punya banyak waktu. Ingat pesan Tuan Hanzero." bisik Berlinda mengingat kan ancaman Hanz.
"Ah, baik lah. Aku mau yang ini dan itu saja." ucap Azka pada pelayan toko. Ia sedikit merinding saat mengingat ancaman Hanz yang hanya memberi nya waktu lima belas menit berada luar rumah.
Setelah semua sudah selesai Berlinda segera mengajak Azka untuk pulang.
"Mari Nona, kita harus segera pulang ." ajak Berlinda mempersilahkan Nona nya untuk melangkah.
Mereka pun akhirnya melangkah keluar toko tersebut. Tak lupa Arwan berjalan di depan Nona nya untuk mengamankan langkah Nona nya.
Baru saja mereka sampai di depan emperan toko itu , tiba tiba.
"*Ee**mmm*....!!" seseorang mendekap Azka dengan sebuah sapu tangan dan beberapa orang yang berseragam OB bahkan tukang parkir dan ada yang menyamar sebagai pengunjung yang ternyata adalah anak buah Gavin langsung menyerang para pengawal Azka.
"Nona..!!" Berlinda yang berada tepat di dekat Azka langsung reflek menarik tubuh Azka yang sudah lunglai di pelukan seorang pria yang menyamar sebagai pengawal mereka. Namun ia tidak bisa mengimbangi kekuatan pria itu yang langsung menendang perut Berlinda hingga jatuh tersungkur.
"Nona..!!!" Berlinda menjerit memegangi perut nya.
Beberapa pengawal yang berada diluar pun segera berlari menghampiri mereka dan memberi bantuan. Terjadi baku hantam antara pengawal dan pria pria tersebut yang berjumlah lebih banyak dari mereka.
"Bang Arwan,..!! Nona di bawa lari ..!!" jerit Berlinda ketika menyadari Nona nya sudah di bopong seorang yang menendang nya tadi dan berlari ke arah parkiran.
"Nona..!!" Arwan langsung mengejar nya .
Doorrr......!!!
"Aahhgggr..!!" Arwan ambruk ,kakinya terkena timah panas yang sengaja di bidik kan seseorang yang bersembunyi.
"Cepat kejar mobil itu. ..!!" jerit Arwan dengan menahan sakit, ia memerintah kan anak buah nya yang masih baku hantam dengan para pria pria tadi .
Beberapa pengawal segera mengabaikan musuh mereka dan lebih memilih mengejar mobil yang membawa Nona mereka.
"Bang Arwan, kau baik baik saja.!" seseorang membantu Arwan berdiri.
"Jangan hiraukan aku, ayo cepat susul mereka." Arwan sudah tidak mempedulikan luka nya. Dengan menyeret kaki kiri nya yang terkena peluru panas itu ia meraih pintu mobil dan menyuruh sopir nya untuk segera menyusul anak buah nya.
Sementara Berlinda yang masih tersungkur dilantai terus menangis histeris.
Ia kebingungan, para anak buah Arwan sudah tidak ada lagi di situ begitu juga para pria yang menyerang mereka tadi. Hanya beberapa orang yang menatap nya dari jauh dengan ketakutan di diri mereka.
Mereka tidak mengerti apa yang terjadi, terjadi penculikan hanya itu yang di pikirkan oleh mereka.
"Nona, anda tidak apa apa..?" Seorang satpam membantu Berlinda berdiri.
"Tidak pak, terimakasih." jawab Berlinda dengan meringis merasakan nyeri di perut nya akibat tendangan kuat pria tadi.
Berlinda segera melangkah menuju jalan.
"Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan. Nona..!!! " Berlinda tak henti henti nya menangis. Ia masih menggenggam kotak perhiasan dan aksesoris milik Nona nya yang baru saja mereka beli tadi.
Berlinda masih terisak di pinggir jalan dengan wajah yang sangat panik dan penuh kebingungan. Bahkan sudah beberapa Taksi lewat di depan nya pun ia tidak berpikir untuk menghentikan nya.
Yang di pikirkan nya sekarang bukan untuk pulang ke Rumah Utama. Tapi Nona nya.
"Nona..!!!"
"Tuan Hanzero, tolong Nona.. Tolong Nona Kami..!!" Mulut Berlinda terus berucap tanpa ada yang mendengar nya.
__ADS_1