"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Mertua dan menantu sama saja.


__ADS_3

Masih di ruangan yang sama, tapi dalam waktu yang berbeda. Pasangan pengantin baru itu masih saja setia di dalam kamar kesayangan Azkayra itu. Kamar yang ada di apartemen Hanzero tersebut.


Ini adalah malam ketiga mereka di sana.


Nampak Hanz selesai membersihkan diri dan mendekati Azka yang sudah duluan mandi, dan kini terbaring tak berdaya di ranjang empuk milik kamar Hanz itu.


"Azka.. biar ku pijit kaki mu ya.?" ucap Hanz menawarkan diri.


"Benarkah, kau sungguh baik sekali. Kaki ku memang sangat ngilu Hanz." timbal Azka ceria.


"Baik lah,." Hanz segera meraih betis istri nya.


"Eits.. tunggu dulu. Ini iklhas atau ada imbalan nya.?" tanya Azka untuk memastikan kebaikan suami nya , siapa tau saja Hanz punya embel embel setelah nya , itu pikiran Azka.


"Azka, aku tau kau lelah. Aku tidak akan meminta imbalan apapun. Serius.!" jawab Hanz mulai memijat betis Azka.


aku memang selalu ingin serakah Azka jika menyentuh mu. Tapi aku juga tidak mungkin tega jika melihat mu sudah seperti ini.


Hanz dengan sangat hati hati memijit betis Azka. Walau sesekali tangan nakal nya menggerayangi tubuh istrinya, dan sesekali menindih tubuh istri nya yang berposisi tengkurap itu.


"Kau jangan begitu Hanz..? Yang benar donk.? Nanti kau malah minta mulai lagi." cetus Azka kesal.


"Tidak Azka, kau tenang saja, aku bisa menahan nya untuk saat ini."jawab Hanz.


"Kau bisa, kalau aku yang tidak bisa bagaimana.?" jerit Azka.


"Kalau begitu kita akan melakukan nya." sahut Hanz langsung meraih tubuh istrinya dan membalik nya.


"Hanz...!!!" Azka langsung memukul mukul bahu Hanz yang tertawa tawa itu.


"Tidak sayang.. tidak. Aku hanya bercanda. Ayo, aku lanjut lagi. Aku tau kau capek. Aku tidak mungkin tega melakukan nya lagi." jawab Hanz,. Dan Azka kembali tengkurap dan Hanz segera melanjutkan pijatan nya lagi. Kini Hanz serius memijat betis Azka sampai ke paha dan mengurut nya hingga ke tangan tangan nya. Tak lupa juga punggung Azka.


Azka terlihat sangat menikmati setiap pijatan dari tangan Suami nya. Tanpa sadar Azka pun terlelap dengan sendiri nya.


Setelah memastikan Azka terlelap, Hanz pun ikut berbaring di sisi Azka. Ia memeluk tubuh istrinya itu , menghujani kepala Azka dengan kecupan dan belaian, serta menepati janji nya untuk tidak mengganggu istrinya.


Hanz sengaja memberi waktu istirahat untuk Azka, ia merasa menyesal dengan kerakusan nya yang membuat Azka terlihat lemah tak berdaya itu.


"Maaf kan aku Azka, aku sudah menyiksa mu dua hari dua malam ini, tapi mau bagaimana lagi, aku harus melakukan nya. Pertama karena aku memang menginginkan nya dan kedua, aku harus menjadi menantu yang baik untuk Ayah mu." bisik Hanz tersenyum nakal. Dan akhirnya ikut tertidur juga.



Pagi ini, mereka sudah bersiap untuk pulang ke Rumah Utama.


"Ayo Azka." ajak Hanz.


"Em,.." jawab Azka meraih tas kecil nya.


Mereka akhirnya pulang ke Rumah Utama meninggalkan Apartment Hanz yang banyak menyimpan kenangan indah untuk mereka berdua. Tempat yang sering membuat Azka rindu dan telah menjadi tempat favorit nya itu.


Setelah perjalanan yang tidak memakan waktu lama itu, Sampai lah mereka di Rumah Utama dan langsung disambut oleh Ginanjar Samudra dan para penghuni Rumah Utama itu.


"Bagaimana bulan madu kalian..? Berjalan lancar kan..? Tidak ada kendala apa apa kan.? Hanz.. jantung mu tidak sakit kan..?" Ginanjar langsung menghujani mereka dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Ayah , Hanz baik baik saja. Sudah lah, ayah ini bertanya apa mengorek informasi sih..?" sahut Azka segera berjalan menuju tangga di ikuti Hanz dan Ayah nya. Sementara Hanz hanya tersenyum menanggapi pertanyaan mertuanya.


"Hanz, bagaimana.? Apa kau sudah mengaduk nya dengan baik.?" kembali Ginanjar melontarkan pertanyaan nya pada menantunya itu.


"Tentu Ayah, Lihat lah saya sampai pucat begitu karena hal itu." jawab Hanz tanpa rasa malu.


"Astaga Hanz, kau benar benar pucat.! Apa Azka sehebat itu sampai kau kewalahan.?" pertanyaan konyol Ginanjar membuat Hanz tersenyum kembali.


"Benar Ayah. Azka kecil kecil juga cabe rawit." sahut Hanz tanpa dosa.


"Haa , haa haa... Azka benar benar seperti Amila. Apa kau tau Hanz , dulu malam pengantin ku dengan istri ku begitu menyiksa ku. Aku sampai sakit pinggang di buat Amila. Ternyata Azka memang mengikuti ibu nya.." ucap Ginanjar. Kedua pria itu tertawa.


"Aku mendengar apa yang kalian bicarakan..!!!" teriak Azka yang tiba tiba berhenti dan menoleh ke arah mereka.


"Dasar Mertua dan Menantu sama saja. Sama sama mesum.!!!" ucap Azka sewot.


"Azka, Ayahmu hanya sedang berbagi pengalaman dengan ku, kau tidak perlu marah." sahut Hanz.


"Iya Azka, kami sesama pria harus berbagi pengalaman kami sebagai seorang pria sejati. Bukan begitu Hanz..?" Ginanjar pun tidak mau kalah menjawab putrinya yang sedang sewot.


"Sudah sudah.. Hanz. Cepat ke kamar.!" Ucap Azka melotot ke arah suaminya.


"Cepat ke kamar Hanz, nanti masih bisa kita lanjutkan. Jangan sampai istri mu marah dan kau tidak bisa melanjutkan adonan mu." bisik Ginanjar.


"Ayah..!! Masih saja..!" Azka kembali berteriak geram.


"Husstt ..Azka.. tidak boleh begitu sama orang tua. " ucap Hanz buru buru menghampiri istrinya.


"Masuk...!!!" Azka langsung membuka pintu kamar nya dan mendorong tubuh Hanz.


Sementara Ginanjar menutup mulut nya untuk menahan tawa, dan segera berlalu dari sana.


"Dasar tidak tau malu, masa sama mertua membahas hal seperti itu sih, aku saja yang putrinya malu..!!" Azka menjewer telinga Hanz.


"Aaa.... sakit Azka...!!" Jerit Hanz.


"Ayah mu hanya ingin tau , apakah adonan ku berjalan sesuai harapan nya atau tidak, itu saja ." rengek Hanz.


"Apa..!! Jadi adonan yang kalian bahas tempo lalu , hal itu rupanya hah.. Astaga.... Hanz... memalukan sekali..!!" Azka kembali menjewer telinga Hanz.


"Ampun... Azka...ampun.. Lain kali tidak lagi.!" Hanz memegangi telinga nya yang terasa perih.


"Huh, menyebalkan sekali." Azka mendengus kesal.


"Azka, Niat ayah mu itu baik. Dia hanya ingin memberi ku semangat biar jangan sampai kendor . Agar perjuangan ku tidak sia sia. Itu saja." ucap Hanz membujuk Azka yang masih cemberut.


Azka tetap saja cemberut, ia melangkah ke kamar mandi meninggalkan Hanz begitu saja.


Di kamar mandi Azka hanya lah mencuci muka dan segera keluar lagi.


Ia memandang ke sekeliling, ia segera menyadari jika ada yang sesuatu yang berubah.


"Hanz, pintu nya. Kamar Ku.??"

__ADS_1


"Kenapa.. ?" tanya Hanz.


"Ini, .!"


"Ya, aku sudah menyuruh orang ahli untuk mengubah kamar mu menjadi ruangan kedap suara. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi suara mu akan terdengar dari luar." sahut Hanz.


"Kau sangat berniat Hanz,?"


"Apa sih yang tidak buat kamu Azka, apa pun ingin mu pasti akan turuti." jawab Hanz.


"Hanz, aku kan waktu itu tidak serius, itu hanya alasan ku saja agar kau mau pergi ke Apartment mu." ucap Azka.


"Lalu ..?"


"Kalau begini, bagaimana kalau ada apa apa pas aku sendirian di kamar. Tidak akan bisa mendengar ku jika aku berteriak."


"Lantas , masa iya harus di rubah lagi sih..?" ucap Hanz dengan ekspresi bingung.


"Kau terlalu menganggap serius Hanz, tapi ya sudah lah, semua sudah terlanjur." jawab Azka hanya bisa pasrah.


"Kau harus paham Azka, setiap keinginan mu selalu ku tanggapi dengan serius.Apa kau mengerti.?" ucap Hanz sembari memeluk istrinya.


"Iya Hanz ku, aku mengerti." jawab Azka tersenyum manis.


"Ya Tuhan,.. itu manis sekali Azka. Coba ulangi lagi."


"Iya Hanz ku..!!"


"Aku tidak ingin melepasmu Azka." ucap Hanz mengeratkan pelukan nya.


"Hanz, sekarang kita makan dulu yuk, aku sudah sangat rindu masakan pelayan rumah ini. Terlebih masakan Berlinda. Pasti dia sudah memasak buat aku, karena tau kita mau pulang hari ini." ucap Azka.


Hanz mengangguk setuju dan meraih tangan Azka, mereka keluar menuju meja makan.


Di sana beberapa pelayan segera menyambut mereka. Dan Berlinda lah orang pertama yang menyambut mereka dengan sangat antusias. Terlihat wajah nya ceria, Berlinda ikut merasakan kebahagiaan Nona dan Tuan nya itu.


"Nona pasti rindu masakan saya kan..?" tanya Berlinda langsung menarik kursi untuk mereka.


"Kok kamu tau Berlinda..?" sahut Azka.


"Tau lah Nona, selama ini kan Nona selalu menginginkan masakan saya. Dan saya sudah memasak makanan kesukaan Nona. Ayo di nikmati." ucap Berlinda segera menyiapkan hidangan untuk Nona Dan Tuan nya itu.


"Ayah mana.? Tidak ikut makan.?" tanya Hanz.


"Tuan besar sudah sarapan Tuan, tidak usah khawatir." sahut Berlinda.


"Oh, baiklah." jawab Hanz.


Mereka akhirnya menyantap makanan yang spesial di masak oleh Berlinda itu.


Sedangkan Berlinda terus menatap pasangan pengantin baru itu dengan tersenyum.


__ADS_1


"Terimakasih Tuhan, Engkau telah menyatukan mereka. Jangan pisah kan mereka Tuhan.. biarkan mereka bahagia untuk selamanya." doa Berlinda dalam hati nya.


__ADS_2